Wakaf Daarut Tauhiid

6 Desember 2025

Belajar Dari Dakwah Nabi Saleh

WAKAFDT.OR.IDย — Nabi Saleh โ€˜Alaihissalam diangkat menjadi Nabi untuk melanjutkan masa kenabian Nabi Hud โ€˜Alaihissalam. Nabi Saleh diutus Allah Taโ€™ala untuk berdakwah kepada kaum Tsamud, salah satu keturunan dari Nabi Nuh โ€˜Alaihissalam.

Dalam sebuah riwayat disebutkan bahwa kaum Tsamud diberi kelebihan oleh Allah dalam bentuk fisik yang kuat. Kaum Tsamud dapat mengukir dan memahat gunung-gunung berbatu sehingga menjadi bentuk yang sangat indah.

Selain itu juga diberikan kepandaian untuk mendirikan bangunan kokoh dan tinggi yang dijadikan sebagai tempat tinggal mereka.

Kaum Tsamud hidup dengan makmur di atas tanah yang subur, dengan tanah yang subur tersebut kaum Tsamud memilih untuk bercocok tanam, memelihara hewan ternak sehingga tidak ada yang merasa kelaparan.

Namun celakanya! Hidup kaum Tsamud jauh dari petunjuk dan hidayah Allah Taโ€™ala. Kepandaian yang ada dalam diri kaum Tsamud telah membuat kaum Tsamud sombong, sampai-sampai Kaum Tsamud menganggap diri meraka adalah kaum yang paling hebat dan kuat dibandingkan kaum-kaum lainnya.

Kaum Tsamud menyembah patung dan berhala yang dibuat oleh mereka sendiri. Senang mabuk-mabukan, membunuh, berzina, merampok, dan segala bentuk perbuatan maksiat dilakukan setiap harinya. Sehingga membuat Allah Taโ€™ala murka karena lupa pada nikmat dan karunia Allah Taโ€™ala.

Allah Taโ€™ala kemudian mengutus Nabi Saleh โ€˜Alaihissalam untuk mendakwahkan kaum Tsamud untuk kembali kepada jalan yang benar. Lalu Allah Taโ€™ala berfirman dalam surat Hud ayat 61 yang artinya:

Kepada (kaum) Tsamud (Kami utus) saudara mereka, Saleh. Dia berkata, “Wahai kaumku, sembahlah Allah! Sekali-kali tidak ada Tuhan bagimu selain Dia. Dia telah menciptakanmu dari bumi (tanah) dan menjadikanmu pemakmurnya. Oleh karena itu, mohonlah ampunan kepada-Nya, kemudian bertobatlah kepada-Nya. Sesungguhnya Tuhanku sangat dekat lagi Maha Memperkenankan (doa hamba-Nya).”

Namun, kaum Tsamud mengabaikan ajakan Nabi Saleh. Kaum Tsamud pun menyampaikan sebagaimana yang termaktub dalam surat Hud ayat 62 yang artinya:

โ€œMereka (kaum Samud) berkata, “Wahai Saleh, sebelum ini engkau benar-benar merupakan orang yang diharapkan di tengah-tengah kami. Apakah engkau melarang kami menyembah apa yang disembah oleh nenek moyang kami? Sesungguhnya kami benar-benar dalam keraguan yang menggelisahkan terhadap apa (agama) yang engkau serukan kepada kami.”

Intinya kaum Tsamud menolak kehadirannya, namun Nabi Saleh โ€˜Alaihissalam tidak berputus asa dan mundur dari dakwahnya sebagaimana yang perintahkan Allah.

Nabi Saleh โ€˜Alaihissalam tetap berusaha untuk menyebarkan agama Allah dan terus mencoba untuk memperbaiki akhlak kaum Tsamud.

Berkat kesabaran dan keteguhan Nabi Saleh, beberapa kaum Tsamud pun bersedia beriman kepada Allah Taโ€™ala. Kesabaran dakwah tersebut harus kita contoh dalam menyebarkan agama Allah.

Redaktur: Wahid Ikhwan


WAKAFDT.OR.ID

Belajar Dari Dakwah Nabi Saleh Read More ยป

Aa Gym: Hati-Hati Dengan Sifat โ€œPendendamโ€

WAKAFDT.OR.IDย — Kita harus bisa menerima kenyataan bahwa sebagai manusia, orang lain pun bisa berbuat dosa atau salah, baik disengaja maupun tidak kepada kita.

Dalam situasi seperti ini, kita tidak perlu khawatir karena Alloh Taโ€™ala memberikan arah kemuliaan. Allah Taโ€™ala berfirman yang artinya:

โ€œDan tidaklah sama kebaikan dan kejahatan. Tolaklah (kejahatan) dengan cara yang lebih baik. Maka tiba-tiba orang yang di antaramu dan dia ada permusuhan, seolah-olah telah menjadi teman yang sangat setia.โ€ (QS. Fushilat: 34)

Dendam merupakan efek dari keadaan hati yang kecewa, terluka, dan merasa dizholimi.

Semakin dominan rasa dendam di dalam diri seseorang, akan semakin besar juga kemungkinan untuk marah, akan muncul perasaan dengki dan melakukan perbuatan buruk, Naโ€™udzubillaahi mindzalik. 

Nabi Muhammad Shallahu โ€˜alaihi wassalam ialah panutan terbaik. Beliau bersih dari rasa dendam, walaupun beliau dihina, diboikot, dicaci, disakiti secara fisik, dan intimidasi lainnya.

Nabi tidak pernah ada rasa dendam apalagi membalas perbuatan buruk orang lain dengan keburukan yang sama.

Rasulullah memaafkan dan mendoakan orang yang menyakitinya dengan kebaikan. Ketika penduduk kota Thaif menolak keras dakwah Rasulullah Shallahu โ€˜alaihi wasalam.

Kemudian malaikat Jibril alaihi wasalam menawarkan pembalasan terhadap mereka, maka Rosululloh Shallallahu โ€˜alaihi wasalam menolak tawara tersebut.

Sahabat, dendam itu selain akan menghancurkan kita, akan menghancurkan akhlak dan pikiran kita juga. Oleh karenanya jauhilah rasa dendam.

Balaslah perbuatan buruk orang lain dengan perbuatan yang baik, sebagaimana yang diajarkan Nabi Muhammad.

Kita tidak bisa memaksa orang lain berbuat baik kepada kita. Tapi, kita bisa memaksa diri kita sendiri untuk tetap berbuat baik kepada orang lain.

Mari kendalikan hati kita di saat timbulnya rasa dendam. Yakinilah bahwa kebaikan dan kemuliaan tidak akan datang dengan cara melampiaskan dendam.

Kemuliaan justru datang jika kita mampu memupus dendam dengan kebaikan. Keburukan orang lain tidak bisa membahayakan kita, yang membahayakan kita ialah keburukan kita sendiri.

Semoga Allah Taโ€™ala selalu membimbing kita untuk memiliki kebeningan dan ketulusan hati.

Seseorang yang pemaaf dan bukan pendendam bukan berarti itu lemah, justru sebaliknya menunjukkan betapa kuatnya orang tersebut dia kuat. (KH. Abdullah Gymnastiar)

Redaktur: Wahid Ikhwan


WAKAFDT.OR.ID

Aa Gym: Hati-Hati Dengan Sifat โ€œPendendamโ€ Read More ยป