WAKAFDT.OR.ID — Saudaraku, di tempat-tempat modern seperti pusat perkantoran atau perbelanjaan, urusan parkir biasanya sudah tertata rapi. Ada garisnya, ada petugasnya, dan ada aturannya. Namun, ujian karakter kita yang sebenarnya justru muncul di tempat-tempat yang tidak ada petugasnya atau yang tatanannya kurang teratur.
Ketika Ego Lebih Besar dari Empati
Mari kita jujur pada diri sendiri. Pernahkah kita datang terlambat ke pengajian di masjid, lalu karena terburu-buru, kita memarkir motor sekenanya? Karena merasa bukan hanya kita yang terlambat, akhirnya barisan kendaraan pun jadi berantakan.
Atau bayangkan saat kita ingin membeli bakso di pinggir jalan menggunakan mobil. Karena sudah tidak sabar ingin memesan, kita parkir asal-asalan. Mungkin tukang baksonya senang karena dagangannya laku, tapi di sisi lain ia sedih melihat jalanan menjadi macet. Orang-orang berkerumun di sana bukan untuk membeli baksonya, tapi karena terjepit macet akibat kendaraan kita.
Mudah Bagi Kita, Menyesakkan Bagi Orang Lain
Saudaraku, mohon maaf, saya tidak sedang menuduh siapa pun. Tulisan ini adalah pengingat bagi siapa saja yang masih merasa parkir sembarangan itu hal biasa. Memang, parkir semena-mena itu terasa “enak” dan praktis. Kita bisa hemat waktu, hemat tenaga, dan mungkin hemat uang parkir. Bahkan kalau ada yang menyenggol, terkadang kita yang lebih galak memelototi mereka.
Namun, mari kita tanyakan pada hati nurani: Bagaimana dengan hak orang yang terhalang jalan hidupnya karena kendaraan kita?
Kita tidak pernah tahu kondisi orang lain di sekitar kita:
- Mungkin pemilik motor di sebelah kita harus segera pulang karena sedang diare kronis, namun ia terjepit karena motor kita menghimpitnya.
- Mungkin ada mobil di belakang kita yang sedang membawa ibu yang hendak melahirkan atau pasien yang butuh transfusi darah segera.
- Mungkin ada pejalan kaki yang terpaksa turun ke badan jalan karena trotoarnya kita pakai untuk parkir, sehingga mereka nyaris tersambar bus atau truk.
Satu lagi yang sering terlupakan: menitipkan kendaraan di masjid tanpa izin. Bayangkan jika pengelola masjid tiba-tiba ada acara mendadak, sementara kendaraan kita terparkir diam di sana tanpa informasi. Berapa banyak tenaga panitia yang terkuras hanya untuk memindahkan kendaraan kita?
Hukum Balasan: Mudahkan, Maka Dimudahkan
Hati nurani kita pasti tahu bahwa mempersulit orang lain akan berdampak pada diri sendiri. Dalam hidup ini, berlaku hukum balasan yang sangat adil dari Allah SWT. Semakin kita mempermudah urusan orang, semakin Allah mudahkan urusan kita. Sebaliknya, semakin kita hobi menyusahkan orang, hidup kita pun akan terasa sempit.
Allah SWT telah mengingatkan dalam kalam-Nya:
“Maka barang siapa mengerjakan kebaikan seberat dzarrah, niscaya dia akan melihat (balasan)nya. Dan barang siapa berbuat kejahatan seberat dzarrah, niscaya dia akan melihat (balasan)nya.” (QS. Az-Zalzalah: 7-8).
Oleh karena itu, mulai sekarang, marilah kita parkirkan kendaraan di tempat yang disukai Allah. Bukan sekadar tempat yang enak bagi kita, tapi tempat yang membuat orang lain tetap merasa nyaman. Tempat yang tidak merugikan orang, tidak menghalangi jalan, dan tidak menciptakan kemacetan.
Mungkin tidak ada orang yang berani menegur kita. Mungkin juga tidak ada yang marah karena rumah yang kita tutupi sedang sepi. Namun, ingatlah bahwa urusan parkir ini adalah urusan kebenaran yang akan dicatat. Tidak ada satu pun perbuatan kita—sekecil apa pun—yang akan luput dari perhitungan Allah kelak. (KH. Abdullah Gymnastiar)
Redaktur: Wahid Ikhwan
