Wakaf Daarut Tauhiid

8 Januari 2026

Di Tengah Reruntuhan, Ratusan Mahasiswa Kedokteran Gaza Rayakan Wisuda sebagai Simbol Perjuangan

WAKAFDT.OR.ID | GAZA — Langit Gaza sore itu tampak kelabu. Di halaman Rumah Sakit Al-Shifa, bangunan yang sebagian dindingnya runtuh dan lantainya dipenuhi puing, berdiri barisan mahasiswa kedokteran mengenakan toga.

Awal Januari 2026, di tempat yang biasanya dipenuhi suara ambulan dan jeritan korban, terdengar tepuk tangan pelan. Sebanyak 230 mahasiswa dan mahasiswi kedokteran resmi diwisuda—bukan di aula kampus, melainkan di tengah sisa-sisa kehancuran perang.

Momen ini dibagikan oleh jurnalis Gaza melalui akun Instagram @m.saed.gaza. Kamera menangkap wajah-wajah muda yang menahan haru: senyum yang rapuh, mata yang berkaca-kaca, dan langkah kaki yang mantap meski tanah di bawahnya retak.

Tidak ada dekorasi mewah, tidak ada panggung tinggi. Hanya deretan kursi sederhana dan kain seadanya, namun suasananya penuh makna.

Para lulusan ini berasal dari berbagai perguruan tinggi di Jalur Gaza. Selama masa studi, mereka tidak hanya belajar teori medis, tetapi juga menjadi relawan di rumah sakit, merawat korban luka, dan menyaksikan kehilangan setiap hari.

Wisuda ini digelar sebagai bentuk penghormatan atas keteguhan mereka—bahwa di tengah perang dan keterbatasan, pendidikan tetap dijaga, dan pengabdian tetap berjalan.

Saat satu per satu naik ke panggung darurat, para mahasiswa mengibarkan bendera Palestina. Di balik toga yang dikenakan, ada kisah tentang malam-malam tanpa listrik, ruang kelas yang hancur, dan keluarga yang hidup dalam kecemasan.

Namun hari itu, semua luka sejenak disimpan. Yang terlihat hanyalah tekad untuk menjadi dokter—penjaga kehidupan di tanah yang terus diuji.

Acara wisuda di Al-Shifa ini bukan sekedar seremoni kelulusan. Ia menjadi simbol ketahanan dan kemanusiaan, sekaligus pengingat bahwa Gaza tidak hanya tentang kehancuran, tetapi juga tentang harapan yang terus diperjuangkan.

Dukungan kemanusiaan, termasuk melalui Cash for Humanity, sebuah program wakaf yang digagas oleh Wakaf DT menjadi bagian penting dalam perjuangan saudara di Palestina.

Program ini bisa menjadi upaya menjaga layanan kesehatan dan pendidikan tetap berjalan—agar mimpi para calon dokter ini tidak berhenti di tengah reruntuhan. (SSP)

Redaktur: Wahid Ikhwan


WAKAFDT.OR.ID

Di Tengah Reruntuhan, Ratusan Mahasiswa Kedokteran Gaza Rayakan Wisuda sebagai Simbol Perjuangan Read More »

Dekapan Al-Qur’an dan Mimpi Sang “Komandan” Cilik dari Meunasa Mancang

WAKAFDT.OR.ID | PIDIE JAYA — Di sela reruntuhan sisa bencana yang belum sepenuhnya hilang di Kabupaten Pidie Jaya, sebuah pemandangan hangat tersaji pada Ahad (4/1/2026) siang.

Hafis Ramadhan, bocah kelas 3 SD yang duduk di bangku MIN 4 Pidie Jaya, tampak tak berhenti menyunggingkan senyum. Di pelukannya, sebuah mushaf Al-Qur’an baru dari Wakaf DT ia dekap erat-erat.

Bagi Hafis dan kawan-kawannya di Desa Meunasa Mancang, Kecamatan Meurah Dua, kehadiran Al-Qur’an tersebut bukan sekadar tumpukan kertas.

Di tengah keterbatasan hidup di pengungsian pascabencana, kitab suci ini adalah simbol harapan sekaligus pemantik api semangat untuk kembali meramaikan pengajian.

“Siap, Komandan!”

Momen pembagian bantuan tersebut berubah menjadi haru sekaligus mengagumkan saat Hafis berbincang dengan para relawan. Di balik tubuh kecilnya, tersimpan cita-cita yang gagah. Tanpa ragu, ia mengungkapkan impiannya untuk menjaga negeri.

“Cita-cita saya ingin menjadi tentara,” ucap Hafis dengan nada bicara yang tegas dan penuh keyakinan.

Seolah ingin membuktikan keseriusannya, Hafis tiba-tiba berdiri tegak. Dengan tangan kanan, ia memberikan posisi hormat yang sempurna—sebuah gerak sigap layaknya prajurit profesional. Sementara itu, tangan kirinya tetap setia mendekap Al-Qur’an di dada.

“Siap, Komandan!” serunya lantang, memecah suasana sunyi di lokasi pengungsian dan membuat para relawan yang hadir berdecak kagum.

Membangun Mental di Tengah Keterbatasan

Melihat kobaran semangat tersebut, para relawan tak melewatkan kesempatan untuk menitipkan pesan bermakna. Mereka mengingatkan Hafis bahwa menjadi seorang prajurit tak hanya butuh fisik yang kuat, tapi juga landasan spiritual yang kokoh.

“Masya Allah, semoga cita-citanya terwujud ya, Hafis. Kuncinya harus rajin sekolah, jangan tinggal salat, dan yang paling penting, selalu berbakti kepada orang tua,” pesan salah satu relawan dengan lembut.

Program penyaluran Al-Qur’an ini merupakan bagian dari misi pemulihan psikososial yang dijalankan Wakaf DT bersama DT Peduli. Fokusnya bukan hanya pada bantuan fisik, melainkan menjaga kesehatan mental dan optimisme anak-anak di wilayah terdampak bencana.

Melalui lembaran-lembaran mushaf baru ini, diharapkan anak-anak Pidie Jaya seperti Hafis tetap memiliki pegangan teguh. Meski badai bencana sempat mengguncang tanah kelahiran mereka, mimpi-mimpi besar—seperti menjadi tentara yang religius—harus tetap tegak berdiri. (WIN)

Redaktur: Wahid Ikhwan


WAKAFDT.OR.ID

Dekapan Al-Qur’an dan Mimpi Sang “Komandan” Cilik dari Meunasa Mancang Read More »