WAKAFDT.OR.ID — Sering kali kita menjumpai fenomena di mana seluruh sendi kehidupan seseorang seolah-olah hanya berporos pada materi. Sejak fajar menyingsing hingga kembali terpejam, isi kepalanya hanya dipenuhi angka-angka keuntungan.
Obrolan selalu tentang cuan, pertemanan diukur dari asas manfaat finansial, dan setiap langkah selalu dihitung untung-ruginya. Tanpa sadar, uang telah merajai singgasana hati dan pikiran secara total.
Kelimpahan harta yang didapat dengan mudah bukanlah jaminan kecintaan Allah. Bisa jadi, itu adalah bentuk istidraj—sebuah ujian berupa kenikmatan yang justru menjadi awal malapetaka.
Semakin banyak harta terkumpul, semakin terkuras waktu dan energi hanya untuk menghitung dan menjaganya, hingga lupa pada Sang Pemberi Rezeki.
Kekayaan tanpa iman ibarat meminum air laut; semakin ditenggak, semakin haus dahaga yang dirasa. Jika keinginan duniawi tidak dibatasi, ia akan menjadi beban yang menenggelamkan diri sendiri.
Perlu kita sadari bahwa uang hanyalah aksesori atau perhiasan dunia yang bersifat sementara. Ia bukanlah muara akhir dari sebuah perjalanan hidup. Seharusnya, harta yang kita miliki menjadi “kendaraan” untuk mendekatkan diri kepada Allah Ta’ala.
Kita menjemput rezeki dengan satu niat mulia: agar materi tersebut dapat digunakan untuk:
- Berbelanja di jalan Allah (sedekah dan zakat).
- Mendukung tegaknya nilai-nilai agama.
- Membangun sarana pendidikan demi kebangkitan umat.
Harta harus berada di genggaman tangan untuk dikelola, bukan di dalam hati untuk dipuja. Hidup kita tidak didedikasikan untuk mengabdi pada uang, melainkan uanglah yang kita manfaatkan sebagai sarana ibadah kepada-Nya.
Sebagaimana firman Allah Ta’ala dalam QS. Ali ‘Imran: 18:
“Allah menyatakan bahwasanya tidak ada tuhan melainkan Dia (yang berhak disembah), yang menegakkan keadilan. Para malaikat dan orang-orang yang berilmu (juga menyatakan yang demikian itu). Tak ada Tuhan melainkan Dia (yang berhak disembah), yang Maha Perkasa lagi Maha Bijaksana.”
Semoga kita senantiasa diberikan kelapangan hati untuk menempatkan dunia pada porsinya dan menjadikan akhirat sebagai tujuan utama. Wallahu a’lam bishawab. (KH. Abdullah Gymnastiar)
Redaktur: Wahid Ikhwan
