Wakaf Daarut Tauhiid

9 Maret 2026

Di Balik Tenda Biru: Kerinduan Warga Pidie Jaya Akan Rumah Tuhan yang Terkubur

WAKAFDT.OR.ID | PIDIE JAYA – Suara riuh rendah zikir terdengar lamat-lamat dari sebuah bangunan kayu sederhana di sudut desa. Dindingnya hanya susunan papan seadanya, sementara atapnya berupa terpal biru yang sesekali berkibar ditiup angin kencang. Di bawah naungan darurat inilah, warga sebuah desa di Pidie Jaya, Aceh, bersujud.

Pemandangan ini kontras dengan sebuah bangunan besar di sebelahnya. Bangunan itu adalah masjid mereka—sebuah rumah ibadah yang dulunya kokoh, namun kini tampak “tenggelam”.

Pasca banjir bandang yang menerjang, masjid tersebut terkubur lumpur hingga menyisakan hanya 20% bagian atasnya yang terlihat. Delapan puluh persen sisa fisiknya tertimbun material tanah, seolah menjadi monumen bisu dari dahsyatnya bencana.

Beribadah dalam Keterbatasan

Sejak bencana itu melanda, masjid tersebut tak lagi bisa digunakan. Namun, bagi warga setempat, ibadah tidak boleh berhenti meski bangunan fisik mereka hancur. Dengan semangat gotong royong, mereka mengumpulkan sisa-sisa kayu dan tenda darurat untuk mendirikan mushola sementara.

“Kami rindu sujud di lantai masjid yang dingin dan kokoh. Sekarang kalau hujan deras, kami harus waspada karena atap tenda sering bocor,” ujar salah satu warga dengan nada getir namun penuh ketabahan.

Di dalam mushola kayu itu, tidak ada ubin yang mengilap atau dinding beton yang kedap suara. Yang ada hanyalah alas seadanya dan keikhlasan yang luar biasa. Meski kondisi serba terbatas, jamaah tetap penuh sesak, terutama saat waktu shalat lima waktu dan tarawih tiba.

Ramadhan dan Harapan yang Menggunung

Bulan Ramadhan kali ini membawa rasa haru yang lebih dalam. Biasanya, masjid adalah pusat kehidupan desa—tempat anak-anak belajar mengaji dan para orang tua beritikaf hingga fajar. Kini, semua kegiatan itu harus berdesakan di ruang sempit yang panas saat siang dan lembap saat malam.

Ada kerinduan yang mendalam di mata para warga. Kerinduan untuk melihat kubah masjid mereka kembali menjulang, membersihkan lumpur yang menyumbat ruang sujud, dan mendengar gema takbir dari pengeras suara yang layak.

Ajakan untuk Kembali Membangun

Kondisi masjid yang terkubur lumpur 80% ini bukan sekadar masalah infrastruktur, melainkan tentang memulihkan jantung spiritual sebuah komunitas. Pembangunan kembali rumah Allah di Pidie Jaya memerlukan uluran tangan kolektif agar warga tak lagi harus bersujud di bawah tenda yang rapuh.

Mari kita hadirkan kembali senyum dan kenyamanan bagi saudara-saudara kita di Aceh. Mengembalikan masjid mereka berarti mengembalikan harapan dan kekuatan bagi sebuah desa untuk bangkit kembali. (WIN)

Redaktur: Wahid Ikhwan


WAKAFDT.OR.ID

Di Balik Tenda Biru: Kerinduan Warga Pidie Jaya Akan Rumah Tuhan yang Terkubur Read More »

Meneladani Kejayaan Peradaban Islam: Rahasia Kekuatan Ekonomi Era Turki Utsmani Melalui Wakaf

WAKAFDT.OR.ID | BANDUNG — Sejarah mencatat bahwa Kesultanan Turki Utsmani mampu menjadi salah satu imperium terkuat dunia bukan hanya karena kekuatan militernya, melainkan karena fondasi ekonomi sosialnya yang sangat kokoh.

Kunci utama dari stabilitas tersebut adalah pengelolaan wakaf yang sangat progresif dan terintegrasi dalam kehidupan masyarakat.

Melalui unggahan edukatif terbaru di laman resminya, Wakaf Daarut Tauhiid mengajak masyarakat untuk membedah apa sebenarnya yang membuat sistem wakaf pada era tersebut mampu membangun ekonomi umat secara masif.

5 Pilar Pemerataan Ekonomi Utsmani

Setidaknya terdapat lima faktor kunci yang menjadi jawaban mengapa masyarakat pada masa itu mencapai tingkat kemakmuran yang merata:

  • Kemudahan Akses Kesehatan: Rumah sakit (Bimaristan) dibangun dan dioperasikan sepenuhnya dari hasil kelola aset wakaf, sehingga rakyat bisa berobat tanpa biaya.
  • Pendidikan Gratis dan Berkualitas: Universitas dan madrasah berkembang pesat karena didukung oleh aset wakaf produktif yang menjamin gaji pengajar dan fasilitas santri.
  • Layanan Sosial yang Humanis: Pembangunan infrastruktur publik seperti jembatan, jalan, hingga dapur umum (Imaret) untuk kaum dhuafa bersumber dari dana wakaf.
  • Struktur Ekonomi yang Mandiri: Wakaf mampu mengurangi beban APBN negara karena sektor publik sudah terbiayai secara mandiri oleh dana umat.
  • Pemberdayaan Sektor Produktif: Pengelolaan wakaf yang profesional memastikan aset tidak diam, melainkan terus berputar untuk memberi manfaat luas.

Membangun Masa Depan Melalui Wakaf

Kejayaan masa lalu tersebut menjadi bukti nyata bahwa wakaf adalah solusi sistemik untuk mewujudkan pemerataan ekonomi.

Struktur ekonomi suatu bangsa akan menjadi sangat kuat ketika akses terhadap kebutuhan dasar—seperti pendidikan dan kesehatan—dapat dinikmati oleh seluruh lapisan masyarakat melalui skema kedermawanan yang abadi.

Pesantren Daarut Tauhiid melalui lembaga wakafnya terus berupaya menghidupkan kembali semangat tersebut di era modern ini.

Melalui berbagai program wakaf produktif, masyarakat kini memiliki kesempatan untuk ikut serta dalam membangun peradaban yang lebih baik.

Maka belum terlambat jika kita ingin mulai berwakaf. Mari mulai langkah baik Bersama. Bagi masyarakat yang ingin berkontribusi, kemudahan akses kini tersedia melalui platform digital di wakafdt.id.

Redaktur: Wahid Ikhwan


WAKAFDT.OR.ID

Meneladani Kejayaan Peradaban Islam: Rahasia Kekuatan Ekonomi Era Turki Utsmani Melalui Wakaf Read More »

Jejak Abadi Al-Kariim: Kisah Persahabatan Harry Kiss (Ayah Almarhum Vidi Aldiano), Aa Gym, dan Pesantren DT

WAKAFDT.OR.ID | BANDUNG — Di balik gemerlap dunia hiburan yang melingkupi keluarga mendiang Harry Kiss—ayahanda penyanyi Vidi Aldiano—tersimpan sebuah narasi spiritual yang membekas di tanah Parongpong, Bandung Barat.

Ini bukan sekadar cerita tentang pembangunan fisik sebuah bangunan, melainkan kisah tentang bisikan di Tanah Suci, persahabatan yang tulus, dan komitmen terhadap pemberdayaan umat melalui wakaf.

Semua bermula dari lingkaran persahabatan. KH Abdullah Gymnastiar, atau yang akrab disapa Aa Gym, memiliki tiga sahabat pengusaha yang kerap menghabiskan waktu bersama.

Salah satunya adalah Harry Kiss. Suasana sejuk Cijanggel awalnya hanya menjadi tempat bagi mereka untuk membangun vila peristirahatan, sebuah pelarian sejenak dari hiruk-pikuk ibu kota.

Namun, sebuah perjalanan Umrah bersama Aa Gym mengubah segalanya.

Bisikan di Multazam

Saat berada di depan Multazam—tempat yang mustajab untuk berdoa di Masjidil Haram—Harry Kiss mengalami sebuah peristiwa spiritual yang menggetarkan batinnya.

Ia mengaku menerima “bisikan” atau ketetapan hati yang kuat: “Kalau kamu pulang ke Indonesia, bangunlah masjid bernama Al-Kariim.”

Gejolak muncul di benak Harry. Ia merasa tidak percaya diri dengan amanah tersebut. Setelah berdoa, ia mendekati Aa Gym dan menceritakan kegelisahannya.

“Aa, apakah ini tidak salah? Saya ini bukan orang sholeh,” tanya Harry ragu.

Dengan bijak, Aa Gym merespons keraguan sahabatnya itu sebagai sebuah peluang kebaikan. Aa menyampaikan bahwa ia memiliki lahan di daerah Parongpong, dekat kawasan Advent, yang dirasa sangat cocok untuk mendirikan masjid.

Lokasi tersebut dipilih dengan visi strategis untuk membentengi akidah warga sekitar sekaligus menjadi pusat syiar Islam di wilayah Cijanggel.

Perjalanan Wakaf yang Produktif

Sepulangnya ke tanah air, survei lokasi dilakukan. Kecocokan pun ditemukan. Pada tahun 2006, pembangunan Masjid Al-Kariim dimulai.

Dua tahun berselang, tepatnya pada 2008, setelah bangunan berdiri megah, Harry Kiss mengambil keputusan besar: ia mewakafkan masjid tersebut sepenuhnya kepada Pesantren Daarut Tauhiid (DT).

Keputusan tersebut menjadi titik balik bagi kawasan Parongpong. Masjid Al-Kariim tidak hanya menjadi tempat salat, tetapi bertransformasi menjadi pusat peradaban kecil:

  • Pendidikan: Menjadi asrama dan tempat belajar bagi para santri Baitul Quran.
  • Sosial: Digunakan untuk pengajian ibu-ibu, Taman Kanak-kanak (TK), dan pusat literasi bagi masyarakat sekitar.
  • Ekonomi: Mengusung konsep wakaf produktif, kini di area tersebut terdapat peternakan domba, ayam, serta lahan perkebunan yang hasilnya memberi manfaat langsung bagi warga.

Warisan yang Terus Mengalir

Hingga saat ini, area Masjid Al-Kariim tetap menjadi aset wakaf yang dikelola secara profesional oleh Yayasan Daarut Tauhiid. Keberadaan masjid ini menjadi saksi bisu bahwa niat tulus, meski diawali dengan keraguan diri, bisa berbuah menjadi manfaat yang abadi.

Bagi keluarga almarhum Harry Kiss, Al-Kariim adalah amal jariyah yang tak terputus. Bagi warga Parongpong, ia adalah benteng akidah dan sumber kehidupan.

Dan bagi kita semua, kisah ini adalah pengingat bahwa panggilan untuk berbuat baik bisa datang kepada siapa saja, di mana saja—terutama di tempat yang paling suci di bumi. (MS/WIN)

Redaktur: Wahid Ikhwan


WAKAFDT.OR.ID

Jejak Abadi Al-Kariim: Kisah Persahabatan Harry Kiss (Ayah Almarhum Vidi Aldiano), Aa Gym, dan Pesantren DT Read More »