Wakaf Daarut Tauhiid

25 Oktober 2025

Memahami Konsep Zina dalam Islam: Pelanggaran Moral yang Melibatkan Seluruh Indera

WAKAFDT.OR.IDDalam ajaran Islam, pemaknaan tentang zina jauh lebih luas daripada sekadar hubungan seksual di luar ikatan pernikahan yang sah, yang selama ini dipahami oleh masyarakat umum.

Nabi Muhammad SAW telah memberikan penjabaran mendalam bahwa perbuatan tercela ini meliputi berbagai bentuk penyimpangan moral yang melibatkan setiap organ tubuh manusia. Hal ini tercantum dalam hadits shahih yang menjelaskan cakupan zina yang lebih komprehensif:

Hadis Riwayat Muslim (No. 657) dan Bukhari (No. 6243) menyebutkan, yang terjemahannya berbunyi:

“Sesungguhnya Allah telah menetapkan bagian untuk setiap anak Adam dari perbuatan zina, dan hal itu pasti akan terjadi. Zina mata adalah pandangan (yang dilarang), zina kedua telinga adalah mendengarkan (hal-hal haram), zina lisan adalah ucapan (yang terlarang), zina tangan adalah sentuhan (yang dilarang), zina kaki adalah langkah (menuju perbuatan haram). Sementara hati berkeinginan dan berangan-angan, dan kemaluanlah yang akan membenarkan atau mendustakannya.”

Penjelasan Ulama: Ragam Zina yang Menjerumuskan

Anggota Komisi Fatwa Majelis Ulama Indonesia (MUI), KH Zia Ul Haramein, mempertegas bahwa bentuk-bentuk zina memang sangat bervariasi. Ia menekankan bahwa selain definisi umum yang mengacu pada hubungan seksual, terdapat bentuk-bentuk zina lain yang berpotensi menjerumuskan seseorang.

“Tentu jenis zina ini sangatlah beragam. Ada bentuk zina yang belum masuk ke dalam pengertian sosialnya yang merujuk pada hubungan lawan jenis atau hubungan seksual,” ujar Kiai Zia Ul pada Senin (20/9/2025).

Kiai Zia Ul melanjutkan penjelasannya bahwa Islam mendidik umatnya bahwa setiap indera memiliki potensi untuk melakukan zina sesuai dengan fungsinya masing-masing.

Menurut beliau, mata bisa “berzina” melalui pandangan yang tidak pantas, telinga melalui pendengaran terhadap hal-hal yang dilarang agama, lisan melalui perkataan cabul atau tidak senonoh, tangan melalui sentuhan yang terlarang, dan kaki melalui langkah yang ditujukan ke tempat-tempat maksiat.

Bahkan dimensi batin pun tidak luput; hati dan pikiran dapat terlibat dalam “zina” melalui imajinasi, khayalan, dan niat-niat buruk. Hal ini menegaskan perhatian Islam yang sangat tinggi terhadap kemurnian manusia secara menyeluruh, tidak terbatas pada tindakan lahiriah semata.

“Ada jenis-jenis zina lain yang mengarah pada esensi perbuatan tersebut, seperti zina ‘ain (mata), zina qolbi (hati) melalui imajinasi. Demikian pula zina ucapan ketika mengeluarkan kata-kata mesum, zina tangan, hingga zina kaki jika melangkah dan mengarahkan ke tempat maksiat,” jelas Kiai Zia Ul.

Benteng Moral dan Pensucian Jiwa

Dengan memahami spektrum zina yang luas ini, umat Muslim didorong untuk membangun benteng moral yang kuat. Pengetahuan ini merupakan bagian penting dari pembinaan akhlak guna mewujudkan masyarakat yang bersih, suci, dan bermartabat.

Meskipun setiap bentuk zina memiliki tingkatan dosa yang berbeda, semuanya berfungsi sebagai pintu gerbang yang berpotensi membawa seseorang pada zina hakiki apabila tidak segera dihentikan dan dikendalikan.

Oleh sebab itu, pemahaman mendalam tentang berbagai bentuk zina ini menjadi bekal fundamental bagi setiap Muslim dalam kehidupan sehari-hari, serta menjadi bagian integral dari upaya realisasi konsep tazkiyatun nafs (pensucian jiwa) sebagai ibadah kepada Allah Ta’ala. (WIN)

Redaktur: Wahid Ikhwan

Sumber: MUI


WAKAFDT.OR.ID

Memahami Konsep Zina dalam Islam: Pelanggaran Moral yang Melibatkan Seluruh Indera Read More »

Aa Gym: Ciri Orang yang Tidak Dewasa

WAKAFDT.OR.IDSahabat sekalian, kedewasaan seseorang itu tidak ditentukan dari umurnya. Orang yang sudah tua tidak menentukan dia juga dewasa. Boleh jadi dewasa secara usia, tetapi secara pemikiran belum tentu.

Ada beberapa hal yang menjadi tanda bagi seseorang apakah ia termasuk orang yang sudah dewasa atau belum.

Pertama, tidak bisa menjadi pendengar yang baik, setiap orang berbicara bawaannya selalu ingin memotong pembicaraan orang lain, ingin menyela, dan tidak sabar mendengarkan penjelasan orang lain.

Kalau orang lain berbicara ia sibuk melakukan hal-hal yang membuatnya tidak fokus dan kelihatannya tidak fokus.

Sedangkan Nabi kita Muhammad Shallallahu ‘alaihi wassalam kalau ada orang berbicara Ia pasti menyimak dengan seksama.

Kalau ada hal lucu Rosul akan ikut senyum, kalau sedih Rosul akan ikut prihatin, kalau ada sesuatu yang mengagumkan Rosul juga akan mengucapkan kalimat “maasyaAllah”.

Beda kalau orang yang tidak dewasa, kalau ada orang berbicara kecenderungannya pasti merendahkan, dengan mengatakan “ah bisa aja,” pokoknya tidak mau memberi apresiasi atau penghargaan kepada orang lain.

Pada kasus lain misalkan, kalau ada suatu berita ia memberikan sisi negatif dari berita tersebut, agar kelihatan paling tahu, paling paham, dan paling menguasai.

Kedua, selalu bertindak agresif menyerang pribadi orang lain. Orang seperti ini selalu mencari peluang untuk menyerang melalui kelemahan orang lain, senang merusak reputasi orang.

Dan kalau sudah tidak suka ia pasti mencari jalan untuk menjatuhkan orang tersebut. Orang tidak matang kedewasaannya pasti paling suka melihat orang lain menderita.

Ketiga, suka berlebih-lebihan dalam menyampaikan sesuatu. Mendramatisir secara berlebihan suatu kejadian, atau boleh jadi sebaliknya mengurangi-ngurangi.

Disisi lain juga ia suka berbeda didepan dan dibelakang. Di depan ceritanya A, kalau di belakang ceritanya B.

Misalkan dalam sebuah rapat, ia menyampaikan sebuah persetujuan pada keputusan rapat, namun diluar rapat malah menyampaikan tidak setuju. Bahkan sering berbohong hanya untuk mengakomodasi kepentingan sendiri.

Kedewasaan tidak dilihat dari segi usia, banyak yang usia tua tapi belum dewasa dan sebaliknya usia muda tapi sudah dewasa.

Ini karena yang menjadikan tolak ukur sebuah kedewasaan adalah kemampuan untuk memiliki pola pikir yang matang.

Dewasa adalah sebuah proses yang membutuhkan banyak sekali percobaan dan juga belajar dari kesalahan yang kita dilakukan. Wallahu a’lam bishowab. (KH. Abdullah Gymnastiar)

Redaktur: Wahid Ikhwan


WAKAFDT.OR.ID

Aa Gym: Ciri Orang yang Tidak Dewasa Read More »