Di Balik Tenda Biru: Kerinduan Warga Pidie Jaya Akan Rumah Tuhan yang Terkubur
WAKAFDT.OR.ID | PIDIE JAYA – Suara riuh rendah zikir terdengar lamat-lamat dari sebuah bangunan kayu sederhana di sudut desa. Dindingnya hanya susunan papan seadanya, sementara atapnya berupa terpal biru yang sesekali berkibar ditiup angin kencang. Di bawah naungan darurat inilah, warga sebuah desa di Pidie Jaya, Aceh, bersujud.
Pemandangan ini kontras dengan sebuah bangunan besar di sebelahnya. Bangunan itu adalah masjid mereka—sebuah rumah ibadah yang dulunya kokoh, namun kini tampak “tenggelam”.
Pasca banjir bandang yang menerjang, masjid tersebut terkubur lumpur hingga menyisakan hanya 20% bagian atasnya yang terlihat. Delapan puluh persen sisa fisiknya tertimbun material tanah, seolah menjadi monumen bisu dari dahsyatnya bencana.
Beribadah dalam Keterbatasan
Sejak bencana itu melanda, masjid tersebut tak lagi bisa digunakan. Namun, bagi warga setempat, ibadah tidak boleh berhenti meski bangunan fisik mereka hancur. Dengan semangat gotong royong, mereka mengumpulkan sisa-sisa kayu dan tenda darurat untuk mendirikan mushola sementara.
“Kami rindu sujud di lantai masjid yang dingin dan kokoh. Sekarang kalau hujan deras, kami harus waspada karena atap tenda sering bocor,” ujar salah satu warga dengan nada getir namun penuh ketabahan.
Di dalam mushola kayu itu, tidak ada ubin yang mengilap atau dinding beton yang kedap suara. Yang ada hanyalah alas seadanya dan keikhlasan yang luar biasa. Meski kondisi serba terbatas, jamaah tetap penuh sesak, terutama saat waktu shalat lima waktu dan tarawih tiba.
Ramadhan dan Harapan yang Menggunung
Bulan Ramadhan kali ini membawa rasa haru yang lebih dalam. Biasanya, masjid adalah pusat kehidupan desa—tempat anak-anak belajar mengaji dan para orang tua beritikaf hingga fajar. Kini, semua kegiatan itu harus berdesakan di ruang sempit yang panas saat siang dan lembap saat malam.
Ada kerinduan yang mendalam di mata para warga. Kerinduan untuk melihat kubah masjid mereka kembali menjulang, membersihkan lumpur yang menyumbat ruang sujud, dan mendengar gema takbir dari pengeras suara yang layak.
Ajakan untuk Kembali Membangun
Kondisi masjid yang terkubur lumpur 80% ini bukan sekadar masalah infrastruktur, melainkan tentang memulihkan jantung spiritual sebuah komunitas. Pembangunan kembali rumah Allah di Pidie Jaya memerlukan uluran tangan kolektif agar warga tak lagi harus bersujud di bawah tenda yang rapuh.
Mari kita hadirkan kembali senyum dan kenyamanan bagi saudara-saudara kita di Aceh. Mengembalikan masjid mereka berarti mengembalikan harapan dan kekuatan bagi sebuah desa untuk bangkit kembali. (WIN)
Redaktur: Wahid Ikhwan
Di Balik Tenda Biru: Kerinduan Warga Pidie Jaya Akan Rumah Tuhan yang Terkubur Read More »


