WAKAFDT.OR.ID — Peristiwa Isra’ Mi’raj semestinya tidak hanya dipandang sebagai seremoni rutin yang diperingati setiap tahun. Lebih dalam dari itu, momentum ini adalah pengingat bagi setiap Muslim untuk meninjau kembali kualitas ibadah shalatnya—apakah sudah memiliki “ruh” atau sekadar menjadi rutinitas fisik belaka.
Dialog Langit dalam Sehari Semalam
Pakar Ilmu Al-Qur’an, KH Ahsin Sakho, memberikan catatan penting mengenai kedalaman makna shalat. Dalam sehari semalam, seorang Muslim setidaknya melafalkan takbir sebanyak 94 kali melalui 17 rakaat shalat fardhu. Namun, takbir bukan sekadar ucapan lisan tanpa makna.
Kiai Ahsin menekankan bahwa shalat adalah momen di mana penduduk bumi sedang “berdialog” dengan penghuni langit. Bayangkan saat kita bertakbir dengan kesadaran penuh akan keagungan Allah SWT, maka seluruh eksistensi diri kita yang kecil ini akan bergetar di hadapan Sang Pencipta yang Maha Besar. Shalat adalah kesaksian langit atas ketundukan hamba di bumi.
Menyeimbangkan Status “Hamba” dan “Khalifah”
Senada dengan hal tersebut, Ahmad Zayadi selaku Direktur Penerangan Agama Islam Kemenag RI, menyebutkan bahwa Isra’ Mi’raj adalah sarana meningkatkan kapasitas diri sebagai Abdullah (hamba Allah).
Menurutnya, esensi dari seorang hamba adalah kepatuhan dan kepasrahan total. Namun, status hamba ini harus berjalan beriringan dengan peran manusia sebagai Khalifah (pemimpin/pengelola bumi). Di sinilah letak keseimbangannya:
- Substansi Hamba: Fokus pada ketundukan dan ibadah.
- Substansi Khalifah: Fokus pada kreativitas dan inovasi.
Pesan utamanya adalah bahwa kreativitas yang kita kembangkan di dunia harus berlandaskan pada ketundukan kepada Allah. Semakin kreatif seseorang, seharusnya ia semakin merasa butuh dan dekat kepada Tuhannya, bukan justru menjauh karena merasa hebat.
Perjalanan Menembus Dimensi Langit
Secara historis, Isra’ Mi’raj yang terjadi pada bulan Rajab merupakan mukjizat fisik dan spiritual di mana Rasulullah SAW menempuh perjalanan dari Baitul Maqdis menuju Sidratul Muntaha. Muhammad Husain Haekal dalam karya literaturnya mendeskripsikan betapa megahnya perjalanan ini:
Pertemuan Lintas Zaman: Rasulullah SAW memimpin shalat bersama para nabi terdahulu, mulai dari Nabi Ibrahim, Musa, hingga Isa AS di kompleks Baitul Maqdis.
Lapisan Langit yang Menakjubkan: Dari langit pertama yang berkilau perak hingga langit ketujuh, Nabi disambut oleh para malaikat penjaga dan para nabi.
Realitas Gaib yang Dahsyat: Rasulullah diperlihatkan sosok Malaikat Izrail yang menjalankan tugasnya dengan penuh ketelitian, hingga malaikat-malaikat dengan wujud yang melampaui imajinasi manusia, yang semuanya tak henti-hentinya bertasbih memuji Allah.
Puncak dari perjalanan ini adalah Sidratul Muntaha, sebuah batas tertinggi di mana perintah shalat lima waktu diberikan langsung oleh Allah SWT. Ini menegaskan bahwa shalat adalah “kado” istimewa yang dibawa langsung dari langit untuk membantu manusia tetap terhubung dengan Sang Khaliq di tengah keterbatasan mereka di bumi. (WIN)
Redaktur: Wahid Ikhwan
