WAKAFDT.OR.ID — Saudaraku, mari kita renungkan sebuah hadis yang menjadi kompas bagi setiap Mukmin dalam menghadapi gelombang kehidupan. Rasulullah SAW bersabda:
“Mukmin yang kuat lebih baik dan lebih dicintai oleh Allah daripada Mukmin yang lemah. Namun keduanya memiliki kebaikan. Berlombalah untuk melakukan sesuatu yang bermanfaat bagi dirimu. Mohonlah pertolongan kepada Allah, dan janganlah merasa lemah. Jika engkau terkena suatu musibah, jangan berkata ‘Seandainya aku mengerjakan begini, tentu akan menjadi begini dan begitu.’ Tetapi katakanlah, ‘Ini adalah takdir Allah. Apa saja yang dikehendaki-Nya pasti terjadi.’ Karena sesungguhnya ucapan ‘seandainya’ membuka pintu masuknya godaan setan.” (HR. Muslim)
Menutup Pintu Masuk Setan
Beberapa waktu lalu, cucu saya tersiram air panas. Kejadian ini mengingatkan saya pada hadis di atas. Saat sesuatu yang tidak diinginkan terjadi, godaan terbesar kita adalah berandai-andai. “Coba tadi gelasnya tidak ditaruh di sana,” atau “Gara-gara dia, jadi begini…”
Ketahuilah Saudaraku, ucapan “seandainya” hanya akan menambah kerumitan. Kita jadi sibuk saling menyalahkan, hati menjadi keruh, dan masalah utama justru terbengkalai. Apa pun kejadiannya, langkah pertama adalah menerima dengan lapang dada sambil berucap: “Ini adalah takdir Allah.”
Menerima “Tanda Terima” dari Allah
Menerima takdir itu mutlak. Umpamanya, ada genteng jatuh mengenai jidat kita. Tidak perlu kita berteriak, “Saya tidak terima!” Sebab, “tanda terima”-nya sudah jelas ada di sana, berupa benjol atau luka yang terpampang nyata. Begitu pula dengan musibah lainnya. Terima dulu kenyataannya tanpa kata “seandainya”, agar hati kita tenang untuk melangkah ke tahap berikutnya.
Filosofi Bubur Ayam: Mengolah Keadaan
Namun, jangan berhenti hanya pada menerima. Ada pepatah mengatakan “nasi sudah menjadi bubur”. Jika itu terjadi, kita tidak perlu membuang bubur tersebut. Tugas kita adalah mencari bumbu, suwiran ayam, kacang, dan kerupuk agar ia menjadi bubur ayam spesial.
Jika tangan melepuh, bawalah ke UGD. Mungkin itu jalan rezeki bagi perawat di sana.
Jika mobil penyok, tidak perlu meratapi bagian yang rusak. Syukuri bagian yang masih utuh, lalu bawa ke bengkel. Mungkin itu rezeki bagi tukang bengkel.
Ambillah hikmah dari setiap kejadian. Yakinlah bahwa Allah Mahamenentukan dan tidak ada takdir yang tertukar. Baik itu rezeki, jodoh, maupun kemuliaan, jika sudah masanya menghampiri, ia tidak akan pernah meleset.
Tauhid yang Bersih: Kunci Ketenangan
Kemuliaan sejati bukan datang dari pujian manusia, melainkan dari ketakwaan yang Allah berikan. Orang yang bertakwa memiliki tauhid yang bersih; ia pasrah dan patuh sepenuhnya kepada Allah. Ia yakin pada sabda Nabi SAW:
“Seorang hamba Allah tidak akan dapat mencapai hakikat iman sehingga dia mengetahui bahwa apa yang menimpanya tidak akan meleset darinya, dan apa yang terlepas darinya tidak akan dapat menimpanya.” (HR. Ahmad & Tabrani)
Tawakal Bukan Berarti Diam
Satu hal yang harus diingat: Ilmu yakin bukan berarti mengabaikan syariat. Meskipun rezeki sudah diatur, kita wajib berikhtiar dengan cara yang halal. Perkara hasilnya belum terlihat, tetaplah tenang karena Allah Maha Melihat perjuangan kita.
Sama halnya dalam berkendara. Kita tetap harus memakai sabuk pengaman dan helm sebagai bentuk ketaatan pada syariat dan aturan. Celaka atau tidak adalah urusan takdir, namun menjalankan prosedur keselamatan adalah amal saleh. Jika takdir buruk tetap menimpa, setidaknya kita dipanggil Allah dalam keadaan sedang menjalankan amal saleh (ikhtiar).
Semoga kita menjadi hamba-hamba yang kuat imannya, yang sanggup melihat keindahan di balik setiap ketetapan-Nya. (KH. Abdullah Gymnastiar)
Redaktur: Wahid Ikhwan
WAKAFDT.OR.ID