Wakaf Daarut Tauhiid

18 Januari 2026

Aa Gym: jangan sombong

Aa Gym: Berusahalah Istiqamah Dalam Kebaikan

WAKAFDT.OR.IDSaudaraku yang kucintai karena Allah Taโ€™la. Saat kita memutuskan untuk melangkah di jalan ketaatan, maka ada satu “paket” yang harus kita ambil, yaitu keberanian untuk Istiqamah. Jangan sampai kita hanya semangat di awal, menggebu-gebu saat baru bertaubat, tapi layu saat ujian datang menyapa.

Ingat, cirinya kekasih Allah itu hanya dua saja. Pertama, ia punya Keyakinan yang bulat kepada Allah. Kedua, ia menjaga Istiqamah. Orang yang istiqamah ini punya kedudukan yang sangat istimewa di sisi-Nya.

Allah SWT berfirman dalam Surah Fushilat ayat 30: โ€œSesungguhnya orang-orang yang mengatakan: โ€˜Tuhan kami ialah Allahโ€™ kemudian mereka meneguhkan pendirian mereka (istiqamah), maka malaikat akan turun kepada mereka dengan mengatakan: โ€˜Janganlah kamu takut dan janganlah merasa sedih; dan gembirakanlah mereka dengan jannah yang telah dijanjikan Allah kepadamu.โ€™โ€

Maka, siapa pun yang hatinya kokoh hanya menghamba kepada Allah, tanpa menduakan-Nya dengan apa punโ€”baik itu harta, jabatan, maupun pujian makhlukโ€”maka Allah akan mengangkatnya menjadi kekasih-Nya. Hadiahnya apa? Hadiahnya adalah Ketenangan.

Coba perhatikan, Sahabatku… Orang yang istiqamah itu, mau situasinya sesulit apa pun, mau ekonominya sedang diuji, mau fisiknya sedang sakit, hatinya tetap teduh. Mengapa? Karena ketenangan itu bukan dari luar.

Ketenangan itu milik Allah. Tidak bisa kita beli di toko, tidak bisa kita rampok dari orang lain. Ketenangan adalah karunia yang Allah “titipkan” langsung ke dalam hati hamba yang terpilih.

Allah berfirman dalam Surah al-Fath ayat 4: โ€œDialah yang telah menurunkan ketenangan ke dalam hati orang-orang mukmin supaya keimanan mereka bertambah…โ€

Kalau kita berani istiqamah, kita tidak akan lagi diperbudak oleh urusan duniawi. Kenapa harus takut kekurangan? Kenapa harus takut penilaian orang? Bagi hamba yang istiqamah, dunia ini cuma tempat singgah sebentar saja. Tidak ada yang lebih berharga baginya kecuali ridha Allah. Lillaahi Ta’ala.

Hamba yang punya pendirian mantap seperti ini, insyaAllah, tidak akan mudah “goyang” oleh bisikan setan. Ujian yang datang bertubi-tubi tidak membuatnya tumbang, justru membuatnya semakin kokoh.

Seperti pohon yang akarnya menghujam dalam ke bumi, semakin ditiup angin, akarnya semakin kuat mencengkeram. Kalau sudah begini, Allah sendiri yang akan mengirimkan pertolongan, kecukupan, dan kemudahan dari jalan yang tidak disangka-sangka.

Mari kita latih hati kita untuk berani istiqamah. Kita hanya berani karena Allah, dan untuk Allah semata. Mudah-mudahan, kita semua digolongkan menjadi pengikut Rasulullah SAW yang setia dan memiliki keteguhan hati seperti para sahabat beliau. Wallahu aโ€™lam bishowab. (KH. Abdullah Gymnastiar)

Redaktur: Wahid Ikhwan


WAKAFDT.OR.ID

Aa Gym: Berusahalah Istiqamah Dalam Kebaikan Read More ยป

Bahaya Sifat Bakhil: Ketika Harta Lebih Berharga daripada Kehormatan

WAKAFDT.OR.IDBakhil atau kikir adalah sikap menahan harta pada saat semestinya ia dikeluarkan untuk hal-hal yang diperintahkan oleh agama, seperti zakat, nafkah keluarga, sedekah, maupun wakaf.

Sifat ini sangat dicela dalam Islam. Dalam sebuah riwayat disebutkan bahwa tidak akan masuk surga orang yang bakhil, meskipun ia tampak sebagai ahli ibadah dengan bermacam-macam amalan lainnya.

Allah SWT sangat membenci hamba-Nya yang memiliki sifat kikir. Ibnu Al-Muโ€™taz pernah memberikan perumpamaan yang mendalam: โ€œManusia yang bakhil adalah mereka yang paling kikir dengan hartanya, namun paling pemurah terhadap harga dirinya.โ€

Maksudnya, orang kikir lebih memilih menjaga tumpukan harta dibandingkan menjaga kehormatan dan harga diri di mata Allah maupun manusia.

Padahal, Allah menitipkan harta kepada manusia salah satunya sebagai sarana untuk menjaga kemuliaan diri. Namun, si bakhil justru rela dicap buruk atau dipandang rendah asalkan hartanya tidak berkurang sedikit pun.

Sebagai contoh, dalam sebuah lingkungan masyarakat yang sedang bergotong royong membangun masjid melalui wakaf. Seseorang yang mampu secara finansial namun enggan menyisihkan hartanya karena merasa “sayang”, sesungguhnya ia telah diperbudak oleh rasa pelit. Baginya, uang jauh lebih mahal harganya dibandingkan kemuliaan membantu rumah Allah.

Kedermawanan: Ciri Orang yang Mulia

Ali bin Abi Thalib ra. pernah berkata: โ€œDemi Allah, orang yang mulia (dermawan) adalah orang yang tidak akan meminta haknya secara penuh.โ€

Maknanya, orang yang mulia dan dermawan tidak egois. Ia enggan mengambil haknya secara serakah karena khawatir ada orang lain yang kekurangan atau tidak mendapatkan bagian.

Jika ia memiliki hak atas lima bagian, ia mungkin hanya mengambil empat bagian saja demi memberikan kelapangan bagi sesama. Begitu pun dalam urusan takaran dan timbangan; ia tidak akan menuntut lebih dari yang semestinya.

Peringatan dalam Al-Qurโ€™an

Sifat mementingkan diri sendiri dan curang dalam urusan materi ini telah diperingatkan oleh Allah SWT dalam Al-Qur’an:

โ€œCelakalah bagi orang-orang yang curang. (Yaitu) orang-orang yang apabila menerima takaran dari orang lain mereka minta dipenuhi, dan apabila mereka menakar atau menimbang untuk orang lain, mereka mengurangi. Tidakkah orang-orang itu yakin bahwa sesungguhnya mereka akan dibangkitkan pada suatu hari yang besar? (Yaitu) hari (ketika) manusia berdiri menghadap Tuhan semesta alam.โ€ (QS. al-Muthaffifรฎn: 1-6)

Selama kita diberikan kecukupan harta dan kesempatan untuk berbagi, segeralah salurkan untuk kebaikan. Jangan biarkan hati kita terbelenggu oleh rasa pelit yang menghalangi datangnya ridha Allah. Semoga kita dijauhkan dari sifat bakhil yang dapat membinasakan pahala dan kehormatan kita.

Redaktur: Wahid Ikhwan


WAKAFDT.OR.ID

Bahaya Sifat Bakhil: Ketika Harta Lebih Berharga daripada Kehormatan Read More ยป

Mengabdi di Kartawangi: Jejak Perjuangan Santri SMA DTBS Putri Menebar Manfaat

WAKAFDT.OR.ID | KARTAWANGI โ€” Bagi Ilmi Abiyu, suasana belajar kini tak lagi terbatas pada dinding kelas atau meja kayu pesantren. Sebagai santri kelas akhir SMA Daarut Tauhiid Boarding School (DTBS) Putri, ia tengah menapaki fase pamungkas pendidikannya melalui Program Khidmat Masyarakat (PKM) di Desa Kartawangi.

PKM bukan sekadar syarat kelulusan formal. Bagi Ilmi dan kawan-kawannya, ini adalah panggung pembuktian untuk mengaktualisasikan nilai-nilai tauhid dan adab yang telah ditempa selama tiga tahun di pesantren ke dalam kehidupan nyata.

Melebur dalam Keseharian Warga

Selama menetap di desa, Ilmi terjun langsung dalam berbagai denyut nadi kehidupan masyarakat. Tidak hanya berfokus pada program formal, ia turut menyingsingkan lengan baju untuk:

  • Pendidikan: Mengajar dan mendampingi anak-anak desa dengan penuh kasih.
  • Lingkungan: Menjaga kebersihan fasilitas umum dan membantu pemakmuran masjid setempat.
  • Ekonomi Lokal: Membantu warga beraktivitas di kebun serta mengurus hewan ternak.

“Kami belajar untuk tidak sekadar datang membawa agenda, tetapi belajar untuk hadir secara utuh, memahami kearifan lokal, dan menyatu dengan kehidupan mereka,” ujar Ilmi merefleksikan pengalamannya.

Belajar Peka, Belajar Peduli

Interaksi yang terjalin dengan penduduk desa memberikan sudut pandang baru bagi Ilmi. Ia merasa bahwa tantangan sosial di lapangan adalah guru terbaik yang mengajarkannya tentang kepedulian dan pencarian solusi atas masalah-masalah sederhana namun krusial di masyarakat.

Bagi Ilmi, misi utamanya adalah menjadi pribadi yang rahmatan lil โ€˜alamin. Hal ini ia wujudkan dengan mencoba membawa kebahagiaan bagi anak-anak di sana serta membangun kedekatan emosional dengan warga melalui komunikasi yang santun.

Pengalaman di Desa Kartawangi ini ia maknai sebagai simulasi hidup setelah lulus nanti. Ilmi meyakini bahwa PKM adalah sistem yang dirancang agar para santri tidak menjadi “asing” saat kembali ke masyarakat luas.

“PKM adalah jembatan yang membentuk kami menjadi insan yang bertauhid dan bermartabat. Ini adalah bekal agar kami siap menjadi bagian dari solusi di mana pun kami berada kelak,” tambahnya.

Perjalanan di Kartawangi mengajarkan satu pesan kuat: bahwa menjadi bermanfaat tidak selalu harus melalui langkah besar. Kehadiran yang tulus dan kerja nyata yang konsisten sudah cukup untuk meninggalkan jejak kebaikan yang bermakna. (DS/WIN)

Redaktur: Wahid Ikhwan


WAKAFDT.OR.ID

Mengabdi di Kartawangi: Jejak Perjuangan Santri SMA DTBS Putri Menebar Manfaat Read More ยป