Wakaf Daarut Tauhiid

3 Maret 2026

Sinergi dan Digitalisasi: Kopontren Daarut Tauhiid Sukses Gelar RAT ke-31

WAKAFDT.OR.ID | BANDUNG – Koperasi Pondok Pesantren (Kopontren) Daarut Tauhiid (DT) kembali menunjukkan eksistensinya sebagai salah satu pilar ekonomi umat yang tangguh.

Pada pelaksanaan Rapat Anggota Khusus (RAK) dan Rapat Anggota Tahunan (RAT) ke-31, ribuan Santri Karya (karyawan DT) berkumpul untuk mengevaluasi kinerja tahunan sekaligus merancang strategi masa depan koperasi.

Acara yang berlangsung khidmat ini digelar secara hybrid. Ribuan anggota hadir langsung di Aula Daarul Hajj Pesantren DT, sementara anggota yang bertugas di luar kota tetap berpartisipasi aktif melalui platform daring.

Momentum RAT tahun ini terasa istimewa dengan kehadiran para tokoh nasional dan pakar koperasi, di antaranya:

  • KH. Abdullah Gymnastiar (Aa Gym): Selaku Penasehat Kopontren DT, beliau memberikan arahan mengenai pentingnya menjaga integritas dan nilai-nilai tauhiid dalam bermuamalah.
  • Hj. Farida Farichah, M.Si.: Wakil Menteri Koperasi RI, yang mengapresiasi tata kelola Kopontren DT sebagai model koperasi pesantren yang modern dan transparan.
  • Dr. H. Komarudin Kholil, M.Ag.: Ketua Puskopontren.
  • Amar Triwidodo, S.Pd.: Plh. Dinas Koperasi dan Usaha Kecil Provinsi Jawa Barat.

Dalam sambutannya, Aa Gym menekankan bahwa koperasi bukan sekadar urusan bagi hasil, melainkan sarana untuk memperkuat kemandirian ekonomi yang berkah.

Sejalan dengan hal tersebut, Hj. Farida Farichah menyoroti bagaimana Kopontren DT berhasil mengadopsi teknologi digital sehingga mampu mengakomodir ribuan anggotanya meski terkendala jarak geografis.

“Koperasi yang sehat adalah koperasi yang mampu beradaptasi dengan zaman tanpa meninggalkan nilai dasarnya. Apa yang dilakukan Kopontren DT hari ini adalah bukti nyata kemandirian pesantren,” ujar Hj. Farida Farichah.

Selain penyampaian Laporan Pertanggungjawaban (LPJ) pengurus dan pengawas, rapat ini juga membahas rencana kerja strategis untuk tahun mendatang, termasuk penguatan unit usaha ritel dan jasa yang dikelola oleh koperasi.

Acara ditutup dengan pembagian doorprize dan penetapan Sisa Hasil Usaha (SHU) yang disambut antusias oleh seluruh anggota.

Dengan terlaksananya RAT ke-31 ini, Kopontren DT berkomitmen untuk terus menjadi motor penggerak ekonomi yang inklusif, profesional, dan tetap berada dalam koridor syariat. (WIN)

Redaktur: Wahid Ikhwan


WAKAFDT.OR.ID

Sinergi dan Digitalisasi: Kopontren Daarut Tauhiid Sukses Gelar RAT ke-31 Read More »

Menjamin Masa Depan lewat Dana Abadi: Membedah Wakaf, Dana Publik, dan Instrumen Daerah

WAKAFDT.OR.IDDi tengah tuntutan publik terhadap riset yang relevan, pendidikan bermutu, hingga jaminan sosial yang merata, muncul tantangan besar: bagaimana memastikan semua layanan ini tetap eksis hingga 50 tahun mendatang?

Dalam dunia filantropi dan kebijakan modern, kita sering mendengar istilah wakaf, dana abadi, hingga endowment fund.

Meski semuanya memiliki prinsip serupa—yakni mengunci dana pokok dan hanya menggunakan hasil pengembangannya—setiap instrumen ini memiliki akar nilai dan mekanisme tata kelola yang berbeda.

Wakaf: Pilar Etis dan Filantropi Berbasis Spiritual

Wakaf merupakan instrumen tertua dalam sejarah Islam yang memiliki dasar hukum kuat dalam UU No. 41 Tahun 2004. Wakaf didefinisikan sebagai tindakan memisahkan harta pribadi untuk kepentingan umum, baik selamanya maupun jangka waktu tertentu, demi kemaslahatan umat.

Lebih dari sekadar hukum, wakaf adalah rekayasa sosial berbasis spiritual. Poin utamanya bukan hanya konsumsi, melainkan keabadian manfaat.

Keunggulan: Memiliki motivasi transenden (ibadah) yang kuat sehingga keberlanjutannya menjadi tanggung jawab moral, bukan sekadar rasionalitas ekonomi.

Tantangan: Sering kali terbentur pada tata kelola yang kurang profesional, aset yang tidak produktif, serta transparansi yang masih perlu ditingkatkan agar dampaknya maksimal.

Dana Abadi Negara: Jaminan Keberlanjutan Fiskal

Berbeda dengan wakaf yang berasal dari inisiatif masyarakat, Dana Abadi di tingkat nasional lahir dari kebijakan pemerintah, seperti yang diatur dalam Perpres No. 111 Tahun 2021.

Dana ini dirancang untuk memastikan program strategis—seperti pendidikan, riset, dan kebudayaan—tetap berjalan bagi generasi mendatang tanpa menggerus modal utamanya.

Karakteristik: Sangat bergantung pada stabilitas fiskal negara dan integritas lembaga publik.

Tantangan: Konsistensi kebijakan lintas periode kepemimpinan. Karena politik sering kali bersifat jangka pendek, diperlukan kedisiplinan tinggi agar dana ini tidak tergerus oleh tekanan anggaran atau perubahan prioritas pemerintah.

Dana Abadi Daerah (DAD): Inovasi Keuangan Lokal

Instrumen ini merupakan lapisan terbaru dalam arsitektur keberlanjutan di Indonesia, sebagaimana diatur dalam UU No. 1 Tahun 2022 tentang Hubungan Keuangan Pusat dan Daerah.

DAD memungkinkan pemerintah daerah menyisihkan surplus anggaran (SiLPA) ke dalam dana abadi guna menjaga stabilitas masa depan daerah.

Filosofi: Mengubah surplus jangka pendek menjadi investasi jangka panjang untuk belanja daerah tanpa mengurangi nilai pokoknya.

Tantangan di Lapangan: Kesenjangan kapasitas manajerial antar daerah. Tanpa pengawasan ketat, DAD berisiko menjadi sekadar formalitas politik atau instrumen pencitraan tanpa dampak nyata bagi masyarakat lokal.

Memahami perbedaan antara wakaf, dana abadi nasional, dan DAD sangat penting agar masyarakat tidak sekadar terbuai oleh istilah teknis.

Keberhasilan instrumen-instrumen ini dalam menghadirkan keadilan lintas generasi sangat bergantung pada tiga pilar: kualitas kepemimpinan, profesionalisme pengelola, dan transparansi publik. (Jaharuddin, Ekonom, Universitas Muhammadiyah Jakarta)

Redaktur: Wahid Ikhwan


WAKAFDT.OR.ID

Menjamin Masa Depan lewat Dana Abadi: Membedah Wakaf, Dana Publik, dan Instrumen Daerah Read More »

Cara Agar Ketagihan Membaca Al Quran Saat Ramadhan

WAKAFDT.OR.IDKetua Ikatan Cendekiawan Muslim Indonesia (ICMI) Jawa Timur, Ulul Albab, menekankan pentingnya menjadikan Ramadhan sebagai momentum untuk kembali kepada Al-Qur’an.

Mengingat kitab suci ini diturunkan di bulan Ramadhan sebagai kompas kehidupan, umat Islam didorong untuk meningkatkan intensitas interaksi dengan Al-Qur’an secara lebih mendalam dan penuh kekhusyukan.

Ulul Albab menyampaikan bahwa tadarus di bulan suci bukan sekadar ritual mencari pahala, melainkan upaya menjadikan Al-Qur’an sebagai obat penawar hati, sumber rahmat, serta penolong (syafaat) di akhirat kelak.

Membangun Koneksi Spiritual yang Hidup

Menurut Ulul, membaca Al-Qur’an seharusnya menjadi sebuah pengalaman batin yang nyata. Seorang Muslim diharapkan bisa merasakan ketenangan dan kebahagiaan saat melantunkan ayat-ayat Allah.

“Ramadhan adalah waktu istimewa untuk kita lebih fokus dan dalam saat membaca Al-Qur’an. Idealnya, kita merasa ‘tersapa’ atau bahkan ditegur oleh ayat yang kita baca,” jelasnya pada Sabtu (28/2/2026).

Indikator keberhasilan interaksi dengan Al-Qur’an adalah ketika seseorang tidak lagi sekadar mengejar target jumlah halaman, tetapi mulai menyelami makna tiap ayat hingga muncul rasa rindu untuk terus mentadaburinya.

Memahami Makna Tanpa Hambatan

Bagi mereka yang belum mahir membaca secara tartil, Ulul berpesan agar hal itu tidak menjadi penghalang. Mempelajari terjemahan dan tafsir merupakan langkah bijak agar pesan Ilahi tetap bisa meresap ke dalam kesadaran sehari-hari.

Beliau juga menyarankan agar kegiatan khataman Al-Qur’an di masjid atau komunitas menyisipkan sesi refleksi.

“Coba tanyakan pada jamaah, ayat mana yang paling menyentuh hati mereka selama membaca. Jika seseorang merasa datar saja saat membaca Al-Qur’an, mungkin perlu ada perbaikan pada kesiapan hati atau cara memahaminya,” tambahnya.

Meneladani Rasulullah dan Malaikat Jibril

Menilik sejarah, Rasulullah SAW memberikan teladan utama dalam memuliakan Al-Qur’an di bulan Ramadhan. Berdasarkan hadis riwayat Bukhari dan Muslim, setiap malam di bulan suci, Malaikat Jibril mendatangi Nabi untuk mudarasah (saling menyimak) Al-Qur’an.

Aktivitas spiritual ini berdampak pada kedermawanan Nabi yang semakin luar biasa, bahkan digambarkan lebih cepat dari hembusan angin. Keutamaan berkumpul untuk mengaji pun sangat besar; Allah menjanjikan turunnya ketenangan (sakinah), curahan rahmat, serta penjagaan dari para malaikat bagi mereka yang menghidupkan rumah-rumah Allah dengan lantunan ayat suci.

Dengan menjadikan Al-Qur’an sebagai dialog pribadi antara hamba dan Penciptanya, Ramadhan tahun ini diharapkan mampu melahirkan insan yang lebih bertakwa dan memiliki kepekaan spiritual yang tajam.

Redaktur: Wahid Ikhwan


WAKAFDT.OR.ID

Cara Agar Ketagihan Membaca Al Quran Saat Ramadhan Read More »