Wakaf Daarut Tauhiid

Admin WakafDT

Sakarilat Wakaf Turki

Sakralitas Wakaf di Negara Turki

Islam sangat mementingkan karya-karya di bidang amal sosial untuk memelihara kedamaian dan solidaritas dalam masyarakat. Wakaf menjadi salah satu sarana ibadah terpenting untuk mendistribusikan kekayaan pribadi demi maslahat orang banyak.

Fungsi dan peran wakaf telah dilestarikan sejak generasi awal Islam, dan telah memainkan peran kunci sebagai sebuah institusi dalam memenuhi kebutuhan di hampir setiap bidang kehidupan sosial dan ekonomi.

Bantuan sosial dan kerja-kerja philanthropist dalam Islam telah dilembagakan melalui sistem wakaf. Wakaf juga memiliki fungsi mengubah tabungan menjadi investasi, dimana umat Islam mendirikan “Wakaf Tunai” untuk tujuan ini (Prof. Mehmet Bulut: 2016).

Bagaimana Turki Utsmani sukses membangun negaranya berbasis wakaf? Apa faktor utama yang membuat masyarakatnya mudah diajak berwakaf oleh pemerintah Turki Utsmani kala itu? Artikel ini adalah uraian kesan singkat penulis selama setahun melihat langsung beberapa aset wakaf Turki Utsmani di daratan Asia dan Eropa.

Fakta wakaf Turki Utsmani

Selama masa pemerintahan Turki Utsmani (± 633 tahun), wakaf memainkan peran penting dalam membangun struktur ekonomi negara. Lembaga-lembaga wakaf menyediakan banyak layanan sosial untuk masyarakat apalagi ketika negara dalam kondisi sulit. Semua fasilitas publik tersebut dapat diakses secara gratis oleh siapa pun.

Adapun fasilitas yang dibangun dari wakaf di antaranya:

(i) Pembangunan infrastruktur kota, seperti saluran air, jalan, jembatan, trotoar, dan lain-lainl.

(ii) Layanan pendidikan seperti mendirikan universitas (madresedan darülfünun), perpustakaan, kulliye (kompleks bangunan yang berpusat pada masjid dan dikelilingi lembaga pendidikan, rumah sakit, dapur umum, toko roti, pemandian, dan berbagai layanan sosial lainnya), dan lain-lain.

(iii) Layanan kesehatan

(iv) Sarana keagamaan seperti masjid, musalla, pondok, dan lain-lain.

(v) Sarana perdagangan dan ekonomi seperti han (penginapan untuk pelancong atau pedagang), karavan (penginapan di jalur perdagangan), bazaar, dan lain-lain.

Lembaga-lembaga wakaf yang berdiri di berbagai penjuru wilayah Utsmani dikelola semaksimal mungkin untuk mewujudkan segala bentuk amal sosial di semua lini kehidupan. Sebagai contoh wakaf pasar Kozahan yang hasil pengelolaannya digunakan untuk mendanai operasional Masjid Ulucamii Bursa (1399).

Bahkan ada hasil unit usaha wakaf yang fokus menyediakan pelayanan perlengkapan malam pertama bagi pengantin baru, mainan anak-anak, hingga wakaf untuk burung, mengurus kucing dan anjing. Maka tidak berlebihan jika peneliti Barat menyatakan, “Sesungguhnya Islam telah menjadikan masyarakat Turki sebagai bangsa yang lebih terpercaya di muka bumi”. (Harits al-‘Abbasi: 2018)

Sultan kedua Turki Utsmani, Orhan (1326-1362 M), dikenal sebagai sultan pertama yang menciptakan sistem pengembangan wakaf dengan mengintegrasikannya antara pertumbuhan ekonomi dan kebijakan politik. Misalnya, ketika Sultan Orhan memerintahkan membangun medrese di Iznik (Nicaea), beliau mewakafkan tanah dan aset tidak bergerak untuk mendanai biaya operasional medrese, kemudian diikuti dengan wakaf aset lainnya yang hasil pengelolaannya untuk bermacam-macam keperluan sosial, dll.Dengan demikian lembaga wakaf menjadi lembaga konglomerasi di Turki Utsmani yang mempunyai proyek-proyek jangka panjang maupun pendek. 

Faktor keberhasilan Wakaf

Masyarakat Turki Utsmani mempunyai pondasi kesadaran beragama yang tinggi, khususnya tentang wakaf dan budaya memberi. Di samping itu, ada beberapa faktor utama keberhasilan wakaf untuk membangun negara, antara lain, Pertama, tingkat kepercayaan masyarakat Turki Utsmani yang tinggi pada pemerintah.

Kedua, keteladanan dari Sultan dan keluarga istana yang menjadi contoh dalam mewakafkan harta mereka untuk digunakan dalam bentuk amal sosial khusus yang ditentukan oleh lembaga wakaf yang mereka dirikan. Keteladanan ini kemudian diikuti sadrazam (perdana menteri), para pejabat tinggi, bureaucrats, dan masyarakat umum.

Ketiga, konsistensi Sultan dalam menjalankan pemerintahan yang adil juga sangat menguatkan kepercayaan rakyat. Sultan tidak segan-segan menghukum pejabat negara yang berkhianat, zalim dan korup, baik dengan pemecatan, penjara hingga hukuman mati. Bahkan Sultan Suleiman yang merupakan sultan terkuat Daulah Utsmaniyyah harus tunduk pada fatwa şeyhülislam Ebussuud Efendi untuk menghukum mati putra beliau, Şehzade Mustafa, karena terlibat tindak khianat dan merugikan negara. (Prof. Ahmed Akgunduz: 2011)

Keempat, profesionalisme (itqan) dalam pengelolaan harta wakaf dandiawasi langsung oleh nazir, sehingga manfaat wakaf terus berkembang dan bertahan selama mungkin.

Kelima, faktor keamanan aset yang diwakafkan benar-benar dijamin negara. Ini bisa dilihat dari dokumentasi akta wakaf yang terjaga selama berabad-abad di berbagai kantor mahkamah Daulah Utsmaniyyah. Manuskrip tentang akta wakaf masjid Ayasofya, masjid Fatih, darüzziyafe (hotel) dan imaret (public kitchen) Sultan Suleiman, dan berbagai wakaf lintas zaman dikawasan Yunani, Makedonia, Edirne, Tekirdağ, Kırklareli, Ciprus dan wilayah lainnya hingga kini tersimpan rapi.

Termasuk wakaf tunai di provinsi Balkan dan Rumelia dari awal abad XVI sampai dekade pertama abad XX yang saat itu termasuk wilayah Turki Utsmani tersimpan di Direktorat Jenderal Wakaf Turki. Dalam akta wakaf tersebut diinformasikan secara spesifik nama pewakaf, nazir, jenis aset, bidang yang dituju, honor pengelola, dll.

Keenam, kesakralan harta wakaf. Istilah “wakaf” bagi Muslim Turki adalah sakral, dan membawa pada ketenangan, dan tidak mungkin diganti dengan nama lainnya. Pada tahun 1926, rezim republik sekular Turki pernah mengganti nama wakaf dengan nama “Ta’sis”. Pengubahan nama “wakaf” selama 41 tahun (1926-1967) berdampak pada merosotnya minat masyarakat beramal (vakıf).

Akhirnya nama wakaf dikembalikan dalam UU sipil pada 13 Juli 1967. Pengembalian nama wakaf ini langsung menarik masyarakat kembali berwakaf. Setidaknya dalamrentang waktu 10 tahun sejak dikembalikannya nama “Wakaf”(1967-1977) jumlah pewakaf jauh melampaui periode nama “Ta’sis”selama 41 tahun.

Ini dimaklumi karena Muslim Turki tidak mau mengorbankan hartanya hanya untuk negara tanpa landasan agama. Bahkan banyak kalangan Barat mengamati dengan penuh heran bahwa ternyata kaum Muslimin Turki mau menjadikan nyawa mereka sebagai tebusan dalam menjaga aset wakaf jika ada yang mau merampasnya.

Namun pembelaan mati-matian ini justru tidak terjadi jika ada yang mau merampas harta milik pribadi mereka. Oleh karena itu, mereka selalu mendokumentasikan aset wakaf secara tertulis dan membentenginya. (Ahmet Akgünduz: 2014)

Wakaf punya peran besar dalam membangun negara, menaikkan taraf kesejahteraan sosial dan standard of living masyarakat Utsmani selama lebih dari 6 abad. Tradisi wakaf telah menjadi salah satu pondasi terpenting dalam peradaban Daulah Utsmaniyyah.

Di masanya, lembaga-lembaga wakaf mendirikan pusat-pusat perniagaan, supermarket, dan unit-unit usaha perekonomian untuk mendanai bermacam-macam amal usaha yang menjadi spesifikasi setiap lembaga wakaf.

Dengan pengelolaan aset-aset produktif yang rapi dan disiplin, lembaga-lembaga wakaf ini mampu membangun berbagai bentuk amal sosial. Lembaga-lembaga wakaf Turki Utsmani juga berkonstribusi dalam mengembangkan seni kaligrafi, dekorasi, seni melapisi dengan emas (gilding), seni melukis di atas air (paper marbling), seni menjilid, folklore, dll sehingga khazanah kesenian berkembang pesat.

Singkatnya, lembaga-lembaga wakaf tidak menyisakan satu pun jenis amal sosial melainkan menjadi lahan garapannya; dan tidak meninggalkan satu pun daerah dalam wilayah Daulah Utsmaniyyah kecuali lembaga wakaf telah masuk kedalamnya dan memberikan pelayanan amal sosialnya. Bahkan hingga di masa-masa krisis di internal negeri Utsmani maupun krisis internasional dan kawasan di sekitarnya, pelayanan lembaga wakaf tetap berjalan.

Keberhasilan membangun negara berbasis wakaf tidak luput dari beberapa faktor utamanya, di antaranya: tingkat kepercayaan masyarakat yang tinggi kepada pemerintah, keteladanan berwakaf dari sultan, keluarga istana dan pejabat tinggi negara, konsistensi sultan dalam menjalankan pemerintahan yang adil, profesionalisme (itqan) dalam pengelolaan harta wakaf, keamanan aset wakaf dijamin negara, dan kesakralan harta wakaf.

Sumber: republika.id

Baca juga: Turki Utsmani, Sejarah Pesatnya Perkembangan Zaman Lewat Wakaf

Sakralitas Wakaf di Negara Turki Read More »

amalan memperingati Isra Miraj

Inilah Berbagai Amalan Saat Memperingati Isra Miraj

WAKAFDT.OR.ID | Isra Miraj adalah peristiwa mukjizat yang luar biasa diberikan kepada Nabi Muhammad Shallallahu ‘alaihi wassalam. Kaum muslimin memperingati Isra Miraj pada 27 Rajab.

Untuk memuliakan peristiwa tersebut, dianjurkan untuk melakukan amalan-amalan shaleh. Berikut ini merupakan amalan-amalan yang bisa dilakukan menjelang dan saat memperingati Isra Miraj:

1. Memperbanyak istighfar

Istighfar dapat dilakukan kapan saja dan di mana saja, termasuk saat memperingati Isra Miraj. Isra Miraj yang diperingati setiap bulan Rajab menjadi waktu yang tepat untuk senantiasa mengingat Allah Ta’ala.

Setiap muslim yang beriman dianjurkan untuk memperbanyak istighfar untuk senantiasa mengingat Allah Ta’ala. Selain mengingat Allah Ta’ala, istighfar juga mempunyai banyak keutamaan, di antaranya mendapatkan perlindungan Allah dan dijauhkan dari hal buruk.

Membaca Istighfar juga bisa dilakukan sambil mengevaluasi diri, seperti berapa banyak shalat yang telah ditinggalkan dan seberapa berkualitas shalat yang dilakukan.

2. Puasa sunah

Puasa sunah di bulan Rajab bisa dilakukan menjelang peringatan hari Isra Miraj. Amalan ini dianjurkan oleh Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wassalam sebagaimana disebutkan dalam sebuah hadist:

Anas bin Malik menyampaikan bahwa Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wassalam bersabda, “Sesungguhnya di Surga ada suatu sungai bernama ‘rajab’, warnanya lebih putih dari susu, rasanya lebih manis dari madu. Barang siapa yang berpuasa sehari di bulan Rajab maka akan diberi minum oleh Allah dari sungai tersebut.” (HR. Muslim)

3. Memperbanyak dzikir

Pada peristiwa Isra Miraj, Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wassalam melewati beberapa nabi yang berada di langit. Salah satunya Nabi Ibrahim di langit ke-7. Pertemuan Rasulullah dengan Nabi Ibrahim a.s  ini diabadikan dalam sebuah hadits yang berisi anjuran untuk memperbanyak dzikir.

Dari Abu Ayyub Al-Anshari Radhiyallahu ‘anhu, dia berkata bahwa Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wassalam pernah melewati Nabi Ibrahim saat perjalanan Isra Miraj. Nabi Ibrahim bertanya mengenai sosok Nabi Muhammad kepada Malaikat Jibril. 

Pasca Nabi Ibrahim mengetahui bahwa itu adalah Nabi Muhammad, lalu dia meminta agar Nabi Muhammad memerintahkan pada umatnya untuk melakukan dzikir. Isi zdikirnya adalah laa hawla wa laa quwwatta illa billah, yang artinya, “tidak ada daya dan upaya melainkan dengan pertolongan Allah”.

Demikian amalan-amalan yang dapatkan dikerjakan menjelang dan saat memperingati hari Isra Miraj.

Sumber: daaruttauhiid.org

Baca juga: Cara Agar Kita Semangat Beribadah

Inilah Berbagai Amalan Saat Memperingati Isra Miraj Read More »

nama lain bulan Rajab

Hikmah Peristiwa Isra Mikraj bagi Umat Islam

WAKAFDT.OR.ID | Semua peristiwa yang terjadi dalam sejarah Islam memiliki hikmah yang bisa diambil sebagai pelajaran setiap umat muslim. Salah satunya adalah peristiwa Isra Mikraj yang telah disebutkan di dalam Al-Qur’an dan hadits.

Meskipun peristiwa Isra Mikraj hanya dialami oleh bagi Nabi Muhammad Shallallahu ‘alaihi wassalam, Namun terdapat sejumlah hikmah yang dapat diambil dari peristiwa tersebut. Adapun hikmah dari peristiwa Isra Mikraj di antaranya sebagai berikut:

Pertama, memahami bahwa perintah shalat lima waktu merupakan sebuah ibadah penting bagi umat Islam. Shalat telah ditetapkan menjadi bagian rukun Islam yang harus ditegakan dan amalan yang pertama kali dihisab di hadapan Allah, sebagaimana disebutkan dalam hadits dari Anas bin Malik Radhiyallahuanhu, bahwa Rasulullah shallallahu alaihi wa sallam bersabda yang artinya:

“Yang paling pertama dihisab pada seorang hamba di hari kiamat adalah shalat . Jika (shalat nya) baik, maka baiklah seluruh amalnya, sedangkan jika (shalat nya) buruk, maka buruklah seluruh amalnya.” (HR. Muslim)

Kedua, mengetahui betapa besarnya rahmat Allah Ta’ala dan kasih sayang Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wassalam kepada umatnya, sehingga jumlah shalat dikurangi dari 50 waktu menjadi lima waktu.

Ketiga, menunjukan begitu besarnya kekuasaan Allah yang mampu memperjalankan seorang hamba dari masjid Al-Haram ke masjid Al-Aqsa, kemudian dari masjid Aqsa ke Siratul Muntaha dengan kecepatan waktu di luar nalar manusia.  

Karena di luar nalar akal manusia dibutuhkan keimanan untuk mempercayainya, bahwa kejadian tersebut adalah mukjizat nyata yang datang dari Allah.

Keempat, mengetahui bahwa shalat merupakan dialog langsung antara seorang hamba dengan Rabbnya, sama seperti ketika Rasulullah bertemu dengan Allah Ta’ala saat Isra Mikiraj.Demikian hikmah dari peristiwa Isra Miraj yang bisa dipetik oleh umat Islam, terutama dalam ibadah shalat. Semoga kita tidak mudah meninggalkan shalat dengan alasan apapun itu.

Sumber: daaruttuahiid.org

Baca juga: Memetik Hikmah dari Kehidupan Cicak

Hikmah Peristiwa Isra Mikraj bagi Umat Islam Read More »

isra mikraj

Isra Mikraj, Kisah Fenomenal dalam Sejarah Islam

WAKAFDT.OR.ID | Isra Mikraj merupakan kisah fenomenal dalam sejarah Islam dan era kenabian. Perjalanan suci yang dilakukan oleh Nabi Muhammad Shallallahu ‘alaihi wassalam ini menjadi titik balik kebangkitan dakwah Rasulullah.

Isra dan Mikraj adalah 2 kata yang mempunyai arti yang berbeda. Kata Isra menurut bahasa artinya perjalanan di malam hari (al-Munawwir: 1984:671). Sedangkan kata Miraj bermakna tangga untuk naik ke atas (al-Munawwir: 1984:981).

Pengertian Isra yang dimaksud ialah perjalanan Nabi Muhammad Shallallahu ‘alaihi wassalam dari Masjidil Haram di Mekkah ke Masjid al-Aqsha di Palestina. Sedangkan arti kata Mikraj adalah perjalanan menuju ke Sidratul Muntaha.

Sidratul Muntaha merupakan sebuah tempat di atas langit yang tertinggi. Langit tersebut bersifat ghaib dan tidak terjangkau oleh pikiran manusia.

Isra Mkiraj adalah dua perjalanan yang dilakukan oleh Nabi Muhammad Shallallahu ‘alaihi wassalam dalam satu malam. Malaikat Jibril turut menemani perjalanan ini Nabi Muhamaad dengan mengendarai buraq.

Dalam pemikiran manusia, peristiwa tersebut sulit diterima oleh akal sehat. Namun kenyataannya, Rasullullah diberangkatkan dari Makkah ke Masjid Al-Aqsa, kemudian berlanjut ke Sidratul Muntaha telah disebutkan dalam Al-Qur’an, Surah Al-Isra’ dan An-Najm, yang artinya:

“Maha Suci Allah, yang telah memperjalankan hamba-Nya pada suatu malam dari Al Masjidil Haram ke Al Masjidil Aqsa yang telah Kami berkahi sekelilingnya agar Kami perlihatkan kepadanya sebagian dari tanda-tanda (kebesaran) Kami. Sesungguhnya Dia adalah Maha Mendengar lagi Maha Mengetahui.” (QS. Al-Isra: 1).

“Maka, apakah kaum (musyrik Mekah) hendak membantahnya tentang apa yang telah dilihatnya? Dan sesungguhnya Muhammad telah melihat Jibril itu (dalam rupanya yang asli) pada waktu yang lain, (yaitu) di Sidratul Muntaha. Di dekatnya ada surga tempat tinggal, (Muhammad melihat Jibril) ketika Sidratul Muntaha diliputi oleh sesuatu yang meliputinya. Penglihatannya (Muhammad) tidak berpaling dari yang dilihatnya itu dan tidak (pula) melampauinya. Sesungguhnya dia telah melihat sebagian tanda-tanda (kekuasaan) Tuhannya yang paling besar.” (QS. An-Najm:12-18).

Isra Mikraj bukan sekedar perjalanan biasa bagi Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wassalam. Tetapi menjadi puncak perjalanan seorang hamba untuk bertemu dengan sang pencipta, sehingga Isra miraj menjadi peristiwa penting yang selalu dimeriahkan dengan acara kajian akbar atau majelis ilmu.

Semoga dengan mengingat peristiwa Isra Mikraj, semakin memotivasi kita untuk mendekatkan diri kepada Allah melalui perintah shalat.

Sumber: daaruttauhiid.org

Baca juga: Belajar Memakmurkan Masjid Dari Isra-nya Rasulullah

Isra Mikraj, Kisah Fenomenal dalam Sejarah Islam Read More »

Kemenag bahas sertifikat wakaf

Kemenag Targetkan 30 Ribu Tanah Wakaf Dapat Sertifikat pada 2024

WAKAFDT.OR.ID | JAKARTA – Kementerian Agama menargetkan sebanyak 30.000 tanah wakaf mendapat sertifikat pada 2024 atau bertambah dari tahun sebelumnya sebanyak 25.000.

Direktur Pemberdayaan Zakat dan Wakaf, Waryono Abdul Ghafur mengatakan Kemenag akan menjaring data tanah yang akan disertifikasi melalui proses digital. Setelah itu, koordinasi dengan Badan Pertanahan Nasional (BPN) provinsi dan penyiapan dokumen.

“Bukti otentik itu penting. Pencatatan sertifikat itu kuat jika terjadi permasalahan dalam proses di BPN,” ujar Waryono dalam keterangannya di Jakarta, Jumat.

Waryono menegaskan Kantor Kemenag kabupaten/kota perlu menyiapkan daftar dan dokumen tanah wakaf yang akan diajukan kepada BPN terkait pelaksanaan sertifikasi. Selanjutnya, Kanwil Kemenag dapat berkoordinasi dengan Kanwil BPN.

“Mohon identifikasi lagi oleh Kanwil dan daerah terkait aset wakaf kita. Berupa apa, digunakan untuk apa, siapa nazirnya, dan mauquf ‘alaihnya untuk apa,” katanya.

Kemenag juga akan membagi dua tahap pengajuan sertifikasi pada Februari dan Juni 2024. Kemudian, proses penjaringan dilakukan di pertengahan tahap, diikuti koordinasi dengan pihak strategis, seperti Kanwil BPN, Dewan Masjid Indonesia, pesantren, madrasah, Ormas Islam, dan lembaga perwakafan.

“Banyak masalah sosial yang bisa ditangani lewat wakaf, jika wakaf tersebut produktif. Jadi, kami tekankan wakaf tidak berhenti hanya pada dokumen dan pengamanan saja, tapi berlanjut pada produktivitas wakafnya,” kata Waryono.

Adapun dasar hukum yang digunakan dalam percepatan sertifikasi tanah wakaf ini adalah Instruksi Menteri ATR No. 1/INS/II/2018 tentang Percepatan Pensertifikatan Tanah Tempat Peribadatan di Seluruh Indonesia.

Kemudian, Instruksi Menteri ATR No. 1/INS/II/2018 tentang Percepatan Pensertifikatan Tanah Tempat Peribadatan di Seluruh Indonesia, Surat Edaran Nomor 1/SE/III/2018 tentang Petunjuk Pelaksanaan Percepatan Pendaftaran Tanah Tempat Peribadatan di Seluruh Indonesia.

Sumber: Antara

Baca juga: Cara Mengurus Wakaf yang Sertifikatnya Hilang!

Kemenag Targetkan 30 Ribu Tanah Wakaf Dapat Sertifikat pada 2024 Read More »

mengqadha puasa

Mengqadha Puasa Ramadhan di Bulan Rajab

WAKAFDT.OR.ID | Bulan Rajab menjadi bulan istimewa dalam agama Islam. Bulan ini dapat menjadi waktu yang tepat untuk menunaikan kewajiban puasa yang tertinggal, seperti Qadha Ramadhan. 

Puasa qadha merupakan puasa yang dikerjakan untuk membayar utang puasa bagi yang tidak berpuasa di bulan Ramadhan. Puasa qadha berlaku bagi orang yang sanggup berpuasa namun puasanya terhambat karena halangan yang diperbolehkan dalam syariat.

Qadha puasa Ramadhan hukumnya wajib yang harus ditebus atau diganti oleh seorang muslim. Jika seorang tidak melaksanakan kewajibannya maka akan menjadi dosa baginya.

Menggabungkan puasa Rajab dengan puasa qadha Ramadhan merupakan bentuk amalan yang dianjurkan dalam Islam, karena cara yang bijak untuk memanfaatkan waktu dan meningkatkan ibadah.

Bagaimana menjalankan serta niat puasa Rajab sekaligus mengqadha puasa Ramadhan? Cukup pada satu niat. Hal ini sebagaimana pendapat Ustadz Abdul Shomad dalam bukunya, “30 Fatwa Seputar Ramadan” menyampaikan bahwa, tidak boleh mengucapkan dua niat sekaligus. 

Kalau niatnya untuk mengqadha puasa Ramadhan, tapi dikerjakan di bulan Rajab maka pahala puasanya rajabnya juga akan dapat, meskipun niatnya tidak dilafazkan. 

Hal ini perkuat  oleh pendapat Syekh al-Barizi, meski hanya niat mengqadha puasa Ramadhan, maka secara otomatis pahala berpuasa Rajab bisa didapatkan.

Adapun bacaan niat puasa Rajab sekaligus qadha Ramadhan: Nawaitu Shouma Ghodin ‘an qadaa’in fardho ramadhoona lillahi ta’alaa.

Artinya: “Aku niat puasa esok hari sebagai ganti fardhu Ramadhan karena Allah Ta’ala.”

Menyatukan puasa Rajab sekaligus mengqadha puasa Ramadhan, dapat meningkatkan spiritual, mendapatkan keberkahan, dan memperkuat hubungan dengan Allah Ta’ala.

Selama menjalankan puasa tersebut, dianjurkan untuk berdoa dan memohon ampunan kepada Allah. Memperbanyak istighfar merupakan bentuk kerendahan hati dan kesadaran akan dosa-dosa yang mungkin terjadi di masa lalu.

Selain itu juga, puasa Rajab dapat dijadikan sebagai awal untuk mempersiapkan mental menjelang puasa Ramadhan. 

Dalam menjalankan puasa Rajab sekaligus menunaikan Qadha Ramadhan, yang harus diperhatikan adalah niat. Niat yang jelas sangat menentukan ditolak dan diterimanya amalan seseorang. Niat juga mencerminkan kesungguhan hati untuk beribadah dan menunaikan kewajiban pada Allah Ta’ala.

Sumber: daaruttauhiid.org

Baca juga: Keutamaan Bulan Rajab

Mengqadha Puasa Ramadhan di Bulan Rajab Read More »

atr serahkan sertifikat wakaf di surabaya

Menteri ATR/BPN Serahkan Sebelas Sertifikat Tanah Wakaf di Surabaya

WAKAFDT.OR.ID | SURABAYA – Menteri Agraria dan Tata Ruang/Badan Pertanahan Nasional (ATR/BPN) Marsekal TNI (Purn) Hadi Tjahjanto menyerahkan sebelas sertifikat tanah wakaf di Surabaya, Rabu.

“Hari ini saya serahkan sertifikat tanah wakaf sebanyak sebelas sertifikat,” katanya di sela penyerahan sertifikat tanah wakaf di Sidosermo, Surabaya.

Ia mengatakan, program sertifikasi tanah wakaf seluruh indonesia sudah diselesaikan sebanyak 242 ribu dan paling banyak Jatim, Surabaya yakni sebanyak 10 ribu.

“Program sertifikasi tanah terus dilakukan, dimana jajaran ATR/BPN terus proaktif sehingga tahun 2024 ini permasalahan tanah wakaf sudah selesai,” katanya.

Ia mengatakan, jajaran ATR/BPN ini akan terus berkoordinasi dengan kemenag di wilayah setempat supaya permasalahan tanah wakaf tersebut bisa diselesaikan.

“Koordinasi kemenag, ada data langsung kami selesaikan, sinergi terus kami lakukan,” katanya.

Dalam penyerahan sertifikat tanah wakaf tersebut, Menteri ATR/BPN Hadi Tjahjanto di dampingi oleh Wakil Gubernur Jawa Timur Emil Elestianto Dardak dan juga Wali Kota Surabaya Eri Cahyadi.

Menteri Agraria dan Tata Ruang/Kepala Badan Pertanahan Nasional (ATR/BPN), Hadi Tjahjanto dalam lawatannya ke Surabaya ini juga menyerahkan piagam penghargaan serta menyematkan pin emas kepada Tim Satgas Pencegahan Dan Penyelesaian Tindak Pidana Pertanahan Provinsi Jawa Timur atau yang biasa dikenal dengan Satgas Anti Mafia Tanah.

Dalam kesempatan ini, Hadi Tjahjanto mengapresiasi keterlibatan para aparat penegak hukum dan lembaga peradilan yang telah menghilangkan ego sektoral dalam tindak pidana pertanahan.

“Inilah yang dikatakan kelompok komando. Wilayah Surabaya ini permasalahan tanah pasti akan selesai apabila kelompok komando duduk bersama menghilangkan sekat-sekat ego sektoral,” ujarnya di kantor BPN Kanwil Jatim.

“Kalau sekat-sekat ego sektoral sudah hilang yang senang adalah rakyat, masyarakat kecil, dalam pertanahan yakni para petani gurem, buruh tani, nelayan tradisional. Mereka itu mengharapkan kehadiran negara supaya mereka bisa tersenyum lebar dan kuncinya di sinergi,” katanya.

Tim Satgas Pencegahan dan Penyelesaian Tindak Pidana Pertanahan Provinsi Jawa Timur telah berhasil menyelesaikan sebanyak empat target operasi tindak pidana pertanahan, yang semuanya telah berstatus P21 (status penyelidikan telah lengkap, red) dan telah ditetapkan sebanyak 15 orang tersangka.

Selain itu, potensial kerugian sebesar Rp792.440.882.000 dan seluas kurang lebih 1.018 Hektare bidang tanah dapat diselamatkan dari modus kejahatan pertanahan.

Sumber: Antara

Baca juga: Wakaf Tanah Terus Meningkat, Percepatan Sertifikasi Tanah Wakaf Jadi Prioritas

Menteri ATR/BPN Serahkan Sebelas Sertifikat Tanah Wakaf di Surabaya Read More »

spiritual di bulan rajab

Perkuat Spiritualitas dengan Puasa di Bulan Rajab

WAKAFDT.OR.ID | Memperbanyak amalan bagi setiap muslim adalah kewajiban yang harus ditunaikan. Bulan Rajab salah satu wadah untuk memperbanyak amalan kebaikan, karena begitu banyak limpahan rahmat yang diturunkan oleh Allah Ta’ala.

Bulan Rajab memiliki keistimewaan tersendiri. Oleh karena itu, setiap muslim harus memanfaatkan keistimewaan tersebut untuk membangun hubungan spiritual dengan Allah Ta’ala, salah satunya dengan berpuasa sunah. Puasa adalah salah satu amalan yang dianjurkan oleh Rasullullah Shallahu ‘alaihi wassalam. 

Setidaknya ada 4 keutamaan dalam melaksanakan puasa sunah di bulan Rajab, di antaranya:

1. Meningkatkan ibadah

Puasa sunah di bulan Rajab sebagai tambahan untuk melengkapi ibadah fardhu yang sudah dikerjakan, agar ibadahnya menjadi sempurna. Biasanya ketika umat muslim sedang menunaikan puasa, jangankan ibadah fardhu, ibadah yang sunah juga dikerjakan olehnya. Ini artinya, ibadah puasa sunah di bulan Rajab dapat meningkatkan ibadah kita kepada Allah Ta’ala.

2.  Pahala dilipatgandakan

Puasa sunah yang dikerjakan dengan ikhlas di bulan Rajab, akan mendapatkan pahala yang berlipat. Imam al-Baghawi dalam kitab tafsirnya menjelaskan:

“Amal saleh lebih agung (besar) pahalanya di dalam bulan-bulan haram (Zulqa’dah, Zulhijjah, Muharram, dan Rajab). Sedangkan zalim pada bulan tersebut (juga) lebih besar dari zalim di dalam bulan-bulan selainnya”. (Imam al-Baghawi, Ma’alimut Tanzil fi Tafsiril Qur’an)

3. Meningkatkan ketakwaan

Berpuasa merupakan salah satu ibadah yang melatih kita dalam menahan hawa nafsu selama satu hari. Tentunya mengerjakan puasa sunah di bulan Rajab menunjukan ketakwaan seorang muslim kepada Allah Ta’ala dan berkeinginan untuk mendekatkan diri kepada Sang Pencipta.

4. Meningkatkan kekhusyukan diri

Berpuasa juga dapat memfokuskan diri dalam menahan diri dari hawa nafsu, sehingga dapat memberikan kekhusyukan dalam melakukan berbagai ibadah lainnya. Kekhusyukan yang kita hadirkan dalam melaksanakan ibadah dapat membantu membangun suasana spiritualitas dengan Allah Ta’ala.

5. Meningkatkan amal saleh

Puasa sunah dapat meningkatkan kesalehan seseorang. Dengan meningkatnya kesalehan seseorang maka akan meningkatkan keimanan seseorang juga. Meningkatnya amal saleh dapat menjadikan seseorang menjadi pribadi yang lebih baik, lebih dermawan, dan dapat bermanfaat bagi orang lain.

Setiap ibadah yang dilakukan oleh umat muslim dalam membangun hubungan dengan Allah Ta’ala merupakan tujuan ibadah yang sebenarnya. Semoga dengan menunaikan puasa sunah di bulan Rajab kita senantiasa dalam keridhoan-Nya. Aamiin. (Arga)

Baca juga: Mengenal Berbagai Peristiwa di Bulan Rajab

Perkuat Spiritualitas dengan Puasa di Bulan Rajab Read More »

Lantik BWI Jawa Timur

Lantik Pengurus Perwakilan Jawa Timur, Ketua BWI Beri Arahan Galakkan Wakaf Catin

WAKAFDT.OR.ID | SURABAYA-Ketua Pelaksana Badan Wakaf Indonesia (BWI)  Prof. Mohammad NUH. DEA melantik Pengurus perwakilan BWI Jawa Timur periode 2024-2027 di Kantor Wilayah kementerian Agama Provinsi Jawa Timur pada Senin (22/1).

Dalam sambutannya, Ketua BWI Prof. NUH memberikan beberapa arahan kepada pengurus baru Perwakilan BWI Jawa Timur, yaitu:

  1. Menata niat, rukun dan kompak. Jangan Tengkar karena akan kehilangan 3 sekaligus (Kehilangan Energi, Kesempatan dan Keberkahan).
  2. Menjadikan wakaf sebagai lifestyle melalui sosialisasi, literasi dan Gerakan wakaf uang serta wakaf melalui uang.
  3. Amankan (sertifikasi) dan berdayakan (produktif) aset wakaf-tanah.
  4. Fokus pada program yang achievable-realistic (project-based).
  5. Perkuat sinergi dengan Kemenag, Pemerintah Daerah dan ATR/BPN serta lembaga pengelola aset umat dengan menjadi bagian dari solusi persoalan di khususnya kemiskinan, pendidikan dan kesehatan.
  6. Perbanyak Nadzir Profesional (Sertifikasi Kompetensi Nadzir).
  7. Supaya bisa terus semangat dalam mengurusi wakaf.

Selain itu, Prof Nuh juga mengatakan agar pengurus Perwakilan BWI Jawa Timur menggalakkan program wakaf calon pengantin (catin) karena potensinya dalam satu bulan bisa mencapai ratusan ribu pasangan yang menikah di jawa Timur. Ia menegaskan, bila wakaf catin dimaksimalkan, potensinya luar biasa digunakan untuk membantu membiayai anak-anak yatim dan pendidikan anak-anak korban perceraian.

“Dalam satu bulan ada sekitar 400.000 pasangan yang menikah di Jawa Timur ini potensinya sungguh luar biasa,” ujarnya.

Di samping potensinya, wakaf juga merupakan simbol keabadian, sebagaimana cinta pasangan calon pengantin.

Kegiatan ini dihadiri oleh Asisten 3, Administrasi Umum Pemkab Jawa Timur, Dr. K.H.Ahmad Jazuli; ormas islam; dan baznas provinsi.

Sumber: bwi.go.id

Baca juga: BWI Terbitkan Peta Jalan Wakaf Nasional 2024-2029

Lantik Pengurus Perwakilan Jawa Timur, Ketua BWI Beri Arahan Galakkan Wakaf Catin Read More »

Aa Gym: jangan sombong

Jangan Sombong dengan Kelebihan Diri

WAKAFDT.OR.ID | Sebagai makhluk sosial kita harus siap dengan siapapun kita bergaul. Kita harus mampu memastikan bahwa setiap perbuatan kita di dunia ini harus menjadi amal sholeh. Amal sholeh hanya ada pada sesuatu hal baik saja. Siapa saja di antara kita yang ingin bahagia maka harus berbuat amal sholeh.

Ketika kita bekerja dan bergaul dengan orang lain, maka harus menjadi amal sholeh. Amal sholeh itu hanya dua syaratnya pertama niatnya ikhlas dan kedua caranya juga benar. Kita memiliki kelebihan dan punya kekurangan, begitu juga orang lain. Setiap kelebihan dan kekurangan yang ada dalam diri kita harus menjadi amal sholeh. 

Karena kelebihan dan kekurangan tersebut datang dari Alloh Ta’ala, maka harus dimanfaatkan untuk kebaikan. Jangan sampai kelebihan yang kita miliki membuat kita takabur, ujub, dan sombong. 

Ketampanan yang kita miliki itu pemberian Alloh Ta’ala. Ingat, tidak ada keterlibatan kita satu sel pun dalam proses penciptaan diri kita sebagai manusia. Begitu juga kecerdasan yang kita miliki, jangan sampai kecerdasan tersebut membuat kita sombong dan kesombongan tersebut membuat kita menjadi orang yang berdosa.

Coba kita perhatikan setiap orang yang diberi kelebihan oleh Alloh Ta’ala; kecenderungannya sombong dan ingin pamer terus. Punya hidung mancung ingin di foto terus dari samping, suka pamer punya kulit putih dengan membuka aurat, dan punya rambut lurus ingin dipamerin. 

Pada akhirnya kelebihan kita tidak menjadi amal sholeh. Malah kelebihan yang kita miliki membuat kita sombong dan menjadi dosa, membuat semakin jauh dari Alloh yang Maha Pencipta.Padahal sangat mudah bagi Alloh untuk mengambil apa yang ada dalam diri kita dengan waktu yang singkat.

Yang gagah menjadi lumpuh, yang hitam menjadi putih, yang kaya menjadi miskin, dan seterusnya, karena tubuh ini milik Allah. Oleh karenanya, jangan membanggakan diri sampai lupa dengan Alloh. Ingatlah bahwa kita ini hanyalah manusia lemah yang tidak berdaya. Kita tidak akan bisa apa-apa tanpa pertolongan Alloh Ta’ala. (KH. Abdullah Gymnastiar)

Baca juga: Pentingnya Tujuan Hidup

Jangan Sombong dengan Kelebihan Diri Read More »