WAKAFDT.OR.ID | BANDUNG BARAT โ Upaya evakuasi di lokasi bencana longsor Desa Pasirlangu, Kecamatan Cisarua, Kabupaten Bandung Barat (KBB), terus menunjukkan perkembangan terbaru.
Hingga Rabu malam (28/1/2026), tim gabungan melaporkan telah menemukan 53 korban dalam kondisi meninggal dunia.
Berdasarkan keterangan dari Kepala Pelaksana BPBD Jawa Barat, Teten Ali Mulku Engkun, operasi pencarian masih jauh dari kata usai.
Saat ini, petugas di lapangan masih berupaya melacak keberadaan 27 orang lainnya yang dinyatakan hilang tertimbun material tanah.
Proses identifikasi terhadap para korban dilakukan secara intensif oleh tim Disaster Victim Identification (DVI) Polri. Berikut adalah rincian data per Rabu pukul 20.00 WIB:
Total Korban Dievakuasi: 53 orang.
Sudah Teridentifikasi: 37 orang.
Dalam Proses Identifikasi: 16 orang.
Masih dalam Pencarian: 27 orang.
Teten mengonfirmasi bahwa identitas sebagian besar korban telah berhasil dipastikan, sementara belasan lainnya masih menunggu hasil pemeriksaan lebih lanjut.
Kondisi tanah yang jenuh air akibat curah hujan tinggi sebelumnya telah diperingatkan oleh BMKG sebagai pemicu utama ketidakstabilan lereng di wilayah tersebut. (WIN)
WAKAFDT.OR.ID | TAPANULI โ Peta Desa Garoga mungkin kini telah berubah total. Desa yang dulunya asri, kini nyaris rata dengan tanah setelah banjir bandang bermuatan kayu-kayu raksasa menyapu segalanya tanpa sisa.
Namun, di antara tumpukan lumpur dan batang pohon yang melintang, ada semangat yang tak ikut hanyut. Semangat itu ada dalam diri Nasya, bocah kelas 3 SDN Garoga.
Saat Tim Wakaf Darut Tauhiid (DT) menyisir lokasi pengungsian pada 23-25 Januari 2026, Nasya tampak menonjol di antara anak-anak lainnya. Di balik tubuh mungilnya, tersimpan cita-cita yang gagah.
Terinspirasi dari Penolong di Balik Lumpur
Bagi Nasya, melihat desanya hancur adalah trauma yang nyata. Namun, pemandangan sehari-hari di pengungsian justru menumbuhkan bibit baru di hatinya. Setiap hari, ia melihat para prajurit TNI berjibaku memindahkan kayu-kayu besar dan mengeruk lumpur tebal yang menimbun rumah-rumah warga.
“Nasya mau jadi Tentara Wanita (KOWAD), Kak,” ucapnya tegas. Saat ditanya mengapa, jawabannya sederhana namun menyentuh, “Karena ingin bantu banyak orang di desa-desa, seperti bapak-bapak TNI itu.”
Baginya, sosok berseragam loreng adalah pahlawan yang menghadirkan harapan di tengah duka. Ia ingin suatu saat nanti, dialah yang berdiri di sana untuk menolong orang lain yang kesusahan.
Membawa Kalam Ilahi ke Tenda Pengungsian
Kehilangan sekolah dan masjid tercinta tempatnya belajar mengaji tak membuat Nasya patah arang. Biasanya, ia dan kawan-kawannya rutin mengaji di masjid dekat rumahnya di Garoga. Kini, masjid itu tinggal kenangan.
Selama di pengungsian, Nasya terpaksa mengaji di masjid desa tetangga atau di dalam tenda-tenda darurat yang gerah. Al-Qur’an yang ia gunakan pun sudah lusuh, sebagian halamannya mungkin sempat terkena percikan air atau debu sisa bencana. Namun, keterbatasan itu tak menghalanginya menghafal surat-surat pendek.
Maka, ketika Tim Wakaf DT menyodorkan sebuah mushaf Al-Qur’an baru yang masih bersih dan harum, wajah Nasya langsung cerah. Ia memeluk erat kitab suci tersebut dengan mata yang berbinar-binar.
“Senang sekali punya Al-Qur’an baru. Nanti mau dipakai buat setoran hafalan lagi sama teman-teman,” katanya sambil tersenyum lebar.
Menjaga Hafalan, Merajut Masa Depan
Meski SDN Garoga tempatnya menuntut ilmu kini tak lagi bisa digunakan, semangat belajar Nasya tetap menyala. Di dalam tenda pengungsian, ia tetap merapal ayat-ayat pendek yang telah ia hafal, menjaga cahaya iman tetap hidup di tengah kegelapan musibah.
Distribusi Al-Qur’an yang dilakukan Tim Wakaf DT bukan sekadar memberi buku, tapi memberi “amunisi” bagi jiwa-jiwa kecil seperti Nasya untuk terus bermimpi. Di antara sisa-sisa kayu besar yang menghancurkan desanya, Nasya sedang membangun pondasi mimpinya: menjadi prajurit penjaga bangsa yang hatinya terpaut pada Al-Qur’an. (WIN)
WAKAFDT.OR.ID | TAPANULI โ Di balik wajah lelah para penyintas banjir bandang di Huta Godang, Tapanuli, ada satu sosok yang sorot matanya seketika berbinar saat melihat rombongan Tim Wakaf Daarut Tauhiid (DT) dan relawan tiba. Bukan bantuan logistik biasa yang pertama kali ia cari, melainkan sebuah kitab suci.
Ia adalah Mela Erlina Napitupulu. Di tengah hiruk-pikuk distribusi bantuan yang berlangsung pada 23-25 Januari 2026, Mela menjadi salah satu warga yang paling antusias menyambut kedatangan tim. Namun, ada satu pertanyaan yang terus ia lontarkan dengan nada penuh harap kepada setiap relawan yang lewat.
“Ada Al-Qur’an, Dek?”
Pertanyaan sederhana itu menyimpan kerinduan yang mendalam. Bagi Mela, kehilangan harta benda akibat terjangan banjir bandang adalah ujian berat, namun kehilangan Al-Qur’an miliknya adalah kesedihan yang sulit dilukiskan.
Sahabat yang Hanyut Terbawa Arus
Sambil duduk di sudut posko pengungsian, Mela bercerita dengan suara bergetar. Al-Qur’an yang biasa ia peluk setiap hari kini telah sirna, hanyut bersama derasnya arus banjir yang menyapu rumah dan seisinya.
Bagi Mela, membaca Al-Qur’an bukanlah sekadar rutinitas, melainkan kebutuhan jiwa. Sebelum musibah itu datang, tak sehari pun ia lewatkan tanpa melantunkan ayat-ayat suci.
“Sudah lama sekali rasanya rindu ingin baca Al-Qur’an lagi. Biasanya saya baca setiap hari, itu yang bikin tenang. Tapi kemarin semuanya hanyut, tidak ada yang tersisa,” ungkapnya pilu.
Dahaga Spiritual di Masa Sulit
Kehadiran Tim Wakaf DT di Huta Godang selama tiga hari tersebut memang bertujuan untuk memulihkan kondisi psikis dan spiritual warga. Selain memberikan bantuan fisik, distribusi Al-Qur’an wakaf menjadi prioritas untuk membasuh dahaga spiritual para penyintas seperti Ibu Mela.
Saat sebuah mushaf baru diletakkan di tangannya, jemari Mela gemetar. Ia mengusap sampulnya dengan takzim, seolah baru saja menemukan kembali sahabat lama yang hilang. Kerinduan yang berhari-hari ia pendam di pengungsian akhirnya terbayar tuntas.
Bagi relawan yang bertugas, antusiasme Ibu Mela adalah pengingat kuat bahwa di tengah bencana sehebat apa pun, harapan dan iman adalah dua hal yang tidak boleh ikut hanyut.
Kini, di sela riuh rendah suasana pengungsian Huta Godang, suara Mela Erlina Napitupulu akan kembali terdengar, melantunkan kalam-kalam langit yang memberinya kekuatan untuk bangkit kembali. (WIN)