Wakaf Daarut Tauhiid

24 Januari 2026

Kegilaan Daim Terhadap Pelestarian Alam Berbuah Manis

WAKAFDT.OR.ID | LUMAJANG โ€“ Di lereng Gunung Lemongan, Lumajang, Jawa Timur, nama Daim (64) pernah menjadi buah bibirโ€”bukan karena prestasinya, melainkan karena ia dianggap telah kehilangan akal sehat. Selama hampir tiga dekade, pria lanjut usia ini mendaki terjalnya lereng hanya untuk menanam pohon pinang, sebuah pilihan yang dianggap konyol oleh warga saat itu.

Namun kini, sejarah membuktikan bahwa “kegilaan” Daim adalah sebuah visi visioner yang menyelamatkan desanya dari kepungan bencana.

Penyintas yang Melawan Trauma

Perjuangan Daim dimulai pada tahun 1996. Bukan tanpa alasan ia begitu terobsesi pada penghijauan. Masa kecilnya dihantui kenangan pahit saat rumahnya hanyut diterjang banjir bandangโ€”sebuah dampak nyata dari hutan Lemongan yang gundul akibat pembalakan liar dan kebakaran yang terus berulang.

Berbekal cangkul, ember, dan bibit pohon, ia memulai misinya. Daim sempat bereksperimen dengan nangka, alpukat, hingga kopi. Sayangnya, tanaman tersebut habis dimakan hewan liar seperti kijang dan babi hutan. Akhirnya, ia menemukan “senjata” yang tepat: Pinang. Tanaman ini tidak disukai hewan liar, namun memiliki akar yang sangat kuat untuk mencengkeram tanah dan menyerap air hujan.

Menanam di Tengah Cemoohan

Tahun-tahun awal adalah masa terberat. Saat tetangganya berlomba menanam jati atau sengon demi nilai ekonomi cepat, Daim tetap setia pada pinang yang saat itu harganya jauh di bawah harga beras satu kilogram.

“Saya dianggap gila karena membawa bibit pinang ke hutan saat tanaman itu tidak laku. Tapi saya tidak peduli, karena yang saya cari bukan harga, tapi kembalinya warna hijau di gunung ini,” kenang Daim.

Ia bahkan membawa batu satu per satu untuk membangun jalan setapak demi memudahkan akses ke hutan produksi dan hutan lindung. Kini, dedikasinya telah membuahkan hasil berupa 14 hektare hutan pinang yang rimbun, yang berfungsi sebagai “sabuk hijau” penahan erosi.

Efek Domino: Dari Ekologi ke Ekonomi

Keajaiban terjadi pada tahun 2014. Harga pinang di pasar melonjak drastis. Para tetangga yang dulunya mengejek kini justru mengikuti jejak Daim. Namun, Daim tidak merasa tersaingi; ia justru bangga karena semakin banyak tangan yang menjaga hutan.

Keberadaan “Hutan Pinang Daim” kini menghidupi banyak orang:

  • Penyerap Bencana: Desa kini aman dari ancaman banjir dan longsor.
  • Lapangan Kerja: Daim mempekerjakan setidaknya 10 orang warga untuk proses panen.
  • Manfaat Sampingan: Warga sekitar bisa mengambil pelepah pinang (untuk bungkus dodol) dan tanaman pakis di bawahnya secara gratis untuk dijual kembali.

Perjalanan Daim tidak selalu mulus. Ia sempat bersitegang dengan birokrasi perhutanan yang mempertanyakan legalitas aktivitas menanamnya di lahan negara. Namun, dengan keberanian seorang pejuang lingkungan, Daim tetap teguh pada prinsipnya: ia menanam untuk menyelamatkan nyawa, bukan untuk merusak.

Ketulusan tersebut akhirnya diakui negara. Pada tahun 2022, Daim dianugerahi Penghargaan Kalpataru sebagai Perintis Lingkungan. Sebuah pengakuan tertinggi yang membayar tuntas setiap peluh dan ejekan yang diterimanya selama 29 tahun.

Di usia senjanya, Daim hanya punya satu keinginan: adanya penerus. Bagi Daim, menanam pohon adalah bentuk “sedia payung sebelum hujan” di wilayah rawan bencana.

“Tidak perlu cari bibit yang sulit, yang penting tanam saja. Semakin banyak anak muda yang ikut, hutan kita akan tetap lestari,” pesannya penuh harap. (WIN)

Redaktur: Wahid Ikhwan


Kegilaan Daim Terhadap Pelestarian Alam Berbuah Manis Read More ยป

Aa Gym: Bekerja sebagai Jalan Menuju Surga

WAKAFDT.O.ID โ€“ Islam bukan sekadar agama ritual, melainkan sebuah sistem hidup yang sempurna. Di dalamnya terdapat panduan lengkap bagi siapa saja yang ingin meraih keselamatan dan kebahagiaan sejati, baik di dunia maupun di akhirat. Salah satu kunci kebahagiaan tersebut adalah dengan bersikap istiqamah dalam menjalankan setiap petunjuk-Nya.

Sering kali kita keliru memahami konsep ibadah, seolah ia hanya terbatas pada salat, puasa, zakat, atau haji. Padahal, setiap jengkal aktivitas hidup kitaโ€”termasuk bekerjaโ€”bisa bernilai pahala di sisi Allah Ta’ala. Syaratnya sederhana namun mendalam: dilakukan dengan niat ikhlas demi mencari rida Allah serta tetap berada dalam koridor sunnah Rasulullah ๏ทบ.

Hal ini ditegaskan dalam Al-Qur’an, di mana Allah Ta’ala memerintahkan kita untuk giat bekerja (QS. At-Taubah: 105) dan segera bertebaran mencari karunia-Nya sesudah menunaikan kewajiban salat (QS. Al-Jumuโ€™ah: 10).

Rasulullah ๏ทบ adalah sosok manusia paling agung, namun beliau tidak pernah berpangku tangan. Sejarah mencatat kemandirian beliau sejak usia dini, mulai dari menjadi penggembala ternak hingga menjadi pedagang profesional. Kejujuran beliau dalam berbisnis pulalah yang membuatnya dijuluki โ€œAl-Aminโ€ (orang yang terpercaya).

Beliau bersabda:

“Tidaklah Allah mengutus seorang Nabi melainkan dia menggembalakan kambing.” (HR. Bukhari).

Jejak kemandirian ini juga diikuti oleh para nabi terdahulu yang menjadikan pekerjaan mereka sebagai ladang ibadah:

  • Nabi Adam as: Bertani.
  • Nabi Nuh as: Tukang kayu terampil.
  • Nabi Ibrahim as: Berkebun.
  • Nabi Yusuf as: Birokrat/pegawai negara.
  • Nabi Daud as: Pandai besi yang perkasa.

Dalam Di zaman sekarang, banyak orang mengukur kualitas pekerjaan hanya dari besarnya gaji, omzet, atau gengsi jabatan. Namun, standar Islam jauh melampaui angka-angka tersebut. Saat ditanya mengenai pekerjaan terbaik, Rasulullah ๏ทบ menjawab bahwa itu adalah pekerjaan yang dilakukan dengan tangan sendiri dan perniagaan yang mabrur (diberkahi).

Poin pentingnya bukan pada seberapa banyak materi yang dikumpulkan, melainkan seberapa besar keberkahan (thayyib) yang ada di dalamnya. Hasil kerja keras sendiri merupakan makanan terbaik yang bisa dikonsumsi oleh seorang mukmin, sebagaimana yang dicontohkan oleh Nabi Daud as.

Beruntunglah kita yang masih diberikan potensi dan kesempatan untuk bekerja. Jadikanlah setiap keringat yang menetes sebagai bentuk ikhtiar menjemput rezeki Allah. Dengan meniatkan pekerjaan sebagai ibadah, kita tidak hanya memenuhi kebutuhan perut di dunia, tetapi juga sedang membangun istana di akhirat. Wallahu a’lam bishowab. (KH. Abdullah Gymnastiar)

Redaktur: Wahid Ikhwan


WAKAFDT.O.ID

Aa Gym: Bekerja sebagai Jalan Menuju Surga Read More ยป

Alhamdulillah, Dosen STAI DT Lulus Uji Kompetensi Dosen

WAKAFDT.OR.ID | JAKARTA — Rasa syukur dan kebanggaan menyelimuti keluarga besar Sekolah Tinggi Agama Islam (STAI) Daarut Tauhiid. Sepanjang tahun 2025, sejumlah dosen STAI Daarut Tauhiid dinyatakan lulus Program Peningkatan Kompetensi Dosen Pemula (PKDP) serta Sertifikasi Dosen yang diselenggarakan oleh Kementerian Agama Republik Indonesia.

Capaian ini menjadi penanda penting dalam perjalanan akademik para dosen. Program PKDP dan Sertifikasi Dosen tidak hanya mengukur kelayakan profesional, tetapi juga meneguhkan tanggung jawab dosen dalam menjalankan Tridarma Perguruan Tinggi secara utuh yakni pendidikan, penelitian, dan pengabdian kepada masyarakat.

Keberhasilan tersebut merupakan kabar baik bagi seluruh civitas akademika STAI Daarut Tauhiid. Di balik proses panjang yang dijalani, tersimpan ikhtiar untuk terus memperbaiki kualitas pembelajaran dan memperkuat budaya akademik kampus.

Adapun dosen yang berhasil menyelesaikan program PKDP dan Sertifikasi Dosen Kementerian Agama RI Tahun 2025 antara lain: Dr. Agus Kurniawan, S.Pd., M.Pd., Ketua STAI Daarut Tauhiid sekaligus Dosen Komunikasi dan Penyiaran Islam; Dr. Muhammad Iskandar, S.IP., M.M., Dosen Hukum Ekonomi Syariah; Dr. Yunus, S.Pd., M.Pd., Dosen Komunikasi dan Penyiaran Islam; Suherman, S.Ud., M.Ag., Dosen Hukum Ekonomi Syariah; Agung Wildan Azizi, S.H., M.H., Dosen Hukum Syariah; serta Sri Rastita Praniti, S.Kom.I., M.Sos., Dosen Komunikasi dan Penyiaran Islam.

Mamat Rohimat, Kasubag Biro Humas dan Rumah Tangga STAI Daarut Tauhiid, menyampaikan harapannya agar capaian ini menjadi wasilah kebaikan bagi institusi.

โ€œSemoga Allah Subhanahu wa Taโ€™ala senantiasa melimpahkan rida-Nya, menjadikan ilmu yang diperoleh bermanfaat, serta membawa keberkahan bagi pengembangan pendidikan dan dakwah keilmuan di STAI Daarut Tauhiid. Aamiin yaa Rabbal โ€˜alamiin,โ€ tuturnya pada (8/1/2026) melalui media daring.

Pencapaian ini diharapkan semakin menguatkan komitmen STAI Daarut Tauhiid dalam meningkatkan mutu pendidikan, membangun tradisi akademik yang unggul, serta melahirkan kontribusi keilmuan yang berdampak luas bagi masyarakat. (Nov)

Redaktur: Wahid Ikhwan


Alhamdulillah, Dosen STAI DT Lulus Uji Kompetensi Dosen Read More ยป