Wakaf Daarut Tauhiid

18 Desember 2025

Menata Hati di Rumah Allah: Kisah Teh Uwi, Ibu Lima Hafiz yang Istiqomah di Masjid DT

WAKAFDT.OR.ID | BANDUNG โ€“ย Selasa (16/12/2025) siang, suasana tenang menyelimuti Masjid Daarut Tauhiid (DT) Gegerkalong, Bandung, sesaat setelah shalat Dzuhur berjamaah usai.

Di antara jamaah yang mulai beranjak, tampak seorang wanita paruh baya yang masih terpaku dalam kekhusyukan.

Ia adalah Uwi (49), atau yang akrab disapa Teh Uwi. Bagi tim Wakaf DT, sosoknya sudah tidak asing karena hampir selalu terlihat di setiap waktu shalat.

Ibu dari lima anak penghafal Al-Qurโ€™an ini telah menjadikan masjid sebagai pusat kehidupannyaโ€”mulai dari shalat berjamaah, menjaga hafalan (murojaah), hingga menyimak kajian ilmu.

Rindu yang Melampaui Jarak

Asal Sumedang, Teh Uwi memutuskan menetap di Bandung demi satu tujuan: agar lebih dekat dengan Masjid DT.

Meski harus menempuh perjalanan beberapa menit dari kosannya, langkah kakinya tak pernah terasa berat. Baginya, setiap langkah menuju masjid adalah wujud syukur yang dirawat dengan keistiqomahan.

โ€œSaya masih belajar, dan ingin selamanya belajar. Tidak ada kata cukup untuk mencari ilmu agama,โ€ ucapnya lirih. Di masjid ini, ia mengaku merasa bertumbuh, baik secara ilmu maupun ketenangan batin.

Al-Qurโ€™an sebagai Jawaban Hidup

Al-Qurโ€™an telah menjadi teman setia Teh Uwi dalam menautkan hati kepada Sang Pencipta. Ia menceritakan bagaimana kedekatan dengan kalam-Muโ€™jizat tersebut memberinya kekuatan saat menghadapi persoalan hidup.

โ€œKalau sedang ada masalah, saat membaca Al-Qurโ€™an, tiba-tiba ada ayat yang terasa sangat relevan dengan hidup saya. Padahal terkadang membukanya secara acak, tapi rasanya seperti Allah langsung menenangkan lewat ayat itu,โ€ tuturnya dengan mata berkaca-kaca.

Masjid sebagai Tempat Menata Hati

Sebagai manusia biasa, Teh Uwi tak menampik jika rasa jenuh atau malas terkadang menghampiri. Namun, ia selalu mengingatkan diri bahwa dunia hanyalah persinggahan sementara. Pesan-pesan dari kajian di Masjid DT menjadi penguat yang selalu memanggilnya kembali.

Dukungan fasilitas masjid yang nyaman, udara yang sejuk, dan suasana teduh di Masjid DT membuatnya betah untuk berlama-lama beriktikaf. Baginya, masjid bukan sekadar bangunan fisik untuk ibadah, melainkan tempat di mana hati kembali ditata.

Memakmurkan Melalui Kehadiran

Kisah Teh Uwi mengajarkan bahwa memakmurkan masjid tidak selalu harus dimulai dengan hal-hal besar. Kehadiran yang setia dan niat yang terjaga setiap hari adalah bentuk kemakmuran yang nyata.

Melalui Wakaf Masjid Rahmatan Lil โ€˜Alamin, semangat yang dibawa oleh jamaah seperti Teh Uwi diharapkan terus hidup.

Dukungan wakaf memastikan masjid tetap menjadi ruang tumbuh bagi siapa pun yang ingin mendekat kepada Allah, menjadi tempat lahirnya ketenangan, ilmu, serta generasi Qurโ€™ani yang lahir dari cinta dan istiqomah. (SSP/WIN)

Redaktur: Wahid Ikhwan


WAKAFDT.OR.ID

Menata Hati di Rumah Allah: Kisah Teh Uwi, Ibu Lima Hafiz yang Istiqomah di Masjid DT Read More ยป

Masjid sebagai Tempat Pulang: Dedikasi Niken dalam Menjaga Cahaya Ibadah di Masjid DT

WAKAFDT.OR.ID | BANDUNG โ€“ย Selasa (16/12/2025), suasana Masjid Daarut Tauhiid (DT) selepas Dzuhur terasa hidup dan menenangkan.

Udara sejuk menyelimuti langkah kami saat berkunjung untuk menyaksikan langsung denyut aktivitas halaqah yang tumbuh subur di jantung masjid ini.

Di sana, kami bertemu dengan Niken (23), atau yang akrab disapa Teh Niken. Pemudi asal Garut dengan raut wajah tenang dan senyum tulus ini tengah menjalankan amanahnya sebagai musrifah (pembimbing santri).

Ini adalah tahun keduanya mengabdi secara profesional, setelah sebelumnya menghabiskan hampir empat tahun membersamai DT sejak masa kuliah.

Keputusan Niken untuk menetap dan mengabdi sebagai musrifah selepas lulus kuliah bukanlah pilihan yang instan. Di usia muda, ia memilih jalan pengabdian untuk mendampingi dan bertumbuh bersama para santri.

โ€œHalaqah itu harus dimaksimalkan di masjid. Karena dari masjid, shalat lima waktu terjaga, lalu dilanjutkan dengan murojaah dan menambah hafalan bersama santri SMA/SMK,โ€ ujarnya.

Aktivitas halaqah di sini mengalir mengikuti waktu shalat. Waktu Subuh hingga pagi dipenuhi dengan setoran hafalan baru, sementara jeda Dzuhur atau Maghrib diisi dengan halaqah setoran ringan. Bagi Niken, atmosfer masjid memberikan pengaruh besar terhadap kualitas ibadah para santri.

โ€œMenghafal di masjid rasanya lebih mudah dan nyaman. Vibes masjid membuat hati betah, seolah ada energi yang menahan siapa pun untuk tidak segera beranjak,โ€ tuturnya.

Ketenangan yang dirasakan di Masjid DT bukanlah sesuatu yang dibuat-buat, melainkan lahir dari konsistensi suasana ibadah yang terjaga.

Motivasi Niken sederhana namun mendalam: ia ingin berkontribusi melalui apa yang ia bisa. Menjadi musrifah baginya adalah tentang hadir lebih dekat dengan santri dan menjaga niat agar tetap lillah (karena Allah).

โ€œKehangatan saat beribadah itu adalah anugerah terindah,โ€ ucapnya lirih.

Dedikasi Niken adalah potret nyata dari upaya memakmurkan masjidโ€”sebuah tempat di mana doa, hafalan, dan harapan tumbuh beriringan. Di sinilah esensi dari Wakaf Masjid Rahmatan Lil โ€˜Alamin terasa nyata.

Masjid yang nyaman, sejuk, dan terawat bukan sekadar bangunan fisik, melainkan ruang hidup bagi generasi muda. Wakaf masjid menjadi ikhtiar bersama agar rumah ibadah ini terus menjadi “tempat pulang” untuk belajar dan menebar rahmat bagi sesama. (SSP/WIN)

Redaktur: Wahid Ikhwan


WAKAFDT.OR.ID

Masjid sebagai Tempat Pulang: Dedikasi Niken dalam Menjaga Cahaya Ibadah di Masjid DT Read More ยป