Wakaf Daarut Tauhiid

31 Desember 2025

Kisah Najarudin Menjadi Staf Terbaik di Atas Tanah Wakaf

WAKAFDT.OR.ID | BANDUNG — Apresiasi tinggi diberikan kepada Muhammad Najarudin dalam gelaran Forum Santri Karya Yayasan Daarut Tauhiid Rahmatan Lilโ€™alamiin (YDTR) yang berlangsung khidmat di Aula Arofah, Kampus SMP DTBS Putri, Senin (22/12/2025).

Najar resmi dinobatkan sebagai staf terbaik, sebuah pengakuan atas dedikasi luar biasanya selama empat tahun terakhir di STAI Daarut Tauhiid.

Bagi Najar, penghargaan ini bukan sekadar pencapaian personal, melainkan manifestasi dari semangat berkhidmat kepada umat dan Gurunda KH. Abdullah Gymnastiar (Aa Gym).

Dedikasi dan Pemanfaatan Aset Wakaf

Selain kinerjanya yang menonjol di bidang administrasi akademik, Najar dikenal aktif dalam optimalisasi aset wakaf DT. Ia tidak hanya bekerja di atas tanah wakaf, tetapi juga menjadi penggerak dalam memakmurkan fasilitas yang ada.

Pemanfaatan Sarana: Najar secara rutin terlibat dalam pengelolaan program-program dakwah yang menggunakan fasilitas wakaf, memastikan aset tersebut berfungsi produktif untuk pendidikan santri.

Spirit Produktivitas: Ia meyakini bahwa bekerja di lingkungan wakaf menuntut tanggung jawab moral yang lebih besar, karena setiap jengkal fasilitas merupakan amanah dari para muwakif (donatur wakaf).

“Bekerja di sini adalah sarana mendekatkan diri kepada Allah. Setiap amanah, termasuk menjaga dan memanfaatkan aset wakaf dengan sebaik-baiknya, adalah jalan untuk memberi manfaat seluas-luasnya bagi umat,” ungkap Najar.

Memaknai Penghargaan sebagai Ujian

Najar menanggapi predikat “Staf Terbaik” ini dengan sikap rendah hati. Ia memandang penghargaan tersebut sebagai dua sisi mata uang: ujian keikhlasan dan pujian sebagai pengingat.

Ia berkomitmen untuk tidak terjebak dalam rasa bangga berlebih, melainkan menjadikannya cambuk untuk meningkatkan tanggung jawab profesionalnya.

Harapan untuk Masa Depan YDTR

Menutup momentum penuh haru tersebut, Najar menyampaikan asanya bagi masa depan institusi. Ia berharap STAI DT dan YDTR secara umum dapat terus bertransformasi menjadi lembaga pendidikan yang:

  • Unggul dan Profesional: Adaptif terhadap zaman namun tetap teguh pada nilai islami.
  • Berintegritas: Melahirkan lulusan yang kompeten secara ilmu dan kuat secara akhlak.
  • Mandiri melalui Wakaf: Terus mengelola aset wakaf secara produktif demi kemaslahatan sosial yang berkelanjutan.

Pencapaian Najar menjadi bukti bahwa sinergi antara kualitas SDM yang mumpuni dan pemanfaatan aset wakaf yang tepat sasaran mampu menciptakan ekosistem dakwah yang progresif di lingkungan Daarut Tauhiid. (WIN/NOV)

Redaktur: Wahid Ikhwan


WAKAFDT.OR.ID

Kisah Najarudin Menjadi Staf Terbaik di Atas Tanah Wakaf Read More ยป

Cahaya di Tengah Genosida: Ratusan Yatim Piatu Gaza Rayakan Kelulusan Hafidz Al-Qur’an

WAKAFDT.OR.ID | GAZA โ€“ Di balik reruntuhan bangunan dan pekatnya kabut peperangan, sebuah pemandangan mengharukan menyelimuti Kamp Pengungsi Al-Shati, Gaza Barat, pada Kamis (25/12/2025).

Sebanyak 500 pemuda dan pemudi Palestina merayakan keberhasilan mereka mengkhatamkan hafalan Al-Qur’an.

Acara ini bukan sekadar perayaan keagamaan, melainkan simbol perlawanan spiritual dan keteguhan bangsa yang menolak menyerah meski ditekan agresi militer selama dua tahun terakhir.

Generasi Cahaya dari Balik Tenda

Perayaan yang diinisiasi oleh Yayasan Amal Alia Kuwait dan Yayasan Ayadi Al-Khair ini berlangsung khidmat. Mustafa Abu Threya, pengawas proyek tersebut, menyebut para wisudawan sebagai “Generasi Cahaya”.

Menurutnya, di saat masjid-masjid dan lembaga pendidikan dihancurkan oleh serangan Israel, semangat warga Gaza untuk memuliakan Al-Qur’an justru semakin membara.

“Masyarakat Gaza membuktikan bahwa keyakinan dan warisan budaya mereka tidak bisa dihancurkan oleh pengepungan. Mereka membawa pesan Islam di hati sebagai harapan bagi masa depan umat,” tegas Mustafa dalam pidatonya yang menggetarkan.

Ketangguhan Anak-Anak Yatim di Al-Mawasi

Kisah serupa juga datang dari kawasan Al-Mawasi, Khan Younis. Di kamp pengungsian khusus yatim piatu, Al-Baraka, sekitar 600 anak yang kehilangan ayah mereka akibat genosida turut merayakan pencapaian menghafal kalam Ilahi.

Nidaa Shalayel, salah satu pengawas program, berbagi kisah pilu sekaligus inspiratif. Meski kehilangan suami, dua putra, dan tiga cucunya dalam perang, ia tetap konsisten mendirikan halaqah (lingkaran) Al-Qur’an di tenda-tenda pengungsian.

“Menghafal Al-Qur’an adalah cara terbaik kami untuk meneguhkan keberadaan dan identitas di tanah ini,” ujar Nidaa. Baginya, Al-Qur’an adalah sumber martabat dan kekuatan bagi anak-anak yang telah kehilangan segala-galanya.

Salah satu wisudawan, Shahd Sbeita, seorang gadis kecil yang ayahnya gugur dalam serangan Israel, mengungkapkan tekadnya. Meski proses hafalannya sempat terhenti akibat pecahnya perang, ia kembali ke lingkaran hafalan di tengah pengungsian.

“Insya Allah, saya akan menyelesaikan seluruh hafalan saya,” ucapnya lirih namun penuh keyakinan. Ia juga menyelipkan pesan kepada dunia: “Selamatkan Gaza. Jangan lupakan kami.”

Data dari Kementerian Pembangunan Sosial di Gaza menunjukkan kenyataan pahit bahwa sekitar 40.000 anak Palestina kini telah menjadi yatim atau piatu akibat agresi yang tak kunjung usai.

Namun, melalui program hafalan ini, Gaza mengirimkan pesan kuat kepada dunia: bahwa di tengah derita yang tak terbayangkan, iman dan ketangguhan mereka tetap berdenyut kencang. (WIN)

Redaktur: Wahid Ikhwan


WAKAFDT.OR.ID

Cahaya di Tengah Genosida: Ratusan Yatim Piatu Gaza Rayakan Kelulusan Hafidz Al-Qur’an Read More ยป