Wakaf Daarut Tauhiid

Kerinduan Ibu Mela Terbayar Saat Tim Wakaf DT Datang Membawa Mushaf

WAKAFDT.OR.ID | TAPANULI – Di balik wajah lelah para penyintas banjir bandang di Huta Godang, Tapanuli, ada satu sosok yang sorot matanya seketika berbinar saat melihat rombongan Tim Wakaf Daarut Tauhiid (DT) dan relawan tiba. Bukan bantuan logistik biasa yang pertama kali ia cari, melainkan sebuah kitab suci.

Ia adalah Mela Erlina Napitupulu. Di tengah hiruk-pikuk distribusi bantuan yang berlangsung pada 23-25 Januari 2026, Mela menjadi salah satu warga yang paling antusias menyambut kedatangan tim. Namun, ada satu pertanyaan yang terus ia lontarkan dengan nada penuh harap kepada setiap relawan yang lewat.

“Ada Al-Qur’an, Dek?”

Pertanyaan sederhana itu menyimpan kerinduan yang mendalam. Bagi Mela, kehilangan harta benda akibat terjangan banjir bandang adalah ujian berat, namun kehilangan Al-Qur’an miliknya adalah kesedihan yang sulit dilukiskan.

Sahabat yang Hanyut Terbawa Arus

Sambil duduk di sudut posko pengungsian, Mela bercerita dengan suara bergetar. Al-Qur’an yang biasa ia peluk setiap hari kini telah sirna, hanyut bersama derasnya arus banjir yang menyapu rumah dan seisinya.

Bagi Mela, membaca Al-Qur’an bukanlah sekadar rutinitas, melainkan kebutuhan jiwa. Sebelum musibah itu datang, tak sehari pun ia lewatkan tanpa melantunkan ayat-ayat suci.

“Sudah lama sekali rasanya rindu ingin baca Al-Qur’an lagi. Biasanya saya baca setiap hari, itu yang bikin tenang. Tapi kemarin semuanya hanyut, tidak ada yang tersisa,” ungkapnya pilu.

Dahaga Spiritual di Masa Sulit

Kehadiran Tim Wakaf DT di Huta Godang selama tiga hari tersebut memang bertujuan untuk memulihkan kondisi psikis dan spiritual warga. Selain memberikan bantuan fisik, distribusi Al-Qur’an wakaf menjadi prioritas untuk membasuh dahaga spiritual para penyintas seperti Ibu Mela.

Saat sebuah mushaf baru diletakkan di tangannya, jemari Mela gemetar. Ia mengusap sampulnya dengan takzim, seolah baru saja menemukan kembali sahabat lama yang hilang. Kerinduan yang berhari-hari ia pendam di pengungsian akhirnya terbayar tuntas.

Bagi relawan yang bertugas, antusiasme Ibu Mela adalah pengingat kuat bahwa di tengah bencana sehebat apa pun, harapan dan iman adalah dua hal yang tidak boleh ikut hanyut.

Kini, di sela riuh rendah suasana pengungsian Huta Godang, suara Mela Erlina Napitupulu akan kembali terdengar, melantunkan kalam-kalam langit yang memberinya kekuatan untuk bangkit kembali. (WIN)

Redaktur: Wahid Ikhwan


WAKAFDT.OR.ID