Wakaf Daarut Tauhiid

26 Januari 2026

Lantunan Ayat di Balik Tenda: Kala Anak-Anak Desa Garoga Menemukan Kembali Mushaf yang Hilang

WAKAFDT.OR.ID | TAPANULI SELATAN โ€“ Di tengah barisan tenda darurat yang berdiri di atas tanah Huta Godang, suara tawa anak-anak pecah, mengalahkan suara rintik hujan yang sesekali masih turun. Pada Jumat dan Sabtu (23-24/1/2026), sebuah pemandangan mengharukan terjadi saat tim Wakaf Daarut Tauhiid (DT) tiba membawa tumpukan kardus berisi Mushaf Al-Qurโ€™an baru.

Bagi anak-anak asal Desa Garoga yang kini mengungsi di sana, tumpukan mushaf itu bukan sekadar tumpukan kertas. Ia adalah simbol kembalinya sebuah rutinitas yang sempat dirampas oleh banjir bandang.

Rindu Suara Mengaji di Masjid

Sebelum tragedi banjir bandang meluluhlantakkan desa mereka, waktu antara Maghrib dan Isya adalah momen paling riuh. Anak-anak Desa Garoga biasanya berkumpul di masjid dekat rumah, saling bersahutan membaca ayat suci. Namun, terjangan air dan lumpur mengubah segalanya.

Masjid mereka kini dipenuhi material banjir, dan Al-Qur’an kesayangan yang biasa mereka dekap telah hilang tersapu arus yang ganas. Sejak saat itu, tenda pengungsian terasa lebih sunyi tanpa lantunan ayat suci dari mulut mereka.

“Kami rindu mengaji bersama teman-teman, tapi Al-Qur’an kami sudah hanyut semua. Kami bingung mau belajar pakai apa,” ungkap salah satu anak dengan nada polos.

Cahaya di Tengah Keterbatasan

Kedatangan tim Wakaf DT menjadi jawaban atas kerinduan tersebut. Distribusi mushaf ini tidak hanya menyasar Desa Garoga, tetapi juga mencakup warga terdampak di Desa Huta Godang dan Desa Aek Ngadol.

Saat tim mulai membagikan mushaf satu per satu, suasana berubah seketika. Anak-anak langsung berkumpul, membuka lembaran demi lembaran yang masih bersih dan harum kertas baru. Beberapa dari mereka langsung mencoba membaca surat-surat pendek, seolah tak ingin membuang waktu sedetik pun.

Kegembiraan ini menjadi pelipur lara yang sangat efektif. Di tengah kondisi pengungsian yang terbatas, memiliki Mushaf Al-Qur’an sendiri memberikan kekuatan spiritual bagi mereka untuk bertahan dan tetap optimis.

Wakaf: Menyambung Harapan yang Putus

Perwakilan Tim Wakaf DT menyatakan bahwa penyaluran ini merupakan amanah dari para muwakif yang ingin memastikan pendidikan agama anak-anak di daerah bencana tetap terjaga.

“Kami ingin meski mereka kehilangan rumah, mereka tidak kehilangan pegangan hidup. Mushaf ini adalah jembatan agar pendidikan karakter dan spiritual mereka tetap berjalan di mana pun mereka berada,” ujarnya di sela-sela distribusi di Desa Aek Ngadol.

Matahari mulai terbenam di ufuk Tapanuli, namun sore itu, tenda pengungsian Huta Godang tak lagi sesunyi biasanya. Dari sela-sela kain tenda, mulai terdengar suara samar anak-anak mengeja huruf demi huruf hijaiyah.

Sebuah bukti nyata bahwa meski bencana bisa menyapu harta benda, ia tak akan pernah bisa menghanyutkan semangat mengaji anak-anak Desa Garoga. (WIN)

Redaktur: Wahid Ikhwan


Lantunan Ayat di Balik Tenda: Kala Anak-Anak Desa Garoga Menemukan Kembali Mushaf yang Hilang Read More ยป

Eco Pesantren DT: Menjawab Tantangan Ekologis Melalui Wakaf

WAKAFDT.OR.ID | BANDUNG BARAT โ€“ Di tengah desakan audit lingkungan akibat bencana longsor yang berulang di Bandung Barat, Wakaf DT hadir dengan model pengelolaan lahan yang berpihak pada alam melalui kawasan Eco Pesantren DT. Kawasan ini menjadi prototipe bagaimana institusi pendidikan dan dakwah dapat berperan aktif dalam mitigasi bencana dan pelestarian lingkungan.

Langkah Nyata Penjagaan Ekosistem: Pengembangan Eco Pesantren DT bukan sekadar membangun gedung, melainkan menata kawasan yang mengutamakan fungsi ekologis, antara lain:

  • Kawasan Hijau Produktif: Wakaf dari para muwakif (pewakaf) dialokasikan untuk membebaskan lahan yang kemudian ditanami ribuan pohon pelindung dan produktif. Hal ini berfungsi sebagai sabuk hijau untuk mencegah erosi dan menjaga stabilitas tanah di area perbukitan.
  • Sumur Resapan dan Konservasi Air: Sebagai langkah antisipasi kekeringan dan banjir, kawasan ini dilengkapi dengan sistem drainase alami dan sumur resapan, guna memastikan air hujan kembali ke dalam tanah (akifer) dan tidak menjadi aliran permukaan (run-off) yang merusak.
  • Edukasi Khidmah Ekologis: Di Eco Pesantren, para santri tidak hanya belajar ilmu agama secara tekstual, tetapi juga diajarkan “Khidmah Ekologis”โ€”sebuah konsep di mana menjaga kebersihan, mengelola sampah secara mandiri, dan menanam pohon dipandang sebagai bagian dari ibadah.

Wakaf sebagai Bentuk Mitigasi Bencana Ketua Tim Wakaf DT menyatakan bahwa dana wakaf yang dikelola diarahkan untuk menciptakan kawasan yang mandiri secara energi dan lingkungan.

“Melalui Eco Pesantren, kita ingin membuktikan bahwa pembangunan sarana pendidikan tidak harus merusak hutan penyangga. Sebaliknya, wakaf hadir untuk mengembalikan fungsi hutan tersebut sekaligus memberikan manfaat luas bagi santri dan masyarakat sekitar,” ujarnya.

Langkah yang dilakukan Wakaf DT di Eco Pesantren ini sejalan dengan menjaga kawasan hulu Bandung Barat. Jika alih fungsi lahan ilegal menjadi pemicu longsor, maka Wakaf Eco Pesantren menjadi solusi berkelanjutan untuk memastikan lahan tetap hijau, produktif, dan aman bagi generasi mendatang. (WIN)

Redaktur: Wahid Ikhwan


Eco Pesantren DT: Menjawab Tantangan Ekologis Melalui Wakaf Read More ยป

Legislator Dorong Audit Lingkungan Menyeluruh di Lokasi Rawan Bencana

WAKAFDT.OR.ID | BANDUNG BARAT โ€“ Musibah longsor yang menerjang Desa Pasirlangu, Kecamatan Cisarua, Kabupaten Bandung Barat (KBB) pada Sabtu (24/1/2026) lalu, memicu desakan kuat untuk dilakukannya evaluasi total terhadap kondisi ekosistem di lereng Gunung Burangrang. Bencana ini dinilai bukan sekadar dampak cuaca ekstrem, melainkan sinyal merah bagi tata kelola lahan di wilayah tersebut.

Rajiv, anggota DPR RI sekaligus anggota Panja Alih Fungsi Lahan Komisi IV, menegaskan bahwa audit lingkungan bersifat wajib. Menurutnya, pemerintah perlu menelusuri secara mendalam apakah bencana ini murni faktor alam atau diperparah oleh campur tangan manusia.

“Kita tidak bisa lagi hanya menyalahkan hujan. Harus ada keberanian untuk mengusut apakah ada kerusakan lingkungan atau alih fungsi lahan yang terjadi di kawasan rawan ini,” ujar Rajiv dalam keterangannya, Minggu (25/1/2026).

Ia menuntut investigasi yang transparan dari pemerintah daerah dan aparat penegak hukum agar penyebab utama longsor dapat diketahui publik secara jelas.

Gunung Burangrang sebagai Kawasan Penyangga

Kawasan lereng Gunung Burangrang memiliki peran krusial sebagai penyangga kehidupan ekologis di sekitarnya. Rajiv memperingatkan bahwa pembukaan lahan yang tidak terkendali dan perizinan yang bermasalah di kawasan lindung hanya akan menjadi “bom waktu” bagi bencana di masa depan.

Sebagai langkah konkret, Panja Alih Fungsi Lahan Komisi IV DPR RI berencana menyisir kembali seluruh perizinan usaha di kawasan rawan bencana. Evaluasi ini bertujuan untuk mendeteksi adanya potensi penyalahgunaan fungsi lahan yang berkontribusi terhadap banjir dan longsor di berbagai daerah.

Sambil mendorong penegakan aturan, Rajiv juga menyampaikan duka mendalam bagi para korban. Sebagai legislator dari Dapil Jawa Barat II, ia memastikan bantuan logistik segera mengalir bagi warga di posko pengungsian.

Data Terkini Dampak Longsor: Berdasarkan informasi sementara dari BNPB Jawa Barat hingga Ahad (25/1/2026):

  • Korban Meninggal: 10 orang.
  • Warga Hilang: 82 orang (masih dalam proses pencarian oleh tim gabungan).
  • Kondisi Lapangan: Operasi evakuasi dan pencarian terus dilakukan di titik-titik reruntuhan.

Tragedi ini menjadi pengingat keras bahwa kelestarian lingkungan dan ketegasan hukum dalam menjaga kawasan hijau adalah harga mati demi keselamatan nyawa manusia. (WIN)

Redaktur: Wahid Ikhwan


WAKAFDT.OR.ID

Legislator Dorong Audit Lingkungan Menyeluruh di Lokasi Rawan Bencana Read More ยป