WAKAFDT.OR.ID | ACEH TAMIANG – Bagi Pak Heri, suara rintik hujan biasanya adalah nina bobo. Namun, selama lima hari terakhir di penghujung Januari ini, rintik itu berubah menjadi simfoni kecemasan yang tak kunjung usai.
Langit di atas Desa Sekumur pada Kamis (22/1/2026), Kecamatan Sekerak, Aceh Tamiang, seolah tumpah tanpa jeda, menyisakan tanah yang jenuh dan sungai yang terus merangkak naik.
“Sudah lima hari hujan tidak berhenti. Kami sudah biasa kalau banjir, tapi kali ini rasanya ada yang beda,” ujar Pak Heri sambil menatap nanar ke arah hamparan lumpur yang dulunya adalah permukiman padat.

Tamu Tahunan yang Berubah Menjadi Monster
Bagi warga Desa Sekumur, banjir sebetulnya adalah ‘tamu tahunan’. Saban tahun, jika hujan mengguyur berhari-hari, air sungai akan meluap dan merendam lantai rumah mereka.
Namun, biasanya air hanya setinggi betis orang dewasa. Warga pun sudah terlatih; memindahkan barang ke tempat tinggi dan menunggu air surut dalam satu atau dua hari.
Kewaspadaan itulah yang menyelamatkan nyawa mereka kali ini. Saat air mulai merangkak naik melebihi batas wajar, Pak Heri dan warga lainnya memutuskan untuk mengungsi ke titik yang lebih tinggi.
Mereka meninggalkan rumah dengan harapan akan kembali saat air surut seperti tahun-tahun sebelumnya. Namun, alam punya rencana lain yang jauh lebih mengerikan.
Gemuruh dari Hulu: Saat Kayu-Kayu Raksasa Bertamu
Sore itu, suasana mencekam mencapai puncaknya. Bukan lagi suara air yang terdengar, melainkan suara dentuman keras yang beradu dengan gemuruh air sungai yang pekat.
“Tiba-tiba terdengar suara brak! Keras sekali. Kami lihat dari kejauhan, aliran sungai membawa gelondongan kayu pohon yang sangat besar. Bukan satu atau dua, tapi banyak sekali,” kenang Pak Heri dengan suara bergetar.
Gelombang air bah itu tidak datang sendirian. Ia membawa ‘senjata’ berupa material kayu hutan berukuran raksasa yang meluncur deras dari arah hulu.
Pohon-pohon itu menghantam apa saja yang menghalangi jalannya. Jembatan, pepohonan warga, hingga rumah-rumah kayu yang sudah berdiri puluhan tahun di Desa Sekumur.
Dalam sekejap, desa yang mereka cintai itu luluh lantak. Hantaman kayu-kayu besar itu membuat bangunan di sana rata dengan tanah, menyisakan tumpukan material kayu dan lumpur yang tebal.
Menyisakan Puing dan Trauma
Kini, Pak Heri dan warga lainnya hanya bisa menatap puing-puing kehidupan mereka yang tersisa. Desa mereka yang dulunya asri, kini tampak seperti medan perang.
Syukur tak henti mereka panjatkan karena keputusan untuk mengungsi lebih awal telah menyelamatkan nyawa, meski harta benda tak ada yang sempat tersisa.
“Rumah bisa dibangun lagi, tapi trauma ini yang sulit hilang. Tiap dengar suara kayu beradu atau hujan deras, kami langsung waswas,” tutupnya.
Banjir bandang kali ini menjadi pengingat pahit bagi warga di kaki hutan Aceh Tamiang, bahwa alam tidak hanya bisa memberi, tapi juga bisa mengambil kembali dengan cara yang paling tak terduga. (WIN)
Redaktur: Wahid Ikhwan
