WAKAFDT.OR.ID | BANDUNG – Suasana khidmat menyelimuti Masjid Daarut Tauhiid Bandung pada pertengahan Februari ini (11-12/2/2026).
Di bawah naungan kubah masjid yang dibangun dari tetesan keringat para muwakif, puluhan santri SMA Daarut Tauhiid Boarding School (DTBS) Putri melantunkan ayat-ayat suci dalam agenda Parade Tasmi 10 Juz.
Mengusung tajuk “Meraih Kemuliaan dengan Al-Quran”, kegiatan ini bukan sekadar rutinitas akademik, melainkan puncak dari ikhtiar panjang menjaga hafalan.
Tasmi—metode menyetorkan hafalan sekali duduk di hadapan penyimak—menjadi tolok ukur kualitas itqan (kekuatan) hafalan para santri.
Marathon Spiritual Dua Hari
Perjalanan spiritual ini dimulai sejak Rabu pagi. Dalam durasi yang padat, para santri bergantian melantunkan Juz 1 hingga Juz 5. Ketahanan mental dan fokus mereka diuji hingga sore hari saat sesi ditutup dengan Juz 26 dan 27.
Keesokan harinya, Kamis pagi, suasana makin haru saat Juz 28, 29, dan 30 mulai berkumandang. Ritme tilawah yang terjaga menandakan kesiapan batin para penghafal Al-Qur’an ini dalam menuntaskan amanah 10 juz yang telah mereka persiapkan berbulan-bulan.
Masjid DT: Aset Wakaf yang Terus “Bicara”
Keberhasilan acara ini tidak lepas dari peran Masjid Daarut Tauhiid sebagai aset wakaf produktif yang multifungsi. Masjid ini bukan sekadar bangunan fisik, melainkan “laboratorium” lahirnya generasi qurani.
Setiap sudut masjid yang digunakan untuk bertasmi menjadi saksi bisu kebermanfaatan dana wakaf yang mengalir abadi.
Fasilitas yang nyaman, lingkungan yang kondusif, serta sarana penunjang di area pesantren DT semuanya merupakan buah dari pengelolaan wakaf yang amanah. Dengan adanya aset wakaf ini, para santri dapat fokus mendalami Al-Qur’an tanpa terkendala fasilitas.
Apresiasi dan Harapan
Muhammad Luthfi Iskandar, Humas SMA DTBS Putri, menyampaikan rasa syukurnya atas sinergi seluruh pihak, termasuk para donatur dan orang tua.
“Terima kasih kepada orang tua dan seluruh civitas yang telah mendukung kelancaran kegiatan ini. Kami berharap hafalan yang dibacakan tidak hanya berhenti di lisan, tapi mendarah daging dalam karakter dan perilaku sehari-hari,” tuturnya.
Usai acara, para santri kembali ke asrama dengan membawa tanggung jawab baru: menjaga apa yang telah dihafal melalui murajaah istiqamah. Di sisi lain, Masjid DT tetap berdiri kokoh, siap menyambut estafet kebaikan berikutnya dari para pejuang Al-Qur’an. (DS/WIN)
Redaktur: Wahid Ikhwan
