WAKAFDT.OR.ID | LUMAJANG – Di lereng Gunung Lemongan, Lumajang, Jawa Timur, nama Daim (64) pernah menjadi buah bibir—bukan karena prestasinya, melainkan karena ia dianggap telah kehilangan akal sehat. Selama hampir tiga dekade, pria lanjut usia ini mendaki terjalnya lereng hanya untuk menanam pohon pinang, sebuah pilihan yang dianggap konyol oleh warga saat itu.
Namun kini, sejarah membuktikan bahwa “kegilaan” Daim adalah sebuah visi visioner yang menyelamatkan desanya dari kepungan bencana.
Penyintas yang Melawan Trauma
Perjuangan Daim dimulai pada tahun 1996. Bukan tanpa alasan ia begitu terobsesi pada penghijauan. Masa kecilnya dihantui kenangan pahit saat rumahnya hanyut diterjang banjir bandang—sebuah dampak nyata dari hutan Lemongan yang gundul akibat pembalakan liar dan kebakaran yang terus berulang.
Berbekal cangkul, ember, dan bibit pohon, ia memulai misinya. Daim sempat bereksperimen dengan nangka, alpukat, hingga kopi. Sayangnya, tanaman tersebut habis dimakan hewan liar seperti kijang dan babi hutan. Akhirnya, ia menemukan “senjata” yang tepat: Pinang. Tanaman ini tidak disukai hewan liar, namun memiliki akar yang sangat kuat untuk mencengkeram tanah dan menyerap air hujan.
Menanam di Tengah Cemoohan
Tahun-tahun awal adalah masa terberat. Saat tetangganya berlomba menanam jati atau sengon demi nilai ekonomi cepat, Daim tetap setia pada pinang yang saat itu harganya jauh di bawah harga beras satu kilogram.
“Saya dianggap gila karena membawa bibit pinang ke hutan saat tanaman itu tidak laku. Tapi saya tidak peduli, karena yang saya cari bukan harga, tapi kembalinya warna hijau di gunung ini,” kenang Daim.
Ia bahkan membawa batu satu per satu untuk membangun jalan setapak demi memudahkan akses ke hutan produksi dan hutan lindung. Kini, dedikasinya telah membuahkan hasil berupa 14 hektare hutan pinang yang rimbun, yang berfungsi sebagai “sabuk hijau” penahan erosi.
Efek Domino: Dari Ekologi ke Ekonomi
Keajaiban terjadi pada tahun 2014. Harga pinang di pasar melonjak drastis. Para tetangga yang dulunya mengejek kini justru mengikuti jejak Daim. Namun, Daim tidak merasa tersaingi; ia justru bangga karena semakin banyak tangan yang menjaga hutan.
Keberadaan “Hutan Pinang Daim” kini menghidupi banyak orang:
- Penyerap Bencana: Desa kini aman dari ancaman banjir dan longsor.
- Lapangan Kerja: Daim mempekerjakan setidaknya 10 orang warga untuk proses panen.
- Manfaat Sampingan: Warga sekitar bisa mengambil pelepah pinang (untuk bungkus dodol) dan tanaman pakis di bawahnya secara gratis untuk dijual kembali.
Perjalanan Daim tidak selalu mulus. Ia sempat bersitegang dengan birokrasi perhutanan yang mempertanyakan legalitas aktivitas menanamnya di lahan negara. Namun, dengan keberanian seorang pejuang lingkungan, Daim tetap teguh pada prinsipnya: ia menanam untuk menyelamatkan nyawa, bukan untuk merusak.
Ketulusan tersebut akhirnya diakui negara. Pada tahun 2022, Daim dianugerahi Penghargaan Kalpataru sebagai Perintis Lingkungan. Sebuah pengakuan tertinggi yang membayar tuntas setiap peluh dan ejekan yang diterimanya selama 29 tahun.
Di usia senjanya, Daim hanya punya satu keinginan: adanya penerus. Bagi Daim, menanam pohon adalah bentuk “sedia payung sebelum hujan” di wilayah rawan bencana.
“Tidak perlu cari bibit yang sulit, yang penting tanam saja. Semakin banyak anak muda yang ikut, hutan kita akan tetap lestari,” pesannya penuh harap. (WIN)
Redaktur: Wahid Ikhwan
