Wakaf Daarut Tauhiid

Artikel Islam

Aa Gym: jangan sombong

Aa Gym: Apakah Perbuatan Dosa Juga Takdir dari Alloh?

WAKAFDT.OR.IDKetahuilah bahwa semua kebaikan itu datangnya dari Alloh, sedangkan keburukan itu datang dari diri kita sendiri atau terjadi atas pilihan kita sendiri. Kenapa bisa demikian?

Sesungguhnya Alloh hanya menghendaki kebaikan kepada hambanya dan tidak menghendaki keburukan kepada hambanya. Begitulah sayang dan cintanya Alloh kepada kita. Hal ini diperkuat dalam ayat Al-Qur’an:

مَآ اَصَابَكَ مِنْ حَسَنَةٍ فَمِنَ اللّٰهِ ۖ وَمَآ اَصَابَكَ مِنْ سَيِّئَةٍ فَمِنْ نَّفْسِكَ ۗ وَاَرْسَلْنٰكَ لِلنَّاسِ رَسُوْلًا  ۗ وَكَفٰى بِاللّٰهِ شَهِيْدًا

“Kebajikan apa pun yang kamu peroleh, adalah dari sisi Alloh, dan keburukan apa pun yang menimpamu, itu dari (kesalahan) dirimu sendiri. Kami mengutusmu (Muhammad) menjadi Rasul kepada (seluruh) manusia. Dan cukuplah Alloh yang menjadi saksi.” (QS. An-Nisa: 79)

Kalau kita melakukan dosa, kemudian kita taubat dengan sungguh-sungguh atas kesalahan tersebut, maka taubat itu akan menjadi pahala dan kebaikan bagi diri kita. Begitu bermurahnya Alloh pada kita sebagai hambanya yang pendosa, karena Alloh itu maha pemaaf.

Beberapa orang ada yang bertanya, bukankah kesalahan atau perbuatan dosa yang dilakukan sudah tertulis di lauhul mahfuz?

Hal itu karena kita sudah memilih untuk melakukan maksiat, makanya akan tertulis sebagai kesalahan atau dosa. Kalau kita memilih tidak maksiat maka atas izin Alloh juga kita tidak akan bermaksiat.

Layaknya ketika kita ingin bersedekah, pas ada kotak infak lewat, apakah kita akan bersedekah atau tidak maka itu adalah pilihan.

Pastinya setan akan membisikan agar kita tidak bersedekah, maka tugas kita tinggal memilih apakah kita akan mengikuti bisikan setan dengan rasa takut tidak makan, kehabisan uang dan seterusnya atau kita sadar bahwa sedekah itu adalah kebaikan bagi kita.

Misalkan, ketika ditanya kenapa tidak bangun melaksanakan tahajud? Jawabannya karena Alloh tidak membangunkan dan Alloh sudah menakdirkan untuk tidak bangun malam. Padahal Alloh sudah mengajarkan ilmunya bagaimana cara bangun di sepertiga malam.

Jadi jangan menyalahkan takdir dalam bermaksiat atau berlindung dibalik takdir untuk melakukan kesalahan, dengan dalih bahwa perbuatan dosa yang kita terjadi atas izin Alloh, maka hal itu merupakan kekeliruhan dalam berpikir.

Semoga Alloh selalu membimbing kita ke jalan kebaikan dan dikuatkan agar kita dijauhkan dari perbuatan-perbuatan dosa atat maksiat. (KH. Abdullah Gymnastiar)

Redaktur: Wahid Ikhwan


WAKAFDT.OR.ID

Aa Gym: Apakah Perbuatan Dosa Juga Takdir dari Alloh? Read More »

Aa Gym: Mengenal Sifat Alloh ‘Al Qoriib’

WAKAFDT.OR.IDSalah satu nama dan sifat Alloh Ta’ala ialah Al Qoriib, yang artinya Alloh Yang Maha Dekat. Alloh Ta’ala berfirman dalam Al-Qur’an:

وَاِذَا سَاَلَكَ عِبَادِيْ عَنِّيْ فَاِنِّيْ قَرِيْبٌ ۗ اُجِيْبُ دَعْوَةَ الدَّاعِ اِذَا دَعَانِۙ فَلْيَسْتَجِيْبُوْا لِيْ وَلْيُؤْمِنُوْا بِيْ لَعَلَّهُمْ يَرْشُدُوْنَ

“Dan apabila hamba-hamba-Ku bertanya kepadamu (Muhammad) tentang Aku, maka sesungguhnya Aku dekat. Aku Kabulkan permohonan orang yang berdoa apabila dia berdoa kepada-Ku. Hendaklah mereka itu memenuhi (perintah)-Ku dan beriman kepada-Ku, agar mereka memperoleh kebenaran.” (QS. Al Baqoroh: 186)

Alloh Ta’ala Maha Dekat. Perlu dipahami bahwa dekatnya Alloh dengan kita itu berbeda dengan dekatnya kita dengan orang lain atau benda-benda di sekitar kita.

Alloh Ta’ala bersemayam di atas Arsy, namun pengetahuan-Nya tentang kita sangatlah besar dan kekuasaan-Nya teramat dekat dengan kita.

Sekecil apapun bisikan kita, Alloh pasti mendengarnya. Serapi apapun perbuatan yang kita tutupi, Alloh juga pasti melihatnya.

Tidak ada suatu apapun yang akan tersembunyi dari pengetahuan Alloh, karena pada dasarnya Alloh sangatlah dekat dengan kita.

Hikmah dari rasa yakin bahwa Alloh Maha Dekat dengan makhluk-makhluknya ialah akan membuat seseorang senantiasa memelihara niat, ucapan dan tindakanya.

Kalau kita malu berbuat jelek di hadapan manusia, maka semestinya kita lebih malu lagi jika berbuat jelek dengan sepengetahuan Alloh Ta’ala.

Oleh sebab itu, sungguh mengherankan jika ada orang yang korupsi tapi seolah tanpa merasa bersalah bahwa dia tidak korupsi.

Mengambil harta yang bukan haknya merasa biasa-biasa saja, karena telah hilang rasa malunya. Apakah seseorang tidak sadar bahwa perbuatannya pasti diketahui dan diawasi oleh Alloh Ta’ala.

Apalagi di era teknologi di jaman hari ini, sangat memungkinkan seseorang untuk mengetahui perbuatan orang lain yang dilakukan secara sembunyi-sembunyi.

Bisa dengan cara menggunakan alat penyadap, kamera tersembunyi, dan teknologi sejenis lainnya. Akan tetapi, alat-alat tersebut itu masih memiliki keterbatasan.

Namun, pengetahuan Alloh tidak pernah ada batasnya. Alloh Mengetahui apa yang terjadi di dalam lautan bahkan luar angkasa, yang terang-terangan maupun yang paling rahasia.

Kesimpulannya ialah, dengan memahami bahwa Alloh adalah Al Qoriib, Dzat Yang Maha Dekat. Semoga kita tergolong orang-orang yang semangat untuk semakin mengenal Alloh Ta’ala dan semakin dekat dengan-Nya. Wallahu a’lam bishowab. (KH. Abdullah Gymnastiar)

Redaktur: Wahid Ikhwan


WAKAFDT.OR.ID

Aa Gym: Mengenal Sifat Alloh ‘Al Qoriib’ Read More »

Ternyata Jihad Ada Tingkatannya, Apa Saja?

WAKAFDT.OR.IDSetiap umat Islam sesungguhnya memiliki kewajiban untuk berjihad, baik jihad untuk diri sendiri maupun kepentingan bersama. Di dalam Al Qu’an dan Hadits disebutkan bahwa ada empat tingkatan jihad dalam Islam.

Sebelum mengetahui tingkatan jihad dalam Islam, maka kita perlu memahami kata jihad itu sendiri. Jahd biasanya diartikan dengan sungguh-sungguh atau kesungguhan, letih atau sukar dan sekuat-kuat. Adapun kata juhd diartikan dengan kemampuan, kesanggupan, daya upaya dan kekuatan.

Kata jihad asal katanya dari kata kerja jáhada – yujâhidu, yang artinya mencurahkan daya upaya atau bekerja keras.

Pengertian ini pada dasarnya memberikan penjelasan mengenai perjuangan keras atau upaya maksimal yang dilakukan oleh seseorang untuk mendapatkan sesuatu dan menghadapi sesuatu yang mengancam dirinya.

Ada pun empat tingkatan jihad dalam Islam menurut Dr. Yusuf Al-Qardhawi, di antaranya ialah:

Jihad Menghadapi Nafsu

Melawan atau mengendalikan hawa nafsu bukanlah sesuatu yang mudah, karenanya dibutuhkan sebuah perjuangan yang keras.

Berjuang dengan hati yang sungguh dalam melawan hawa nafsu untuk mendapatkan hidayah dan kebenaran agama.

Ibnu Qayyim menerangkan bahwa tidak ada kebahagiaan dan ketenangan di dunia dan akhirat kecuali dengan mengejar hidayah dan kebenaran agama. Jika kedua hal tersebut hilang maka akan mengalami penderitaan di dunia maupun di akhirat kelak.

Jihad Melawan Setan

Yaitu jihad untuk melawan keraguan yang dibisikkan setan di dalam hati dan jihad melawan bisikan setan berupa keinginan untuk melakukan kemaksiatan.

Jihad Melawan Orang-Orang Kafir dan Orang Munafik

Jihad melawan orang-orang munafik dan orang-orang kafir ada empat tingkatan. Yaitu dengan hati, lisan, harga, dan jiwa.

Jihad melawan orang-orang kafir dianjurkan dengan memakai tangan (kekuatan atau kekuasaan), sedangkan jihad melawan orang-orang munafik diutamakan dengan memakai lisan, argumen, atau penjelasan.

Jihad Melawan Kedzaliman

Jihad melawan orang-orang yang berbuat kemungkaran, dzalim, dan bid’ah sekalipun. Di antaranya bisa dengan tangan, lisan, dan dengan hati, sesuai dengan kesanggupan.

Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasalam bersabda dalam sebuah hadits:

“Barang siapa yang sudah meninggal dunia namun dirinya belum pernah berjihad dan belum pernah berniat untuk berjihad maka dia meninggal seperti orang munafik, karena dia memiliki sifat yang serupa dengan sifatnya orang munafik.”

Jadi sebetulnya makna jihad sendiri tidak selalu identik dengan peperangan mengangkat senjata melawan musuh Islam, memang itu juga salah satu bagian dari jihad.

Namun, dengan kita bersungguh-sungguh dalam mencari kebaikan, menyebarkan kebaikan, insyaAllah itu juiga merupakan bagian dari berjihad.

Semoga dengan mengetahui tingkatan jihad dalam Islam, kita bisa berjuang untuk diri sendiri dan agama Allah sesuai dengan kemampuan kita masing-masing. (Arga)

Redaktur: Wahid Ikhwan


WAKAFDT.OR.ID

Ternyata Jihad Ada Tingkatannya, Apa Saja? Read More »

Manfaat Wakaf Produktif Bagi Pembangunan Ekonomi

WAKAFDT.OR.IDWakaf selalu identik dengan amal keagamaan yang berhubungan dengan harta benda sedekah jariyah. Padahal, wakaf bisa dimanfaatkan untuk kegiatan produktif, sehingga bisa memberikan dampak pada pembangunan ekonomi secara berkelanjutan.

Salah satunya melalui wakaf produktif, di mana konsepnya pengelolaan aset wakaf dengan tujuan memperoleh surplus, sehingga menghasilkan manfaat bagi masyarakat secara berkesinambungan. Surplus itu nantinya digunakan untuk pembangunan ekonomi yang bermanfaat bagi masyarakat.

Contohnya dengan membangun fasilitas pendidikan, fasilitas kesehatan, membantu memenuhi kebutuhan anak yatim-piatu, ataupun bantuan yang bersifat produktif lainnya.

Berikut adalah beberapa manfaat jika seseorang berwakaf dengan wakaf produktif:

  • Menekan Angka Kemiskinan

Melalui pengelolaan aset yang produktif, wakaf bisa menghasilkan sumber pendapatan tambahan bagi kelompok masyarakat yang kurang mampu, sehingga dapat membantu menekan angka kemiskinan.

Misalkan, kita berwakaf sebidang tanah yang akan digunakan sebagai perkebunan sayur. Nantinya, keuntungan yang dihasilkan dari perkebunan tersebut bisa digunakan untuk membiayai operasional dan pengembangan usaha, serta membiayai program sosial pendidikan untuk kaum dhuafa.

  • Meningkatkan Akses Pendidikan dan Kesehatan

Wakaf produktif juga bisa untuk memberikan akses pendidikan dan kesehatan bagi masyarakat yang kurang mampu.

Contohnya, yang dilakukan lakukan oleh Eco Pesantren Daarut Tauhiid, di mana tidak hanya menjalankan pendidikan pesantren secara formal, namun di area tersebut juga terdapat lahan pertanian, bahkan lokasi berkuda.

Sementara implementasi wakaf pada bidang kesehatan terwujudkan dalam pengadaan fasilitas kesehatan seperti ambulans dan alat-alat kesehatan yang tersebar disejumlah rumah sakit, seperti halnya Muhammadiyah yag memiliki banyak rumah sakit diberbagai kota di Indonesia.

  • Memberdayakan Perempuan dan Masyarakat Marginal

Selain mengentaskan kemiskinan, Wakaf produktif juga bisa digunakan untuk bisa menggelar program pemberdayaan perempuan dan masyarakat marginal. Dengan begitu, kedua kelompok itu bisa berpartisipasi aktif dalam pembangunan sosial dan ekonomi.

  • Kembangkan Infrastruktur Sosial

Aset produktif yang diwakafkan juga bisa digunakan untuk membangun infrastruktur sosial seperti masjid, madrasah, dan pusat komunitas, sehingga meningkatkan bisa bermanfaat bagi khalayak serta, menggerakan ekonomi.

  • Memberdayakan Ekonomi Umat

Jika Aset dikelola dengan baik dan menjadi produktif, maka dampaknya akan luas, sampai bisa memberdayakan ekonomi umat. Sebab, dengan aset produktif membuka lapangan pekerjaan, sehingga dapat memberdayakan masyarakat untuk membangun kemakmuran secara bergotong-royong.

Itulah manfaat-manfaat yang bisa kita rasakan jika asetnya digunakan sebagai wakaf produktif. Kekinian, banyak platform yang bisa merealisasikan kita untuk melakukan wakaf produktif. (WIN)

Redaktur: Wahid Ikhwan


WAKAFDT.OR.ID

(Sumber: BWI)

Manfaat Wakaf Produktif Bagi Pembangunan Ekonomi Read More »

Balasan Bagi Orang yang Enggan Berbagi Pengetahuan

WAKAFDT.OR.IDKenapa kita diperintahkan untuk belajar dan megajarkan ilmu kepada orang lain? Apa keutamaan mengajarkan ilmu bagi kita? Karena banyak orang yang tidak mau berbagi ilmu kepada orang lain.

Ada yang menganggap hal tersebut tidak penting, ada juga yang merasa khawatir akan muncul pesaing yang bisa mengancam pengetahuan dirinya.

Padahal sudah jelas pernyataan dari Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasalam mengenai orang yang enggan mengajarkan ilmu kepada orang lain:

“Barang siapa yang ditanya tentang suatu ilmu pengetahuan lalu ia menyembunyikannya, maka pada hari kiamat kelak Allah Ta’ala akan mengekangnya dengan kekang api neraka.” (HR. Abu Dawud dan Imam Tirmidzi).

Dalam Islam kita diwajibkan bagi siapapun untuk menuntut ilmu, yang muda dan tua, laki-laki maupun perempuan. Semakin banyak ilmu, maka semakin banyak pula pengetahuan tentang banyak hal.

Dengan mempunyai bekal ilmu, maka itu akan menjadi warisan yang berharga dan sebagai amal jariyah selain harta yang tidak akan terputus apabila ia meninggal.

Dari Abu Hurairah, Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasalam bersabda: “Jika seseorang meninggal dunia maka terputuslah segala amalnya, kecuali tiga hal. Sedekah jariyah, ilmu yang bermanfaat dan do’a anak yang sholeh atau sholehah.” (HR. Muslim).

Orang-orang yang mengajarkan ilmunya kepada orang lain dengan menjadi seorang guru, baik guru dalam ilmu agama maupun ilmu dunia punya keutamaan begitu besar. Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasalam bersabda:

“Barangsiapa yang menunjuki kepada kebaikan maka dia akan mendapatkan pahala seperti pahala orang yang mengerjakannya.” (HR. Muslim).

Kebaikan yang dimaksud dalam hadits ini bukan hanya kebaikan dalam bidang agama, akan tetapi kebaikan ilmu dunia juga. Seperti ilmu matematika, fisika, teknologi, ekonomi, dan lainnya.

Perlu kita ingat bahwa setiap muslim wajib mengajarkan ilmu kepada yang lain. Allah Ta’ala berfirman dalam Al Quran Surah Ali Imran ayat 79:

مَا كَانَ لِبَشَرٍ اَنْ يُّؤْتِيَهُ اللّٰهُ الْكِتٰبَ وَالْحُكْمَ وَالنُّبُوَّةَ ثُمَّ يَقُوْلَ لِلنَّاسِ كُوْنُوْا عِبَادًا لِّيْ مِنْ دُوْنِ اللّٰهِ وَلٰكِنْ كُوْنُوْا رَبَّانِيّٖنَ بِمَا كُنْتُمْ تُعَلِّمُوْنَ الْكِتٰبَ وَبِمَا كُنْتُمْ تَدْرُسُوْنَ ۙ

“Tidak mungkin bagi seseorang yang telah diberi kitab oleh Allah, serta hikmah dan kenabian, kemudian dia berkata kepada manusia, “Jadilah kamu penyembahku, bukan penyembah Allah,” tetapi (dia berkata), “Jadilah kamu pengabdi-pengabdi Allah, karena kamu mengajarkan kitab dan karena kamu mempelajarinya!”

Semoga kita termasuk orang-orang yang ikhlas dalam mengajarkan ilmu kepada orang lain dan ilmu yang diajarkan bisa menjadi amal shaleh di sisi Allah Ta’ala.

Jangan sampai kita merasa memiliki pengetahuan yang luas, tetapi kita tenang-tenang saja melihat sekitar kita ada orang yang tidak tahu tentang suatu perkara.

Semakin banyak orang tahu tentang ilmu pengetahuan, maka insyaAllah bisa menjadi jalan orang hidup semakin baik, apalagi jika ilmu agamanya bisa diterapkan. Wallahu a’lam bishowab. (Arga/Wahid)

Redaktur: Wahid Ikhwan


WAKAFDT.OR.ID

Balasan Bagi Orang yang Enggan Berbagi Pengetahuan Read More »

Perbedaan Wakaf dengan Hibah

WAKAFDT.OR.IDAda beberapa sisi perbeddaan antara wakaf dengan hibah. Wakaf memiliki arti habs yang artinya menahan harta yang memberikan manfaat di jalan Allah untuk kepentingan umum.

Dari pengertian tersebut kemudian dibuatlah rumusan definisi wakaf menurut istilah, yaitu perbuatan hukum seseorang atau kelompok orang atau badan hukum yang memisahkan sebagian dari benda miliknya, sementara atau selama-lamanya, dipergunakan untuk kepentingan umum lainnya.

“Kamu sekali-kali tidak sampai kepada kebajikan (yang sempurna), sebelum kamu menafkahkan sehahagian harta yang kamu cintai. Dan apa saja yang kamu nafkahkan, maka sesungguhnya Allah mengetahuinya.” (QS. Ali Imran: 92).

Secara manfaat juga memiliki perbedaan antara wakaf dan hibah. Dalam sebuah hadis yang diriwayatkan dari Abu Hurairah radiyallahu ‘anhu, bahwasannya Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasalam bersabda:

“Apabila seseorang meninggal dunia maka terputuslah semua amalannya kecuali tiga, yaitu: Sedekah jariyah (wakaf), ilmu yang bermanfaat atau anak shalih yang mendo’akan kepadanya.” (HR. Muslim)

Orang yang berwakaf disebut sebagai wakif, yakni orang yang mewakafkan harta benda miliknya. Syarat utama menjadi wakif ialah sudah akil baligh, berakal sehat, sukarela dan merdeka.

Barang atau benda yang diwakafkan tidak boleh diperjual-belikan. Misalkan diterapkan dalam bentuk madrasah, masjid atau makam. Namun sekarang jauh lebih berkembang seperti melalui wakaf rumah sakit, kebun, sumur, dan ladang pertanian.

Sedangkan hibah secara bahasa berarti melewatkan atau menyalurkan. Pengertian hibah ialah memberikan harta kepada orang lain saat dirinya masih hidup tanpa mengharapkan imbalan atau kewajiban untuk mengembalikannya.

Maka status hukum barang atau benda tersebut menjadi hak milik orang lain. Syarat penerima hibah harus benar-benar jelas penerimanya.

Sebagai contoh, orangtua yang menghibahkan rumah warisan kepada anaknya sebagai tempat kumpul keluarga.

Aturan mengenai hibah tertuang pada pasal 1666 Undang-Undang Hukum Perdata yang digunakan untuk menghindari gugatan hukum akibat sengketa warisan, sehingga harus mempunyai perjanjian hitam diatas putih antara pemberi hibah dan yang menerima.

Perbedaan antara wakaf dan hibah untuk lebih detailnya sebagai berikut:

Berdasarkan Ketahanan

Harta benda yang diwakafkan baik benda bergerak atau tidak bergerak bersifat tahan lama sehingga dapat digunakan dalam waktu yang lama secara terus menerus.

Sementara pada barang yang dihibahkan umumnya sekali dipakai, tapi juga ada yang tahan lama. Keduanya sama-sama bukan sesuatu yang haram.

Berdasarkan Manfaat

Harta yang diwakafkan harus memiliki manfaat untuk kepentingan masyarakat secara luas. Sedangkan hibah bisa diberikan untuk perorangan ataupun kelompok sebagai kepentingan bersama.

Hak Milik

Harta benda wakaf tidak untuk dimiliki oleh orang-orang tertentu. Sedangkan barang hibah boleh menjadi hak milik pribadi orang yang dihibahkan.

Semoga dengan memahami manfaat perbedaan antara wakaf dan hibah bisa memotivasi kita untuk berwakaf dengan mudah. (Arga)

Redaktur: Wahid Ikhwan


WAKAFDT.OR.ID

Perbedaan Wakaf dengan Hibah Read More »

Aa Gym: Jangan Jadi Orang ‘Abu-Abu’

WAKAFDT.OR.IDSemua sesusahan, keburukan, kesedihan, dan kesempitan yang menimpa diri kita adalah bentuk undangan dari Alloh Ta’ala kepada diri kita selaku hambanya.

Begitu juga dikala kita melakukan maksiat, itu merupakan cara untuk mengundang Alloh dalam mengingatkan kita sebagai seorang hamba. Alloh Ta’ala berfirman yang artinya:

وَمَآ اَصَابَكُمْ مِّنْ مُّصِيْبَةٍ فَبِمَا كَسَبَتْ اَيْدِيْكُمْ وَيَعْفُوْا عَنْ كَثِيْرٍۗ

“Dan apa saja musibah yang menimpa kamu maka adalah disebabkan oleh perbuatan tanganmu sendiri, dan Alloh memaafkan sebagian besar (dari kesalahan-kesalahanmu).” (QS. Asy Syuro: 30)

Oleh karena itu, dikala kita melakukan suatu kemaksiatan maka segeralah sadar dan bertaubat. Ingatlah bahwasannya, apapun yang kita lakukan berada dalam pengawasan Alloh Ta’ala.

Tidak ada satupun keburukan yang kita lakukan kecuali pasti akan kembali kepada kita dan pasti ada perhitungannya di hadapan Alloh Ta’ala.

Kita mengetahui bahwa manusia bukanlah makhluk sempurna, manusia bukanlah malaikat yang selalu taat kepada Alloh Ta’ala. Manusia juga bukan setan yang selalu membangkang kepada Alloh.

Akan tetapi, hal itu sama sekali bukanlah alasan bagi kita untuk menjadi manusia galau, plin-plan, atau abu-abu, yaitu ia yang sholat jalan maksiat pun jalan.

Pada dasarnya Alloh Maha Tahu apa yang kita sembunyikan, sekalipun dalam hati yang tidak terlihat. Alloh Maha Tahu mana hambanya yang benar-benar khilaf kemudian bertaubat dan mana yang memang munafik.

Ketika berbuat maksiat, maka sikap terbaik yang harus dilakukan ialah segera mengerem diri, segera menghentikannya, membaca istighfar sebanyak-banyaknya, lalu bertekad untuk meninggalkannya dan tidak mengulanginya kembali.

Satu langkah yang kita lakukan dalam meninggalkan kemaksiatan, maka seribu langkah pertolongan Alloh akan menghampiri kita.

Begitu juga satu langkah yang kita ikhtiarkan dalam bertaubat, maka seribu langkah ampunan Alloh akan datang kepada kita. MasyaAllah.

Sadarilah, bahwa tidak ada manfaat apapun dari maksiat yang kita lakukan, melainkan hanya dosa dan penyesalan yang akan kita rasakan dikemudian hari.

Semoga kita dijauhkan dari perbuatan maksiat dan didekatkan pada jalan kebaikan, tidak hanya sesaat akan tetapi selamanya. Wallahu a’lam bishowab. (KH. Abdullah Gymnastiar)

Redaktur: Wahid Ikhwan


WAKAFDT.OR.ID

Aa Gym: Jangan Jadi Orang ‘Abu-Abu’ Read More »

Ancaman Bagi Pemakan Harta Anak Yatim

WAKAFDT.OR.IDMemakan harta anak yatim merupakan perbuatan dzalim dan tercela yang merugikan orang lain. Dosa besar dan akan mendapatkan azab yang pedih di akhirat kelak bagi pemakan harta anak yatim.

Perbuatan tercela tersebut sangat dikecam dan akan mendapat hukuman berat dari Allah Ta’ala. Sebagaimana disebutkan dalam Al-Qur’an:

اِنَّ الَّذِيْنَ يَأْكُلُوْنَ اَمْوَالَ الْيَتٰمٰى ظُلْمًا اِنَّمَا يَأْكُلُوْنَ فِيْ بُطُوْنِهِمْ نَارًا ۗ وَسَيَصْلَوْنَ سَعِيْرًا

“Sesungguhnya orang-orang yang memakan harta anak yatim secara zalim, sebenarnya mereka itu menelan api dalam perutnya dan mereka akan masuk ke dalam api yang menyala-nyala (neraka).” (QS. An-Nisa’: 10)

Penjelasan ayat diatas yang termaktum dalam surat An-Nisa ayat 10 mengenai ancaman dan dosa besar bagi para pemakan harta anak yatim.

Seharusnya anak-anak yatim itu mendapatkan perlakuan kasih sayang dan didikan yang baik dari kita semua sebagai seorang muslim.

Dari Abu Hurairah, dari Nabi Shallallahu ‘alahi wasallam beliau bersabda mengenai pemakan harta anak yatim:

“Jauhilah tujuh(dosa) yang membinasakan!” Mereka (para sahabat) bertanya: “Wahai Rasullulah, apakah itu?” Beliau Shallallahu ‘alahi wa sallam menjawab, “Syirik kepada Allah; sihir; membunuh jiwa yang Allah haramkan kecuali dengan haq; memakan riba; memakan harta anak yatim; berpaling dari perang yang berkecamuk; menuduh zina terhadap wanita-wanita merdeka yang menjaga kehormatan, yang beriman, dan yang bersih dari zina”. (HR. Al-Bukhari)

Namun, sebaliknya yang harus kita perbuat adalah bagaimana kita memelihara dan menyantuni anak yatim dengan penuh kasih sayang.

Allah begitu memuliakan anak yatim, sebagaimana juga yang dilakukan Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam. Kita sebagai umat Nabi Muhammad tentu harus meneladaninya dalam menyayangi dan menyantuni anak yatim.

Dalam sebuah hadits dari Sahl bin Sa’ad Radiyaallah ‘anhu berkata bahwa Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda yang artinya:

“Aku dan orang yang memelihara anak yatim dalam surga nanti seperti ini.” Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam mengisyaratkannya dengan mendekatkan jari telunjuk dan jari tengahnya serta merenggangkan keduanya.” (HR. Bukhari)

Janji Allah telah tergambar akan diberikan ganjaran yang besar bagi mereka yang mengurus dan menyanyangi anak yatim dengan baik.

Semoga kita semua dijauhkan dari sifat-sifat tercela, salah satunya tidak menjadi pemakan harta anak yatim dan menjadi orang yang membenci anak yatim, naudzubillahi min dzalik(Arga)

Redaktur: Wahid Ikhwan


WAKAFDT.OR.ID

Ancaman Bagi Pemakan Harta Anak Yatim Read More »

Bolehkan Berdonasi Menggunakan Harta Riba?

WAKAFDT.ORGSalah satu dosa yang dekat dengan kehidupan kita sehari-hari, bahkan sangat erat dilakukan oleh kebanyakan masyarakat adalah riba.

Beberapa hal yang bersifat riba ternyata tidak berbentuk secara jelas, atau bisa dibilang sangat halus ribanya. Maka sudah seharusnya kita berhati-hati dengan transaksi yang dilakukan.

Pembahasan mengenai riba akan dimulai dari status hukumnya. Hukum riba dalam Islam sudah jelas haram. Lantas dana riba bisa dipergunakan untuk apa saja?

Apakah boleh mendonasikan dana riba untuk pembangunan infrastruktur pendidikan, kesehatan, pendidikan, dan fasilitas umum lainnya?

Mendonasikan dana riba bisa digunakan untuk kemaslahatan umum. Hal ini dijelaskan dalam Fatawa Syabakah Islamiyyah (lembaga fatwa yang bermarkas di Qatar) no. 62361, menerangkan tentang definisi maslahat umum:

“Yaitu: segala hal yang manfaatnya tidak kembali kepada person tertentu. Akan tetapi manfaat yang dirasakan tersebar luas di tengah kaum muslimin. Seperti untuk membangun jalan, perbaikan jalan dan pembangunan jembatan, sarana kebersihan, penerangan jalan dan lain-lain”.

Meskipun diperbolehkan, ada beberapa catatan penting saat mendonasikan dana riba, yaitu:

Harus diketahui bahwa hal tersebut bukan sedekah, dan tidak bisa mengharap pahala sedekah dari dana yang didonasikan.

Karena tujuan untuk mendonasikan dana riba, bukan untuk mencari pahala infak atau sedekah, tetapi diniatkan untuk bertaubat dan membersihkan diri dari harta riba yang berstatus haram.

Meskipun seseorang akan tetap mendapatkan pahala dari upaya taubatnya. Ini yang harus menjadi niat bagi seseorang saat melepas harta riba.

Bahkan ancamannya pun sudah sangat jelas, seperti didalam Al-Qur’an bagi mereka para pelaku riba, sunguh sangat mengerikan, Allah menantang perang dan Rasul mengancam laknat.

فَاِنْ لَّمْ تَفْعَلُوْا فَأْذَنُوْا بِحَرْبٍ مِّنَ اللّٰهِ وَرَسُوْلِهٖۚ وَاِنْ تُبْتُمْ فَلَكُمْ رُءُوْسُ اَمْوَالِكُمْۚ لَا تَظْلِمُوْنَ وَلَا تُظْلَمُوْنَ

“Jika kamu tidak melaksanakannya, maka umumkanlah perang dari Allah dan Rasul-Nya. Tetapi jika kamu bertobat, maka kamu berhak atas pokok hartamu. Kamu tidak berbuat zalim (merugikan) dan tidak dizalimi (dirugikan)”. (QS. Al-Baqarah: 279)

Dari sahabat Jabir radhiyallahu ‘anhu ia berkata:

“Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi Wasallam melaknat pemakan riba, pemberi makan riba, dua saksinya dan penulisnya.” Beliau melanjutkan, “Mereka semua sama (kedudukannya dalam hal dosa)”. (HR Muslim).

Jika kita meyakini bahwa riba adalah perbuatan haram, meskipun dibungkus dengan istilah-istilah yang lain seperti istilah bunga, maka wajib bagi seorang muslim yang memiliki harta riba untuk bertaubat kepada Allah Ta’ala.

Nahkan ia juga harus melepaskan harta tersebut dari rekening yang dimiliknya. Dana riba tidak boleh dikembalikan kepada pihak bank.

Semoga kita terlepas dari perbuatan riba dan bagi seseorang yang sudah terjerat dalam sistem riba maka segera bertaubat kepada Allah dan keluarkan harta tersebut. (Wahid/Arga)

Redaktur: Wahid Ikhwan


WAKAFDT.ORG

Bolehkan Berdonasi Menggunakan Harta Riba? Read More »

Aa Gym: Sakit adalah Nikmat dari Allah

WAKAFDT.OR.IDSaat kita diuji sakit, maka kita perlu untuk mengikhtiarkan agar bisa mendapatkan kesembuhan. Ikhtiar yang bisa kita lakukan di antaranya dengan pergi ke dokter, meminum/herbal, atau cara yang lainnya.

Tetapi hal yang perlu kita sadari, bahwa yang menakdirkan kita untuk sembuh hanyalah Dzat yang menciptakan bahan-bahan untuk obat, Dzat yang mengangkat dan memberikan penyakit, Dzat yang mengkarunia seseorang ilmu medis.

Jadi yang menyembuhkan penyakit hanyalah Alloh, ikhtiar kita hanya perantara bagaimana Alloh menyembuhkannya. Salah satu dari sifat Alloh ialah Asy-Syaafii, yaitu Yang Maha Menyembuhkan.

وَاِذَا مَرِضْتُ فَهُوَ يَشْفِيْنِ ۙ

“Dan apabila aku sakit, Dialah (Alloh) yang menyembuhkan aku.” (QS. Asy Syu’aro: 80)

Dalam sebuah doa, Rasululloh shallallahu ‘alaihi wasalam bersabda:

“Ya Alloh, Robb manusia, hilangkanlah kesusahan dan berilah dia kesembuhan, Engkau Dzat Yang Maha Menyembuhkan. Tidak ada kesembuhan kecuali kesembuhan dari-Mu, kesembuhan yang tidak meninggalkan penyakit lain.”  (HR. Bukhari dan Muslim)

Oleh karenanya, ketika kita ditimpa rasa sakit, hal utama yang harus kita lakukan adalah berdoa kepada Alloh Ta’ala dan mendekatkan diri kepada-Nya, karena hanya Alloh Yang Maha Menyembuhkan, Dialah Dzat tempat kembali segala urusan.

Selain itu juga, ikhtiar berobat sambil menguatkan hati kita, meyakinkan hati bahwa hanya Alloh sumber kesembuhan kita, sedangkan dokter dan obat hanyalah perantara bagi kesembuhan itu.

Karena sesungguhnya ikhtiar yang kita lakukan untuk mendapat kesembuhan merupakan bagian dari amal sholeh yang dicatat oleh Alloh.

Pertanyaannya adalah, sampai sejauh mana kita meyakini kekuasaan Alloh? Bahwa Alloh yang menyembuhkan kita, yang menurunkan penyakit dan mengangkat penyakit.

Semakin kita libatkan Alloh dalam setiap ikhtiar yang kita lakukan, penuh kesabaran dan ketawakalan, maka semakin dekat kita dengan kesembuhan. Sakit kita akan menjadi penggugur dosa karena kesabaran yang kita hadirkan.

Semoga yang sedang diuji dengan sakit, segera diberi kesembuhan oleh Alloh Ta’ala dan bagi kita yang diberi nikmat sehat semoga bisa memanfaatkan nikmat sehatnya semaksimal mungkin untuk menjemput ridho Alloh Ta’ala. (KH. Abdullah Gymnastiar)

Redaktur: Wahid Ikhwan


WAKAFDT.OR.ID

Aa Gym: Sakit adalah Nikmat dari Allah Read More »