Wakaf Daarut Tauhiid

24 Desember 2025

Membentuk Karakter Peduli Sejak Dini: Siswa TK & SD DT Bandung Gelar Charity untuk Bencana Aceh

WAKAFDT.OR.ID | BANDUNG โ€“ Menanamkan rasa empati dan kepedulian sosial merupakan investasi karakter terbaik bagi anak usia dini.

Semangat inilah yang ditunjukkan oleh para siswa TK dan SD Daarut Tauhiid (DT) Kota Bandung melalui aksi nyata bertajuk Market Day and Charity.

Kegiatan ini diselenggarakan sebagai bentuk kepedulian terhadap masyarakat yang terdampak bencana alam di wilayah Aceh, Sumatra Utara, dan Sumatera Barat.

Melalui acara ini, sekolah tidak hanya mengasah kreativitas siswa, tetapi juga menyuburkan fitrah nurani untuk saling membantu sesama.

Kegiatan Market Day ini merupakan bagian dari implementasi Proyek Penguatan Profil Pelajar Pancasila (P5). Di sini, para siswa diajak untuk mempraktikkan langsung nilai-nilai luhur dalam keseharian, seperti:

  1. Kejujuran dan Amanah: Menjaga integritas dalam proses jual beli.
  2. Kerja Sama: Berkolaborasi antar teman dalam menyiapkan dagangan.
  3. Karakter Rasulullah: Meneladani akhlak mulia dalam berinteraksi dengan pembeli.

Seluruh keuntungan dan penggalangan dana dari kegiatan ini berhasil menghimpun donasi sebesar Rp1.160.000. Dana tersebut telah disalurkan melalui lembaga amil zakat nasional, DT Peduli, untuk segera didistribusikan kepada para penyintas bencana di Aceh.

Belajar di Atas Tanah Keberkahan: Aset Wakaf Daarut Tauhiid

Penting untuk diketahui bahwa proses belajar mengajar dan pembentukan karakter para siswa ini berlangsung di lingkungan yang penuh keberkahan.

Gedung dan fasilitas sekolah yang digunakan oleh siswa TK dan SD DT merupakan aset wakaf produktif Daarut Tauhiid.

Tanah wakaf ini menjadi saksi bisu tumbuh kembangnya generasi yang tidak hanya cerdas secara akademik, tetapi juga kaya secara spiritual.

Dengan belajar di atas aset wakaf, setiap aktivitas pendidikan di dalamnya diharapkan mengalirkan pahala jariyah bagi para muwakif (pewakaf) sekaligus menjadi wasilah keberkahan bagi para siswa.

Harapan dan Sinergi Sekolah-Orang Tua

Humas TK SD DT Kota Bandung, Abdurrahman, menyampaikan apresiasi yang mendalam kepada seluruh pihak yang terlibat, mulai dari guru, komite sekolah, hingga wali murid.

“Kami berharap donasi ini menjadi amal jariyah dan pemberat timbangan kebaikan bagi seluruh keluarga besar Ayah Bunda yang telah mendukung. Semoga nilai empati ini terus tumbuh dalam diri siswa sebagai bekal kehidupan mereka di masa depan,” ujar Abdurrahman.

Melalui sinergi antara pendidikan karakter, praktik ekonomi kreatif, dan dukungan fasilitas berbasis wakaf, sekolah berharap dapat mencetak generasi “Ahli Dzikir, Ahli Fikir, dan Ahli Ikhtiar” yang bermanfaat bagi bangsa. (WIN/NOV)

Redaktur: Wahid Ikhwan


WAKAFDT.OR.ID

Membentuk Karakter Peduli Sejak Dini: Siswa TK & SD DT Bandung Gelar Charity untuk Bencana Aceh Read More ยป

Hukum Mengucapkan Selamat Natal Menurut Buya Hamka: Toleransi Tanpa Menggadai Akidah

WAKAFDT.OR.IDPerdebatan mengenai hukum mengucapkan Selamat Natal bagi umat Islam sering kali muncul menjelang akhir tahun.

Salah satu tokoh yang sering dikaitkan dengan isu ini adalah Buya Hamka, Ketua Umum pertama Majelis Ulama Indonesia (MUI). Benarkah beliau melarang ucapan tersebut?

Putra kandung Buya Hamka, Irfan Hamka, memberikan klarifikasi mendalam mengenai pandangan sang ayah terkait toleransi beragama dan batas-batas akidah dalam Islam.

Klarifikasi Fatwa MUI 1981: Bukan Larangan Ucapan

Banyak orang salah kaprah menganggap Fatwa MUI tahun 1981 yang diterbitkan di masa kepemimpinan Buya Hamka mengharamkan ucapan Selamat Natal.

Irfan Hamka menegaskan bahwa poin utama fatwa tersebut bukan pada ucapannya, melainkan pada partisipasi dalam ritual ibadah.

“Yang diharamkan oleh Buya Hamka adalah jika umat Muslim mengikuti prosesi ibadah Natal, seperti menyanyi di gereja atau menyalakan lilin ritual,” jelas Irfan.

Praktik Toleransi Buya Hamka kepada Tetangga

Jauh dari kesan kaku, Buya Hamka dikenal sebagai sosok yang sangat menjunjung tinggi nilai kerukunan.

Saat menetap di Kebayoran Baru, Jakarta Selatan, beliau memiliki hubungan yang sangat harmonis dengan tetangganya yang beragama Kristen, yakni keluarga Ong Liong Sikh dan Reneker.

Bentuk toleransi yang ditunjukkan Buya Hamka meliputi:

  • Saling Memberi Ucapan: Saat Idulfitri, tetangga non-Muslim memberikan ucapan kepada Buya. Sebaliknya, pada 25 Desember, Buya Hamka membalas dengan ucapan selamat kepada mereka.
  • Berbagi Makanan: Buya sering meminta istrinya mengantarkan rendang kepada tetangga sebagai bentuk silaturahmi, biasanya dilakukan pada momen malam tahun baru.

Rahasia Dibalik Kalimat “Selamat Natal Kalian”

Irfan Hamka mengenang cara unik ayahnya dalam berucap. Buya Hamka sering menggunakan kalimat: “Selamat, telah merayakan Natal kalian.”

Penggunaan kata “kalian” atau “bagi kaum Kristiani” memiliki makna teologis yang dalam. Menurut Buya, tambahan kata tersebut berfungsi sebagai pembatas akidah sesuai prinsip Al-Qur’an surah Al-Kafirun: “Bagimu agamamu, bagiku agamaku.”

Dengan kata lain, ucapan tersebut adalah bentuk penghormatan atas kegembiraan orang lain tanpa harus membenarkan keyakinan agama tersebut.

Etika Mengucapkan Selamat dalam Islam

Selain masalah diksi, Irfan menyebutkan ada etika waktu yang diperhatikan oleh ayahnya. Beliau menyarankan agar ucapan selamat disampaikan setelah umat Kristen menyelesaikan ibadah mereka. Hal ini dikarenakan esensi kata “selamat” adalah apresiasi atas suatu peristiwa yang telah atau sedang berlangsung.

Pandangan Buya Hamka mengajarkan bahwa Islam adalah agama yang damai dan toleran. Menjaga hubungan baik dengan sesama manusia (hablum minannas) bisa dilakukan tanpa harus mencampuradukkan ritual ibadah (akidah). (WIN)

Redaktur: Wahid Ikhwan


WAKAFDT.OR.ID

Hukum Mengucapkan Selamat Natal Menurut Buya Hamka: Toleransi Tanpa Menggadai Akidah Read More ยป