WAKAFDT.OR.ID | KARTAWANGI — Bagi Ilmi Abiyu, suasana belajar kini tak lagi terbatas pada dinding kelas atau meja kayu pesantren. Sebagai santri kelas akhir SMA Daarut Tauhiid Boarding School (DTBS) Putri, ia tengah menapaki fase pamungkas pendidikannya melalui Program Khidmat Masyarakat (PKM) di Desa Kartawangi.
PKM bukan sekadar syarat kelulusan formal. Bagi Ilmi dan kawan-kawannya, ini adalah panggung pembuktian untuk mengaktualisasikan nilai-nilai tauhid dan adab yang telah ditempa selama tiga tahun di pesantren ke dalam kehidupan nyata.
Melebur dalam Keseharian Warga
Selama menetap di desa, Ilmi terjun langsung dalam berbagai denyut nadi kehidupan masyarakat. Tidak hanya berfokus pada program formal, ia turut menyingsingkan lengan baju untuk:
- Pendidikan: Mengajar dan mendampingi anak-anak desa dengan penuh kasih.
- Lingkungan: Menjaga kebersihan fasilitas umum dan membantu pemakmuran masjid setempat.
- Ekonomi Lokal: Membantu warga beraktivitas di kebun serta mengurus hewan ternak.
“Kami belajar untuk tidak sekadar datang membawa agenda, tetapi belajar untuk hadir secara utuh, memahami kearifan lokal, dan menyatu dengan kehidupan mereka,” ujar Ilmi merefleksikan pengalamannya.
Belajar Peka, Belajar Peduli
Interaksi yang terjalin dengan penduduk desa memberikan sudut pandang baru bagi Ilmi. Ia merasa bahwa tantangan sosial di lapangan adalah guru terbaik yang mengajarkannya tentang kepedulian dan pencarian solusi atas masalah-masalah sederhana namun krusial di masyarakat.
Bagi Ilmi, misi utamanya adalah menjadi pribadi yang rahmatan lil ‘alamin. Hal ini ia wujudkan dengan mencoba membawa kebahagiaan bagi anak-anak di sana serta membangun kedekatan emosional dengan warga melalui komunikasi yang santun.
Pengalaman di Desa Kartawangi ini ia maknai sebagai simulasi hidup setelah lulus nanti. Ilmi meyakini bahwa PKM adalah sistem yang dirancang agar para santri tidak menjadi “asing” saat kembali ke masyarakat luas.
“PKM adalah jembatan yang membentuk kami menjadi insan yang bertauhid dan bermartabat. Ini adalah bekal agar kami siap menjadi bagian dari solusi di mana pun kami berada kelak,” tambahnya.
Perjalanan di Kartawangi mengajarkan satu pesan kuat: bahwa menjadi bermanfaat tidak selalu harus melalui langkah besar. Kehadiran yang tulus dan kerja nyata yang konsisten sudah cukup untuk meninggalkan jejak kebaikan yang bermakna. (DS/WIN)
Redaktur: Wahid Ikhwan
