Wakaf Daarut Tauhiid

8 Maret 2026

Perbaiki Fondasi Ibadah, Baitul Quran DT Gelar Dauroh Al-Fatihah secara Hybrid

WAKAFDT.OR.ID | BANDUNG – Mengawali agenda ilmiah di penghujung Februari, Baitul Quran Pesantren Daarut Tauhiid (DT) Indonesia sukses menyelenggarakan Dauroh Al-Fatihah pada Rabu (25/2).

Acara yang dimulai pukul 09.00 WIB ini dilaksanakan secara hybrid, berpusat di Masjid Rahmatan Lil’alamiin Eco Pesantren 1 dan menjangkau peserta lebih luas melalui platform Zoom Meeting.

Kegiatan ini menghadirkan Ustaz Sidik Amirullah sebagai narasumber utama. Beliau merupakan alumni berprestasi dari STQ Takhassus Baitul Quran DT Angkatan 15 yang kini tengah mendalami studi di STIU Wadi Mubarak.

Peserta yang hadir berasal dari berbagai latar belakang program pembinaan, mulai dari santri STQ Mukim dan Non-Mukim, hingga peserta program musiman seperti Halaqah Quran Ramadhan (HQR) dan Bimbingan Baca Quran (BBQ).

Al-Fatihah sebagai Akar Kesempurnaan Shalat

Fokus utama dauroh ini adalah memantapkan kualitas bacaan Surah Al-Fatihah. Sebagai Ummul Kitab yang wajib dibaca di setiap rakaat shalat, ketepatan tajwid dan makhraj dalam surah ini menjadi penentu sah atau tidaknya ibadah seseorang.

Dalam pemaparannya, Ustaz Sidik menekankan bahwa memperbaiki bacaan Al-Fatihah bukan sekadar teknis bunyi, melainkan bentuk ikhtiar seorang hamba untuk membangun kedekatan yang lebih dalam dengan Allah SWT.

Materi yang disampaikan pun dirancang secara sistematis sehingga para santri bisa langsung mempraktikkan dan mengevaluasi bacaan mereka secara mandiri.

Antusiasme dan Harapan Peserta

Respons positif mengalir dari para peserta yang merasa mendapatkan pencerahan baru. Salah seorang peserta mengungkapkan bahwa kegiatan ini menyadarkannya akan detail-detail kecil yang selama ini sering terlewatkan dalam membaca Al-Fatihah.

“Alhamdulillah, melalui dauroh ini saya jadi lebih percaya diri dan tenang saat melaksanakan shalat karena tahu bacaan saya sudah sesuai kaidah,” ujarnya.

Melalui konsistensi dalam menggelar agenda seperti ini, Baitul Quran DT Indonesia berkomitmen untuk terus membina umat dari akar ibadah yang paling mendasar.

Harapannya, dari lisan yang fasih membaca Al-Fatihah, akan lahir kualitas shalat yang kokoh dan pribadi yang senantiasa menjadikan Al-Qur’an sebagai napas kehidupan sehari-hari. (WIN)

Redaktur: Wahid Ikhwan


WAKAFDT.OR.ID

Perbaiki Fondasi Ibadah, Baitul Quran DT Gelar Dauroh Al-Fatihah secara Hybrid Read More »

Aa Gym: Menjaga Hati di Riuhnya Media Sosial

WAKAFDT.OR.IDDi era digital saat ini, media sosial telah menjadi bagian yang tak terpisahkan dari keseharian kita. Namun, di balik kemudahannya, terdapat tantangan besar bagi setiap Muslim: menjaga kebersihan pikiran dan hati.

Seringkali, kegelisahan hati dan tumpukan pikiran negatif muncul karena kita terlalu banyak menyerap informasi yang sebenarnya tidak perlu.

Rumus Menjaga Pikiran

Cara terbaik agar tidak terjebak dalam pikiran negatif adalah dengan tidak memberinya ruang. Sederhananya: jangan dipikirkan, jangan diikuti, dan jangan diladeni. Kita harus sangat selektif terhadap apa yang dilihat, dibaca, dan didengar, karena setiap informasi yang masuk akan langsung memengaruhi kondisi mental serta spiritual kita.

Setiap kali membuka media sosial, cobalah ajukan dua pertanyaan kritis pada diri sendiri:

  • Apakah informasi ini menambah iman saya?
  • Apakah aktivitas ini akan menjadi amal saleh?

Jika jawabannya “tidak”, lebih baik tinggalkan. Hidup ini terlalu singkat jika hanya dihabiskan untuk memuaskan rasa penasaran terhadap urusan orang lain. Kita tidak perlu tahu segalanya.

Mari kita gunakan waktu dengan bijak. Ingatlah bahwa waktu adalah amanah yang kelak akan dimintai pertanggungjawabannya di akhirat. Kebahagiaan sejati hadir dari kekuatan iman dan amal saleh, bukan dari banyaknya informasi yang kita konsumsi setiap hari.

Menghindari Penyakit Hati

Rasulullah SAW mengingatkan kita dalam sebuah hadits:

“Jauhilah prasangka buruk, karena prasangka buruk adalah ucapan yang paling dusta.” (HR. Al-Bukhari)

Pesan ini sangat mendalam karena prasangka buruk adalah kemaksiatan hati yang seringkali samar dan dianggap remeh. Tanpa sadar, jempol dan pikiran kita bisa tergelincir pada dosa hanya karena asumsi yang tidak berdasar.

Mari kita mulai membatasi konsumsi informasi yang sia-sia. Fokuslah pada hal-hal yang mendekatkan diri kepada Allah. Dengan menjaga apa yang masuk ke dalam pikiran, insya Allah hati akan jauh lebih tenang dan terjaga. (KH. Abdullah Gymnastiar)

Redaktur: Wahid Ikhwan


WAKAFDT.OR.ID

Aa Gym: Menjaga Hati di Riuhnya Media Sosial Read More »