Wakaf Daarut Tauhiid

Asa Nasya di Garoga, Mimpi Baju Loreng dari Desa yang “Hilang”

WAKAFDT.OR.ID | TAPANULI – Peta Desa Garoga mungkin kini telah berubah total. Desa yang dulunya asri, kini nyaris rata dengan tanah setelah banjir bandang bermuatan kayu-kayu raksasa menyapu segalanya tanpa sisa.

Namun, di antara tumpukan lumpur dan batang pohon yang melintang, ada semangat yang tak ikut hanyut. Semangat itu ada dalam diri Nasya, bocah kelas 3 SDN Garoga.

Saat Tim Wakaf Darut Tauhiid (DT) menyisir lokasi pengungsian pada 23-25 Januari 2026, Nasya tampak menonjol di antara anak-anak lainnya. Di balik tubuh mungilnya, tersimpan cita-cita yang gagah.

Terinspirasi dari Penolong di Balik Lumpur

Bagi Nasya, melihat desanya hancur adalah trauma yang nyata. Namun, pemandangan sehari-hari di pengungsian justru menumbuhkan bibit baru di hatinya. Setiap hari, ia melihat para prajurit TNI berjibaku memindahkan kayu-kayu besar dan mengeruk lumpur tebal yang menimbun rumah-rumah warga.

“Nasya mau jadi Tentara Wanita (KOWAD), Kak,” ucapnya tegas. Saat ditanya mengapa, jawabannya sederhana namun menyentuh, “Karena ingin bantu banyak orang di desa-desa, seperti bapak-bapak TNI itu.”

Baginya, sosok berseragam loreng adalah pahlawan yang menghadirkan harapan di tengah duka. Ia ingin suatu saat nanti, dialah yang berdiri di sana untuk menolong orang lain yang kesusahan.

Membawa Kalam Ilahi ke Tenda Pengungsian

Kehilangan sekolah dan masjid tercinta tempatnya belajar mengaji tak membuat Nasya patah arang. Biasanya, ia dan kawan-kawannya rutin mengaji di masjid dekat rumahnya di Garoga. Kini, masjid itu tinggal kenangan.

Selama di pengungsian, Nasya terpaksa mengaji di masjid desa tetangga atau di dalam tenda-tenda darurat yang gerah. Al-Qur’an yang ia gunakan pun sudah lusuh, sebagian halamannya mungkin sempat terkena percikan air atau debu sisa bencana. Namun, keterbatasan itu tak menghalanginya menghafal surat-surat pendek.

Maka, ketika Tim Wakaf DT menyodorkan sebuah mushaf Al-Qur’an baru yang masih bersih dan harum, wajah Nasya langsung cerah. Ia memeluk erat kitab suci tersebut dengan mata yang berbinar-binar.

“Senang sekali punya Al-Qur’an baru. Nanti mau dipakai buat setoran hafalan lagi sama teman-teman,” katanya sambil tersenyum lebar.

Menjaga Hafalan, Merajut Masa Depan

Meski SDN Garoga tempatnya menuntut ilmu kini tak lagi bisa digunakan, semangat belajar Nasya tetap menyala. Di dalam tenda pengungsian, ia tetap merapal ayat-ayat pendek yang telah ia hafal, menjaga cahaya iman tetap hidup di tengah kegelapan musibah.

Distribusi Al-Qur’an yang dilakukan Tim Wakaf DT bukan sekadar memberi buku, tapi memberi “amunisi” bagi jiwa-jiwa kecil seperti Nasya untuk terus bermimpi. Di antara sisa-sisa kayu besar yang menghancurkan desanya, Nasya sedang membangun pondasi mimpinya: menjadi prajurit penjaga bangsa yang hatinya terpaut pada Al-Qur’an. (WIN)

Redaktur: Wahid Ikhwan


WAKAFDT.OR.ID