WAKAFDT.O.ID – Islam bukan sekadar agama ritual, melainkan sebuah sistem hidup yang sempurna. Di dalamnya terdapat panduan lengkap bagi siapa saja yang ingin meraih keselamatan dan kebahagiaan sejati, baik di dunia maupun di akhirat. Salah satu kunci kebahagiaan tersebut adalah dengan bersikap istiqamah dalam menjalankan setiap petunjuk-Nya.
Sering kali kita keliru memahami konsep ibadah, seolah ia hanya terbatas pada salat, puasa, zakat, atau haji. Padahal, setiap jengkal aktivitas hidup kita—termasuk bekerja—bisa bernilai pahala di sisi Allah Ta’ala. Syaratnya sederhana namun mendalam: dilakukan dengan niat ikhlas demi mencari rida Allah serta tetap berada dalam koridor sunnah Rasulullah ﷺ.
Hal ini ditegaskan dalam Al-Qur’an, di mana Allah Ta’ala memerintahkan kita untuk giat bekerja (QS. At-Taubah: 105) dan segera bertebaran mencari karunia-Nya sesudah menunaikan kewajiban salat (QS. Al-Jumu’ah: 10).
Rasulullah ﷺ adalah sosok manusia paling agung, namun beliau tidak pernah berpangku tangan. Sejarah mencatat kemandirian beliau sejak usia dini, mulai dari menjadi penggembala ternak hingga menjadi pedagang profesional. Kejujuran beliau dalam berbisnis pulalah yang membuatnya dijuluki “Al-Amin” (orang yang terpercaya).
Beliau bersabda:
“Tidaklah Allah mengutus seorang Nabi melainkan dia menggembalakan kambing.” (HR. Bukhari).
Jejak kemandirian ini juga diikuti oleh para nabi terdahulu yang menjadikan pekerjaan mereka sebagai ladang ibadah:
- Nabi Adam as: Bertani.
- Nabi Nuh as: Tukang kayu terampil.
- Nabi Ibrahim as: Berkebun.
- Nabi Yusuf as: Birokrat/pegawai negara.
- Nabi Daud as: Pandai besi yang perkasa.
Dalam Di zaman sekarang, banyak orang mengukur kualitas pekerjaan hanya dari besarnya gaji, omzet, atau gengsi jabatan. Namun, standar Islam jauh melampaui angka-angka tersebut. Saat ditanya mengenai pekerjaan terbaik, Rasulullah ﷺ menjawab bahwa itu adalah pekerjaan yang dilakukan dengan tangan sendiri dan perniagaan yang mabrur (diberkahi).
Poin pentingnya bukan pada seberapa banyak materi yang dikumpulkan, melainkan seberapa besar keberkahan (thayyib) yang ada di dalamnya. Hasil kerja keras sendiri merupakan makanan terbaik yang bisa dikonsumsi oleh seorang mukmin, sebagaimana yang dicontohkan oleh Nabi Daud as.
Beruntunglah kita yang masih diberikan potensi dan kesempatan untuk bekerja. Jadikanlah setiap keringat yang menetes sebagai bentuk ikhtiar menjemput rezeki Allah. Dengan meniatkan pekerjaan sebagai ibadah, kita tidak hanya memenuhi kebutuhan perut di dunia, tetapi juga sedang membangun istana di akhirat. Wallahu a’lam bishowab. (KH. Abdullah Gymnastiar)
Redaktur: Wahid Ikhwan
