Wakaf Daarut Tauhiid

26 Februari 2026

Dari Reruntuhan Gaza ke Mihrab Bandung: Kesaksian Dua Pejuang di Masjid DT

WAKAFDT.OR.ID | BANDUNG – Suasana siang di Masjid Daarut Tauhiid (DT) Bandung pada Rabu (25/2/2026) terasa berbeda. Di antara deretan jemaah yang baru saja menunaikan salat Dzuhur, hadir dua sosok yang membawa aroma perjuangan langsung dari tanah para nabi: Syekh Motaz Harb Muhammad Hasan Haniyah (23) dan dr. Muadz Al-Battsh (29).

Kehadiran mereka bukan sekadar silaturahmi biasa. Keduanya datang untuk membedah realita pahit di balik tema diskusi yang provokatif: ‘Is “Peace” Really Peace?’.

Narasi Semu di Tanah Pendudukan

Dalam paparannya, dr. Muadz Al-Battsh, yang sehari-hari bertugas sebagai Dokter Penanggung Jawab di RS Indonesia, Gaza, mengungkap fakta yang sering terdistorsi oleh media global.

Banyak yang mengira Gaza telah memasuki fase aman, namun kenyataannya serangan zionis masih terus menghujam di berbagai titik.

“Dunia mungkin melihat ketenangan di permukaan, namun bagi kami di rumah sakit, luka-luka baru terus berdatangan setiap hari. Serangan itu tidak pernah benar-benar berhenti,” ungkap dr. Muadz dengan nada getir.

Buah Sedekah yang Menembus Batas Negara

Kehadiran Syekh Motaz Harb menjadi momen emosional bagi jemaah DT. Pemuda berusia 23 tahun ini merupakan alumni Tahfidz Al-Qur’an Masjid DT Gaza. Masjid tersebut merupakan salah satu mahakarya dari masyarakat Indonesia yang dikelola oleh DT Peduli di Palestina.

Syekh Motaz adalah bukti hidup betapa aset wakaf dan sedekah yang dikelola secara baik dan amanah mampu melahirkan generasi penghafal Al-Qur’an, bahkan di tengah kepungan blokade.

Keberhasilan Syekh Motaz menjaga hafalannya di Gaza adalah pesan kuat bahwa dana umat yang disalurkan jemaah telah berubah menjadi “benteng spiritual” yang tak kasat mata di Palestina.

Seruan Jihad Harta dan Doa

Di penghujung kajian, kedua tokoh ini mengajak umat Islam di Indonesia untuk tidak melonggarkan dukungan. Mereka menegaskan bahwa perjuangan Palestina adalah tanggung jawab kolektif.

  • Dukungan Spiritual: Melalui doa yang tak putus di setiap sujud.
  • Dukungan Finansial: Memastikan bantuan medis dan pembangunan kembali fasilitas umum terus berjalan.
  • Dukungan Literasi: Menyuarakan kebenaran agar narasi “damai yang semu” tidak meninabubukan dunia.

Kebermanfaatan Aset Wakaf DT

Acara ini kembali mempertegas peran Masjid DT Bandung sebagai pusat edukasi dan syiar perjuangan umat Islam global. Selain itu, hubungan antara Masjid DT Bandung dan Masjid DT Gaza membuktikan bahwa ekosistem wakaf DT telah menciptakan jembatan persaudaraan yang kokoh.

Setiap rupiah wakaf yang ditanamkan jamaah, baik untuk aset dalam negeri maupun luar negeri, kini terus membuahkan hasil dalam bentuk penguatan akidah dan diplomasi kemanusiaan yang nyata. (WIN)

Redaktur: Wahid Ikhwan


WAKAFDT.OR.ID

Dari Reruntuhan Gaza ke Mihrab Bandung: Kesaksian Dua Pejuang di Masjid DT Read More »

Gema Al-Qur’an di Jantung Wakaf: Santri SMA DTBS Putri Tuntaskan Parade Tasmi 10 Juz

WAKAFDT.OR.ID | BANDUNG – Suasana khidmat menyelimuti Masjid Daarut Tauhiid Bandung pada pertengahan Februari ini (11-12/2/2026).

Di bawah naungan kubah masjid yang dibangun dari tetesan keringat para muwakif, puluhan santri SMA Daarut Tauhiid Boarding School (DTBS) Putri melantunkan ayat-ayat suci dalam agenda Parade Tasmi 10 Juz.

Mengusung tajuk “Meraih Kemuliaan dengan Al-Quran”, kegiatan ini bukan sekadar rutinitas akademik, melainkan puncak dari ikhtiar panjang menjaga hafalan.

Tasmi—metode menyetorkan hafalan sekali duduk di hadapan penyimak—menjadi tolok ukur kualitas itqan (kekuatan) hafalan para santri.

Marathon Spiritual Dua Hari

Perjalanan spiritual ini dimulai sejak Rabu pagi. Dalam durasi yang padat, para santri bergantian melantunkan Juz 1 hingga Juz 5. Ketahanan mental dan fokus mereka diuji hingga sore hari saat sesi ditutup dengan Juz 26 dan 27.

Keesokan harinya, Kamis pagi, suasana makin haru saat Juz 28, 29, dan 30 mulai berkumandang. Ritme tilawah yang terjaga menandakan kesiapan batin para penghafal Al-Qur’an ini dalam menuntaskan amanah 10 juz yang telah mereka persiapkan berbulan-bulan.

Masjid DT: Aset Wakaf yang Terus “Bicara”

Keberhasilan acara ini tidak lepas dari peran Masjid Daarut Tauhiid sebagai aset wakaf produktif yang multifungsi. Masjid ini bukan sekadar bangunan fisik, melainkan “laboratorium” lahirnya generasi qurani.

Setiap sudut masjid yang digunakan untuk bertasmi menjadi saksi bisu kebermanfaatan dana wakaf yang mengalir abadi.

Fasilitas yang nyaman, lingkungan yang kondusif, serta sarana penunjang di area pesantren DT semuanya merupakan buah dari pengelolaan wakaf yang amanah. Dengan adanya aset wakaf ini, para santri dapat fokus mendalami Al-Qur’an tanpa terkendala fasilitas.

Apresiasi dan Harapan

Muhammad Luthfi Iskandar, Humas SMA DTBS Putri, menyampaikan rasa syukurnya atas sinergi seluruh pihak, termasuk para donatur dan orang tua.

“Terima kasih kepada orang tua dan seluruh civitas yang telah mendukung kelancaran kegiatan ini. Kami berharap hafalan yang dibacakan tidak hanya berhenti di lisan, tapi mendarah daging dalam karakter dan perilaku sehari-hari,” tuturnya.

Usai acara, para santri kembali ke asrama dengan membawa tanggung jawab baru: menjaga apa yang telah dihafal melalui murajaah istiqamah. Di sisi lain, Masjid DT tetap berdiri kokoh, siap menyambut estafet kebaikan berikutnya dari para pejuang Al-Qur’an. (DS/WIN)

Redaktur: Wahid Ikhwan


WAKAFDT.OR.ID

Gema Al-Qur’an di Jantung Wakaf: Santri SMA DTBS Putri Tuntaskan Parade Tasmi 10 Juz Read More »

Herawati, Memintal Harapan di Sela Dinding Triplek

WAKAFDT.OR.ID | BIREUEN – Langit Alue Kuta pada Selasa siang (17/2/2026) tampak muram. Di balik dinding triplek yang mulai melengkung dimakan cuaca, Herawati duduk tertegun.

Sudah tiga bulan terakhir, bilik sempit yang disebut Hunian Sementara (Huntara) ini menjadi satu-satunya benteng pertahanan bagi ia dan anak-anaknya setelah banjir bandang meluluhlantakkan Bireuen.

Ingatan Herawati masih tertancap kuat pada malam mengerikan itu. Suara gemuruh air yang datang menyerupai ledakan bom masih terngiang jelas.

“Hanya dalam dua jam, bangunan-bangunan itu hilang. Listrik mati total, yang tersisa hanya jeritan dan baju di badan,” kenangnya dengan suara bergetar.

Ujian Kesabaran di Balik Musibah

Bagi Herawati, rumah adalah jangkar masa depan. Kehilangannya sempat membuat dunianya seolah runtuh. Namun, di tengah keterbatasan, perempuan ini memilih jalan spiritual. Ia tak mengutuk keadaan; baginya, ini adalah “undangan” dari Sang Pencipta untuk kembali bersimpuh.

“Mungkin ini cara Allah menegur kami agar lebih dekat, lebih sabar, dan tidak lalai dalam beribadah,” ujarnya lirih.

Keteguhan hati Herawati kini diuji lagi dengan datangnya bulan suci Ramadhan. Jika tahun lalu ia sibuk di dapur rumah sendiri, kini ia harus menyiapkan sahur di bawah atap huntara yang seadanya.

Meski pilu, ia mencoba melihat sisi terang: kebersamaan antar-penyintas yang kini sudah seperti keluarga kandung.

Mandat Wakaf: Dari Produktif Menjadi Solusi Konkrit

Di tengah perjuangan Herawati, sebuah secercah harapan muncul melalui skema kedermawanan yang berkelanjutan. Wakaf DT melalui program Cash Wakaf for Humanity (Sumatera) hadir membawa konsep solusi jangka panjang.

Berbeda dengan donasi biasa, dana wakaf yang dihimpun dari para muwakif (pewakaf) tidak langsung habis sekali pakai. Dana tersebut terlebih dahulu diproduktifkan melalui sektor bisnis strategis yang dikelola secara profesional oleh Wakaf DT.

Keuntungan atau surplus dari pengelolaan wakaf produktif inilah yang kemudian disalurkan untuk membantu warga terdampak banjir di Sumatera, termasuk Herawati di Bireuen.

Penyaluran manfaat ini mencakup beberapa poin krusial:

  • Pembangunan Fasilitas Ibadah: Membangun kembali masjid dan mushala yang hancur agar warga bisa beribadah dengan layak, terutama di bulan Ramadhan.
  • Dukungan Hunian: Menopang kebutuhan pembangunan unit Hunian Tetap (Huntap) yang kini sedang digarap secara bertahap oleh DT Peduli.
  • Kebutuhan Dasar: Memastikan anak-anak penyintas tak lagi kekurangan pakaian dan pangan bergizi.

Menanti Fajar Baru

Kabar mengenai pembangunan 45 unit Huntap menjadi oase bagi Herawati. Impian untuk kembali memiliki pintu yang bisa dikunci dan atap yang tak bocor kini mulai tampak nyata di pelupuk mata.

“Saya hanya ingin anak-anak belajar arti kesabaran. Bahwa rencana Allah, melalui tangan-tangan orang baik yang berwakaf, pasti jauh lebih indah,” tutupnya penuh harap.

Di antara retakan dinding kayu Huntara, semangat Herawati tidak ikut retak. Ia terus menata kepingan hidupnya, sembari menanti hari di mana ia bisa kembali bersujud di masjid yang kokoh dan menetap di rumah yang permanen. (WIN/DTP)

Redaktur: Wahid Ikhwan


WAKAFDT.OR.ID

Herawati, Memintal Harapan di Sela Dinding Triplek Read More »