WAKAFDT.OR.ID — Krisis air bersih yang melanda dunia saat ini sejatinya bukan sekadar masalah lingkungan atau ekologi semata. Fenomena tercemarnya air hujan yang semula bersih mencerminkan adanya keretakan dalam hubungan spiritual dan etika manusia terhadap alam.
Air yang turun dari langit adalah wujud kasih sayang Allah SWT, namun tindakan manusia sering kali menjadi bentuk pengkhianatan terhadap rahmat tersebut.
Hujan dalam Perspektif Al-Qur’an: Sumber Kehidupan dan Penyucian
Dalam Al-Qur’an, fenomena hujan dijelaskan sebagai bukti nyata kekuasaan Sang Pencipta. Allah SWT berfirman dalam Surah Al-Furqan ayat 48-49, yang menegaskan bahwa angin dikirim sebagai pembawa kabar gembira, lalu disusul dengan turunnya air yang bersifat thohurun (sangat suci).
Fungsi air hujan dalam ayat tersebut meliputi:
- Sarana Penyucian: Membersihkan kotoran baik secara fisik (lahir) maupun spiritual (batin).
- Pembangkit Kehidupan: Menghidupkan tanah-tanah yang tandus dan gersang.
- Pemenuh Kebutuhan Makhluk: Menjadi sumber minum bagi manusia serta hewan ternak dalam jumlah yang besar.
Menurut Tafsir Ayat-Ayat Ekologi dari Kemenag RI, ayat-ayat ini mengandung pesan teologis agar manusia senantiasa bersyukur dan menjaga keseimbangan ekosistem.
Air bukan sekadar materi biologis, melainkan elemen sakral dalam sistem pemeliharaan alam semesta oleh Allah (Rububiyyah).
Tragedi Pencemaran: Saat Rahmat Berubah Menjadi Bencana
Meskipun air hujan pada asalnya adalah suci—sebagaimana sabda Rasulullah SAW bahwa air itu suci dan tidak dapat dinajisi oleh apa pun—ulah tangan manusialah yang mengubah sifatnya.
Aktivitas industri dan penggunaan bahan bakar fosil menghasilkan emisi sulfur dioksida dan nitrogen oksida yang memicu terjadinya hujan asam.
Selain itu, polusi air diperparah oleh:
- Limbah Kimia: Pembuangan limbah industri dan rumah tangga yang beracun ke aliran sungai.
- Kerusakan Pertanian: Penggunaan pestisida dan pupuk kimia berlebih yang hanyut ke perairan.
- Ancaman Mikroplastik: Sampah plastik yang terurai dan meracuni organisme hidup di sungai dan laut.
Krisis Air sebagai Cermin Kerusakan Spiritual
Ketika sungai yang seharusnya menjadi sumber kehidupan berubah fungsi menjadi saluran pembuangan, hal ini menandakan terjadinya degradasi moral. Krisis air adalah tanda bahwa manusia mulai mengabaikan tugasnya sebagai khalifah (pemimpin/penjaga) di muka bumi.
Menjaga kelestarian air dan kesuciannya bukan lagi sekadar tanggung jawab sosial, melainkan bentuk ibadah kepada Allah SWT. Mengabaikan atau mengeksploitasi air secara berlebihan adalah bentuk pengingkaran terhadap sifat tahur yang Allah titipkan pada setiap tetesan hujan.
Menyelamatkan ekosistem air membutuhkan kerja sama kolektif antara masyarakat, pemerintah, dan pemegang kebijakan.
Sebelum rahmat yang turun dari langit ini benar-benar dicabut, manusia harus kembali menyadari bahwa air adalah simbol kasih sayang Tuhan yang menghidupkan setiap sendi kehidupan di bumi. (WIN)
Redaktur: Wahid Ikhwan
