Wakaf Daarut Tauhiid

Aa Gym: Belajar dari Rahasia Kokohnya Sebuah Gedung

WAKAFDT.OR.IDPernahkah kita mengamati sebuah gedung pencakar langit yang berdiri tegak dan megah? Di balik keindahannya, tersimpan sebuah pelajaran berharga tentang kerendahan hati.

Gedung itu bisa bertahan dari guncangan bukan karena bahan-bahannya saling berebut perhatian. Bayangkan jika paku, semen, besi, dan batu bata masing-masing ingin menonjolkan diri di permukaan agar dilihat orang.

Tentu bangunan tersebut akan tampak berantakan, tidak estetis, dan yang paling bahaya: kehilangan kekuatannya.

Gedung menjadi kokoh justru karena setiap elemennya ikhlas menjalankan peran masing-masing. Ada yang tersembunyi di dalam beton, ada yang tertanam di fondasi bawah tanah, namun semuanya bekerja sama secara optimal tanpa harus saling pamer.

Filosofi bangunan ini sangat relevan bagi kita sebagai umat Muslim. Di tengah keberagaman kelompok, tokoh, dan potensi yang ada, kekuatan kita terletak pada kesediaan untuk meredam ego.

Jika kita ingin melihat umat ini kuat dan harmoni, kuncinya adalah berhenti merasa paling hebat dibandingkan kelompok atau sesama saudara lainnya. Kita semua adalah bagian dari satu kesatuan besar. Setiap individu memiliki “pos” amal sholehnya masing-masing:

Tidak ada imam jika tak ada makmum yang mengikuti. Setiap peran, sekecil apa pun, memiliki nilai kemuliaan yang sama di mata Allah selama dilakukan dengan ikhlas.

Menjadi “bangunan” yang saling menguatkan. Hal ini sejalan dengan sabda Rasulullah SAW:

“Seorang mukmin dengan mukmin lainnya ibarat sebuah bangunan, yang satu menguatkan yang bagian lainnya.” (HR. Muslim).

Alih-alih menonjolkan siapa yang paling berjasa, hal yang seharusnya kita “pamerkan” adalah:

  • Ukhuwah (Persaudaraan): Ikatan hati yang kuat antar sesama.
  • Kolaborasi: Kerja sama nyata dalam membangun umat dan bangsa.
  • Akhlak Mulia: Menampilkan wajah Islam yang teduh dan santun.

Dengan cara inilah dakwah akan terasa dampaknya. Umat tidak hanya menjadi kuat secara kuantitas, tapi juga hidup terhormat karena kesalehannya, serta mampu menjadi rahmat bagi seluruh alam (rahmatan lil ‘alamin). Wallahu a’lam bishowab. (KH. Abdullah Gymnastiar)

Redaktur: Wahid Ikhwan


WAKAFDT.OR.ID