Wakaf Daarut Tauhiid

Artikel

Meneladani Kejayaan Peradaban Islam: Rahasia Kekuatan Ekonomi Era Turki Utsmani Melalui Wakaf

WAKAFDT.OR.ID | BANDUNG — Sejarah mencatat bahwa Kesultanan Turki Utsmani mampu menjadi salah satu imperium terkuat dunia bukan hanya karena kekuatan militernya, melainkan karena fondasi ekonomi sosialnya yang sangat kokoh.

Kunci utama dari stabilitas tersebut adalah pengelolaan wakaf yang sangat progresif dan terintegrasi dalam kehidupan masyarakat.

Melalui unggahan edukatif terbaru di laman resminya, Wakaf Daarut Tauhiid mengajak masyarakat untuk membedah apa sebenarnya yang membuat sistem wakaf pada era tersebut mampu membangun ekonomi umat secara masif.

5 Pilar Pemerataan Ekonomi Utsmani

Setidaknya terdapat lima faktor kunci yang menjadi jawaban mengapa masyarakat pada masa itu mencapai tingkat kemakmuran yang merata:

  • Kemudahan Akses Kesehatan: Rumah sakit (Bimaristan) dibangun dan dioperasikan sepenuhnya dari hasil kelola aset wakaf, sehingga rakyat bisa berobat tanpa biaya.
  • Pendidikan Gratis dan Berkualitas: Universitas dan madrasah berkembang pesat karena didukung oleh aset wakaf produktif yang menjamin gaji pengajar dan fasilitas santri.
  • Layanan Sosial yang Humanis: Pembangunan infrastruktur publik seperti jembatan, jalan, hingga dapur umum (Imaret) untuk kaum dhuafa bersumber dari dana wakaf.
  • Struktur Ekonomi yang Mandiri: Wakaf mampu mengurangi beban APBN negara karena sektor publik sudah terbiayai secara mandiri oleh dana umat.
  • Pemberdayaan Sektor Produktif: Pengelolaan wakaf yang profesional memastikan aset tidak diam, melainkan terus berputar untuk memberi manfaat luas.

Membangun Masa Depan Melalui Wakaf

Kejayaan masa lalu tersebut menjadi bukti nyata bahwa wakaf adalah solusi sistemik untuk mewujudkan pemerataan ekonomi.

Struktur ekonomi suatu bangsa akan menjadi sangat kuat ketika akses terhadap kebutuhan dasar—seperti pendidikan dan kesehatan—dapat dinikmati oleh seluruh lapisan masyarakat melalui skema kedermawanan yang abadi.

Pesantren Daarut Tauhiid melalui lembaga wakafnya terus berupaya menghidupkan kembali semangat tersebut di era modern ini.

Melalui berbagai program wakaf produktif, masyarakat kini memiliki kesempatan untuk ikut serta dalam membangun peradaban yang lebih baik.

Maka belum terlambat jika kita ingin mulai berwakaf. Mari mulai langkah baik Bersama. Bagi masyarakat yang ingin berkontribusi, kemudahan akses kini tersedia melalui platform digital di wakafdt.id.

Redaktur: Wahid Ikhwan


WAKAFDT.OR.ID

Meneladani Kejayaan Peradaban Islam: Rahasia Kekuatan Ekonomi Era Turki Utsmani Melalui Wakaf Read More »

Aa Gym: Menjaga Hati di Riuhnya Media Sosial

WAKAFDT.OR.IDDi era digital saat ini, media sosial telah menjadi bagian yang tak terpisahkan dari keseharian kita. Namun, di balik kemudahannya, terdapat tantangan besar bagi setiap Muslim: menjaga kebersihan pikiran dan hati.

Seringkali, kegelisahan hati dan tumpukan pikiran negatif muncul karena kita terlalu banyak menyerap informasi yang sebenarnya tidak perlu.

Rumus Menjaga Pikiran

Cara terbaik agar tidak terjebak dalam pikiran negatif adalah dengan tidak memberinya ruang. Sederhananya: jangan dipikirkan, jangan diikuti, dan jangan diladeni. Kita harus sangat selektif terhadap apa yang dilihat, dibaca, dan didengar, karena setiap informasi yang masuk akan langsung memengaruhi kondisi mental serta spiritual kita.

Setiap kali membuka media sosial, cobalah ajukan dua pertanyaan kritis pada diri sendiri:

  • Apakah informasi ini menambah iman saya?
  • Apakah aktivitas ini akan menjadi amal saleh?

Jika jawabannya “tidak”, lebih baik tinggalkan. Hidup ini terlalu singkat jika hanya dihabiskan untuk memuaskan rasa penasaran terhadap urusan orang lain. Kita tidak perlu tahu segalanya.

Mari kita gunakan waktu dengan bijak. Ingatlah bahwa waktu adalah amanah yang kelak akan dimintai pertanggungjawabannya di akhirat. Kebahagiaan sejati hadir dari kekuatan iman dan amal saleh, bukan dari banyaknya informasi yang kita konsumsi setiap hari.

Menghindari Penyakit Hati

Rasulullah SAW mengingatkan kita dalam sebuah hadits:

“Jauhilah prasangka buruk, karena prasangka buruk adalah ucapan yang paling dusta.” (HR. Al-Bukhari)

Pesan ini sangat mendalam karena prasangka buruk adalah kemaksiatan hati yang seringkali samar dan dianggap remeh. Tanpa sadar, jempol dan pikiran kita bisa tergelincir pada dosa hanya karena asumsi yang tidak berdasar.

Mari kita mulai membatasi konsumsi informasi yang sia-sia. Fokuslah pada hal-hal yang mendekatkan diri kepada Allah. Dengan menjaga apa yang masuk ke dalam pikiran, insya Allah hati akan jauh lebih tenang dan terjaga. (KH. Abdullah Gymnastiar)

Redaktur: Wahid Ikhwan


WAKAFDT.OR.ID

Aa Gym: Menjaga Hati di Riuhnya Media Sosial Read More »

Aa Gym: Hidup Ringan Tanpa Belenggu Penilaian Manusia

WAKAFDT.OR.IDDalam riuhnya kehidupan modern yang penuh tuntutan dan pencitraan, banyak orang terjebak dalam perlombaan untuk terlihat “berhasil”. Tak jarang, seseorang memaksakan diri mencicil barang mewah hanya demi satu tujuan: dianggap mampu oleh orang lain.

Padahal, hidup akan terasa jauh lebih ringan jika kita berhenti terikat pada pandangan manusia. Kebebasan sejati lahir saat hati kita tak lagi haus pujian, tak mengejar pengakuan, dan tak menuntut perlakuan istimewa. Di situlah jiwa menemukan kemerdekaannya.

Menjadikan Allah sebagai Pusat Perhatian

Salah satu puncak kebahagiaan adalah ketika kita menggeser pusat perhatian kita; dari manusia, kembali kepada Allah Ta’ala semata. Meningkatkan kualitas diri bukan untuk mencari tepuk tangan, melainkan sebagai bentuk ibadah.

Saat kita berbuat baik lalu orang lain tidak peduli atau bahkan meremehkan, kita tidak akan jatuh dalam kekecewaan. Mengapa? Karena penilaian manusia bukanlah tujuan akhir kita.

Fokus pada Proses, Bukan Hasil

Prinsip ini juga berlaku dalam hubungan antarmanusia. Saat kita menasihati pasangan, mendidik anak, atau mengajak orang lain pada kebaikan, lalu mereka belum menggubrisnya, itu bukanlah sebuah kegagalan.

Selama niat kita lurus, cara kita baik, dan dilakukan ikhlas karena Allah, tugas kita sudah selesai. Kita tidak bertanggung jawab atas hasil atau perubahan orang lain, melainkan bertanggung jawab atas kemurnian niat dan kesungguhan usaha kita sendiri.

Ketenangan di Balik Keikhlasan

Sikap ini akan melahirkan ketenangan yang kokoh. Kita tidak lagi mudah kecewa dan tidak terseret arus validasi sosial. Kita tidak perlu membuktikan apa pun kepada siapa pun, karena yang paling utama adalah bagaimana Allah menilai niat di balik setiap amal kita.

Hidup menjadi ringan saat kita berhenti berharap kepada makhluk dan mulai bersandar sepenuhnya kepada Khalik. Mari kita tata kembali hati, bersihkan niat, dan jalani hidup sebagai ibadah, bukan sebagai pertunjukan. (KH. Abdullah Gymnastiar)

Redaktur: Wahid Ikhwan


WAKAFDT.OR.ID

Aa Gym: Hidup Ringan Tanpa Belenggu Penilaian Manusia Read More »

Menyelami Makna Nuzulul Quran: Mengapa Al-Qur’an Menjadi Pedoman Utama Manusia?

WAKAFDT.OR.IDSesaat lagi, umat Islam akan menyambut tanggal 17 Ramadhan, sebuah momentum sakral yang menandai peristiwa paling bersejarah dalam peradaban Islam: Nuzulul Quran.

Ini adalah malam di mana wahyu Allah pertama kali menyapa dunia melalui Nabi Muhammad SAW di kesunyian Gua Hira.

Peristiwa ini bukan sekadar sejarah, melainkan titik balik bagi umat manusia untuk keluar dari zaman kegelapan menuju cahaya yang terang benderang.

Detik-Detik Turunnya Sang Pembeda

Al-Qur’an pertama kali diturunkan kepada Rasulullah SAW saat beliau genap berusia 40 tahun, 6 bulan, dan 8 hari—atau sekitar 13 tahun sebelum peristiwa Hijrah. Tepatnya pada 17 Ramadhan yang bertepatan dengan tanggal 6 Agustus 610 Masehi.

Guncangan dahsyat menyelimuti hati Nabi saat menerima wahyu pertama, surat Al-Alaq ayat 1-5, yang dimulai dengan perintah agung: “Iqra!” (Bacalah).

Begitu hebatnya getaran spiritual tersebut hingga sesampainya di rumah, beliau meminta sang istri, Khadijah binti Khuwailid, untuk menyelimutinya.

Allah SWT menegaskan kedudukan bulan ini dalam firman-Nya:

“Bulan Ramadhan adalah (bulan) yang di dalamnya diturunkan Al-Qur’an sebagai petunjuk bagi manusia dan penjelasan-penjelasan mengenai petunjuk itu serta pembeda (antara yang hak dan yang batil).” (QS. Al-Baqarah: 185)

Turun Secara Bertahap (Tadrij)

Al-Qur’an yang terdiri dari 30 Juz, 114 Surat, dan 6.236 ayat tidak diturunkan sekaligus dalam bentuk kitab yang utuh.

Allah menurunkannya secara berangsur-angsur, ayat demi ayat, sesuai dengan peristiwa dan kebutuhan yang dihadapi umat saat itu. Proses ini memakan waktu selama 22 tahun, 2 bulan, dan 22 hari.

Strategi penurunan bertahap ini menunjukkan betapa Al-Qur’an sangat kontekstual dan mendalam dalam menyentuh setiap sisi kehidupan manusia.

Keagungan Al-Qur’an bagi Kehidupan

Mengapa kita harus kembali kepada Al-Qur’an? Setidaknya ada lima pilar keagungan yang bisa kita dapatkan jika kita mau membaca, memahami, dan mengamalkannya:

Pedoman, Petunjuk, dan Rahmat

Agar tidak tersesat dalam belantara kehidupan, manusia membutuhkan kompas. Al-Qur’an adalah Basair (pedoman) yang memberikan keselamatan lahir dan batin bagi mereka yang meyakininya (QS. Al-Jasiyah: 20).

Penawar (Syifa) bagi Jiwa

Saat hati merasa gundah atau hidup terasa tidak baik-baik saja, Al-Qur’an hadir sebagai obat (penawar). Ia menyembuhkan penyakit hati dan memberikan ketenangan yang tidak bisa diberikan oleh materi (QS. Al-Isra: 82).

Pemelihara Martabat Manusia

Al-Qur’an mengajarkan bahwa kemuliaan manusia tidak diukur dari harta, melainkan dari iman dan amal kebajikan. Ia menjaga manusia agar tetap berada pada kedudukan yang tinggi di sisi Tuhan (QS. At-Tin: 6).

Pelajaran dan Penerangan

Bukan sekadar kumpulan syair, Al-Qur’an adalah Zikrun wa Qur’anun Mubin—pelajaran yang jelas untuk memperbaiki akhlak umat dan menerangkan hukum-hukum Allah secara gamblang (QS. Yasin: 69).

Solusi di Tengah Masyarakat

Al-Qur’an adalah pemutus perkara. Di tengah berbagai perselisihan dan masalah sosial, Al-Qur’an hadir sebagai wasit yang adil untuk menjelaskan apa yang diperselisihkan dan memberikan rahmat bagi kaum beriman (QS. An-Nahl: 64).

Menjelang peringatan Nuzulul Quran ini, marilah kita tidak hanya berhenti pada perayaan seremonial semata. Mari kita perkuat keyakinan bahwa setiap ayat yang kita baca adalah solusi dan cahaya. Mari jadikan Al-Qur’an sebagai teman duduk, pedoman berpikir, dan standar dalam bertindak.


WAKAFDT.OR.ID

Menyelami Makna Nuzulul Quran: Mengapa Al-Qur’an Menjadi Pedoman Utama Manusia? Read More »

Strategi Cerdas Kelola THR 2026: Tips Jitu agar Dana Lebaran Tidak Numpang Lewat

WAKAFDT.OR.ID Tunjangan Hari Raya (THR) sering kali menjadi angin segar bagi dompet menjelang Idul Fitri. Namun, tanpa kendali yang ketat, bonus tahunan ini berisiko habis dalam sekejap tanpa sisa.

Perencana keuangan sekaligus pendiri Mitra Rencana Edukasi (MRE), Mike Rini Soetikno, menekankan pentingnya manajemen prioritas dalam mengalokasikan dana tersebut.

Menurut Mike, baik mereka yang sudah berkeluarga maupun yang masih melajang memiliki tantangan pengeluaran yang berbeda. Langkah awal yang wajib dilakukan adalah memetakan seluruh rencana pengeluaran khas hari raya.

“Setiap rencana belanja harus diurutkan berdasarkan tingkat urgensinya. Sangat penting bagi kita untuk mengenali apa saja kebutuhan lebaran, lalu menyusun skala prioritasnya,” ujar Mike (5/3/2026).

Berikut adalah panduan alokasi THR yang bijak agar kondisi finansial tetap stabil setelah perayaan usai:

Jadikan Pos Amal sebagai Prioritas Utama

Zakat fitrah dan zakat mal adalah kewajiban yang tidak boleh terlewatkan. Mike menyarankan agar pos ini—termasuk infak, sedekah, dan anggaran berbagi ke kerabat—dibatasi maksimal 20-25% dari total THR.

Contoh: Jika Anda menerima THR sebesar Rp10 juta, maka alokasi maksimal untuk kebutuhan sosial dan ibadah ini adalah Rp2 juta.

Atur Anggaran Jamuan dan Hidangan Lebaran

Bagi keluarga, menyiapkan makanan khas untuk tamu adalah tradisi penting. Namun, Mike mengingatkan agar anggaran makan-makan ini tidak membengkak. Alokasi idealnya adalah sekitar 20% dari THR.

Bagi mereka yang masih single, anggaran ini biasanya lebih fleksibel. Alih-alih memasak besar, dana tersebut bisa dialihkan untuk menambah uang saku orang tua atau membantu kebutuhan dapur di kampung halaman.

Bijak dalam Membeli Busana Baru

Membeli baju baru memang sudah menjadi tradisi, tetapi Mike menegaskan bahwa ini bukan sebuah keharusan. Untuk menjaga keseimbangan neraca keuangan, disarankan alokasi untuk pakaian baru hanya berkisar di angka 10% dari dana THR yang diterima.

Amankan Masa Depan dengan Tabungan dan Investasi

Jangan habiskan seluruh THR untuk konsumsi. Sisa dana yang ada sebaiknya digunakan untuk memperkuat fondasi keuangan, seperti:

  • Dana Darurat: Targetkan saldo sebesar 6 kali pengeluaran bulanan bagi yang berkeluarga, dan 3-6 kali bagi yang lajang.
  • Investasi: Mempertebal aset produktif untuk kebutuhan jangka panjang.

Kunci utama dari pengelolaan THR bukan pada seberapa besar nominal yang diterima, melainkan pada kemampuan kita menentukan prioritas. Dengan perencanaan yang matang, sukacita Lebaran dapat dirasakan tanpa harus mengorbankan stabilitas ekonomi di bulan-bulan berikutnya.


WAKAFDT.OR.ID

Strategi Cerdas Kelola THR 2026: Tips Jitu agar Dana Lebaran Tidak Numpang Lewat Read More »

Ramadhan Bulan Ampunan, Kesempatan Meraih Hayatan Thayyibah

WAKAFDT.OR.IDRamadhan selalu datang membawa harapan. Ia bukan sekadar bulan penuh ibadah, melainkan bulan ampunan, bulan kesempatan, dan bulan perubahan. Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:

“Barangsiapa yang berpuasa Ramadhan karena iman dan mengharapkan pahala, akan diampuni dosa-dosanya yang telah lalu.” (HR. Bukhari dan Muslim)

Begitu pula dengan qiyam Ramadhan (shalat malam). Rasulullah menegaskan, siapa yang melakukannya dengan iman dan ihtisab, maka dosa-dosanya yang telah lalu akan diampuni.

Dua Kunci Sukses Ramadhan: Iman dan Ihtisab

Iman berarti yakin sepenuh hati bahwa puasa adalah perintah Allah. Kita tidak berpuasa karena ikut-ikutan, bukan karena tradisi, melainkan karena sadar bahwa shaum adalah jalan menuju takwa.

Allah berfirman: “Hai orang-orang yang beriman, diwajibkan atas kalian berpuasa sebagaimana diwajibkan atas orang-orang sebelum kalian agar kalian bertakwa.” (QS. Al-Baqarah: 183)

Takwa inilah kemuliaan sejati di sisi Allah (QS. Al-Hujurat: 13). Bahkan Allah menjanjikan jalan keluar dari kesulitan dan rezeki dari arah yang tak disangka-sangka bagi orang yang bertakwa (QS. Ath-Thalaq: 2-3).

Ihtisab adalah tekad kuat untuk meraih kebaikan. Orang beriman menyambut Ramadhan dengan gembira, karena ia sadar dosa-dosanya berat seperti gunung yang bisa menimpanya (HR. Bukhari no. 6308). Ramadhan menjadi harapan: dosa berguguran, pintu taubat terbuka, dan peluang amal saleh semakin luas.

Ramadhan adalah Bulan Taubat dan Kehidupan yang Lebih Baik

Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam mengingatkan: “Setiap anak Adam sering berbuat salah, dan sebaik-baik orang yang sering berbuat salah adalah yang sering bertaubat.” (HR. Tirmidzi)

Ramadhan bukan hanya bulan penghapusan dosa, tetapi juga bulan harapan.

Allah berfirman: “Barangsiapa beramal saleh, baik laki-laki maupun perempuan, dalam keadaan beriman, maka Kami akan berikan kepadanya kehidupan yang baik (hayatan thayyibah).” (QS. An-Nahl: 97)

Ramadhan adalah bulan Tarbiyah Tauhiid, Ibadah dan Akhlak.

Di Daarut Tauhiid, Ramadhan dipandang sebagai madrasah takwa. Ia bukan sekadar ritual, melainkan ruang belajar:

  • Menyucikan hati dengan tauhid.
  • Melatih akhlak dengan sabar, jujur, dan disiplin.
  • Menyambut hidup yang lebih berkah dengan amal saleh.

Ramadhan adalah momentum transformasi diri. Dengan tauhid sebagai fondasi, kita diajak menjadikan bulan ini sebagai titik balik menuju kehidupan yang lebih bermakna, penuh keberkahan, dan berakhlak mulia.

Penutup

Mari kita sambut Ramadhan dengan iman dan ihtisab. Jadikan setiap ibadah sebagai jalan menuju ampunan Allah, dan setiap amal sebagai bekal untuk menjemput hayatan thayyibah.

Ramadhan bukan sekadar datang dan pergi, ia adalah kesempatan emas untuk menjadi hamba Allah yang lebih bertakwa, lebih berakhlak, dan lebih siap menghadapi kehidupan dengan keberkahan.

Wallahu a’lam bishawab.

Ditulis Oleh :

Dr. Tedhi Abu Humam, S.Kom.I., M.Sos. | Dosen & Ketua Prodi Komunikasi dan Penyiaran Islam

Sekolah Tinggi Agama Islam Daarut Tauhiid


WAKAFDT.OR.ID

Ramadhan Bulan Ampunan, Kesempatan Meraih Hayatan Thayyibah Read More »

Menjamin Masa Depan lewat Dana Abadi: Membedah Wakaf, Dana Publik, dan Instrumen Daerah

WAKAFDT.OR.IDDi tengah tuntutan publik terhadap riset yang relevan, pendidikan bermutu, hingga jaminan sosial yang merata, muncul tantangan besar: bagaimana memastikan semua layanan ini tetap eksis hingga 50 tahun mendatang?

Dalam dunia filantropi dan kebijakan modern, kita sering mendengar istilah wakaf, dana abadi, hingga endowment fund.

Meski semuanya memiliki prinsip serupa—yakni mengunci dana pokok dan hanya menggunakan hasil pengembangannya—setiap instrumen ini memiliki akar nilai dan mekanisme tata kelola yang berbeda.

Wakaf: Pilar Etis dan Filantropi Berbasis Spiritual

Wakaf merupakan instrumen tertua dalam sejarah Islam yang memiliki dasar hukum kuat dalam UU No. 41 Tahun 2004. Wakaf didefinisikan sebagai tindakan memisahkan harta pribadi untuk kepentingan umum, baik selamanya maupun jangka waktu tertentu, demi kemaslahatan umat.

Lebih dari sekadar hukum, wakaf adalah rekayasa sosial berbasis spiritual. Poin utamanya bukan hanya konsumsi, melainkan keabadian manfaat.

Keunggulan: Memiliki motivasi transenden (ibadah) yang kuat sehingga keberlanjutannya menjadi tanggung jawab moral, bukan sekadar rasionalitas ekonomi.

Tantangan: Sering kali terbentur pada tata kelola yang kurang profesional, aset yang tidak produktif, serta transparansi yang masih perlu ditingkatkan agar dampaknya maksimal.

Dana Abadi Negara: Jaminan Keberlanjutan Fiskal

Berbeda dengan wakaf yang berasal dari inisiatif masyarakat, Dana Abadi di tingkat nasional lahir dari kebijakan pemerintah, seperti yang diatur dalam Perpres No. 111 Tahun 2021.

Dana ini dirancang untuk memastikan program strategis—seperti pendidikan, riset, dan kebudayaan—tetap berjalan bagi generasi mendatang tanpa menggerus modal utamanya.

Karakteristik: Sangat bergantung pada stabilitas fiskal negara dan integritas lembaga publik.

Tantangan: Konsistensi kebijakan lintas periode kepemimpinan. Karena politik sering kali bersifat jangka pendek, diperlukan kedisiplinan tinggi agar dana ini tidak tergerus oleh tekanan anggaran atau perubahan prioritas pemerintah.

Dana Abadi Daerah (DAD): Inovasi Keuangan Lokal

Instrumen ini merupakan lapisan terbaru dalam arsitektur keberlanjutan di Indonesia, sebagaimana diatur dalam UU No. 1 Tahun 2022 tentang Hubungan Keuangan Pusat dan Daerah.

DAD memungkinkan pemerintah daerah menyisihkan surplus anggaran (SiLPA) ke dalam dana abadi guna menjaga stabilitas masa depan daerah.

Filosofi: Mengubah surplus jangka pendek menjadi investasi jangka panjang untuk belanja daerah tanpa mengurangi nilai pokoknya.

Tantangan di Lapangan: Kesenjangan kapasitas manajerial antar daerah. Tanpa pengawasan ketat, DAD berisiko menjadi sekadar formalitas politik atau instrumen pencitraan tanpa dampak nyata bagi masyarakat lokal.

Memahami perbedaan antara wakaf, dana abadi nasional, dan DAD sangat penting agar masyarakat tidak sekadar terbuai oleh istilah teknis.

Keberhasilan instrumen-instrumen ini dalam menghadirkan keadilan lintas generasi sangat bergantung pada tiga pilar: kualitas kepemimpinan, profesionalisme pengelola, dan transparansi publik. (Jaharuddin, Ekonom, Universitas Muhammadiyah Jakarta)

Redaktur: Wahid Ikhwan


WAKAFDT.OR.ID

Menjamin Masa Depan lewat Dana Abadi: Membedah Wakaf, Dana Publik, dan Instrumen Daerah Read More »

Cara Agar Ketagihan Membaca Al Quran Saat Ramadhan

WAKAFDT.OR.IDKetua Ikatan Cendekiawan Muslim Indonesia (ICMI) Jawa Timur, Ulul Albab, menekankan pentingnya menjadikan Ramadhan sebagai momentum untuk kembali kepada Al-Qur’an.

Mengingat kitab suci ini diturunkan di bulan Ramadhan sebagai kompas kehidupan, umat Islam didorong untuk meningkatkan intensitas interaksi dengan Al-Qur’an secara lebih mendalam dan penuh kekhusyukan.

Ulul Albab menyampaikan bahwa tadarus di bulan suci bukan sekadar ritual mencari pahala, melainkan upaya menjadikan Al-Qur’an sebagai obat penawar hati, sumber rahmat, serta penolong (syafaat) di akhirat kelak.

Membangun Koneksi Spiritual yang Hidup

Menurut Ulul, membaca Al-Qur’an seharusnya menjadi sebuah pengalaman batin yang nyata. Seorang Muslim diharapkan bisa merasakan ketenangan dan kebahagiaan saat melantunkan ayat-ayat Allah.

“Ramadhan adalah waktu istimewa untuk kita lebih fokus dan dalam saat membaca Al-Qur’an. Idealnya, kita merasa ‘tersapa’ atau bahkan ditegur oleh ayat yang kita baca,” jelasnya pada Sabtu (28/2/2026).

Indikator keberhasilan interaksi dengan Al-Qur’an adalah ketika seseorang tidak lagi sekadar mengejar target jumlah halaman, tetapi mulai menyelami makna tiap ayat hingga muncul rasa rindu untuk terus mentadaburinya.

Memahami Makna Tanpa Hambatan

Bagi mereka yang belum mahir membaca secara tartil, Ulul berpesan agar hal itu tidak menjadi penghalang. Mempelajari terjemahan dan tafsir merupakan langkah bijak agar pesan Ilahi tetap bisa meresap ke dalam kesadaran sehari-hari.

Beliau juga menyarankan agar kegiatan khataman Al-Qur’an di masjid atau komunitas menyisipkan sesi refleksi.

“Coba tanyakan pada jamaah, ayat mana yang paling menyentuh hati mereka selama membaca. Jika seseorang merasa datar saja saat membaca Al-Qur’an, mungkin perlu ada perbaikan pada kesiapan hati atau cara memahaminya,” tambahnya.

Meneladani Rasulullah dan Malaikat Jibril

Menilik sejarah, Rasulullah SAW memberikan teladan utama dalam memuliakan Al-Qur’an di bulan Ramadhan. Berdasarkan hadis riwayat Bukhari dan Muslim, setiap malam di bulan suci, Malaikat Jibril mendatangi Nabi untuk mudarasah (saling menyimak) Al-Qur’an.

Aktivitas spiritual ini berdampak pada kedermawanan Nabi yang semakin luar biasa, bahkan digambarkan lebih cepat dari hembusan angin. Keutamaan berkumpul untuk mengaji pun sangat besar; Allah menjanjikan turunnya ketenangan (sakinah), curahan rahmat, serta penjagaan dari para malaikat bagi mereka yang menghidupkan rumah-rumah Allah dengan lantunan ayat suci.

Dengan menjadikan Al-Qur’an sebagai dialog pribadi antara hamba dan Penciptanya, Ramadhan tahun ini diharapkan mampu melahirkan insan yang lebih bertakwa dan memiliki kepekaan spiritual yang tajam.

Redaktur: Wahid Ikhwan


WAKAFDT.OR.ID

Cara Agar Ketagihan Membaca Al Quran Saat Ramadhan Read More »

Aa Gym: Kalau Berbuat Baik Tidak Ikhlas, Maka Kita Takan Pernah Menikmatinya

WAKAFDT.OR.IDKalau kita berbuat baik dengan ikhlas, maka kita akan merasa nyaman. Sebaliknya jika kita berbuat baik agar dianggap baik, mendapat pujian, penilaian, dan penghormatan, maka tidak akan membuat kita tenang dan kita tidak pernah menikmati kebaikan tersebut.

Kalau pun kita berbuat baik, belum tentu orang lain akan menilai kita. Oleh karenanya jangan pernah berharap agar kita dinilai baik.

Capek-capek kita berbuat baik tetapi orang lain tidak menganggap baik dan kebaikan yang dilakukan juga tidak menjadi pahala, karena niatnya bukan karena Alloh.

Kalau kita berbuat baik ikhlas karena Alloh, meskipun tidak dipuji orang lain maka kita tetap berbuat baik.

Karena kebaikan yang kita lakukan bukan untuk orang lain, tetapi kita berbuat baik karena Alloh Ta’ala.

Kita harus senantiasa berhati-hati dalam menjaga kebersihan hati agar hati menjadi lurus dan murni dalam berniat.

Karena Alloh Ta’ala hanya menerima amal sholeh seorang hamba yang dilakukan dengan niat ikhlas mengharapkan ridho-Nya semata.

Boleh jadi kita menunaikan rencana niat baik, akan tetapi saat melakukannya hati kita berbelok menjadi berharap sesuatu yang lain selain penghargaan Alloh.

Seperti saat ikut aksi bela Islam beberapa tahun lalu di Jakarta. Mari kita tafakuri kembali, muhasabah kembali apa sebenarnya niat kita.

Kegiatan tersebut adalah kegiatan yang direncanakan sebagai kebaikan, sebagai amal sholeh kita sehingga kita berusaha sekuat tenaga agar semuanya berlangsung tertib dan damai, ada dalam ridho Alloh Ta’ala.

Ingat pujian itu sangat melelahkan, karena tidak setiap orang akan memuji kita dan tidak setiap orang akan menyukai kita.

Semoga kita senantiasa menjadi orang yang ikhlas dengan cara melatih diri sekuat mungkin, karena naluri manusia pada dasarnya ingin selalu dipuji.

Sebagian besar manusia banyak yang tenggelam dengan sebuah pujian, sehingga kehilangan orientasi hidup karena menuhankan pujian.

Pada dasarnya setiap pujian itu tidak akan mengubah apapun, begitu juga kalau dicaci tidak akan mengubah apapun, yang jelek tetap jelek dan yang keren tetap keren.

Kalau seseorang kecenderungannya ingin selalu dipuji pasti kecenderungannya menjadi orang yang munafik, karena berbeda dengan tampilan dibelakang dan didepan. Wallahu a’lam bishowab. (KH. Abdullah Gymnastiar)

Redaktur: Wahid Ikhwan


WAKAFDT.OR.ID

Aa Gym: Kalau Berbuat Baik Tidak Ikhlas, Maka Kita Takan Pernah Menikmatinya Read More »

Menjaga Pola Makan Sehat saat Ramadan: Hindari “Balas Dendam” Berlebihan

WAKAFDT.OR.IDMomen berbuka puasa sering kali memicu keinginan untuk menyantap segala jenis hidangan, mulai dari gorengan hingga minuman manis, sebagai kompensasi setelah belasan jam menahan lapar.

Namun, kebiasaan “balas dendam” dengan porsi berlebih ini menyimpan risiko kesehatan yang serius jika tidak dikendalikan dengan bijak.

Kementerian Kesehatan (Kemenkes) mengingatkan masyarakat untuk tetap berpegang pada prinsip gizi seimbang.

Yuni Zahraini, Ketua Tim Kerja Gizi Direktorat Pelayanan Kesehatan Keluarga Kemenkes, menekankan bahwa keberagaman takjil yang tersedia di bulan Ramadhan harus disikapi dengan kontrol diri.

“Anjuran berbuka dengan yang manis tetap harus dibatasi dalam porsi yang wajar,” ujar Yuni dalam dialog di Jakarta, Rabu (25/2/2026).

Beliau menjelaskan bahwa konsumsi berlebih pada minuman seperti sirup, teh manis, atau produk kemasan dapat melonjakkan asupan gula harian.

Sebagai gantinya, masyarakat disarankan untuk memastikan proporsi karbohidrat, protein, lemak, serta kecukupan vitamin dari sayur dan buah tetap terpenuhi.

Kebiasaan mengonsumsi gula tambahan dan lemak jenuh (seperti pada gorengan dan santan) tanpa diimbangi aktivitas fisik dapat menyebabkan:

  • Penumpukan Lemak: Energi berlebih akan disimpan tubuh menjadi lemak, memicu kenaikan berat badan.
  • Penyakit Tidak Menular: Dalam jangka panjang, pola makan buruk ini berisiko menyebabkan diabetes, hipertensi, peningkatan kolesterol, hingga obesitas.

Berapa Batas Aman Konsumsi Gula?

Merujuk pada rekomendasi Organisasi Kesehatan Dunia (WHO), berikut adalah panduan konsumsi gula harian:

  • Batas Maksimal: 10% dari total kebutuhan energi (sekitar 50 gram atau 4 sendok makan gula untuk dewasa dengan kebutuhan 2.000 kkal).
  • Rekomendasi Ideal: Ahli gizi menyarankan batas bawah hingga 5% (sekitar 25 gram atau 4 sendok teh) untuk manfaat kesehatan yang lebih optimal.

Perlu dicatat bahwa batasan ini berlaku untuk gula tambahan (gula pasir, sirup, pemanis olahan), bukan gula alami yang terdapat dalam buah-buahan atau susu.

Mengapa Gorengan Harus Dihindari saat Perut Kosong?

Gorengan memang menjadi primadona takjil di Indonesia, namun pakar gizi sangat tidak menyarankannya sebagai menu pembuka. Pakar gizi dari IPB University, Karina Rahmadia Ekawidyani, menjelaskan bahwa gorengan mengandung lemak jenuh dan lemak trans yang tinggi.

“Lemak merupakan zat gizi yang lebih sulit dicerna dibandingkan karbohidrat. Karena gorengan tinggi lemak, proses pencernaannya memakan waktu lebih lama,” jelas Karina. Mengonsumsi makanan yang sulit dicerna saat perut kosong setelah berpuasa berisiko mengganggu sistem pencernaan Anda.

Ramadhan seharusnya menjadi momentum untuk memperbaiki pola konsumsi. Dengan mengatur porsi dan membatasi asupan gula, garam, serta lemak, kita dapat menjalankan ibadah dengan tubuh yang tetap bugar dan sehat.

Redaktur: Wahid Ikhwan


WAKAFDT.OR.ID

Menjaga Pola Makan Sehat saat Ramadan: Hindari “Balas Dendam” Berlebihan Read More »