WAKAFDT.OR.ID — Suatu ketika, sepeninggal Rasulullah SAW, Abu Hurairah sedang melaksanakan i’tikaf di Masjid Nabawi. Di sudut lain masjid, ia melihat seorang laki-laki yang duduk termenung dengan wajah penuh kesedihan. Tergerak oleh rasa empati, Abu Hurairah menghampirinya dan bertanya tentang keadaannya.
Setelah mengetahui bahwa laki-laki tersebut sedang didera masalah besar, Abu Hurairah menawarkan bantuan, “Mari saudaraku, kita selesaikan masalahmu.”
Laki-laki itu terkejut dan bertanya, “Engkau memilih untuk membantuku dan meninggalkan i’tikafmu?” Abu Hurairah kemudian menjelaskan alasannya dengan merujuk pada sabda Nabi:
“Sungguh, berjalannya seseorang di antara kamu untuk memenuhi kebutuhan saudaranya, adalah lebih baik baginya daripada i’tikaf di masjidku ini selama sebulan.” (HR. Thabrani dan Ibn Asakir).
Peka Terhadap Kesulitan yang Tak Terucap
Pada dasarnya, setiap orang ingin diringankan bebannya dan dimudahkan urusannya. Namun, tidak semua orang memiliki keberanian atau keleluasaan untuk meminta tolong. Ada rasa malu, sungkan, atau keinginan kuat untuk tetap menjaga kehormatan diri (iffah).
Pelajaran penting dari kisah Abu Hurairah adalah tentang kepekaan. Kita diajak untuk:
- Melihat kesulitan orang lain tanpa perlu menunggu mereka mengeluh.
- Menawarkan bantuan dengan tulus sebagai bentuk kepedulian sosial.
- Memahami bahwa membantu sesama memiliki nilai pahala yang sangat besar, bahkan bisa melampaui nilai i’tikaf di Masjid Nabawi.
Tentu saja, hal ini bukan menjadi alasan untuk meremehkan ibadah ritual. Sebaliknya, hadis ini harus menjadi motivasi agar kita berlomba-lomba dalam kebaikan demi mencari rida Allah SWT, sebagaimana firman-Nya:
“Maka berlomba-lombalah (dalam membuat) kebaikan…” (QS. al-Baqarah [2]: 148) dan “Dan bersegeralah kamu kepada ampunan dari Tuhanmu…” (QS. Ali Imran [3]: 133).
Keajaiban dalam Kebaikan Sederhana
Kebaikan tidak selalu harus berupa bantuan materi yang besar. Sering kali, sikap ramah dan perhatian kecil sudah cukup untuk menyentuh hati seseorang.
Bayangkan kisah seorang pemuda yang membeli buah dukuh dari seorang ibu penjual tua. Meski harga per kilonya delapan ribu rupiah, pemuda itu membayar lebih dan meminta ibu tersebut menyimpan kembaliannya dengan tutur kata yang sangat sopan. Apa efek yang ditimbulkan?
- Hadirnya rasa senang dan dihargai di hati penjual tersebut.
- Terciptanya suasana akrab melalui percakapan yang ramah.
- Terjalinnya silaturahmi meskipun hanya melalui transaksi singkat.
Rasulullah SAW mengingatkan kita: “Orang beriman itu bersikap ramah, dan tidak ada kebaikan bagi orang yang tidak ramah. Dan sebaik-baik manusia adalah yang paling bermanfaat bagi orang lain.” (HR. Thabrani dan Daruquthni).
Begitu banyak jalan untuk menyenangkan hati sesama. Selama perbuatan sederhana tersebut dilakukan dengan ikhlas, insya Allah akan menjadi amal saleh yang bernilai agung di hadapan Allah SWT. Mari jadikan setiap kesempatan sebagai sarana untuk menebar manfaat. (KH. Abdullah Gymnastiar)
Redaktur: Wahid Ikhwan
