Wakaf Daarut Tauhiid

16 Januari 2026

Aa Gym: Hati-Hati dengan Prasangka Buruk Kepada Allah

WAKAFDT.OR.ID — Saudaraku, kurang iman, kurang ridho, kurang sabar, kurang syukur kepada Allah adalah perkara-perkara yang wajib kita tobati.

Banyak-banyaklah beristighfar, memohon ampun kepada Allah atas setiap rongga dan celah kekurangyakinan kepada-Nya, yang ada pada hati kita. Sungguh tidak patut kita meragukan sedikit pun kekuasaan Allah.

Allah SWT berfirman, โ€œ..Sesungguhnya Allah menyukai orang-orang yang bertobat dan menyukai orang-orang yang menyucikan diri.โ€ (QS. al-Baqarah: 222)

Sesungguhnya kita adalah makhluk lemah yang tiada pernah luput dari kesalahan. Setiap hari dosa-dosa kita lakukan. Baik dosa besar maupun dosa kecil.

Namun, bukan besar kecilnya dosa yang perlu kita waspadai. Yang perlu kita waspadai adalah kalau kita sampai meremehkan dosa. Jangan sampai kita meremehkan keraguan-keraguan terhadap kekuasaan Allah yang sempat hadir di hati kita.

Mari kita periksa hati kita, kita nilai diri kita sendiri dengan sejujur-jujurnya. Hari ini sudah berapa kali kita berkeluh kesah kepada orang lain tentang harta kita.

Sudah berapa kali hari ini kita mengeluhkan pakaian kita. Atau tentang rumah kita, atau tentang kendaraan kita, atau tentang gaji kita, atau posisi kita di tempat kerja.

Boleh jadi ada orang yang mengatakan kalau mengeluh itu sesuatu yang manusiawi. Boleh saja kita sebut demikian, tetapi jika hanya berakhir di situ saja maka bisa berbahaya.

Karena sebagai orang yang beriman kepada Allah, segala apapun yang kita rasakan dalam menjalani hidup ini harus senantiasa dikembalikan kepada Dzat Yang Memiliki kehidupan, Dialah Allah Ta’ala.

Jika hendak mengeluh dan mengadu, lakukanlah kepada Allah Ta’ala yang utama, karena hanya Allah Yang Maha Mengetahui secara sempurna tentang keadaan diri kita dan kebutuhan kita.

Betapa banyak kesalahan dan dosa yang kita lakukan. Hati kita yang awalnya putih bersih, kini sudah berlumur noda hitam legam karena bekas dari dosa-dosa yang kita lakukan.

Oleh karenanya sahabatku, tiada pernah ada alasan bagi kita untuk menunda-nunda tobat. Tiada pernah ada alasan bagi kita untuk lalai memohon ampun kepada Allah.

Kita ini hanyalah manusia biasa. Bayangkan sosok mulia nan agung, kekasih Allah, Nabi Muhammad saw.

Beliau yang sudah dijamin oleh Allah bersih dari dosa-dosa (maโ€™shum) saja masih memohon ampunan Allah setiap hari hingga seratus kali. Maka, kita seharusnya kita serius untuk bertobat terus-menerus.

Rasulullah bersabda, โ€œTidakkah aku berada di pagi hari (antara terbit fajar hingga terbit matahari) kecuali aku beristighfar kepada Allah sebanyak seratus kali.โ€ (HR. An-Nasai)

Allah menyukai hamba-Nya yang bertobat. Jika Allah Ta’ala sudah menyukai hamba-Nya, maka niscaya Allah akan memberikan petunjuk kepadanya sehingga selamat dalam kehidupan.

Allah akan kuatkan hatinya menjalani hidup ini, dan Allah akan lapangkan jalan baginya. Beban hidup sebesar apapun akan ringan saja untuk dipikul jika Allah menolong kita.

Maka, jika ada orang yang kita lihat begitu banyak masalah dalam hidupnya namun ia tetap bisa menjalani dengan senyuman dan keringanan, maka itulah bentuk pertolongan Allah baginya.

Allah berikan ia kekuatan dan ketabahan sehingga setiap ujian bisa ia lalui tanpa banyak keluh kesah, hingga akhirnya ia terbentuk menjadi pribadi yang tangguh.

Bukan masalah hidupnya yang berkurang, tapi kemampuannya untuk menghadapi masalah hiduplah yang bertambah kuat. Wallahu a’lam bishowab. (KH. Abdullah Gymnastiar)

Redaktur: Wahid Ikhwan


WAKAFDT.OR.ID

Aa Gym: Hati-Hati dengan Prasangka Buruk Kepada Allah Read More ยป

Isra’ Mi’raj, Momen Mengingat Kembali Pentingnya Shalat

WAKAFDT.OR.IDPeristiwa Israโ€™ Miโ€™raj semestinya tidak hanya dipandang sebagai seremoni rutin yang diperingati setiap tahun. Lebih dalam dari itu, momentum ini adalah pengingat bagi setiap Muslim untuk meninjau kembali kualitas ibadah shalatnyaโ€”apakah sudah memiliki “ruh” atau sekadar menjadi rutinitas fisik belaka.

Dialog Langit dalam Sehari Semalam
Pakar Ilmu Al-Qur’an, KH Ahsin Sakho, memberikan catatan penting mengenai kedalaman makna shalat. Dalam sehari semalam, seorang Muslim setidaknya melafalkan takbir sebanyak 94 kali melalui 17 rakaat shalat fardhu. Namun, takbir bukan sekadar ucapan lisan tanpa makna.

Kiai Ahsin menekankan bahwa shalat adalah momen di mana penduduk bumi sedang “berdialog” dengan penghuni langit. Bayangkan saat kita bertakbir dengan kesadaran penuh akan keagungan Allah SWT, maka seluruh eksistensi diri kita yang kecil ini akan bergetar di hadapan Sang Pencipta yang Maha Besar. Shalat adalah kesaksian langit atas ketundukan hamba di bumi.

Menyeimbangkan Status “Hamba” dan “Khalifah”
Senada dengan hal tersebut, Ahmad Zayadi selaku Direktur Penerangan Agama Islam Kemenag RI, menyebutkan bahwa Israโ€™ Miโ€™raj adalah sarana meningkatkan kapasitas diri sebagai Abdullah (hamba Allah).

Menurutnya, esensi dari seorang hamba adalah kepatuhan dan kepasrahan total. Namun, status hamba ini harus berjalan beriringan dengan peran manusia sebagai Khalifah (pemimpin/pengelola bumi). Di sinilah letak keseimbangannya:

  • Substansi Hamba: Fokus pada ketundukan dan ibadah.
  • Substansi Khalifah: Fokus pada kreativitas dan inovasi.

Pesan utamanya adalah bahwa kreativitas yang kita kembangkan di dunia harus berlandaskan pada ketundukan kepada Allah. Semakin kreatif seseorang, seharusnya ia semakin merasa butuh dan dekat kepada Tuhannya, bukan justru menjauh karena merasa hebat.

Perjalanan Menembus Dimensi Langit
Secara historis, Israโ€™ Miโ€™raj yang terjadi pada bulan Rajab merupakan mukjizat fisik dan spiritual di mana Rasulullah SAW menempuh perjalanan dari Baitul Maqdis menuju Sidratul Muntaha. Muhammad Husain Haekal dalam karya literaturnya mendeskripsikan betapa megahnya perjalanan ini:

Pertemuan Lintas Zaman: Rasulullah SAW memimpin shalat bersama para nabi terdahulu, mulai dari Nabi Ibrahim, Musa, hingga Isa AS di kompleks Baitul Maqdis.

Lapisan Langit yang Menakjubkan: Dari langit pertama yang berkilau perak hingga langit ketujuh, Nabi disambut oleh para malaikat penjaga dan para nabi.

Realitas Gaib yang Dahsyat: Rasulullah diperlihatkan sosok Malaikat Izrail yang menjalankan tugasnya dengan penuh ketelitian, hingga malaikat-malaikat dengan wujud yang melampaui imajinasi manusia, yang semuanya tak henti-hentinya bertasbih memuji Allah.

Puncak dari perjalanan ini adalah Sidratul Muntaha, sebuah batas tertinggi di mana perintah shalat lima waktu diberikan langsung oleh Allah SWT. Ini menegaskan bahwa shalat adalah “kado” istimewa yang dibawa langsung dari langit untuk membantu manusia tetap terhubung dengan Sang Khaliq di tengah keterbatasan mereka di bumi. (WIN)

Redaktur: Wahid Ikhwan


WAKAFDT.OR.ID

Isra’ Mi’raj, Momen Mengingat Kembali Pentingnya Shalat Read More ยป

Menembus Batas Logika: Memaknai Esensi Israโ€™ Miโ€™raj bagi Jiwa yang Lelah

Peristiwa Israโ€™ Miโ€™raj bukan sekadar perjalanan kilat melintasi ruang geografis dari Masjidil Haram ke Masjidil Aqsa, lalu menembus dimensi langit menuju Sidratul Muntaha.

Lebih dari itu, mukjizat ini adalah pesan cinta dari Allah SWT kepada hamba-Nya yang sedang mengalami titik terendah dalam hidup.

Hadiah di Tengah Puncak Kesedihan
Secara historis, Israโ€™ Miโ€™raj terjadi pada โ€˜Amul Huzni atau โ€œTahun Kesedihanโ€. Rasulullah SAW baru saja kehilangan dua pilar pendukung utamanya: Siti Khadijah, istri tercinta yang menjadi penenang jiwanya, dan Abu Thalib, paman yang menjadi benteng perlindungannya.

Di tengah tekanan kaum Quraisy yang semakin beringas, Allah โ€œmenjemputโ€ Rasul-Nya untuk diperlihatkan tanda-tanda kebesaran-Nya.

Hal ini mengajarkan kita sebuah pelajaran berharga: Ketika pintu-pintu di bumi seolah tertutup bagi kita, pintu langit selalu terbuka lebar.

Shalat: โ€œMiโ€™rajโ€ Bagi Setiap Muslim

Buah tangan paling berharga dari perjalanan ini adalah perintah shalat lima waktu.
Jika Rasulullah SAW harus menembus langit ketujuh untuk berkomunikasi langsung dengan Sang Pencipta, kita sebagai umatnya diberikan kemudahan untuk melakukan โ€œMiโ€™raj spiritualโ€ setiap hari melalui shalat.

Dalam sebuah hadits disebutkan bahwa ash-shalatu miโ€™rajul muโ€™minin (shalat adalah miโ€™rajnya orang-orang beriman).
Saat bersujud, kita sebenarnya sedang melepaskan segala beban duniawi dan mengadukan segala sesak di dada langsung kepada pemilik alam semesta.

Relevansi Israโ€™ Miโ€™raj di Era Modern
Di zaman yang serba logis dan materialistik ini, Israโ€™ Miโ€™raj menantang kita untuk mengasah kembali kecerdasan spiritual. Peristiwa ini mengajarkan kita bahwa:

Keterbatasan Akal: Ada hal-hal yang tidak bisa dijangkau hanya dengan rumus fisika atau logika manusia. Iman dimulai di titik di mana logika berhenti.

Kecepatan dan Ketepatan: Perjalanan semalam tersebut membuktikan bahwa bagi Allah, waktu dan jarak adalah hal yang relatif. Jika Allah berkehendak mengangkat derajat seseorang, hal itu bisa terjadi dalam sekejap mata.

Pentingnya Integritas: Sepulangnya dari Miโ€™raj, Rasulullah SAW tetap menyampaikan kebenaran meski tahu akan dicemooh. Ini adalah teladan tentang konsistensi dalam memegang prinsip.

Israโ€™ Miโ€™raj adalah momentum untuk melakukan โ€œre-instalasiโ€ iman. Ia mengingatkan kita bahwa sesulit apa pun ujian hidup, kita memiliki Tuhan yang Maha Besar.

Shalat yang kita dirikan bukan sekadar rutinitas, melainkan sarana untuk selalu terhubung dengan sumber kekuatan yang tak terbatas.

Mari jadikan peringatan Israโ€™ Miโ€™raj tahun ini bukan sekadar seremoni, melainkan titik balik untuk memperbaiki kualitas komunikasi kita dengan Allah melalui shalat lima waktu.ย (WIN)

Redaktur: Wahid Ikhwan


Menembus Batas Logika: Memaknai Esensi Israโ€™ Miโ€™raj bagi Jiwa yang Lelah Read More ยป