Wakaf Daarut Tauhiid

23 Januari 2026

Alur Jambu: Desa yang Hanyut dan Perjuangan Menjemput Harapan di Tengah Debu

WAKAFDT.OR.ID | ACEH TAMIANG โ€“ Desa Alur Jambu kini hanyalah sebuah nama di atas peta. Saat tim Wakaf DT dan relawan kemanusiaan tiba untuk melakukan asesmen pada Kamis (22/1/2026), kesunyian yang mencekam langsung menyambut.

Tak ada lagi suara anak-anak berlarian atau kepul asap dari dapur warga. Desa ini telah dikosongkan, menjadi “desa mati” atas saran pemerintah setempat demi keselamatan jiwa.

Jejak 10 Meter yang Menghancurkan

Sulit membayangkan bahwa beberapa waktu lalu, lokasi tempat berdiri ini tenggelam dalam amukan air sedalam 10 meter. Ketinggian itu setara dengan gedung tiga lantai. Banjir bandang tidak hanya membawa air, tapi juga membawa kehancuran total. Seluruh rumah tinggal, fasilitas umum, hingga masjid, rata dengan tanah atau rusak hingga tak mungkin lagi ditinggali.

Pemerintah setempat telah menetapkan wilayah ini sebagai zona merah yang tidak layak huni. Kenangan warga Alur Jambu kini terkubur di bawah sisa-sisa reruntuhan dan lapisan lumpur yang mulai mengeras.

Dari Banjir Menuju Kekeringan yang Berdebu

Kini, warga Alur Jambu bertahan hidup di desa tetangga. Mereka menempati tenda-tenda darurat dan hunian sementara (Huntara) yang dibangun seadanya. Ironisnya, setelah dihantam air yang melimpah, kini mereka harus berhadapan dengan ekstremnya musim kemarau.

Panas terik yang menyengat membuat tanah-tanah bekas banjir pecah dan berdebu. Setiap embusan angin membawa partikel debu yang menyesakkan napas. Kondisi semakin sulit dengan terbatasnya akses air bersih dan hilangnya sinyal komunikasi sama sekali. Di sini, dunia terasa begitu jauh.

“Dulu kami hanyut karena air, sekarang kami kehausan dan sesak karena debu. Tapi kami harus bertahan,” ujar salah satu warga di sana sambil mencari puing-puing barang dari bekas rumahnya.

“Melihat Alur Jambu yang kini kosong adalah pemandangan yang menyedihkan. Namun, melihat warga yang masih memiliki semangat untuk bangkit di tenda-tenda ini adalah alasan mengapa kami di sini,” ungkap salah satu relawan Wakaf DT di lokasi.

Di tengah keterbatasan sinyal dan kepungan debu, tim terus mendata setiap kebutuhan. Kehadiran tim bukan sekadar membawa bantuan logistik, tetapi membawa pesan bahwa warga Alur Jambu tidak berjuang sendirian.

Perjalanan menuju pemulihan memang masih panjang dan terjal seperti jalanan menuju Aceh Tamiang, namun melalui sinergi wakaf, sebuah “Alur Jambu yang baru” diharapkan dapat segera tegak kembali, membawa kehidupan yang lebih aman dan berkah bagi para penyintasnya. (WIN)

Redaktur: Wahid Ikhwan


WAKAFDT.OR.ID

Alur Jambu: Desa yang Hanyut dan Perjuangan Menjemput Harapan di Tengah Debu Read More ยป

Senyum di Balik Lumpur: Asa Rara dan Mushaf Baru di Desa Sekumur Aceh Tamiang

WAKAFDT.OR.ID | ACEH TAMIANG โ€“ Di antara sisa-sisa lumpur kering yang masih melapisi dinding rumah-rumah di Desa Sekumur, Aceh Tamiang, terdengar gelak tawa yang memecah keheningan. Kamis siang (22/1/2026), sekelompok anak kecil berlarian mendekati sebuah truk logistik dengan logo Wakaf DT.

Di barisan paling depan, seorang gadis kecil bernama Rara tampak tak sabar. Matanya berbinar saat tim relawan mulai membuka kardus-kardus berisi Mushaf Al-Qurโ€™an yang masih terbungkus plastik rapi. Bagi Rara dan teman-temannya, itu bukan sekadar buku; itu adalah harta karun yang sempat hilang ditelan banjir bandang beberapa waktu lalu.

“Al-Qur’an Kami Sudah Jadi Lumpur”

Sambil mendekap erat mushaf barunya, Rara bercerita dengan nada polos namun menyayat hati. Ia mengenang sore mencekam saat air bah datang menerjang desa mereka.

“Masjid tempat kami mengaji terendam tinggi sekali. Mushaf yang biasa Rara pakai sudah hancur, lengket semua kena lumpur pekat. Sudah tidak bisa dibaca lagi,” kenangnya lirih.

TPA (Taman Pendidikan Al-Qur’an) yang menjadi ruang ceria bagi mereka setiap sore kini masih dalam tahap pembersihan. Selama berminggu-minggu, aktivitas mengaji terhenti. Bukan karena mereka tak mau, tapi karena tak ada lagi lembaran wahyu yang bisa mereka pegang.

Merajut Mimpi di Tengah Duka

Namun, duka akibat bencana tak sanggup memadamkan api cita-cita di hati anak-anak Desa Sekumur. Saat ditanya tentang masa depannya, Rara menjawab dengan tegas.

“Rara ingin jadi Guru,” ucapnya sambil tersenyum lebar. “Supaya Rara bisa mengajar anak-anak di sini lagi. Biar mereka pintar dan bisa mengaji walau habis ada banjir.”

Tak mau kalah, teman-teman Rara yang berada di sampingnya pun ikut menyahut dengan semangat. “Kalau aku ingin jadi Dokter!” seru salah satu temannya. “Biar kalau ada yang sakit karena banjir, bisa aku obati. Aku mau bantu banyak orang kelak.”

Wakaf: Jembatan Harapan

Penyaluran yang berlangsung selama dua hari (21-22 Januari 2026) ini menjadi momen krusial bagi pemulihan psikologis anak-anak. Kehadiran Mushaf Al-Qur’an baru dari para pewakaf melalui Wakaf DT memberikan kepastian bahwa pendidikan agama mereka tidak akan mati meski diterjang badai.

Relawan yang bertugas pun merasa haru melihat respon anak-anak tersebut. “Melihat mereka langsung duduk berkelompok dan mencoba membuka halaman demi halaman mushaf baru itu adalah bayaran terbaik bagi perjalanan jauh kami menuju desa ini,” ujar salah satu tim distribusi.

Kini, di Desa Sekumur, harapan mulai kembali bersemi. Melalui selembar Mushaf Al-Qur’an, mimpi Rara untuk menjadi guru dan cita-cita teman-temannya menjadi dokter terasa selangkah lebih dekat. Banjir boleh saja menghanyutkan bangunan, namun ia tak pernah bisa menghanyutkan semangat dan iman yang tertanam di dada anak-anak Aceh Tamiang. (WIN)

Redaktur: Wahid Ikhwan


WAKAFDT.OR.ID

Senyum di Balik Lumpur: Asa Rara dan Mushaf Baru di Desa Sekumur Aceh Tamiang Read More ยป

Menembus “Lautan Kayu”: Perjuangan Tim Wakaf DT Mengantar Kalam Ilahi ke Jantung Sekumur

WAKAFDT.OR.ID | ACEH TAMIANG โ€“ Angin kencang berembus membawa aroma kayu basah dan lumpur yang menyengat. Di hadapan tim Wakaf DT, daratan yang dulunya merupakan akses jalan aspal kini telah berganti menjadi medan terjal yang dipenuhi lubang dan bebatuan besar. Perjalanan menuju Desa Sekumur, Aceh Tamiang, pada Rabu-Kamis (21-22/1/2026) bukan sekadar distribusi bantuan biasa; ini adalah sebuah misi menembus isolasi.

Jembatan Putus dan Arus Deras

Langkah tim terhenti di tepian sungai yang meluap. Jembatan permanen yang selama ini menjadi urat nadi penghubung antar-desa kini tinggal menyisakan puing-puing beton yang hancur dihantam banjir bandang. Tak ada pilihan lain, tim harus memindahkan puluhan dus berisi Mushaf Al-Qur’an dan logistik pangan ke atas perahu kecil milik warga.

Dengan penuh kehati-hatian, para relawan menjaga agar muatan tidak terkena percikan air. “Satu dus ini sangat berharga, isinya harapan untuk anak-anak di seberang sana,” ujar salah satu relawan saat berpegangan erat pada sisi perahu yang bergoyang melawan arus sungai yang masih deras.

Menyaksikan “Desa yang Hilang”

Setelah berhasil menyeberangi sungai, pemandangan memilukan menyambut tim di Desa Sekumur. Desa ini sempat viral di media sosial melalui rekaman video amatir yang memperlihatkan “lautan kayu.” Saat tim tiba, kenyataannya jauh lebih mengerikan daripada yang terlihat di layar ponsel.

Gelondongan pohon-pohon raksasa berserakan tak beraturan, menimpa rumah-rumah, dan menutupi lahan pertanian. Desa Sekumur seolah “hilang” dari peta pemukiman, berganti menjadi hamparan kayu hutan yang terseret dari hulu. Di sini, sinyal internet adalah kemewahan yang lenyap bersama tiang-tiang listrik yang tumbang. Warga hidup dalam kesunyian, terputus dari informasi dunia luar.

Membawa Cahaya di Tengah Kegelapan

Kehadiran tim Wakaf DT menjadi “sinyal” harapan bagi warga yang merasa dilupakan. Karena ketiadaan akses informasi, warga tidak tahu kapan bantuan akan tiba. Saat dus-dus Al-Qur’an mulai dibuka di bawah tenda darurat, keharuan pecah.

“Kami mengira tidak akan ada yang sampai ke sini karena jalannya sudah tidak ada lagi. Al-Qur’an kami semua tertimbun di bawah kayu-kayu besar itu,” ungkap seorang tokoh masyarakat setempat dengan suara bergetar.

Membawa Mushaf Al-Qurโ€™an ke Desa Sekumur bukan sekadar mengganti buku yang rusak. Di tengah desa yang porak-poranda oleh kayu dan lumpur, ayat-ayat suci ini adalah pondasi pertama untuk membangun kembali mental dan spiritual warga.

Perjalanan pulang tim mungkin akan kembali menemui jalan terjal dan sungai yang dalam, namun senyum anak-anak Sekumur yang memeluk Mushaf baru mereka menjadi bahan bakar semangat yang takkan habis. Meski Desa Sekumur sempat disebut sebagai “desa yang hilang”, hari itu tim memastikan bahwa harapan mereka tidak ikut hilang. (WIN)

Redaktur: Wahid Ikhwan


WAKAFDT.OR.ID

Menembus “Lautan Kayu”: Perjuangan Tim Wakaf DT Mengantar Kalam Ilahi ke Jantung Sekumur Read More ยป