Kabar Syahidnya Abu Ubaidah: Warisan Perjuangan yang Tak Padam di Tanah Palestina
WAKAFDT.OR.ID | GAZA – Dunia Islam dan jagat maya hari ini diguncang oleh kabar duka yang mendalam. Tagar mengenai kesyahidan Abu Ubaidah, juru bicara legendaris Brigade Al-Qassam, menjadi pusat perhatian di seantero dunia Arab.
Setelah spekulasi panjang mengenai kondisinya, pada (29/12/2025) Al-Qassam secara resmi mengumumkan bahwa sang pembawa pesan perjuangan tersebut telah gugur sebagai syahid.
Menyingkap Tabir Sang Ikon Perlawanan
Selama dua dekade, sosok di balik kafiyeh merah tersebut dikenal sebagai “Menteri Kebahagiaan” bagi umat Islam karena pidato-pidatonya yang membangkitkan harapan di tengah blokade Gaza.
Dalam pengumuman beberapa hari lalu, identitas aslinya pun terungkap ke publik: Hudzaifah Samir Abdullah Al-Kahlut Abu Ibrahim.
Kabar yang lebih menyedihkan menyebutkan bahwa ia gugur bersama istri dan anak-anaknya dalam sebuah serangan. Hanya putra sulungnya, Ibrahim, yang dilaporkan selamat meski dalam kondisi luka kritis.
Gugurnya Para Panglima Tertinggi
Pengumuman duka ini ternyata mencakup jajaran elit militer Al-Qassam lainnya yang selama ini menjadi otak di balik ketangguhan Gaza:
- Muhammad Sinwar (Abu Ibrahim): Saudara kandung mendiang Yahya Sinwar. Ia adalah Panglima Tertinggi Al-Qassam yang menggantikan Muhammad Dheif. Sosoknya dikenal sebagai arsitek utama jaringan terowongan bawah tanah Gaza yang legendaris.
- Muhammad Syabanah (Abu Anas): Panglima Brigade Rafah yang gugur saat menjalankan tugas militer di wilayah selatan.
- Hakam Al-Isa (Abu Umar): Pakar strategi dan penanggung jawab pelatihan militer.
- Raid Saad (Abu Muadz): Kepala departemen produksi dan pengembangan persenjataan yang berhasil menciptakan drone dan roket mandiri di tengah kepungan musuh.
Estafet Perjuangan: “Abu Ubaidah” Sebagai Simbol, Bukan Sekadar Nama
Momen yang paling menggetarkan adalah kemunculan Juru Bicara baru yang mengumumkan kesyahidan para pendahulunya.
Dengan penampilan, suara, dan aura ketegasan yang nyaris serupa dengan pendahulunya, ia menegaskan bahwa “Abu Ubaidah” bukanlah sekadar nama individu, melainkan identitas jihad media Al-Qassam.
“Kami mewarisi panggilan Abu Ubaidah dari Hudzaifah Al-Kahlut, dan kami berjanji akan melanjutkan pergerakan ini!” tegas sang jubir baru.
Pelajaran tentang Kaderisasi dan Kerahasiaan
Kesyahidan para pemimpin ini memberikan pelajaran berharga bagi dunia mengenai manajemen perjuangan:
- Kaderisasi yang Matang: Gugurnya satu pemimpin tidak membuat pergerakan lumpuh. Munculnya sosok-sosok baru dengan kualitas yang setara membuktikan bahwa sistem kaderisasi mereka berjalan dengan sempurna di balik layar.
- Keikhlasan dalam Kerahasiaan: Hingga akhir hayatnya, publik tidak mengetahui nama asli para panglima ini. Mereka membuktikan bahwa pengabdian tidak membutuhkan panggung popularitas, melainkan hasil nyata di lapangan.
Kini, meski dunia berduka atas perginya Hudzaifah Al-Kahlut dan para panglima lainnya, semangat yang mereka tanamkan justru semakin berkobar.
Mereka telah menunaikan janji kepada Allah, meninggalkan warisan keberanian yang kini diteruskan oleh generasi berikutnya.
Semoga Allah SWT menempatkan mereka di derajat mulia dan mengumpulkan kita bersama orang-orang yang kita cintai di surga-Nya kelak. Aamiin. (WIN)
Redaktur: Wahid Ikhwan
Kabar Syahidnya Abu Ubaidah: Warisan Perjuangan yang Tak Padam di Tanah Palestina Read More »

