Wakaf Daarut Tauhiid

Artikel Islam

Aa Gym: Dari Mana Datangnya Sakinah?

WAKAFDT.OR.IDSemua orang mengharapkan dan menginginkan hidup yang sakinah atau tenang. Namun, banyak orang yang tidak mengerti bagaimana ketenangan yang sesungguhnya, siapa yang menurunkan sakinah dalam diri seseorang? Dari mana sumber ketenangan itu?

Alloh Ta’ala berfirman dalam Al Quran:

هُوَ الَّذِيْٓ اَنْزَلَ السَّكِيْنَةَ فِيْ قُلُوْبِ الْمُؤْمِنِيْنَ لِيَزْدَادُوْٓا اِيْمَانًا مَّعَ اِيْمَانِهِمْ ۗ وَلِلّٰهِ جُنُوْدُ السَّمٰوٰتِ وَالْاَرْضِۗ وَكَانَ اللّٰهُ عَلِيْمًا حَكِيْمًاۙ

“Dia-lah yang telah menurunkan sakinah (ketenangan) ke dalam hati orang-orang mukmin supaya keimanan mereka bertambah di samping keimanan mereka (yang telah ada). Dan kepunyaan Alloh-lah tentara langit dan bumi dan adalah Alloh Maha Mengetahui lagi Maha Bijaksana.” (QS. Al Fath: 4)

Tidak ada yang bisa menanamkan sakinah, ketenangan di hati kita melainkan karena Alloh Ta’ala. Tidak ada yang bisa menghilangkan rasa cemas, resah, galau, dan gelisah kecuali hanya Alloh satu-satunya.

Sakinah tidak hadir dari pasangan kita, sakinah tidak datang juga dari harta kekayaan kita, sakinah tidak berasal dari anak-anak kita, sakinah juga tidak datang dari pangkat, jabatan, dan kedudukan kita di hadapan orang lainnya.

Sakinah tidak ada hubungannya dengan berbagai kemewahan duniawi, sehebat apapun kemampuan kita memiliki dunia, maka sampai kapan pun kita tidak akan mampu membeli ketenangan. Hanya Alloh yang Maha Kuasa yang menurunkan ketenangan di hati kita.

Layaknya rumah tangga yang sakinah, tidak akan bisa dibangun dengan modal suaminya kaya raya atau sang istri yang cantik jelita.

Rumah tangga sakinah hanya datang ketika pasangan suami istri sama-sama mujahadah mendekatkan dirinya kepada Alloh Ta’ala.

Dikala seseorang berikhtiar dengan sungguh-sungguh untuk mendekatkan diri kepada Alloh dan Alloh pun ridho kepadanya, maka pada saat bersamaan Alloh akan selimuti hatinya dengan rasa tenang yang tidak ada siapapun bisa merenggutnya.

Oleh sebab itu, marilah kita senantiasa berusaha untuk memperbaiki diri, meningkatkan lagi kualitas ibadah kita kepada Alloh Ta’ala.

Sehingga Alloh meridhoi kita dan melimpahkan ketenangan itu kepada diri kita dan manfaatnya hati lebih tenang, maka kita juga akan merasa lebih ringan.

Hati juga menjadi lebih yakin atau mantap menjalani hidup ini, dan lebih gampang menghadapi berbagai persoalan dalam hidup kita di dunia. (KH. Abdullah Gymnastiar)

Redaktur: Wahid Ikhwan


WAKAFDT.OR.ID

Aa Gym: Dari Mana Datangnya Sakinah? Read More »

Apakah Boleh Non-Islam Berwakaf?

WAKAFDT.OR.IDBerwakaf merupakan amalan yang dianjurkan bagi setiap muslim. Namun apakah boleh wakaf dilakukan oleh seseorang yang bukan beragama Islam?

Apakah hanya muslim saja yang bisa berwakaf? Banyak stigma bahwa seorang non-muslim tidak diperkenankan untuk berwakaf karena dia bukan seorang muslim.

Perlu kita pahami bahwa stigma itu tidak sepenuhnya benar. Dalam hadist maupun Al-Qur’an tidak disebutkan bahwa wakaf hanya bisa dilakukan oleh seorang yang beragama Islam.

Ada juga yang beranggapan bahwa jika seorang non-muslim berwakaf maka hartanya ditunjukkan kepada kaum muslim dan wakaf yang diterima menjadi non-halal.

Bagaimana dengan pendapat tersebut? Apakah bisa dibenarkan? Ada pula yang beranggapan selama wakaf dipergunakan untuk kemaslahatan umat, maka faktor kepercayaan seseorang tidak diperhitungkan atau tidak menjadi sama sekali.

Sebagian ulama yang berpegang pada Mazhab Syafi’i memiliki dua pendapat terkait persoalan ini. Dalam kitabnya Fathul Wahab, kitab yang digunakan sebagai rujukan oleh ulama penganut Mazhab Syafi’i, menjelaskan konsep wakif dalam proses berwakaf.

Tentunya syarat mutlak pemberi wakaf ialah pihak yang nyata-nyata tidak dalam tekanan dari manapun. Syekh Zakariya Al-Ansari secara tegas menyampaikan pendapatnya mengenai keabsahan waqif dari golongan non-muslim:

“Rukun wakaf ada 4, di antaranya harta benda yang diwakafkan, pihak penerima wakaf, pernyataan wakaf, dan pihak yang mewakafkan. Disyaratkan pihak yang memberi wakaf adalah ia orang yang secara sukarela memberikannya (mukhtar), dan penjelasan tambahan dari saya dalam hal ini adalah ia merupakan ahlu tabarru’ (orang cakap dalam kebaikan). Karenanya sah wakaf dari orang non-Muslim dan walaupun wakaf tersebut untuk masjid,” (Lihat Syekh Zakariya Al-Anshari, Fathul Wahhab bi Syarhi Manhajith Thullab).

Jadi, secara hukum sudah jelas bahwa kalau seorang non-muslim ingin mewakafkan hartanya untuk kebaikan umat Islam maka hukumnya diperbolehkan.

Hal tersebut disebabkan keyakinan atau agama tidak menjadi syarat boleh atau tidak bolehnya berwakaf, selama harta yang diwakafkan statusnya halal dan bertujuan untuk kepentingan umum atau kaum muslimin maka diperbolehkan.

Jika memiliki kerabat atau tetangga non-muslim berwakaf, maka dapat diarahkan untuk berwakaf ke salah satu lembaga wakaf.

Misalkan melalui lembaga Wakaf Daarut Tauhiid yang sudah terdaftar resmi sebagai Nazhir BWI (badan wakaf Indonesia).

Wakaf tersebut dapat digunakan dan diperdayakan untuk program di bidang kesehatan, pendidikan, air, dan lain-lainnya. (Arga)

Redaktur: Wahid Ikhwan


WAKAFDT.OR.ID

Apakah Boleh Non-Islam Berwakaf? Read More »

Tonggak Peradaban Islam, Nazhir: Sentranya Adalah Wakaf

WAKAFDT.OR.ID | BANDUNG – Wakaf menjadi filantropi terbesar umat Islam karena keberadaannya menjadi penopang jayanya sebuah peradaban.

Bertajuk Wakaf Tonggak Peradaban, ustadz Fahruddin memaparkan materinya terkait wakaf pada kajian MQ Pagi (22/11/2023).

Keberadaan wakaf tak dapat terpisahkan dengan terbentuknya sebuah peradaban. Rasulullah menjadi orang pertama yang mempraktekkan amalan berwakaf.

“Rasullah yang pertama kali melakukannya, Rasulullah mencontohkan dua hal dalam berwakaf, yaitu sebagai sarana mendekatkan diri kepada Allah SWT dan membangun peradaban yang diawali dengan membangun masjid,” terang ustadz Fahrudin.

Masjid yang menjadi prioritas dalam membentuk peradaban Islam berkolaborasi kuat dengan peran wakaf sebagai sentranya.

Keberadaan wakaf menjadi pendukung operasional masjid berikut kegiatan-kegiatan yang berada di dalamnya, baik beribadah, menuntut ilmu hingga bermusyawarah.

Manfaat Wakaf yang meluas dan tak terbatas, menjadikan wakaf berperan besar dalam pembangunan sebuah peradaban, mulai dari infrastuktur hingga peningkatan kualitas sumber daya manusia.

“Selain masjidnya ada, kegiatan-kegiatan dalam masjid tersebut yang harus di suport dengan dukungan yang baik, sehingga rasulullah memilah sahabat yang fokus sesuai bidang keahliannya (untuk mengelola masjid dan memberdayakan sahabat dan jama’ah di dalamnya),”ujar Nazhir DT itu.

“Ketika semua berbagi peran dengan baik dan melakukan peran dengan baik, maka generasi di zaman Rasulullah, zaman sahabat dan tabiin terus berkembang, centranya adalah wakaf.” imbuhnya.

Lebih lanjut ustadz fahrudin menyampaikan, bahwa untuk membangun peradaban tidak hanya satu dua orang saja, tetapi semua orang dapat terlibat dengan perannya masing-masing.

“Semuanya bisa terlibat, yang Allah beri harta maka berkontribusi melalui harta yang Allah berikan salah satunya dengan wakaf.

Orang yang berwakaf kata ustadz, nilai pahalanya akan terus bertambah. Wakaf merupakan pilihan yang sangat efektif ketika membangun peradaban, karena nilainya tidak pernah berkurang.

Menjadikan Al-Quran dan sunnah sebagai pedoman utama, ponpes DT meneladani konsep Rasulullah dalam membangun sebuah peradaban. Yakni dengan membangun masjid.

Tercatat, Masjid DT telah tersebar di tujuh titik wilayah Indonesia, diantaranya: Batam. Tangerang Selatan, Jambi, Kuningan, Lubuk Linggau, Bogor dan Bandung.

Ketujuh Masjid tersebut menjadi titik awal dibangunnya peradaban Islam berlandaskan ajaran Tauhiid yang terpadu dalam sebuah Kawasan Pesantren Daarut Tauhiid Indonesia (PDTI).

“DT memulai membangun pesantren dengan membangun masjid, ini merupakan ittiba’ kepada Rasul yang mebangun masjid quba kemudian membangun masjid nabawi. Masjid bagi umat Islam adalah seperti air bagi ikan.” ungkap ustadz Fahrudin.

Terakhir, ustadz Fahrudin mengajak audiens untuk menggalakkan budaya berwakaf, salah satunya dengan wakaf masjid.

“Yuk kita bangun rumah Allah, dalam sebuah hadits Rasulullah bersabda, barangsiapa yang membangun rumah Allah maka Allah bangunkan baginya rumah di dalam surga,” jelasnya (Noviana)

Redaktur: Wahid Ikhwan


WAKAFDT.OR.ID

Tonggak Peradaban Islam, Nazhir: Sentranya Adalah Wakaf Read More »

Sejarah Baitul Mal dalam Islam

WAKAFDT.OR.IDBaitul mal secara bahasa berarti memiliki “rumah harta”. Baitul mal adalah lembaga atau unit yang berurusan dengan pendapatan dan segala hal keekonomian negara.

Pada masa Nabi Muhammad Shallallahu ‘alaihi wasalam, tidak ada baitul mal atau harta publik yang bersifat permanen, karena semua pendapatan yang diperoleh negara maka segera didistribusikan secara langsung.

Dalam bukunya Ahmad Ifham Sholihin yang berjudul Pintar Ekonomi Syariah, diterbitkan pada tahun 2010, menjelaskan istilah Baitul Mal adalah suatu lembaga atau pihak yang mempunyai tugas khusus menangani segala harta umat, baik berupa pendapatan maupun pengeluaran negara.

Baitul Mal dibentuk sebagai lembaga yang mengelola penerimaan dan pengeluaran negara yang bersumber dari zakat, kharaj (cukai atas tanah pertanian), jizyah (pajak yang dibebankan pada penduduk non-Muslim yang tinggal di negara Islam), kaffarat (denda), wakaf, ghanimah (rampasan perang) dan lain-lain yang ditasyarufkan untuk kepentingan umat.

Pada masa kekhalifahan Abu Bakar, pelembagaan baitul mal keberadaannya sangat dibutuhkan. Khalifah Abu Bakar menjadikan rumahnya sendiri untuk menyimpan uang atau harta kas negara, disimpan dalam karung atau kantong.

Kemudian pendistribusian harta dilakukan secara langsung seperti pada masa Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasalam.

Berangkat dari sanalah konsep awal baitul mal dibangun, yang mengedepankan prinsip kesetaraan dan keadilan, serta kemaslahatan banyak umat. Bangunan Baitul Mal baru ada pada masa kekhalifahan Umar bin Khattab.

Baitul Mal juga dikenal sebagai lembaga keuangan non pemerintah yang berfungsi menerima dan menyalurkan dana umat.

Dari situ muncul satu perbedaan mendasar mengenai konsep penerapan baitul mal, yakni keterlibatan negara dalam pengelolaannya.

Pada masa khilafah, baitul mal merupakan sebuah lembaga pemerintah yang mengelola keuangan negara.

Sedangkan pada zaman modern hari ini, baitul mal menjadi lembaga swasta yang tidak saja berfungsi sebagai penerima dan penyaluran harta kepada yang berhak, selain itu juga agar mengupayakan pengembangan dari harta itu sendiri yang dilandasi prinsip-prinsip ekonomi Islam.

Jika dikelola dengan baik, keberadaan Baitul Mal masih relavan dan dibutuhkan hingga saat ini, sebagai upaya untuk memaksimalkan potensi pemberdayaan ekonomi umat dan meningkat taraf kesejahteraan masyarakat. (Arga)

Redaktur: Wahid Ikhwan


WAKAFDT.OR.ID

Sejarah Baitul Mal dalam Islam Read More »

Palestina Adalah Risalah Kenabian Bagi Umat Islam

WAKAFDT.OR.IDJika ditanya, apa alasan kita harus membela Palestina dari penjajahan Israel? Maka salah satu jawaban yang paling utama adalah kita menjalankan tugas sebagai muslim.

Perjuangan yang dilakukan oleh rakyat Palestina tidak hanya soal mempertahankan tanahnya dari Israel. Tapi perjuangan utama mereka adalah memperjuangkan tanah suci dan masjid seluruh umat Islam, Al Aqsa.

Kita sebagai umat muslim harus mengetahui dan memahami misi kenabian bagaimana Palestina dan Masjid Al Aqsa yang ada di dalamnya.

Dalam surah al-Isra ayat 1, Allah Ta’ala menyebutkan antara Masjid al-Haram di Makkah dengan Masjid Al Aqsa dalam satu ayat.

سُبْحٰنَ الَّذِيْٓ اَسْرٰى بِعَبْدِهٖ لَيْلًا مِّنَ الْمَسْجِدِ الْحَرَامِ اِلَى الْمَسْجِدِ الْاَقْصَا الَّذِيْ بٰرَكْنَا حَوْلَهٗ لِنُرِيَهٗ مِنْ اٰيٰتِنَاۗ اِنَّهٗ هُوَ السَّمِيْعُ الْبَصِيْرُ

“Mahasuci (Allah), yang telah memperjalankan hamba-Nya (Muhammad) pada malam hari dari Masjidilharam ke Masjidil Aqsa yang telah Kami berkahi sekelilingnya agar Kami perlihatkan kepadanya sebagian tanda-tanda (kebesaran) Kami. Sesungguhnya Dia Maha Mendengar, Maha Melihat.”

Ayat ini memberikan gambaran tentang peristiwa agung, yaitu Isra’ dan Mi’raj Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam, Allah Ta’ala memberangkatkan Nabi dari Masjidil Haram ke Masjidil Aqsa di Palestina.

Allah Ta’ala menaikkan Nabi ke Sidratul Muntaha, suatu tempat tertinggi yang tidak ada seorang pun sampai ke sana, baik dari kalangan malaikat maupun manusia, kecuali Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam.

Dalam peristiwa ini Allah Ta’ala menunjukkan Masjidil Aqsa dan Palestina bukan hanya bagian dari sejarah umat Islam, melainkan juga bagian dari iman, karena telah tergabung dalam satu ayat yang tidak mungkin terpisahkan.

Kata الَّذِيْ بٰرَكْنَا حَوْلَهٗ (yang diberkahi sekelilingnya) maksudnya adalah Palestina dan wilayah Syam pada umumnya. Karena memang di sanalah tempat turunnya wahyu sepanjang sejarah kenabian.

Di sana pulalah para Nabi berdakwah. Hal ini sebagai bukti bahwa urusan Masjidil Aqsa dan Palestina merupakan amanah bagi umat Islam yang harus dijalankan.

Di saat yang sama pada malam Isra’, Masjidil Aqsa menjadi bagian perjalanan penting dalam sejarah isra’ dan mi’raj.

Mengapa Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam dimampirkan di Masjidil Aqsa, padahal bagi Allah sangat bisa mengangkatnya langsung ke langit?

Hal tersebut merupakan isyarat bahwa kaitan Masjidil Aqsa dan Palestina merupakan visi risalah perjuangan kenabian Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam. Belum lagi perintah sholat yang kiblatnya menghadap ke Masjidil Aqsa.

Ini juga isyarat bahwa Masjidil Aqsa dan Palestina yang diberkahi adalah bagian dari ibadah umat Islam. Nabi memerintahkan umatnya agar melakukan ibadah di tiga masjid:

“Masjid al-Haram Makkah dengan pahala sekali sholat sama dengan 100 ribu kali, Masjid Nabawi Madinah dengan pahala sekali sholat sama dengan 1.000 kali, dan Masjid al-Aqsa dengan pahala sholat sama dengan 500 kali” (HR. Bukhari).

Palestina merupakan risalah Nabi yang harus kita lanjutkan sebagai umat Islam. Salah satu yang harus kita lakukan mendukung dan membantu perjuangan saudara kita saat ini di Palestina, melalui apapun yang kita bisa. (Wahid/Arga)

Redaktur: Wahid Ikhwan


WAKAFDT.OR.ID

Palestina Adalah Risalah Kenabian Bagi Umat Islam Read More »

Bisakah Wakaf Atas Nama Orangtua yang Sudah Wafat?

WAKAFDT.OR.IDAda banyak orang yang selama hidupnya tidak punya kesempatan untuk berbakti kepada kedua orangtuanya karena telah meninggal dunia. Namun, bukan berarti kesempatan untuk berbakti kepada orangtua sudah tidak ada lagi. Bakti kepada orangtua dalam bentuk amal bisa dilakukan dengan cara wakaf atas nama orangtua.

Wakaf atas nama orangtua adalah kesempatan emas bagi anak untuk berbakti kepada orangtuanya. Bahkan bakti seorang anak sangat ditunggu oleh orangtua usai meninggal, baik bakti dalam bentuk doa maupun amal.

Karena berbakti dengan cara berwakaf akan mendapatkan pahala yang terus mengalir, sebagaimana disebutkan dalam hadits Nabi yang berbunyi:

“Jika anak cucu Adam wafat, maka terputuslah semua amal perbuatannya, kecuali tiga hal. Sedekah jariyah (wakaf), ilmu yang bermanfaat, dan anak saleh yang mendoakan orangtuanya.” (HR. Muslim)

Sedekah jariyah seperti wakaf, pada dasarnya memberikan kepemilikan harta agar digunakan bagi kepentingan umat. Sehingga pahala dari wakaf akan terus mengalir, selama aset wakafnya dimanfaatkan dengan baik.

Wakaf adalah amalan yang sangat dianjurkan oleh Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam. Seperti wakafnya Utsman bin Affan Radiyallah ‘anhu di Madinah. Kemudian wakaf dari para Sahabat Nabi lainnya, dalam jumlah yang sangat besar.

Begitu juga dengan Umar bin Khattab Radiyallahu ‘anhu yang mewakafkan setengah hartanya karena Allah, bahkan Abu Bakar Shiddiq Radiyallah ‘anhu mewakafkan seluruh hartanya di jalan Allah.

Jadi, wakaf merupakan sebuah konsep dalam Islam yang diharapkan dapat memberi solusi bagi permasalahan umat, lembaga Wakaf Daarut Tauhiid misalnya, menfasilitasi program wakaf bagi para jamaah, mulai dari wakaf masjid, Al-Qur’an, wakaf uang, wakaf produktif, dan lainya.

وَوَصَّيْنَا الْاِنْسَانَ بِوَالِدَيْهِۚ حَمَلَتْهُ اُمُّهٗ وَهْنًا عَلٰى وَهْنٍ وَّفِصَالُهٗ فِيْ عَامَيْنِ اَنِ اشْكُرْ لِيْ وَلِوَالِدَيْكَۗ اِلَيَّ الْمَصِيْرُ

“Dan Kami perintahkan kepada manusia (agar berbuat baik) kepada kedua orang tuanya. Ibunya telah mengandungnya dalam keadaan lemah yang bertambah-tambah, dan menyapihnya dalam usia dua tahun. Bersyukurlah kepada-Ku dan kepada kedua orang tuamu. Hanya kepada Aku kembalimu.” (QS. Luqman: 14)

Artinya adalah, amal yang mampu menembus ruang dan waktu. Wakaf atas nama orangtua adalah hadiah yang sangat istimewa, karena kita melakukannya untuk orang yang sangat kita cintai.

Jadi kita bisa berwakaf untuk pesantren yang akan dibangun, sekolah, rumah sakit, bangunan yang akan dimanfaatkan oleh orang banyak dan lainnya.

Wakaf atas nama orangtua bisa menjadi jalan pintas bagi seorang anak yang ingin membahagiakan orangtuanya kelak diakhirat, karena tabungan amalnya akan semakin banyak setiap ada yang merasakan wakafnya. Wallahu a’lam bishowab. (Arga/Wahid)

Redaktur: Wahid Ikhwan


WAKAFDT.OR.ID

Bisakah Wakaf Atas Nama Orangtua yang Sudah Wafat? Read More »

Rakyat Palestina Melawan, Aa Gym: Ini Hikmahnya!

WAKAFDT.OR.ID | BANDUNG – “Mari kita ambil hikmah dari rakyat Palestina yang diblokade habis-habisan ternyata bisa melakukan upaya membebaskan diri dari penjajahan.”

Tutur KH. Abdullah Gymnastiar (Aa Gym) pada kajian Ma’rifatullah Kamis (9/11/2023), di Masjid Daarut Tauhiid Bandung.

Dalam kajiannya, Aa Gym mengajak para jamaah untuk memetik hikmah dari perlawanan rakyat Gaza Palestina pada 7 Oktober lalu.

“Seperti halnya Indonesia dulu, akan melakukan apa saja supaya penjajah Indonesia minggat dari tanah air Indonesia, sama negara manapun,” terang Aa Gym.

Aa Gym mengatakan hikmah yang pertama, peristiwa yang terjadi di Palestina saat ini menjadikan Palestina sebagai pusat perhatian dunia.

Menurutnya, informasi yang mudah menyebar saat ini, menjadikan masyarakat dunia mengetahui akan penjajahan yang dialami oleh rakyat Palestina selama puluhan tahun lamanya.

“Ini nikmat besar, sekarang orang sedunia bisa melihat bahwa ada penjajahan yang dulunya orang tidak peduli (dengan Palestina). Asalnya tidak ada itu Israel, benar-benar tidak ada.”

“Untuk bisa memahami dan peduli terhadap Palestina tidak perlu pakai agama Islam, pakai hati yang punya nurani dan akal yang jernih saja bisa mempedulikan,” terang Aa Gym.

Hikmah yang kedua kata Aa Gym, seluruh dunia bisa melihat kekejaman dan kekejian zionis. Sepuluh ribu nyawa lebih telah syahid, hampir segala infrastruktur di Gaza hancur jadi korban bombardir zionis.

“Dan semua menyaksikan, ini sangat menggugah nurani masyarakat dunia yang masih punya hati,” tutur Aa Gym.

Selain mengundang nurani dunia kepada Palestina, pembantaian zionis kepada rakyat Palestina tersebut juga mengundang kebencian masyarakat dunia kepada zionis Israel.

Aa Gym menyebut, hikmah yang ketiga adalah dunia melihat ketidak-adilan kelompok yang selama ini berpihak kepada Israel.

Masifnya gerakan aksi Bela Palestina hampir di seluruh dunia menunjukkan empati dan protes rakyat dunia terhadap ketidak-adilan yang dialami Palestina.

“Para pimpinan negara yang mendukung (Israel) lambat laun akan terpojok oleh rakyatnya sendiri (yang sebagian besar membela Palestina),” terang pendiri ponpes DT itu

Keempat, dunia sekarang bisa melihat bagaimana tangguh dan hebatnya orang-orang Gaza.

Tidak hanya itu, ketangguhan rakyat Gaza menimbulkan rasa ingin tahu tentang kandungan Al-Quran yang selama ini menjadi alasan rakyat Gaza tetap teguh dan tangguh.

“Ini adalah karunia yang sangat besar, seluruh dunia bisa melihat tangguhnya orang-orang beriman,” imbuhnya.

Hikmah kelima, duka Palestina juga menjadikan umat merasakan hal yang sama. Tiap hari, kata Aa Gym kita terus mengingat rakyat Palestina.

Hikmah terakhir yakni membuat Muslim dunia iri akan keimanan yang dimiliki rakyat Gaza. Bertubi-tubi ujian yang mereka hadapi tidaklah mudah, namun mereka tetap bersyukur kepada Allah, terang Aa Gym. (Noviana)

Redaktur: Wahid Ikhwan


WAKAFDT.OR.ID

Rakyat Palestina Melawan, Aa Gym: Ini Hikmahnya! Read More »

Aa Gym: Pentingnya Akhlak Mulia Bagi Manusia

WAKAFDT.OR.IDPentingnya akhlak mulia bagi manusia, Alloh Ta’ala mengutus Nabi Muhammad Shallallohu ‘alaihi wasallam untuk mendakwahkan akhlak mulia kepada seluruh umat manusia.

Tiada pernah bisa akhlak mulia hadir pada diri seseorang kecuali lahir dari tauhiid yang bersih, iman yang kokoh kepada Alloh Ta’ala.

Rasulullah Shallohu ‘alaihi wasallam bersabda dalam sebuah hadits: “Sesungguhnya aku diutus untuk menyempurnakan akhlak mulia.” (HR. Bukhari)

Ada orang yang sangat keras bekerja, tidak ada hari baginya melainkan diisi dengan bekerja, ibaratnya kaki jadi kepala dan kepala jadi kaki, banting tulang bekerja dengan keras.

Ada juga orang yang sangat tekun belajar hingga menjadi orang yang cerdas, lulus mendapatkan gelar S1, kemudian melanjutkan S2, dan melanjutkan gelar S3. Tentu semua ini adalah sesuatu yang baik.

Akan tetapi, ada juga orang yang bekerja keras, belajarnya rajin sekali, ikhtiarnya maksimal, namun tidak dilandasi dengan akhlak yang mulia.

Maka tidak heran kalau kita melihat ada orang yang sukses, menikmati penghasilan tinggi karena pekerjaannya, namun akhlaknya tidak jujur, tega menipu orang lain demi keuntungan yang besar.

Disisi lain ada pula orang-orang yang sukses meraih banyak gelar, namun kepintarannya ia manfaatkan untuk memperdaya orang lain, membodohi orang-orang yang miskin dan bodoh.

Kemudian apa sebenarnya arti karir tinggi bagi diri? Penghasilan yang besar, gelar yang banyak, kalau tidak punya akhlak yang baik.

Semua itu sama sekali tidak akan memberi manfaat dan keberkahan untuk diri, sesungguhnya inilah yang kita butuhkan sebagai manusia.

Bukan sekedar tingginya pangkat atau jabatan, bukan sekedar besarnya penghasilan, bukan sekedar berbicara tentang raihan gelar, melainkan keberkahan dan manfaatnya. Tentunya akhlak mulia merupakan jalan meraih keberkahan.

Rasullullah Shallallohu ‘alaihi wasallam bersabda: “Kaum mukminin yang paling sempurna imannya adalah yang paling baik akhlaknya di antara mereka..” (HR. Tirmidzi)

Oleh karenanya, marilah kita bersama-sama senantiasa memupuk keimanan di hati masing-masing, selalu memeriksa ke dalam hati agar senantiasa lurus, sehingga kita termasuk orang-orang yang berakhlak mulia dan mendapatkan limpahan berkah dari Alloh Ta’ala. (KH. Abdullah Gymnastiar)

Redaktur: Wahid Ikhwan


WAKAFDT.OR.ID

Aa Gym: Pentingnya Akhlak Mulia Bagi Manusia Read More »

Cara Nabi Menegur Sahabatnya yang Berbuat Salah

WAKAFDT.OR.IDDalam Islam, kita diajarkan bagaimana adab menegur teman atau orang lain jika melakukan kekeliruan. Hal tersebut agar dalam penyampaiannya tidak sampai membuat orang yang kita tegur merasa tersinggung.

Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam menegur sahabat dengan tidak menyakiti hati sahabatnya. Beliau berulangkali menegur sahabatnya dengan menyindir hingga ia mengakui kesalahannya.

Diriwayatkan dari Khawat bin Jubair, bahwa ia dan sahabat lainnya bersama Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam pernah berhenti di Marr adz-Dzahran.

Kemudian Khawat keluar dari tendanya dan tiba-tiba melihat para wanita yang sedang berbincang-bincang.

Wanita-wanita itu membuatnya terpesona, lalu ia pun segera kembali ke tenda dan mengambil tasnya.

Kemudian ia menggunakan pakaian yang bagus untuk dipakai, lalu ia menghampiri mereka dan duduk bersamanya.

Tiba-tiba Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam keluar dari tendanya, lalu bertanya, “Hai Abu ‘Abdullah, apa yang membuatmu duduk-duduk bersama mereka?”

Ketika Khawat melihat Rasulullah, ia merasakan kewibawaan beliau. Dengan rasa panik ia menjawab, “Wahai Rasulullah, untaku lepas. Aku sedang mencari tali kekangnya, tetapi untaku pergi maka aku pun mengikutinya.”

Lalu beliau melemparkan selendangnya pada Khawat dan masuk ke antara pepohonan arok (pohon arok merupakan pohon yang batangnya digunakan untuk siwak).

Khawat seperti bisa melihat putih perut beliau di antara hijaunya pepohonan Arok. Lalu, beliau pun membuang hajat kemudian berwudhu.

Tiba-tiba, Rasullullah kemudian bertanya kepada Khawat, “Hai Abu Abdullah, bagaimana kabar untamu yang lepas?”

Kemudian Rasulullah dan para sahabat termasuk Khawat pergi melanjutkan perjalanan. Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam tidaklah mengikuti Khawat di sepanjang perjalanan melainkan dengan berkata, “Assalamu‘alaikum, hai Abu Abdullah, bagaimana kabar untamu yang lepas?”

Saat Khawat merasakan ketidaknyamanan itu, ia segera memasuki kota Madinah dan menjauhi masjid untuk menghindari duduk bersama Rasulullah shallallahu ‘alaihi wassalam.

Setelah beberapa saat berlalu ia melihat masjid sedang kosong, maka ia pun masuk ke masjid dan menunaikan shalat.

Tiba-tiba Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wassalam keluar dari salah satu kamarnya, kemudian shalat dengan singkat.

Khawat berusaha menghindar dengan cara memperpanjang shalatnya dengan harap Nabi akan pergi dan meninggalkannya.

Lalu Nabi berkata, “Panjangkanlah (shalatmu) sesukamu, hai Abu Abdullah. Aku akan terus di sini hingga kamu pergi.”

Dalam hati Khawat berkata, “Demi Allah, sungguh aku meminta maaf kepada Rasulullah dan menyenangkan hati beliau (seusai shalat).”

Ketika beliau bertanya, “Assalamu ‘alaikum, hai Abu Abdullah, bagaimana kabar untamu yang lepas?”

Khawat pun menjawab, “Demi Dzat yang mengutusmu dengan kebenaran, unta tidak pernah lepas sejak aku masuk Islam.”

Lantas Nabi berkata, “Semoga Allah merahmatimu, semoga Allah merahmatimu, semoga Allah merahmatimu.” Setelah itu beliau tidak pernah lagi membahas tentang unta tersebut. (HR. Ath-Thabrani).

Begitulah cara Rasullulah menegur sahabatnya jika berbuat salah. Pada dasarnya Rasul telah mengetahui kesalahan sahabatnya, namun Nabi tidak langsung menegurnya melainkan dengan cara bertanya, hingga sahabat mengakui kesalahan dan memperbaikinya. (Wahid/Arga)

Redaktur: Wahid Ikhwan


WAKAFDT.OR.ID

Cara Nabi Menegur Sahabatnya yang Berbuat Salah Read More »

Hubungan Wakaf dengan Peningkatan Pendidikan di Indonesia

WAKAFDT.OR.IDPendidikan merupakan salah satu bidang paling penting yang menjadi pondasi dalam membangun sebuah peradaban bangsa untuk masa kini dan masa depan.

Tanpa pendidikan, sebuah bangsa tidak dapat melahirkan manusia-manusia yang beradab. Hal senada yang pernah diungkapkan oleh Nelson Mandela.

Begitu juga dalam Islam yang menekankan pentingnya sebuah pendidikan, sehingga menjadi salah satu bagian dari lima maqasid syariah, yang artinya mengharuskan manusia memelihara akal dan pikirannya.

Untuk memelihara akal dan pikiran membutuhkan pendidikan sebagai instrumen utamanya.

Tentunya pendidikan yang baik harus difasilitasi oleh infrastruktur pendidikan yang memadai juga, dan tentu membutuhkan biaya yang cukup besar, sehingga pendidikan juga semakin mahal jika tidak disubsidi oleh pemerintah.

Oleh karena itu, perlunya peran umat muslim dalam membangun infrastruktur melalui konsep wakaf dalam Islam, yang punya dampak sosial bagi masyarakat umum.

Wakaf ialah memanfaatkan harta benda dalam waktu tertentu yang dititipkan melalui pengelola atau nazhir.

Aset wakaf dapat dimanfaatkan untuk berbagai macam hal, salah satunya beasiswa untuk meningkatkan kualitas pendidikan.

Wakaf menjadi salah satu philanthropy berbasis Islam yang mempunyai keunggulan dan ciri khasnya sendiri.

Wakaf adalah harta yang kepemilikannya dilepaskan dan menjadi milik Allah, yang artinya wakaf tidak boleh diambil kembali baik dari segi apapun.

Dalam sebuah hadits Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam yang diriwayatkan Imam al-Bukhari dan Imam Muslim radhiyallahu ‘anhuma. Secara prinsip, harta wakaf tidak boleh dijualbelikan, tidak boleh dihibahkan, dan juga tidak boleh diwariskan.

Saat ini wakaf hadir dalam bentuk wakaf produktif, sebagai bentuk untuk menghadirkan wakaf agar lebih kontributif terhadap kebutuhan zaman hari ini.

Karena masih banyak dari masyarakat yang beranggapan wakaf hanya terbatas pada pemanfaatan tanah sebagai pemakaman, masjid, dan mushola.

Padahal lebih dari pada itu, pemanfaatan wakaf sangatlah luas dan bisa dipergunakan untuk berbagai bidang yang lebih produktif, terutama dalam bidang pendidikan.

Misalkan Al-Azhar University di Mesir menjadi universitas yang fasilitasnya bersumber dari wakaf.

Hal tersebut juga diterapkan di beberapa universitas barat, seperti Harvard University, Stanford Univeristy, Yale University, dan universitas ternama dunia lainnya.

Memiliki berbagai fasilitas pendidikan yang berasal dari skema pendanaan sosial mirip seperti wakaf dinamai dengan endowment fundfoundation, dan lain sebagainya.

Badan Wakaf Indonesia merupakan ikhtiar yang tepat dalam menggandeng berbagai perguruan tinggi untuk ambil peran dalam meningkatkan kesadaran berwakaf dan meningkatkan literasi mengenai wakaf yang dirasa masih rendah.

Harapannya agar semua kegiatan yang dilakukan dengan konsep wakaf mendapat dukungan secara penuh dari masyarakat untuk meningkatkan kualitas pendidikan. (Arga)

Redaktur: Wahid Ikhwan


WAKAFDT.OR.ID

Hubungan Wakaf dengan Peningkatan Pendidikan di Indonesia Read More »