Wakaf Daarut Tauhiid

Aa Gym

Aa Gym: Menjaga Hati di Riuhnya Media Sosial

WAKAFDT.OR.IDDi era digital saat ini, media sosial telah menjadi bagian yang tak terpisahkan dari keseharian kita. Namun, di balik kemudahannya, terdapat tantangan besar bagi setiap Muslim: menjaga kebersihan pikiran dan hati.

Seringkali, kegelisahan hati dan tumpukan pikiran negatif muncul karena kita terlalu banyak menyerap informasi yang sebenarnya tidak perlu.

Rumus Menjaga Pikiran

Cara terbaik agar tidak terjebak dalam pikiran negatif adalah dengan tidak memberinya ruang. Sederhananya: jangan dipikirkan, jangan diikuti, dan jangan diladeni. Kita harus sangat selektif terhadap apa yang dilihat, dibaca, dan didengar, karena setiap informasi yang masuk akan langsung memengaruhi kondisi mental serta spiritual kita.

Setiap kali membuka media sosial, cobalah ajukan dua pertanyaan kritis pada diri sendiri:

  • Apakah informasi ini menambah iman saya?
  • Apakah aktivitas ini akan menjadi amal saleh?

Jika jawabannya “tidak”, lebih baik tinggalkan. Hidup ini terlalu singkat jika hanya dihabiskan untuk memuaskan rasa penasaran terhadap urusan orang lain. Kita tidak perlu tahu segalanya.

Mari kita gunakan waktu dengan bijak. Ingatlah bahwa waktu adalah amanah yang kelak akan dimintai pertanggungjawabannya di akhirat. Kebahagiaan sejati hadir dari kekuatan iman dan amal saleh, bukan dari banyaknya informasi yang kita konsumsi setiap hari.

Menghindari Penyakit Hati

Rasulullah SAW mengingatkan kita dalam sebuah hadits:

โ€œJauhilah prasangka buruk, karena prasangka buruk adalah ucapan yang paling dusta.โ€ (HR. Al-Bukhari)

Pesan ini sangat mendalam karena prasangka buruk adalah kemaksiatan hati yang seringkali samar dan dianggap remeh. Tanpa sadar, jempol dan pikiran kita bisa tergelincir pada dosa hanya karena asumsi yang tidak berdasar.

Mari kita mulai membatasi konsumsi informasi yang sia-sia. Fokuslah pada hal-hal yang mendekatkan diri kepada Allah. Dengan menjaga apa yang masuk ke dalam pikiran, insya Allah hati akan jauh lebih tenang dan terjaga. (KH. Abdullah Gymnastiar)

Redaktur: Wahid Ikhwan


WAKAFDT.OR.ID

Aa Gym: Menjaga Hati di Riuhnya Media Sosial Read More ยป

Aa Gym: Hidup Ringan Tanpa Belenggu Penilaian Manusia

WAKAFDT.OR.IDDalam riuhnya kehidupan modern yang penuh tuntutan dan pencitraan, banyak orang terjebak dalam perlombaan untuk terlihat “berhasil”. Tak jarang, seseorang memaksakan diri mencicil barang mewah hanya demi satu tujuan: dianggap mampu oleh orang lain.

Padahal, hidup akan terasa jauh lebih ringan jika kita berhenti terikat pada pandangan manusia. Kebebasan sejati lahir saat hati kita tak lagi haus pujian, tak mengejar pengakuan, dan tak menuntut perlakuan istimewa. Di situlah jiwa menemukan kemerdekaannya.

Menjadikan Allah sebagai Pusat Perhatian

Salah satu puncak kebahagiaan adalah ketika kita menggeser pusat perhatian kita; dari manusia, kembali kepada Allah Taโ€™ala semata. Meningkatkan kualitas diri bukan untuk mencari tepuk tangan, melainkan sebagai bentuk ibadah.

Saat kita berbuat baik lalu orang lain tidak peduli atau bahkan meremehkan, kita tidak akan jatuh dalam kekecewaan. Mengapa? Karena penilaian manusia bukanlah tujuan akhir kita.

Fokus pada Proses, Bukan Hasil

Prinsip ini juga berlaku dalam hubungan antarmanusia. Saat kita menasihati pasangan, mendidik anak, atau mengajak orang lain pada kebaikan, lalu mereka belum menggubrisnya, itu bukanlah sebuah kegagalan.

Selama niat kita lurus, cara kita baik, dan dilakukan ikhlas karena Allah, tugas kita sudah selesai. Kita tidak bertanggung jawab atas hasil atau perubahan orang lain, melainkan bertanggung jawab atas kemurnian niat dan kesungguhan usaha kita sendiri.

Ketenangan di Balik Keikhlasan

Sikap ini akan melahirkan ketenangan yang kokoh. Kita tidak lagi mudah kecewa dan tidak terseret arus validasi sosial. Kita tidak perlu membuktikan apa pun kepada siapa pun, karena yang paling utama adalah bagaimana Allah menilai niat di balik setiap amal kita.

Hidup menjadi ringan saat kita berhenti berharap kepada makhluk dan mulai bersandar sepenuhnya kepada Khalik. Mari kita tata kembali hati, bersihkan niat, dan jalani hidup sebagai ibadah, bukan sebagai pertunjukan. (KH. Abdullah Gymnastiar)

Redaktur: Wahid Ikhwan


WAKAFDT.OR.ID

Aa Gym: Hidup Ringan Tanpa Belenggu Penilaian Manusia Read More ยป

Aa Gym: Kalau Berbuat Baik Tidak Ikhlas, Maka Kita Takan Pernah Menikmatinya

WAKAFDT.OR.IDKalau kita berbuat baik dengan ikhlas, maka kita akan merasa nyaman. Sebaliknya jika kita berbuat baik agar dianggap baik, mendapat pujian, penilaian, dan penghormatan, maka tidak akan membuat kita tenang dan kita tidak pernah menikmati kebaikan tersebut.

Kalau pun kita berbuat baik, belum tentu orang lain akan menilai kita. Oleh karenanya jangan pernah berharap agar kita dinilai baik.

Capek-capek kita berbuat baik tetapi orang lain tidak menganggap baik dan kebaikan yang dilakukan juga tidak menjadi pahala, karena niatnya bukan karena Alloh.

Kalau kita berbuat baik ikhlas karena Alloh, meskipun tidak dipuji orang lain maka kita tetap berbuat baik.

Karena kebaikan yang kita lakukan bukan untuk orang lain, tetapi kita berbuat baik karena Alloh Taโ€™ala.

Kita harus senantiasa berhati-hati dalam menjaga kebersihan hati agar hati menjadi lurus dan murni dalam berniat.

Karena Alloh Taโ€™ala hanya menerima amal sholeh seorang hamba yang dilakukan dengan niat ikhlas mengharapkan ridho-Nya semata.

Boleh jadi kita menunaikan rencana niat baik, akan tetapi saat melakukannya hati kita berbelok menjadi berharap sesuatu yang lain selain penghargaan Alloh.

Seperti saat ikut aksi bela Islam beberapa tahun lalu di Jakarta. Mari kita tafakuri kembali, muhasabah kembali apa sebenarnya niat kita.

Kegiatan tersebut adalah kegiatan yang direncanakan sebagai kebaikan, sebagai amal sholeh kita sehingga kita berusaha sekuat tenaga agar semuanya berlangsung tertib dan damai, ada dalam ridho Alloh Taโ€™ala.

Ingat pujian itu sangat melelahkan, karena tidak setiap orang akan memuji kita dan tidak setiap orang akan menyukai kita.

Semoga kita senantiasa menjadi orang yang ikhlas dengan cara melatih diri sekuat mungkin, karena naluri manusia pada dasarnya ingin selalu dipuji.

Sebagian besar manusia banyak yang tenggelam dengan sebuah pujian, sehingga kehilangan orientasi hidup karena menuhankan pujian.

Pada dasarnya setiap pujian itu tidak akan mengubah apapun, begitu juga kalau dicaci tidak akan mengubah apapun, yang jelek tetap jelek dan yang keren tetap keren.

Kalau seseorang kecenderungannya ingin selalu dipuji pasti kecenderungannya menjadi orang yang munafik, karena berbeda dengan tampilan dibelakang dan didepan. Wallahu aโ€™lam bishowab. (KH. Abdullah Gymnastiar)

Redaktur: Wahid Ikhwan


WAKAFDT.OR.ID

Aa Gym: Kalau Berbuat Baik Tidak Ikhlas, Maka Kita Takan Pernah Menikmatinya Read More ยป

Aa Gym: Al-Quran Adalah Jalan Kehidupan Maka Pahami Artinya

WAKAFDT.OR.IDSalah satu kunci istiqomah adalah terus belajar mencari ilmu, dan salah satu sumber ilmu adalah Al-Qurโ€™an.

Oleh karenanya kita harus berupaya meluangkan waktu membaca Al-Quran dan memahami artinya. Sambil juga kita mempelajari bahasa arab agar kita memahami setiap bacaan Al-Quran.

Al-Quran merupakan sumber utama dalam belajar yang diturunkan oleh Alloh melalui malaikat Jibril kepada Rosullulah Shallallahu โ€˜alaihi wassalam, selain mendapat pahala dari membaca Al-Qura, kita juga akan mendapatkan hidayah dan petunjuk karena memahami isi Al-Quran.

Mendengarkan lantunan bacaan Al Quran merupakan amal sholeh dan akan diberikan hidayah juga taufik, sebagaimana yang pernah dialami sahabat Nabi Umar bin Khattab. Alloh Taโ€™ala berfirman yang berbunyi: 

โ€œSungguh, Alquran ini memberi petunjuk ke (jalan) yang paling lurus dan memberi kabar gembira kepada orang mukmin yang mengerjakan kebajikan, bahwa mereka akan mendapat pahala yang besar.โ€ (QS. Al Isra: 9).

Dengan Al Quran, kita bisa mengerti dan memahami hakekat kebatilan serta kejahatan. Pemahaman itu mengantar kepada kita untuk mau dan mampu membersihkan jalan yang akan kita lalui agar terhindar dari kejahatan dan kebatilan tadi.

Dengan demikian, Al Quran menjadi pengontrol pribadi agar selalu mawas diri ketika menjalani kehidupan ini.

Maka penting dalam hidup kita, sehari-harinya selalu diisi bersama Al Quran. Supaya kita istiqomah bersama Al Quran maka berkumpullah dengan orang-orang baik, orang yang punya kesukaan juga dalam membaca Al Quran.

Ibarat bergaul dengan penjual minyak wangi, maka kita juga akan kebagian wanginya, begitu juga kalau bergaul dengan tukang penempa besi maka kita akan mendapatkan percikan apinya.

Maka marilah kita menjadi orang yang senantiasa haus akan ilmu, terutama ilmu Al Quran yang isinya sangat luas dan penuh dengan petunjuk kehidupan. Wallahu aโ€™lam bishowab. (KH. Abdullah Gymnastiar)

Redaktur: Wahid Ikhwan


WAKAFDT.OR.ID

Aa Gym: Al-Quran Adalah Jalan Kehidupan Maka Pahami Artinya Read More ยป

Aa Gym: Belajar dari Rahasia Kokohnya Sebuah Gedung

WAKAFDT.OR.IDPernahkah kita mengamati sebuah gedung pencakar langit yang berdiri tegak dan megah? Di balik keindahannya, tersimpan sebuah pelajaran berharga tentang kerendahan hati.

Gedung itu bisa bertahan dari guncangan bukan karena bahan-bahannya saling berebut perhatian. Bayangkan jika paku, semen, besi, dan batu bata masing-masing ingin menonjolkan diri di permukaan agar dilihat orang.

Tentu bangunan tersebut akan tampak berantakan, tidak estetis, dan yang paling bahaya: kehilangan kekuatannya.

Gedung menjadi kokoh justru karena setiap elemennya ikhlas menjalankan peran masing-masing. Ada yang tersembunyi di dalam beton, ada yang tertanam di fondasi bawah tanah, namun semuanya bekerja sama secara optimal tanpa harus saling pamer.

Filosofi bangunan ini sangat relevan bagi kita sebagai umat Muslim. Di tengah keberagaman kelompok, tokoh, dan potensi yang ada, kekuatan kita terletak pada kesediaan untuk meredam ego.

Jika kita ingin melihat umat ini kuat dan harmoni, kuncinya adalah berhenti merasa paling hebat dibandingkan kelompok atau sesama saudara lainnya. Kita semua adalah bagian dari satu kesatuan besar. Setiap individu memiliki “pos” amal sholehnya masing-masing:

Tidak ada imam jika tak ada makmum yang mengikuti. Setiap peran, sekecil apa pun, memiliki nilai kemuliaan yang sama di mata Allah selama dilakukan dengan ikhlas.

Menjadi “bangunan” yang saling menguatkan. Hal ini sejalan dengan sabda Rasulullah SAW:

โ€œSeorang mukmin dengan mukmin lainnya ibarat sebuah bangunan, yang satu menguatkan yang bagian lainnya.โ€ (HR. Muslim).

Alih-alih menonjolkan siapa yang paling berjasa, hal yang seharusnya kita “pamerkan” adalah:

  • Ukhuwah (Persaudaraan): Ikatan hati yang kuat antar sesama.
  • Kolaborasi: Kerja sama nyata dalam membangun umat dan bangsa.
  • Akhlak Mulia: Menampilkan wajah Islam yang teduh dan santun.

Dengan cara inilah dakwah akan terasa dampaknya. Umat tidak hanya menjadi kuat secara kuantitas, tapi juga hidup terhormat karena kesalehannya, serta mampu menjadi rahmat bagi seluruh alam (rahmatan lil ‘alamin). Wallahu aโ€™lam bishowab. (KH. Abdullah Gymnastiar)

Redaktur: Wahid Ikhwan


WAKAFDT.OR.ID

Aa Gym: Belajar dari Rahasia Kokohnya Sebuah Gedung Read More ยป

Aa Gym: Jangan Jadikan Uang Sebagai “Tuhan” dalam Pikiran

WAKAFDT.OR.IDSering kali kita menjumpai fenomena di mana seluruh sendi kehidupan seseorang seolah-olah hanya berporos pada materi. Sejak fajar menyingsing hingga kembali terpejam, isi kepalanya hanya dipenuhi angka-angka keuntungan.

Obrolan selalu tentang cuan, pertemanan diukur dari asas manfaat finansial, dan setiap langkah selalu dihitung untung-ruginya. Tanpa sadar, uang telah merajai singgasana hati dan pikiran secara total.

Kelimpahan harta yang didapat dengan mudah bukanlah jaminan kecintaan Allah. Bisa jadi, itu adalah bentuk istidrajโ€”sebuah ujian berupa kenikmatan yang justru menjadi awal malapetaka.

Semakin banyak harta terkumpul, semakin terkuras waktu dan energi hanya untuk menghitung dan menjaganya, hingga lupa pada Sang Pemberi Rezeki.

Kekayaan tanpa iman ibarat meminum air laut; semakin ditenggak, semakin haus dahaga yang dirasa. Jika keinginan duniawi tidak dibatasi, ia akan menjadi beban yang menenggelamkan diri sendiri.

Perlu kita sadari bahwa uang hanyalah aksesori atau perhiasan dunia yang bersifat sementara. Ia bukanlah muara akhir dari sebuah perjalanan hidup. Seharusnya, harta yang kita miliki menjadi “kendaraan” untuk mendekatkan diri kepada Allah Taโ€™ala.

Kita menjemput rezeki dengan satu niat mulia: agar materi tersebut dapat digunakan untuk:

  • Berbelanja di jalan Allah (sedekah dan zakat).
  • Mendukung tegaknya nilai-nilai agama.
  • Membangun sarana pendidikan demi kebangkitan umat.

Harta harus berada di genggaman tangan untuk dikelola, bukan di dalam hati untuk dipuja. Hidup kita tidak didedikasikan untuk mengabdi pada uang, melainkan uanglah yang kita manfaatkan sebagai sarana ibadah kepada-Nya.

Sebagaimana firman Allah Taโ€™ala dalam QS. Ali โ€˜Imran: 18:

โ€œAllah menyatakan bahwasanya tidak ada tuhan melainkan Dia (yang berhak disembah), yang menegakkan keadilan. Para malaikat dan orang-orang yang berilmu (juga menyatakan yang demikian itu). Tak ada Tuhan melainkan Dia (yang berhak disembah), yang Maha Perkasa lagi Maha Bijaksana.โ€

Semoga kita senantiasa diberikan kelapangan hati untuk menempatkan dunia pada porsinya dan menjadikan akhirat sebagai tujuan utama. Wallahu aโ€™lam bishawab. (KH. Abdullah Gymnastiar)

Redaktur: Wahid Ikhwan


WAKAFDT.OR.ID

Aa Gym: Jangan Jadikan Uang Sebagai “Tuhan” dalam Pikiran Read More ยป

Aa Gym: Menjemput Ketenangan Hati

WAKAFDT.OR.IDSaudaraku, hal paling berharga dalam hidup bukanlah harta yang melimpah, melainkan kebutuhan batin kita. Dunia yang luas ini tidak akan ada artinya jika Allah Taโ€™ala mencabut ketenangan dari hati kita.

Banyak orang memiliki harta melimpah namun hatinya merasa tidak cukup, sehingga ia justru “disiksa” oleh keinginan yang belum terpenuhi. Ada yang berkedudukan tinggi, namun hidupnya tidak nyaman karena takut kekuasaannya direbut. Tanpa ketenangan, rumah bagus dan kasur empuk sekalipun tidak akan memberikan kebahagiaan sejati.

Kunci Hati yang Nyaman

Mengapa hati sering merasa tidak tenang? Jawabannya terletak pada sandaran kita.

Sandaran yang Benar: Barangsiapa yang hatinya tidak bersandar, berharap, atau bergantung kepada apa pun selain Allah Taโ€™ala, maka Allah akan mencukupi segala kebutuhannya.

Lebih dari Sekadar Finansial: Kebutuhan manusia tidak hanya soal uang. Akal dan hati juga memiliki kebutuhan yang hanya diketahui oleh Sang Pencipta. Memiliki banyak uang sama sekali tidak identik dengan merasa cukup.

Hidup akan terasa sangat nikmat ketika kita berhenti mengharap dari makhluk. Jika kita berbuat sesuatu, cukup Allah yang tahu; apakah orang lain menghargai atau tidak, itu bukan masalah karena penglihatan Allah sudah lebih dari cukup.

Tawakal: Ikhtiar di Dalam Hati

Tawakal bukan berarti berdiam diri. Tawakal adalah bagian dari ikhtiar hati.

Jaminan Rezeki: Sebagaimana sabda Rasulullah SAW, burung yang bertawakal pergi dalam keadaan lapar dan pulang dalam keadaan kenyang karena rezekinya dijamin oleh Allah.

Pelajaran dari Siti Hajar: Beliau ditinggalkan Nabi Ibrahim di lembah gersang tanpa siapa pun. Karena yakin ini perintah Allah, beliau bersandar penuh kepada-Nya, namun tetap melakukan ikhtiar fisik dengan berlari antara Safa dan Marwa sebanyak tujuh kali.

Pertolongan yang Tak Terduga: Menariknya, air Zam-zam tidak keluar di bukit Safa atau Marwa tempat beliau berlari, melainkan di dekat Ka’bah. Ini mengajarkan bahwa Allah melihat setiap ikhtiar kita, namun datangnya pertolongan adalah hak prerogatif Allah.

Harmonisasi Antara Ikhtiar dan Tawakal

Sering kali kita terjebak dalam dikotomi: hanya ikhtiar atau hanya tawakal. Padahal, keduanya harus berjalan beriringan secara maksimal.

Teladan Rasulullah SAW: Meskipun tawakal beliau paling sempurna, saat hendak berperang, Rasulullah tetap menggunakan baju besi dua lapis. Beliau tahu nyawanya dalam genggaman Allah, namun beliau tetap mencontohkan ikhtiar fisik yang maksimal sebagai bentuk ibadah.

“Ikhtiar adalah ibadah kita, tawakal juga ibadah kita. Jangan sampai karena ikhtiar kita lupa tawakal, atau karena tawakal kita meninggalkan ikhtiar.”

Luruskanlah niat bahwa bekerja adalah bagian dari amal saleh. Bekerjalah dengan profesional, namun jangan biarkan hati bergantung pada hasil ikhtiar tersebut. Sempurnakan ibadah, dan biarkan hati tetap tenang bersandar hanya kepada Allah Taโ€™ala. (KH. Abdullah Gymnastiar)

Redaktur: Wahid Ikhwan


WAKAFDT.OR.ID

Aa Gym: Menjemput Ketenangan Hati Read More ยป

Aa Gym: Keutamaan Membantu Sesama

WAKAFDT.OR.IDSuatu ketika, sepeninggal Rasulullah SAW, Abu Hurairah sedang melaksanakan iโ€™tikaf di Masjid Nabawi. Di sudut lain masjid, ia melihat seorang laki-laki yang duduk termenung dengan wajah penuh kesedihan. Tergerak oleh rasa empati, Abu Hurairah menghampirinya dan bertanya tentang keadaannya.

Setelah mengetahui bahwa laki-laki tersebut sedang didera masalah besar, Abu Hurairah menawarkan bantuan, โ€œMari saudaraku, kita selesaikan masalahmu.โ€

Laki-laki itu terkejut dan bertanya, โ€œEngkau memilih untuk membantuku dan meninggalkan iโ€™tikafmu?โ€ Abu Hurairah kemudian menjelaskan alasannya dengan merujuk pada sabda Nabi:

โ€œSungguh, berjalannya seseorang di antara kamu untuk memenuhi kebutuhan saudaranya, adalah lebih baik baginya daripada iโ€™tikaf di masjidku ini selama sebulan.โ€ (HR. Thabrani dan Ibn Asakir).

Peka Terhadap Kesulitan yang Tak Terucap

Pada dasarnya, setiap orang ingin diringankan bebannya dan dimudahkan urusannya. Namun, tidak semua orang memiliki keberanian atau keleluasaan untuk meminta tolong. Ada rasa malu, sungkan, atau keinginan kuat untuk tetap menjaga kehormatan diri (iffah).

Pelajaran penting dari kisah Abu Hurairah adalah tentang kepekaan. Kita diajak untuk:

  • Melihat kesulitan orang lain tanpa perlu menunggu mereka mengeluh.
  • Menawarkan bantuan dengan tulus sebagai bentuk kepedulian sosial.
  • Memahami bahwa membantu sesama memiliki nilai pahala yang sangat besar, bahkan bisa melampaui nilai iโ€™tikaf di Masjid Nabawi.

Tentu saja, hal ini bukan menjadi alasan untuk meremehkan ibadah ritual. Sebaliknya, hadis ini harus menjadi motivasi agar kita berlomba-lomba dalam kebaikan demi mencari rida Allah SWT, sebagaimana firman-Nya:

โ€œMaka berlomba-lombalah (dalam membuat) kebaikan…โ€ (QS. al-Baqarah [2]: 148) dan โ€œDan bersegeralah kamu kepada ampunan dari Tuhanmu…โ€ (QS. Ali Imran [3]: 133).

Keajaiban dalam Kebaikan Sederhana

Kebaikan tidak selalu harus berupa bantuan materi yang besar. Sering kali, sikap ramah dan perhatian kecil sudah cukup untuk menyentuh hati seseorang.

Bayangkan kisah seorang pemuda yang membeli buah dukuh dari seorang ibu penjual tua. Meski harga per kilonya delapan ribu rupiah, pemuda itu membayar lebih dan meminta ibu tersebut menyimpan kembaliannya dengan tutur kata yang sangat sopan. Apa efek yang ditimbulkan?

  • Hadirnya rasa senang dan dihargai di hati penjual tersebut.
  • Terciptanya suasana akrab melalui percakapan yang ramah.
  • Terjalinnya silaturahmi meskipun hanya melalui transaksi singkat.

Rasulullah SAW mengingatkan kita: โ€œOrang beriman itu bersikap ramah, dan tidak ada kebaikan bagi orang yang tidak ramah. Dan sebaik-baik manusia adalah yang paling bermanfaat bagi orang lain.โ€ (HR. Thabrani dan Daruquthni).

Begitu banyak jalan untuk menyenangkan hati sesama. Selama perbuatan sederhana tersebut dilakukan dengan ikhlas, insya Allah akan menjadi amal saleh yang bernilai agung di hadapan Allah SWT. Mari jadikan setiap kesempatan sebagai sarana untuk menebar manfaat. (KH. Abdullah Gymnastiar)

Redaktur: Wahid Ikhwan


WAKAFDT.OR.ID

Aa Gym: Keutamaan Membantu Sesama Read More ยป

Aa Gym: Seni Menjemput Takdir, Mengubah “Bubur” Menjadi Keistimewaan

WAKAFDT.OR.IDSaudaraku, mari kita renungkan sebuah hadis yang menjadi kompas bagi setiap Mukmin dalam menghadapi gelombang kehidupan. Rasulullah SAW bersabda:

โ€œMukmin yang kuat lebih baik dan lebih dicintai oleh Allah daripada Mukmin yang lemah. Namun keduanya memiliki kebaikan. Berlombalah untuk melakukan sesuatu yang bermanfaat bagi dirimu. Mohonlah pertolongan kepada Allah, dan janganlah merasa lemah. Jika engkau terkena suatu musibah, jangan berkata โ€˜Seandainya aku mengerjakan begini, tentu akan menjadi begini dan begitu.โ€™ Tetapi katakanlah, โ€˜Ini adalah takdir Allah. Apa saja yang dikehendaki-Nya pasti terjadi.โ€™ Karena sesungguhnya ucapan โ€˜seandainyaโ€™ membuka pintu masuknya godaan setan.โ€ (HR. Muslim)

Menutup Pintu Masuk Setan

Beberapa waktu lalu, cucu saya tersiram air panas. Kejadian ini mengingatkan saya pada hadis di atas. Saat sesuatu yang tidak diinginkan terjadi, godaan terbesar kita adalah berandai-andai. “Coba tadi gelasnya tidak ditaruh di sana,” atau “Gara-gara dia, jadi begini…”

Ketahuilah Saudaraku, ucapan “seandainya” hanya akan menambah kerumitan. Kita jadi sibuk saling menyalahkan, hati menjadi keruh, dan masalah utama justru terbengkalai. Apa pun kejadiannya, langkah pertama adalah menerima dengan lapang dada sambil berucap: “Ini adalah takdir Allah.”

Menerima “Tanda Terima” dari Allah

Menerima takdir itu mutlak. Umpamanya, ada genteng jatuh mengenai jidat kita. Tidak perlu kita berteriak, “Saya tidak terima!” Sebab, “tanda terima”-nya sudah jelas ada di sana, berupa benjol atau luka yang terpampang nyata. Begitu pula dengan musibah lainnya. Terima dulu kenyataannya tanpa kata “seandainya”, agar hati kita tenang untuk melangkah ke tahap berikutnya.

Filosofi Bubur Ayam: Mengolah Keadaan

Namun, jangan berhenti hanya pada menerima. Ada pepatah mengatakan “nasi sudah menjadi bubur”. Jika itu terjadi, kita tidak perlu membuang bubur tersebut. Tugas kita adalah mencari bumbu, suwiran ayam, kacang, dan kerupuk agar ia menjadi bubur ayam spesial.

Jika tangan melepuh, bawalah ke UGD. Mungkin itu jalan rezeki bagi perawat di sana.

Jika mobil penyok, tidak perlu meratapi bagian yang rusak. Syukuri bagian yang masih utuh, lalu bawa ke bengkel. Mungkin itu rezeki bagi tukang bengkel.

Ambillah hikmah dari setiap kejadian. Yakinlah bahwa Allah Mahamenentukan dan tidak ada takdir yang tertukar. Baik itu rezeki, jodoh, maupun kemuliaan, jika sudah masanya menghampiri, ia tidak akan pernah meleset.

Tauhid yang Bersih: Kunci Ketenangan

Kemuliaan sejati bukan datang dari pujian manusia, melainkan dari ketakwaan yang Allah berikan. Orang yang bertakwa memiliki tauhid yang bersih; ia pasrah dan patuh sepenuhnya kepada Allah. Ia yakin pada sabda Nabi SAW:

โ€œSeorang hamba Allah tidak akan dapat mencapai hakikat iman sehingga dia mengetahui bahwa apa yang menimpanya tidak akan meleset darinya, dan apa yang terlepas darinya tidak akan dapat menimpanya.โ€ (HR. Ahmad & Tabrani)

Tawakal Bukan Berarti Diam

Satu hal yang harus diingat: Ilmu yakin bukan berarti mengabaikan syariat. Meskipun rezeki sudah diatur, kita wajib berikhtiar dengan cara yang halal. Perkara hasilnya belum terlihat, tetaplah tenang karena Allah Maha Melihat perjuangan kita.

Sama halnya dalam berkendara. Kita tetap harus memakai sabuk pengaman dan helm sebagai bentuk ketaatan pada syariat dan aturan. Celaka atau tidak adalah urusan takdir, namun menjalankan prosedur keselamatan adalah amal saleh. Jika takdir buruk tetap menimpa, setidaknya kita dipanggil Allah dalam keadaan sedang menjalankan amal saleh (ikhtiar).

Semoga kita menjadi hamba-hamba yang kuat imannya, yang sanggup melihat keindahan di balik setiap ketetapan-Nya. (KH. Abdullah Gymnastiar)

Redaktur: Wahid Ikhwan


WAKAFDT.OR.ID

Aa Gym: Seni Menjemput Takdir, Mengubah “Bubur” Menjadi Keistimewaan Read More ยป

Aa Gym

Aa Gym: Parkir yang Dicintai Allah

WAKAFDT.OR.IDSaudaraku, di tempat-tempat modern seperti pusat perkantoran atau perbelanjaan, urusan parkir biasanya sudah tertata rapi. Ada garisnya, ada petugasnya, dan ada aturannya. Namun, ujian karakter kita yang sebenarnya justru muncul di tempat-tempat yang tidak ada petugasnya atau yang tatanannya kurang teratur.

Ketika Ego Lebih Besar dari Empati

Mari kita jujur pada diri sendiri. Pernahkah kita datang terlambat ke pengajian di masjid, lalu karena terburu-buru, kita memarkir motor sekenanya? Karena merasa bukan hanya kita yang terlambat, akhirnya barisan kendaraan pun jadi berantakan.

Atau bayangkan saat kita ingin membeli bakso di pinggir jalan menggunakan mobil. Karena sudah tidak sabar ingin memesan, kita parkir asal-asalan. Mungkin tukang baksonya senang karena dagangannya laku, tapi di sisi lain ia sedih melihat jalanan menjadi macet. Orang-orang berkerumun di sana bukan untuk membeli baksonya, tapi karena terjepit macet akibat kendaraan kita.

Mudah Bagi Kita, Menyesakkan Bagi Orang Lain

Saudaraku, mohon maaf, saya tidak sedang menuduh siapa pun. Tulisan ini adalah pengingat bagi siapa saja yang masih merasa parkir sembarangan itu hal biasa. Memang, parkir semena-mena itu terasa “enak” dan praktis. Kita bisa hemat waktu, hemat tenaga, dan mungkin hemat uang parkir. Bahkan kalau ada yang menyenggol, terkadang kita yang lebih galak memelototi mereka.

Namun, mari kita tanyakan pada hati nurani: Bagaimana dengan hak orang yang terhalang jalan hidupnya karena kendaraan kita?

Kita tidak pernah tahu kondisi orang lain di sekitar kita:

  • Mungkin pemilik motor di sebelah kita harus segera pulang karena sedang diare kronis, namun ia terjepit karena motor kita menghimpitnya.
  • Mungkin ada mobil di belakang kita yang sedang membawa ibu yang hendak melahirkan atau pasien yang butuh transfusi darah segera.
  • Mungkin ada pejalan kaki yang terpaksa turun ke badan jalan karena trotoarnya kita pakai untuk parkir, sehingga mereka nyaris tersambar bus atau truk.

Satu lagi yang sering terlupakan: menitipkan kendaraan di masjid tanpa izin. Bayangkan jika pengelola masjid tiba-tiba ada acara mendadak, sementara kendaraan kita terparkir diam di sana tanpa informasi. Berapa banyak tenaga panitia yang terkuras hanya untuk memindahkan kendaraan kita?

Hukum Balasan: Mudahkan, Maka Dimudahkan

Hati nurani kita pasti tahu bahwa mempersulit orang lain akan berdampak pada diri sendiri. Dalam hidup ini, berlaku hukum balasan yang sangat adil dari Allah SWT. Semakin kita mempermudah urusan orang, semakin Allah mudahkan urusan kita. Sebaliknya, semakin kita hobi menyusahkan orang, hidup kita pun akan terasa sempit.

Allah SWT telah mengingatkan dalam kalam-Nya:

โ€œMaka barang siapa mengerjakan kebaikan seberat dzarrah, niscaya dia akan melihat (balasan)nya. Dan barang siapa berbuat kejahatan seberat dzarrah, niscaya dia akan melihat (balasan)nya.โ€ (QS. Az-Zalzalah: 7-8).

Oleh karena itu, mulai sekarang, marilah kita parkirkan kendaraan di tempat yang disukai Allah. Bukan sekadar tempat yang enak bagi kita, tapi tempat yang membuat orang lain tetap merasa nyaman. Tempat yang tidak merugikan orang, tidak menghalangi jalan, dan tidak menciptakan kemacetan.

Mungkin tidak ada orang yang berani menegur kita. Mungkin juga tidak ada yang marah karena rumah yang kita tutupi sedang sepi. Namun, ingatlah bahwa urusan parkir ini adalah urusan kebenaran yang akan dicatat. Tidak ada satu pun perbuatan kitaโ€”sekecil apa punโ€”yang akan luput dari perhitungan Allah kelak. (KH. Abdullah Gymnastiar)

Redaktur: Wahid Ikhwan


WAKAFDT.OR.ID

Aa Gym: Parkir yang Dicintai Allah Read More ยป