Wakaf Daarut Tauhiid

Artikel

Serupa Tak Sama, Berikut Perbedaan Wakaf dengan Hibah

DAARUTTAUHIID.ORG | WAKAFDT.OR.IDWakaf dalam bahasa arab berarti habs (menahan) artinya menahan harta yang memberikan manfaatnya di jalan Allah. Dari pengertian itu kemudian dibuatlah rumusan pengertian wakaf menurut istilah.

Secara istilah ialah perbuatan hukum seseorang atau kelompok orang atau badan hukum yang memisahkan sebagian dari benda miliknya dan melembagakannya untuk selama-lamanya, guna kepentingan ibadat atau kerpeluan umum lainnya, sesuai dengan ajaran Islam berdasarkan Madzab Syafii.

Firman Allah dalam Al Quran:

“Kamu sekali-kali tidak sampai kepada kebajikan (yang sempurna), sebelum kamu menafkahkan sehahagian harta yang kamu cintai. Dan apa saja yang kamu nafkahkan, maka sesungguhnya Allah mengetahuinya.” (QS. Ali Imran: 92).

Dalam hadits disebutkan:

“Diriwayatkan dari Abu Hurairah ra, bahwasanya Rasulullah saw bersabda: Apabila seseorang meninggal dunia maka terputuslah semua amalannya kecuali tiga, yaitu: Sedekah jariyah (wakaf), ilmu yang bermanfaat atau anak shalih yang mendo’akan kepadanya.” (HR. Muslim, Shahih Muslim, II: 14).

Seseorang yang berwakaf disebut dengan wakif, yakni orang yang mewakafkan harta benda miliknya. Syarat utama untuk menjadi wakif yaitu sudah akil baligh, berakal sehat, sukarela dan merdeka.

Barang atau benda yang diwakafkan tidak dapat diperjualbelikan. Umumnya diterapkan dalam bentuk madrasah, mushola atau makam.

Namun sekarang sudah lebih dioptimalkan yaitu melalui wakaf rumah sakit, kebun, sumur, ladang atau tempat pengembangan diri.

Pengertian Hibah

Dalam bahasa Arab, hibah berarti melewatkan atau menyalurkan. Pengertian hibah adalah pemberian harta milik seseorang kepada orang lain saat dirinya masih hidup tanpa mengharapkan imbalan atau tanpa disertai kewajiban mengembalikan.

Barang atau benda yang dihibahkan menjadi hak milik orang lain. Syarat penerima hibah harus benar-benar ada dan menjadi tidak sah apabila yang diberikan masih bentuk janin atau telah tiada.

Sebagai contoh, orang tua yang menghibahkan atau memberikan rumah warisan kepada anaknya sebagai tempat kumpul keluarga.

Aturan mengenai hibah tertuang dalam pasal 1666 Undang-Undang Hukum Perdata yang digunakan untuk menghindari gugatan hukum akibat sengketa warisan sehingga harus mempunyai perjanjian hitam diatas putih antara pemberi hibah dan yang dihibahkan.

Hibah juga dikenal sebagai warisan sehingga biasanya menggunakan surat warisan untuk mengatur ketentuan harta yang diwariskan sesuai dengan perjanjian pihak yang bersangkutan.

Begitu juga apabila harta warisan tersebut ingin dijual maka tergantung dari kesepakatan antara pemberi dan penerima yang tertera dalam surat warisan.

Perbedaan Wakaf Dan Hibah

Untuk lebih detailnya, berikut beberapa perbedaan wakaf dan hibah yang harus Anda ketahui:

Berdasarkan Ketahanan

Harta benda yang diwakafkan baik benda bergerak maupun tidak bergerak bersifat tahan lama sehingga bisa terus digunakan dalam jangka waktu lama. Sementara pada barang yang dihibahkan umumnya berupa sekali pakai, tapi juga ada yang tahan lama. Keduanya sama-sama bukan sesuatu yang haram.

Berdasarkan Manfaat

Harta benda yang diwakafkan harus mempunyai manfaat untuk kepentingan masyarakat secara luas. Sedangkan barang hibah dapat diberikan untuk perorangan maupun kelompok sebagai kepentingan bersama ataupun pribadi.

Hak Milik

Harta benda wakaf tidak untuk menjadi hak milik seseorang, kendati ada jenis wakaf berdasarkan waktu. Sedangkan barang hibah bisa menjadi hak milik pribadi orang yang dihibahkan.

(Referensi: BWI)

Redaktur: Wahid Ikhwan

____________________________

DAARUTTAUHIID.ORG

Serupa Tak Sama, Berikut Perbedaan Wakaf dengan Hibah Read More »

Siapakah Orang Pertama yang Wakaf dalam Islam?

DAARUTTAUHIID.ORG | WAKAFDT.OR.ID —Dalam Islam, wakaf dikenal setelah Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasalam melaksanakan hijrah ke Madinah di tahun kedua. Terdapat 2 pendapat di kalangan fuqaha tentang siapa yang pertama kali melaksanakan wakaf.

Sebagian berpendapat bahwa Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasalam adalah orang yang pertama kali berwakaf, dengan mewakafkan tanahnya untuk dibangun masjid. Pendapat ini sesuai dengan hadits riwayat Uman bin Syabah dari Amr bin Sa’ad berkata:

“Kami bertanya tentang mula-mula wakaf dalam Islam? Orang Muhajirin mengatakan adalah wakaf Umar, sedangkan orang-orang Anshor mengatakan adalah wakaf Rasulullah SAW.” (Asy-Syaukani: 129)

Pendapat lain menyatakan bahwa yang pertama kali menjalankan wakaf adalah Umar bin Khatab yang mewakafkan tanah di Khaibar.

Pendapat ini berasal dari hadits yang diriwayatkan Ibnu Umar RA. Dari Umar RA berkata: Hai Rasulullah SAW, saya mendapat sebidang tanah di Khaibar, saya belum mendapat harta sebaik itu, maka apakah yang engkau perintahkan kepadaku?”

Rasulullah SAW bersabda: “Bila engkau suka, kau tahan (pokoknya) tanah itu, dan engkau sedekahkan (hasilnya), tidak dijual, tidak dihibahkan dan tidak diwariskan.

Ibnu Umar berkata: Umar menyedekahkannya (hasil pengelolaan tanah) kepada orang-orang fakir, kaum kerabat, hamba sahaya, sabilillah, Ibnu sabil dan tamu. Dan tidak dilarang bagi yang mengelola (nazhir) wakaf makan dari hasilnya dengan cara yang baik (sepantasnya) atau memberi makan orang lain dengan tidak berrnaksud menumpuk harta.” (HR. Muslim)

Masya Allah, semoga dari para pendahulu tersebut kita bisa mengambil pelajaran bahwasannya melalui wakaf maka harta yang kita miliki akan menjadi berkah dan bisa dirasakan manfaatnya oleh orang lain, termasuk ummat. Wallahu a’lam bishowab. (Wahid)

Redaktur: Wahid Ikhwan

(Referensi: 101 Pertanyaan Seputar Wakaf)

____________________________

DAARUTTAUHIID.ORG

Siapakah Orang Pertama yang Wakaf dalam Islam? Read More »

Banyak Berbagi Saat Ramadhan, Ini Janji Allah

DAARUTTAUHIID.ORG | WAKAFDT.OR.ID —Bulan Ramadhan adalah bulan setiap amalan kebaikan kita akan dilipat gandakan oleh Allah Ta’ala. Tidak heran jika banyak umat muslim yang berlomba-lomba memperbanyak dan meningkatkan ibadah selama bulan Ramadhan.

Mulai dari target khatam membaca Qur’an, memperbanyak shalat-shalat sunnah dan ibadah lainnya. Belum lagi bagi orang yang berpuasa, Allah telah menjanjikan akan memberikan kebahagiaan baik di dunia maupun di akhirat. Rasulullah Shalallahu ‘Alaihi Wasallam bersabda:

لِلصَّائِمِ فَرْحَتَانِ : فَرْحَةٌ عِنْدَ فِطْرِهِ ، وَفَرْحَةٌ عِنْدَ لِقَاءِ رَبِّهِ

“Bagi orang yang berpuasa ada dua kegembiraan, yaitu kegembiraan ketika berbuka puasa dan kegembiraan ketika bertemu dengan Rabb-nya.” (HR. Al-Bukhâri no. 1894, Muslim no. 1151).

Meningkatkan dan memperbanyak ibadah di bulan Ramadhan adalah sebuah hal yang sangat baik. Tetapi jangan sampai ibadah-ibadah yang kita lakukan hanyalah sekedar meningkatkan hubungan kita dengan Allah saja. Padahal Allah juga sangat menyukai orang-orang yang berhubungan baik juga kepada sesama manusia.

Oleh karena itu jangan juga kita melupakan ibadah sosial seperti halnya memberikan makan sahur atau berbuka kepada saudara kita yang kurang mampu, atau kepada orang-orang shalih.

Karena pada dasarnya dengan kita berbagi kepada orang lain terutama di bulan Ramadhan, itu sama saja dengan kita meningkatkan ibadah kita kepada Allah Ta’ala. Bahkan jika boleh dibilang, kita akan mendapatkan berbagai keuntungan.

Pahala Dari Allah

Sudah menjadi kepastian bahwasannya jika kita melakukan suatu kebaikan maka akan bernilai pahala dari Allah asalkan dengan niat karena Allah Ta’ala. Begitu pun halnya dengan berbagi di bulan Ramadhan.

Berbagi berarti kita menyisihkan sebagian dari harta yang kita miliki untuk diberikan kepada orang lain. Dan itu adalah sebuah bentuk dari pengorbanan yang kadar besar kecilnya setiap orang pasti berbeda-beda.

Dengan kita berbagi kepada orang lain, apalagi kepada orang yang benar-benar membutuhkan bantuan maka Allah akan memberikan kebaikan dan pahala yang berlipat bagi kita.

عَنْ أَبِي هُرَيْرَةَ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُ قَالَ قَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ كُلُّ عَمَلِ ابْنِ آدَمَ يُضَاعَفُ الْحَسَنَةُ عَشْرُ أَمْثَالِهَا إِلَى سَبْعمِائَة ضِعْفٍ قَالَ اللَّهُ عَزَّ وَجَلَّ إِلَّا الصَّوْمَ فَإِنَّهُ لِي وَأَنَا أَجْزِي بِهِ يَدَعُ شَهْوَتَهُ وَطَعَامَهُ مِنْ أَجْلِي لِلصَّائِمِ فَرْحَتَانِ فَرْحَةٌ عِنْدَ فِطْرِهِ وَفَرْحَةٌ عِنْدَ لِقَاءِ رَبِّهِ وَلَخُلُوفُ فِيهِ أَطْيَبُ عِنْدَ اللَّهِ مِنْ رِيحِ الْمِسْكِ

“Dari Abu Hurairah RA, ia berkata, Rasulullah SAW bersabda, ‘Semua amal kebaikan anak manusia akan dilipatgandakan dengan sepuluh kebaikan serupa hingga 700 kali lipat. Allah Azza wa Jalla berfirman, ‘Kecuali puasa. Puasa adalah milik-Ku. Aku sendiri yang akan membalasnya karena ia meninggalkan syahwat dan makanan demi Aku.’ Orang yang berpuasa memiliki dua kebahagiaan, yaitu satu kebahagiaan saat berbuka puasa dan satu kebahagiaan lainnya saat menemui Tuhannya. Sungguh bau mulutnya lebih harum di sisi Allah daripada bau kesturi.” (HR Muslim).

Ketentraman Hati

Berbagi di bula Ramadhan selain kita mendapatkan pahala dan kebaikan dari Allah Ta’ala, kita juga akan mendapatkan perasaan tenteram dalam hati kita.

Ketika kita berbagi kepada orang lain kemudian melihat senyum dan kebahagiaan orang yang menerima pasti akan membuat kita ikut merasakan bahagianya juga. Itu adalah perasaan yang muncul atas dasar kepuasan dalam hati kita ketika melihat orang lain senang.

Tidak heran mengapa di bulan Ramadhan akan banyak orang-orang baik yang ingin berbagi dengan saudara lainnya. Sahabat Anas meriwayatkan bagaimana keutamaan berbagi pada bulan Ramadhan. Berbagi pada bulan Ramadhan bahkan sedekah yang paling utama:

عَنْ اَنَسٍ قِيْلَ يَارَسُولَ اللهِ اَيُّ الصَّدَقَةِ اَفْضَلُ؟ قَالَ: صَدَقَةٌ فِى رَمَضَانَ

“Dari Anas dikatakan, ‘Wahai Rasulullah, sedekah apa yang nilainya paling utama? Rasul menjawab, Sedekah di bulan Ramadhan’”. (HR. At-Tirmidzi). (Wahid)

Redaktur: Wahid Ikhwan

_______________________________

DAARUTTAUHIID.ORG

Banyak Berbagi Saat Ramadhan, Ini Janji Allah Read More »

Turki Utsmani, Sejarah Pesatnya Perkembangan Zaman Lewat Wakaf

DAARUTTAUHIID.ORG | WAKAFDT.OR.IDDi Indonesia wakaf belum memiliki popularitas layaknya zakat, infak, dan sedekah. Penyebabnya adalah minimnya literasi tentang wakaf di negara kita. Padahal peran wakaf bagi peradaban Islam sangatlah besar.

Sejak masa kekuasaan Turki Utsmani, wakaf telah menghidupi berbagai pelayanan publik dan menopang pembiayaan berbagai bangunan seni dan budaya. Jenis wakaf yang popular pada masa itu adalah berbagai jenis properti yang tidak bergerak dan wakaf tunai, yang telah dipraktikkan sejak awal abad ke-15 M.

Turki mempunyai sejarah terpanjang dalam pengelolaan wakaf, yang mencapai keberhasilannya di zaman Utsmaniyyah, di mana harta wakaf pada 1925 diperkirakan mencapai ¾ dari luas tanah yang produktif.

Pusat administrasi wakaf dibangun kembali setelah penggusurannya pada 1924. Sekarang, waqf bank & finance corporation telah didirikan untuk memobilisasi sumber-sumber wakaf dan untuk membiayai bermacam-macam jenis proyek joint venture.

Melihat keberhasilan pengelolaan wakaf dlam  membangun peradaban di masa lampu, maka bukan mustahil bila hal serupa dapat terjadi saat ini. Wakaf produktif dapat menjadi jawaban dari permasalahan sosial di Indonesia bila dikelola dengan benar.

Pastinya keutamaan wakaf bukan hanya untuk mewujudkan peradaban yang lebih baik bagi negara kita. Sebab sejatinya wakaf adlah sedekah jariyah, yakni sedekah yang pahalanya akan terus mengalir meski kita telah tiada, seperti sabda Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasalam,

“Jika seseorang meninggal dunia, maka terputuslah amalannya kecuali tiga perkara (yaitu): sedekah jariyah, ilmu yang bermanfaat, dan doa anak yang sholeh.” (HR. Muslim no.1631)

Keberadaan Wakaf Daarut Tauhiid saat ini, harapannya bisa menjadi salah satu solusi ummat untuk memperoleh literasi seputar wakaf. Karena semakin banyak masyarakat yang faham tentang wakaf dan kebermanfaatannya, maka akan semakin besar juga kesadaran masyarakat untuk berwakaf.

Disisi lain, Wakaf Daarut Tauhiid juga berupaya untuk mengakomodir kebutuhan ummat untuk berwakaf. Dan alhamdulillah sampai saat ini Wakaf Daarut Tauhiid masih dipercaya untuk mengelola aset wakaf untuk diproduktifkan dan dikelola agar mampu dimanfaatkan oleh ummat. (Wahid)

(Referensi: 101 Pertanyaan Seputar Wakaf)

Redaktur: Wahid Ikhwan

__________________________________

DAARUTTAUHIID.ORG

Turki Utsmani, Sejarah Pesatnya Perkembangan Zaman Lewat Wakaf Read More »

Aa Gym: jangan sombong

Aa Gym: Keuntungan Orang yang Selalu Bersedekah

DAARUTTAUHIID.ORG | WAKAFDT.OR.IDSaudaraku, kalau kita melihat ada orang yang bersedekah dan orang yang menerima sedekahnya, manakah yang beruntung di antara keduanya?

Sekilas mungkin kita melihat orang yang menerima sedekah adalah yang beruntung, apalagi jika sedekah yang ia terima besar jumlahnya.

Betul bahwa dia beruntung, tetapi sebenarnya orang yang bersedekah itu lebih besar keberuntungannya.

Mengapa? Karena banyak sekali keutamaan bagi orang yang bersedekah. Ia beruntung karena Alloh berikan kesempatan menjadi jalan kebaikan yang besar sekali ganjarannya. Alloh Ta’ala berfirman dalam Al Quran:

“Perumpamaan orang-orang yang mendermakan harta bendanya di jalan Allah, seperti (orang yang menanam) sebutir biji yang menumbuhkan tujuh untai dan tiap-tiap untai terdapat seratus biji dan Allah melipatgandakan (balasan) kepada orang yang dikehendaki, dan Allah Maha Luas (karunia-Nya) lagi Maha Mengetahui.” (QS. Al-Baqarah: 261)

Selain mendapat ganjaran yang besar dari Alloh, orang yang bersedekah juga sangat beruntung karena amalnya tersebut bisa menjadi penghapus catatan dosa, sehingga menjauhkannya dari api neraka. Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasalam bersabda,

“Sedekah itu dapat menghapus dosa sebagaimana air memadamkan api.” (HR. Tirmidzi)

Ketika bersedekah, maka seseorang sedang mengumpulkan bekal untuk di kehidupan setelah dunia ini. Karena Rasulullah berpesan bahwa sedekah adalah salah satu amal yang kebaikannya mengalir terus meski seseorang telah meninggal dunia.

Rasulullah bersabda, “Bila seorang hamba telah meninggal, segala amalnya terputus, kecuali tiga hal: amal jariyah, ilmu yang bermanfaat atau anak saleh yang mendoakannya.” (HR. Bukhari)

Oleh karena itu, saudaraku, marilah kita bersemangat mengambil setiap kesempatan bersedekah sekecil apa pun. Kurangi rasa berharap-harap disedekahi oleh orang lain, dan berusahalah menjadi orang mampu memberi sedekah.

Alloh Ta’ala berfirman, “Dan bersegeralah kamu kepada ampunan dari Tuhanmu dan kepada surga yang luasnya seluas langit dan bumi yang disediakan untuk orang-orang yang bertakwa.” (QS. Ali ‘Imran: 133)

Saudaraku, banyak hikmah yang terdapat pada sedekah. Semua itu adalah bahan tafakur bagi kita, sehingga kita bisa lebih bersemangat dalam beramal saleh.

Tidak ada satu pun perintah Alloh dan ajaran Rasul-Nya kecuali pasti terdapat kebaikan di dalamnya. Dan, setiap kebaikan yang kita lakukan karena mengharap rida Allah, niscaya buahnya akan kembali kepada kita dalam bentuk yang jauh lebih baik, yang tidak pernah kita duga sebelumnya.

Semoga Alloh Ta’ala senantiasa melimpahkan petunjuk kepada kita, sehingga kita tergolong hamba-hamba-Nya yang pandai bersyukur dan hidup bahagia di dunia dan akhirat. Aamiin yaa Rabbal ‘aalamiin. Wallahu a’lam bishowab.

(KH. Abdullah Gymnastiar)

Redaktur: Wahid Ikhwan

___________________________________

DAARUTTAUHIID.ORG

Aa Gym: Keuntungan Orang yang Selalu Bersedekah Read More »

Pencuri yang Bertaubat Setelah Menerima Sedekah

DAARUTTAUHIID.ORG | WAKAFDT.OR.IDSuatu ketika, dan seperti biasanya, Baginda Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasalam berbincang-bincang dengan para sahabat di serambi Masjid Nabawi, Madinah.

Setelah berbincang dengan mereka, beliau berkata kepada mereka:

“Suatu saat ada seorang pria berkata kepada dirinya sendiri, ‘Malam ini aku akan bersedekah!”. Dan benar saja, malam itu juga dia memberikan sedekah kepada seorang perempuan yang tak dikenalnya. Ternyata, perempuan itu seorang pezina. Sehingga, kejadian itu menjadi perbincangan khalayak ramai.

Akhirnya, pria itu mengetahui tentang wanita itu yang ternyata adalah seorang pezina. Mendengar kabar yang demikian, pria itu bergumam, “Ya Allah! Segala puji hanya bagi-Mu. Ternyata, sedekahku jatuh ke tangan seorang pezina. Karena itu, aku akan bersedekah lagi!”.

Kemudian, pria itu mencari seseorang yang menurutnya layak menerima sedekah. Ternyata, penerima sedekah itu, tanpa diketahuinya, adalah seorang yang kaya raya.

Sehingga, lagi dan lagi membuat kejadian itu menjadi perbincangan khalayak ramai, pria itu lalu mengetahui bahwa orang tadi merupakan orang yang kaya.

Mendengar kabar yang demikian, pria itu pun bergumam, “Ya Allah! Segala puji hanya bagi-Mu. Ternyata, sedekahku itu jatuh ke tangan orang kaya. Karena itu, aku akan bersedekah lagi!”.

Akhirnya kali ini mencoba kembali mencari seseorang yang menurutnya layak menerima sedekah dengan cermat dan teliti. Ternyata, penerima sedekah yang ketiga, tanpa diketahuinya, adalah seorang pencuri.

Tak lama berselang, kejadian itupun menjadi perbincangan khalayak ramai, dan kabar itu diketahui oleh sang pria bahwa yang menerima sedekahnya adalah seorang pencuri.

Akhirnya pria itu pun mengeluh dan berkata, “Ya Allah! Segala puji ha­nya bagi-Mu! Ya Allah, sedekahku ternyata jatuh ke tangan orang-orang yang tak kuduga: pezina, orang kaya, dan pencuri!,”.

Pria itu kemudian didatangi (malaikat utusan Allah) yang berkata, “Sedekahmu telah diterima Allah. Bisa jadi pezina itu akan berhenti berzina karena menerima sedekah itu. Bisa jadi pula orang kaya itu mendapat pelajaran karena sedekah itu, lalu dia menyedekahkan sebagian rezeki yang dikaruniakan Allah kepadanya. Dan, bisa jadi pencuri itu berhenti mencuri selepas menerima sedekah itu,”.

(Sumber: BWI)

Redaktur: Wahid Ikhwan

_______________________________

DAARUTTAUHIID.ORG

Pencuri yang Bertaubat Setelah Menerima Sedekah Read More »

Jangan Benci Duniawi, Justru Begini Tuntunan Rasulullah SAW

DAARUTTAUHIID.ORG | WAKAFDT.OR.ID Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasalam merintahkan umatnya untuk menjadi orang yang berkecukupan agar terlepas dari penderitaan hidup karena kekurangan harta benda, serta agar mampu menggunakan hartanya itu untuk beribadah di jalan Allah Ta’ala.

Dengan berkecukupan, mereka tidak perlu khawatir untuk mencari sesuap nasi dan menyibukkan diri hingga meninggalkan ibadah hanya untuk mencari nafkah. Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasalam bersabda:

إنَّ هَذَا الْمَالَ خَضِرٌ حُلْوٌ فَمَنْ أَخَذَهُ بِسَخَاوَةِ نَفْسٍ بُورِكَ لَهُ فِيهِ وَمَنْ أَخَذَهُ بِإِشْرَافِ نَفْسٍ لَمْ يُبَارَكْ لَهُ فِيهِ وَكَانَ كَالَّذِي يَأْكُلُ وَلَا يَشْبَعُ

“Sesungguhnya harta itu sesuatu yang menarik dan manis. Maka barang siapa yg mengambilnya sesuai haknya dan menempatkan sesuai tempatnya maka sungguh ia akan menjadi penolongnya dan Barangsiapa yang mengambilnya namun tidak sesuai haknya maka dia laksana orang yang makan namun tidak kenyang.” (HR. Al Bukhari dan Muslim dari Abu Said Al Khudri)

Dikutip dari buku Syajarat al-Ma’arif, Imam Izzuddin bin Abdus Salam mengatakan, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasalam memuji harta yang digunakan untuk mendekatkan diri kepada Allah Ta’ala karena dia akan menjadi sarana untuk dekat kepada Allah Ta’ala. Dan karena sedekah akan menghapuskan dosa-dosa dan akan mengangkat derajat.

Maka pujian terhadap harta dengan ungkapan “ni’ma” (sebaik-baiknya) mencakup pujian secara umum. Dan apa pun yang menjadi celaan terhadap dunia dan kesenangannya, maka itu dikatakan karena harta itu membuatnya sibuk dari mengingat Allah Ta’ala, melalaikan dari ketaatan kepada Allah Ta’ala dan membawa manusia pada perbuatan yang melampaui batas.

Oleh sebab itulah, celaan pada dunia dikarenakan ia sering mengantarkan manusia pada hal itu dan pujiannya sangatlah minim karena jarangnya orang yang menggunakannya sesuai dengan haknya. Dan, Allah Ta’ala telah menetapkan bahwa menginfakkannya sebagai bentuk taqarrub.

“Ketahuilah, sesungguhnya nafkah itu adalah suatu jalan bagi mereka untuk mendekatkan diri (kepada Allah).” (QS. At Taubah ayat 99).

“Dan apa saja harta yang baik yang kamu nafkahkan (di jalan Allah), maka pahalanya itu untuk kamu sendiri. Dan janganlah kamu membelanjakan sesuatu melainkan karena mencari keridhaan Allah. Dan apa saja harta yang baik yang kamu nafkahkan, niscaya kamu akan diberi pahalanya dengan cukup sedang kamu sedikit pun tidak akan dianiaya (dirugikan).” (QS. Al Baqarah ayat 272)

(Sumber: Republika)

Redaktur: Wahid Ikhwan

_____________________________

DAARUTTAUHIID.ORG

Jangan Benci Duniawi, Justru Begini Tuntunan Rasulullah SAW Read More »

Sedekah yang Diterima Allah Tanpa Dilihat Siapa Penerimanya

DAARUTTAUHIID.ORG | WAKAFDT.OR.ID Suatu ketika, dan seperti biasanya, Rasulullah SAW berbincang-bincang dengan para sahabat di serambi Masjid Nabawi, Madinah. Setelah berbincang dengan mereka, beliau berkata kepada mereka:

“Suatu saat ada seorang pria berkata kepada dirinya sendiri, ‘Malam ini aku akan bersedekah!”. Benar saja, malam itu juga dia memberikan sedekah kepada seorang perempuan yang tak dikenalnya. Ternyata, perempuan itu seorang pezina. Sehingga, kejadian itu menjadi perbincangan khalayak ramai.

Akhirnya, pria itu mengetahui tentang wanita itu yang ternyata adalah seorang pezina. Mendengar kabar yang demikian, pria itu bergumam, “Ya Allah! Segala puji hanya bagi-Mu.Ternyata, sedekahku jatuh ke tangan seorang pezina. Karena itu, aku akan bersedekah lagi!”.

Kemudian, pria itu mencari seseorang yang menurutnya layak menerima sedekah. Ternyata, penerima sedekah itu, tanpa diketahuinya, adalah seorang yang kaya raya. Sehingga, lagi dan lagi membuat kejadian itu menjadi perbincangan khalayak ramai, pria itu lalu mengetahui bahwa orang tadi merupakan orang yang kaya.

Mendengar kabar yang demikian, pria itu pun bergumam, “Ya Allah! Segala puji hanya bagi-Mu. Ternyata, sedekahku itu jatuh ke tangan orang kaya. Karena itu, aku akan bersedekah lagi!”.

Akhirnya kali ini mencoba kembali mencari seseorang yang menurutnya layak menerima sedekah dengan cermat dan teliti. Ternyata, penerima sedekah yang ketiga, tanpa diketahuinya, adalah seorang pencuri.

Tak lama berselang, kejadian itupun menjadi perbincangan khalayak ramai, dan kabar itu diketahui oleh sang pria bahwa yang menerima sedekahnya adalah seorang pencuri.

Akhirnya pria itu pun mengeluh dan berkata, “Ya Allah! Segala puji ha­nya bagi-Mu! Ya Allah, sedekahku ternyata jatuh ke tangan orang-orang yang tak kuduga: pezina, orang kaya, dan pencuri!,”.

Pria itu kemudian didatangi (malaikat utusan Allah) yang berkata, “Sedekahmu telah diterima Allah. Bisa jadi pezina itu akan berhenti berzina karena menerima sedekah itu. Bisa jadi pula orang kaya itu mendapat pelajaran karena sedekah itu, lalu dia menyedekahkan sebagian rezeki yang dikaruniakan Allah kepadanya. Dan, bisa jadi pencuri itu berhenti mencuri selepas menerima sedekah itu,”.

(Sumber: BWI)

Redaktur: Wahid Ikhwan

________________________________

DAARUTTAUHIID.ORG

Sedekah yang Diterima Allah Tanpa Dilihat Siapa Penerimanya Read More »

Bisakah Ikrar Wakaf Diwakilkan?

DAARUTTAUHIID.ORG | WAKAFDT.OR.ID — Dalam Pasal 1 ayat 3 Undang-undang No. 41 Tahun 2004 Tentang Wakaf dijelaskan bahwa Ikrar wakaf adalah kehendak atau pernyataan dari wakif (orang yang mewakafkan hartanya) yang diucapkan secara lisan maupun tulisan kepada lembaga penerima wakaf/nazhir untuk mewakafkan harta bendanya guna dimanfaatkan bagi kesejahteraan umum.

Namun dalam praktiknya apakah ikrar wakaf dapat diwakilkan, karena wakifnya dan tanah wakafnya berada di kota yang berbeda dan cukup jauh? Kalau bisa diwakilkan apa saja syaratnya dan apakah ada dasar hukumnya?

Jawaban dari Dr. H. Zaenuri, M.Hum. (Kasubdit Pengamanan Aset Wakaf Kemenag RI)

Dalam pengurusannya bisa dengan membuat surat kuasa. Merujuk pada UU, PP, dan Peraturan Menteri harus ada tanda tangan baik secara langsung maupun tidak langsung.

Dapat dikuasakan sebatas pengurusan administrasi atau penyampaian Ikrar, bukan kepada penerbitan dokumen akta. Akta tetap ditandatangani oleh wakif dikemudian hari.

Sumber: BWI

Redaktur: Wahid Ikhwan

______________________________________

DAARUTTAUHIID.ORG

Bisakah Ikrar Wakaf Diwakilkan? Read More »

Hal yang Harus Disiapkan Jelang Ramadhan

DAARUTTAUHIID.ORG | WAKAFDT.OR.ID — Tidak terasa bulan Ramadhan tinggal beberapa hari lagi. Bulan yang sangat dinantikan oleh semua orang, khususnya ummat Islam. Ramadhan menjadi spesial karena suasananya yang berbeda dengan bulan-bulan lainnya.

Selain dari suasananya yang berbeda, di bulan Ramadhan juga menjadi waktu khusus untuk ummat Islam untuk mengumpulkan pahala yang melimpah, karena di bulan tersebut segala amalan yang dilakukan oleh kita akan Allah lipatgandakan berkali-kali lipat, wajar saja jika banyak orang yang semakin giat ibadahnya pada bulan tersebut.

Bahkan ada istilah yang menyebutkan bahwa hidup kita dalam satu tahunnya, 11 bulan untuk menyiapkan bertemu dengan satu bulan yang spesial, yaitu Ramadhan.

Agar kita bisa maksimal dalam menjalani ibadah selama bulan Ramadhan, perlu adanya persiapan untuk memasukinya. Persiapan ini akan membuat kita lebih siap dan insya Allah bisa membuat lebih maksimal lagi kita dalam beribadah.

Siapkan Fisik
Bisa dibilang ini adalah salah satu modal utama kita untuk bisa maksimal menjalankan ibadah di blan Ramadhan. Karena seseorang kebanyakan tidak maksimal beraktifitas termasuk ibadahnya adalah karena keluhan fisik yang kurang fit/bugar.

Kita bisa mulai rutinkan berolahraga agar fisik kita lebih terjaga dan lebih bugar. Bahkan manfaatnya tidak hanya akan dirasakan selama Ramadhan, tetapi pada bulan lainnya kita bisa lebih bugar jika rutin berolahraga.

Selain itu pola makan yang baik dan sehat juga menjadi salah satu cara kita untuk menjaga kesiapan fisik agar lebih bugar. Sering makan tidak tepat waktu, makan makanan sembarangan, menjadi salah satu penyebab seseorang mengalami gangguan kesehatan.

Perkuat Niat
“Sesungguhnya segala sesuatu itu tergantung niatnya,” penggalan hadits tersebut menjadi pengingat untuk kita agar perbaiki dan perkuat niat kita selama bulan Ramadhan. Niat yang kuat juga bisa menjadi booster untuk kita agar bisa lebih konsisten dalam beribadah.

Dengan terus mengingat dan memperbaharui niat, kita akan selalu ingat untuk apa kita beribadah, terutama pada bulan Ramadhan yang memiliki keuntungan sangat menggiurkan dari Allah Ta’ala.

Jangan sampai kita sudah bersusah payah berjuang selama Ramadhan ternyata nilai pahalanya tidak maksimal karena ada yang salah dalam niat kita. Oleh karena itu masih ada waktu bagi kita untuk memperbaiki dan perkuat niat kita jelang Ramadhan.

Siapkan Harta
Nah, hal ini juga menjadi salah satu modal kita agar ibadah selama Ramadhan bisa semakin maksimal. maksud dari menyiapkan harta bukan untuk berbelanja pakaian baru, makanan sebanyak-banyaknya, karena biasanya pada bulan Ramadhan banyak melimpah macam-macam makanan dan pakaian.

Harta yang kita siapkan selama jelang Ramadhan, nantinya bisa kita pakai untuk berbagi dengan orang lain. Bisa melalui shodaqoh, infaq, wakaf, dan lainnya.

Mengapa harus berbagi dengan harta? Karena Allah telah menjanjikan kepada kita siapa yang memberikan makanan untuk berbuka kepada saudaranya (seiman).

Menurut Imam an-Nawawi sebagaimana dijelaskan A.R. Shohibul Ulum dalam buku Tebarkan Salam dan Berilah Makan, memberi buka hanya dengan seteguk air atau satu biji kurma sudah termasuk mendatangkan pahala. Pendapat ini bersandar pada hadits yang diriwayatkan Imam Khuzaimah dari Salman,

“Barang siapa memberi buka orang yang berpuasa di bulan Ramadan, maka amalnya itu sebagai ampunan atas dosanya, membebaskannya dari api neraka, dan ia mendapat pahala seperti pahala orang yang berpuasa tanpa mengurangi pahala orang yang berpuasa itu.”

Para sahabat kemudian bertanya, “Tidak semua dari kita mempunyai makanan untuk memberi buka kepada orang yang berpuasa.” Rasulullah lantas menjawab, “Pahala ini diberikan Allah SWT kepada orang yang memberi buka kepada orang yang berpuasa walaupun satu butir kurma, seteguk air, atau segelas susu.”

(HR. Tirmidzi no. 807, Ibnu Majah no. 1746, dan Ahmad 5: 192, Al-Hafizh Abu Thahir mengatakan bahwa hadits ini shahih).

Insya Allah dengan kita menyiapkan segala modal untuk menyambut bulan Ramadhan, kita akan bisa lebih maksimal dan siap lagi dalam menjalankan ibadah selama Ramadhan. Bahkan saat kita menyiapkan modal-modal diatas insya Allah kita sudah mendapat pahala dari Allah Ta’ala. Wallahu a’lam bishowab. (Wahid)

Redaktur: Wahid Ikhwan

____________________________________

DAARUTTAUHIID.ORG

Hal yang Harus Disiapkan Jelang Ramadhan Read More »