Wakaf Daarut Tauhiid

28 Januari 2026

Perjuangan Panjang Tim Relawan Mengantar Amanah Sampai di Tapanuli

WAKAFDT.OR.ID | TAPANULI — Perjalanan mendaki dan berkelok menuju Tapanuli bukan sekadar tentang menempuh jarak, melainkan tentang ketangguhan niat. Bagi tim Wakaf, DT Peduli dan para relawan, setiap tikungan tajam adalah ujian, dan setiap tebing yang rawan longsor adalah pengingat akan pentingnya amanah yang mereka bawa.

Berikut adalah catatan perjalanan inspiratif mereka menembus jalur lintas Sumatera demi mengantarkan cahaya Al-Quran yang dilakukan oleh tim pada (23-25/1/2026).

16 Jam yang Menguji Nyali

Meninggalkan hiruk-pikuk Kota Medan, iring-iringan kendaraan pembawa bantuan logistik dan mushaf Al-Quran mulai membelah malam. Tujuan mereka adalah pelosok Tapanuli, sebuah perjalanan yang normalnya melelahkan, namun kali ini terasa lebih berat karena beban tanggung jawab dan kondisi medan yang ekstrem.

Waktu tempuh 16 jam bukanlah durasi yang singkat. Di balik kemudi, para relawan harus bertarung dengan:

  • Jalur Berkelok: Tikungan “patah” yang menuntut konsentrasi penuh agar kendaraan tetap stabil.
  • Ancaman Longsor: Melintasi zona merah di mana tebing-tebing curam sering kali luruh saat hujan turun, mengancam menutup akses jalan satu-satunya.
  • Kabut dan Kegelapan: Jarak pandang yang terbatas di area pegunungan menambah risiko perjalanan di tengah malam.

Bukan Sekadar Logistik Biasa

Di dalam truk yang berguncang hebat mengikuti kontur jalan, tersusun rapi ratusan Mushaf Al-Quran dan paket logistik. Bagi masyarakat di pedalaman Tapanuli, bantuan ini adalah napas baru. Setelah berbagai cobaan yang menimpa, kehadiran kitab suci yang baru merupakan harapan untuk kembali tegak secara spiritual.

“Lelah itu pasti, tapi membayangkan wajah anak-anak di Tapanuli saat memeluk Al-Quran baru, rasa kantuk dan pegal di punggung seperti hilang seketika,” ujar salah satu relawan di sela-sela istirahat singkatnya.

Menembus Batas Demi Amanah

Perjuangan ini adalah bukti nyata kolaborasi kemanusiaan. Tim Wakaf DT tidak bergerak sendiri; dukungan relawan lokal yang memahami seluk-beluk jalur Tapanuli menjadi kunci keberhasilan misi ini. Mereka berhenti hanya untuk salat dan memastikan mesin kendaraan tetap prima sebelum kembali menerjang tanjakan curam.

Kegigihan mereka mencerminkan satu hal: Kebaikan tidak boleh terhenti oleh rintangan geografis. Meski raga mereka dihantam letih, semangat untuk menyampaikan amanah dari para muwakif dan donatur menjadi bahan bakar utama yang tak kunjung padam.

Saat fajar mulai menyingsing dan siluet pegunungan Tapanuli terlihat, lelah 16 jam itu terbayar lunas. Kedatangan tim disambut hangat, sebuah akhir manis dari perjalanan panjang yang penuh risiko. Kini, Al-Quran tersebut siap dibaca, dipelajari, dan menjadi pelita bagi warga desa. (WIN)

Redaktur: Wahid Ikhwan


WAKAFDT.OR.ID

Perjuangan Panjang Tim Relawan Mengantar Amanah Sampai di Tapanuli Read More »

Mimpi Sulaiman & Hafidz Tak Surut Oleh Banjir

WAKAFDT.OR.ID | ACEH TAMIANG — (23/1/2026) – Di balik sisa-sisa lumpur yang mulai mengering di Desa Sekumur, Kabupaten Aceh Tamiang, tersimpan mimpi-mimpi besar yang menolak tenggelam.

Meski banjir bandang sempat menyapu ketenangan desa, semangat dua bocah setempat, Sulaiman dan Muhammad Hafidz, justru semakin berkobar.

Bagi Sulaiman, langit Aceh Tamiang bukan sekadar cakrawala biru. Itu adalah masa depannya. Bocah laki-laki ini bercita-cita menjadi seorang pilot. Ia ingin menerbangkan pesawat besar, melintasi awan, dan melihat desanya dari ketinggian yang tak terjangkau oleh air bah.

Di sisi lain, Muhammad Hafidz punya cara berbeda untuk menaklukkan dunia. Dengan kaki mungilnya, ia bermimpi menjadi pemain sepak bola profesional.

Baginya, setiap jengkal tanah di Desa Sekumur adalah lapangan latihan, tempat ia mengasah ketangkasan demi mencetak gol di stadion impian suatu hari nanti.

Ketika “Rumah Kedua” Luluh Lantak

Keseharian Sulaiman dan Hafidz biasanya diisi dengan lantunan ayat suci. Sore hari adalah waktu favorit mereka untuk mengaji di madrasah dekat rumah. Namun, banjir bandang yang menerjang beberapa waktu lalu mengubah segalanya dalam sekejap.

“Masjid kami rusak, Kak. Al-Quran yang biasa kami pakai juga sudah hancur kena air dan lumpur,” kenang mereka dengan nada lirih.

Bencana itu tidak hanya merusak bangunan fisik, tetapi juga merampas sarana mereka untuk mendekatkan diri pada Sang Pencipta.

Madrasah yang biasanya riuh dengan suara anak-anak mengaji, sempat berubah sunyi, menyisakan tumpukan mushaf yang tak lagi bisa terbaca karena terkoyak arus.

Secercah Harapan dari Wakaf DT

Namun, mendung tak selamanya menetap. Senyum kembali merekah di wajah Sulaiman dan Hafidz saat bantuan Mushaf Al-Quran baru dari Wakaf DT tiba di tangan mereka.

Bagi mereka, ini bukan sekadar buku, melainkan simbol bahwa harapan mereka untuk terus belajar dan mengaji tidak boleh berhenti.

“Senang sekali punya Quran baru. Sekarang bisa mengaji lagi dengan tenang,” ujar mereka sambil memeluk erat mushaf tersebut.

Di tengah keterbatasan pascabencana, Sulaiman dan Hafidz membuktikan bahwa impian menjadi pilot maupun pemain bola tetap tegak berdiri, selama iman tetap tertanam di hati. (WIN)

Redaktur: Wahid Ikhwan


WAKAFDT.OR.ID

Mimpi Sulaiman & Hafidz Tak Surut Oleh Banjir Read More »

Saksi Bisu Luka Sekumur: Saat Hutan Turun Menghantam Desa

WAKAFDT.OR.ID | ACEH TAMIANG – Bagi Pak Heri, suara rintik hujan biasanya adalah nina bobo. Namun, selama lima hari terakhir di penghujung Januari ini, rintik itu berubah menjadi simfoni kecemasan yang tak kunjung usai.

Langit di atas Desa Sekumur pada Kamis (22/1/2026), Kecamatan Sekerak, Aceh Tamiang, seolah tumpah tanpa jeda, menyisakan tanah yang jenuh dan sungai yang terus merangkak naik.

“Sudah lima hari hujan tidak berhenti. Kami sudah biasa kalau banjir, tapi kali ini rasanya ada yang beda,” ujar Pak Heri sambil menatap nanar ke arah hamparan lumpur yang dulunya adalah permukiman padat.

Tamu Tahunan yang Berubah Menjadi Monster

Bagi warga Desa Sekumur, banjir sebetulnya adalah ‘tamu tahunan’. Saban tahun, jika hujan mengguyur berhari-hari, air sungai akan meluap dan merendam lantai rumah mereka.

Namun, biasanya air hanya setinggi betis orang dewasa. Warga pun sudah terlatih; memindahkan barang ke tempat tinggi dan menunggu air surut dalam satu atau dua hari.

Kewaspadaan itulah yang menyelamatkan nyawa mereka kali ini. Saat air mulai merangkak naik melebihi batas wajar, Pak Heri dan warga lainnya memutuskan untuk mengungsi ke titik yang lebih tinggi.

Mereka meninggalkan rumah dengan harapan akan kembali saat air surut seperti tahun-tahun sebelumnya. Namun, alam punya rencana lain yang jauh lebih mengerikan.

Gemuruh dari Hulu: Saat Kayu-Kayu Raksasa Bertamu

Sore itu, suasana mencekam mencapai puncaknya. Bukan lagi suara air yang terdengar, melainkan suara dentuman keras yang beradu dengan gemuruh air sungai yang pekat.

“Tiba-tiba terdengar suara brak! Keras sekali. Kami lihat dari kejauhan, aliran sungai membawa gelondongan kayu pohon yang sangat besar. Bukan satu atau dua, tapi banyak sekali,” kenang Pak Heri dengan suara bergetar.

Gelombang air bah itu tidak datang sendirian. Ia membawa ‘senjata’ berupa material kayu hutan berukuran raksasa yang meluncur deras dari arah hulu.

Pohon-pohon itu menghantam apa saja yang menghalangi jalannya. Jembatan, pepohonan warga, hingga rumah-rumah kayu yang sudah berdiri puluhan tahun di Desa Sekumur.

Dalam sekejap, desa yang mereka cintai itu luluh lantak. Hantaman kayu-kayu besar itu membuat bangunan di sana rata dengan tanah, menyisakan tumpukan material kayu dan lumpur yang tebal.

Menyisakan Puing dan Trauma

Kini, Pak Heri dan warga lainnya hanya bisa menatap puing-puing kehidupan mereka yang tersisa. Desa mereka yang dulunya asri, kini tampak seperti medan perang.

Syukur tak henti mereka panjatkan karena keputusan untuk mengungsi lebih awal telah menyelamatkan nyawa, meski harta benda tak ada yang sempat tersisa.

“Rumah bisa dibangun lagi, tapi trauma ini yang sulit hilang. Tiap dengar suara kayu beradu atau hujan deras, kami langsung waswas,” tutupnya.

Banjir bandang kali ini menjadi pengingat pahit bagi warga di kaki hutan Aceh Tamiang, bahwa alam tidak hanya bisa memberi, tapi juga bisa mengambil kembali dengan cara yang paling tak terduga. (WIN)

Redaktur: Wahid Ikhwan


WAKAFDT.OR.ID

Saksi Bisu Luka Sekumur: Saat Hutan Turun Menghantam Desa Read More »