Wakaf Daarut Tauhiid

Aa Gym

Aa Gym: Bekerja sebagai Jalan Menuju Surga

WAKAFDT.O.IDIslam bukan sekadar agama ritual, melainkan sebuah sistem hidup yang sempurna. Di dalamnya terdapat panduan lengkap bagi siapa saja yang ingin meraih keselamatan dan kebahagiaan sejati, baik di dunia maupun di akhirat. Salah satu kunci kebahagiaan tersebut adalah dengan bersikap istiqamah dalam menjalankan setiap petunjuk-Nya.

Sering kali kita keliru memahami konsep ibadah, seolah ia hanya terbatas pada salat, puasa, zakat, atau haji. Padahal, setiap jengkal aktivitas hidup kita—termasuk bekerja—bisa bernilai pahala di sisi Allah Ta’ala. Syaratnya sederhana namun mendalam: dilakukan dengan niat ikhlas demi mencari rida Allah serta tetap berada dalam koridor sunnah Rasulullah ﷺ.

Hal ini ditegaskan dalam Al-Qur’an, di mana Allah Ta’ala memerintahkan kita untuk giat bekerja (QS. At-Taubah: 105) dan segera bertebaran mencari karunia-Nya sesudah menunaikan kewajiban salat (QS. Al-Jumu’ah: 10).

Rasulullah ﷺ adalah sosok manusia paling agung, namun beliau tidak pernah berpangku tangan. Sejarah mencatat kemandirian beliau sejak usia dini, mulai dari menjadi penggembala ternak hingga menjadi pedagang profesional. Kejujuran beliau dalam berbisnis pulalah yang membuatnya dijuluki “Al-Amin” (orang yang terpercaya).

Beliau bersabda:

“Tidaklah Allah mengutus seorang Nabi melainkan dia menggembalakan kambing.” (HR. Bukhari).

Jejak kemandirian ini juga diikuti oleh para nabi terdahulu yang menjadikan pekerjaan mereka sebagai ladang ibadah:

  • Nabi Adam as: Bertani.
  • Nabi Nuh as: Tukang kayu terampil.
  • Nabi Ibrahim as: Berkebun.
  • Nabi Yusuf as: Birokrat/pegawai negara.
  • Nabi Daud as: Pandai besi yang perkasa.

Dalam Di zaman sekarang, banyak orang mengukur kualitas pekerjaan hanya dari besarnya gaji, omzet, atau gengsi jabatan. Namun, standar Islam jauh melampaui angka-angka tersebut. Saat ditanya mengenai pekerjaan terbaik, Rasulullah ﷺ menjawab bahwa itu adalah pekerjaan yang dilakukan dengan tangan sendiri dan perniagaan yang mabrur (diberkahi).

Poin pentingnya bukan pada seberapa banyak materi yang dikumpulkan, melainkan seberapa besar keberkahan (thayyib) yang ada di dalamnya. Hasil kerja keras sendiri merupakan makanan terbaik yang bisa dikonsumsi oleh seorang mukmin, sebagaimana yang dicontohkan oleh Nabi Daud as.

Beruntunglah kita yang masih diberikan potensi dan kesempatan untuk bekerja. Jadikanlah setiap keringat yang menetes sebagai bentuk ikhtiar menjemput rezeki Allah. Dengan meniatkan pekerjaan sebagai ibadah, kita tidak hanya memenuhi kebutuhan perut di dunia, tetapi juga sedang membangun istana di akhirat. Wallahu a’lam bishowab. (KH. Abdullah Gymnastiar)

Redaktur: Wahid Ikhwan


WAKAFDT.O.ID

Aa Gym: Bekerja sebagai Jalan Menuju Surga Read More »

Aa Gym: jangan sombong

Aa Gym: Berusahalah Istiqamah Dalam Kebaikan

WAKAFDT.OR.IDSaudaraku yang kucintai karena Allah Ta’la. Saat kita memutuskan untuk melangkah di jalan ketaatan, maka ada satu “paket” yang harus kita ambil, yaitu keberanian untuk Istiqamah. Jangan sampai kita hanya semangat di awal, menggebu-gebu saat baru bertaubat, tapi layu saat ujian datang menyapa.

Ingat, cirinya kekasih Allah itu hanya dua saja. Pertama, ia punya Keyakinan yang bulat kepada Allah. Kedua, ia menjaga Istiqamah. Orang yang istiqamah ini punya kedudukan yang sangat istimewa di sisi-Nya.

Allah SWT berfirman dalam Surah Fushilat ayat 30: “Sesungguhnya orang-orang yang mengatakan: ‘Tuhan kami ialah Allah’ kemudian mereka meneguhkan pendirian mereka (istiqamah), maka malaikat akan turun kepada mereka dengan mengatakan: ‘Janganlah kamu takut dan janganlah merasa sedih; dan gembirakanlah mereka dengan jannah yang telah dijanjikan Allah kepadamu.’”

Maka, siapa pun yang hatinya kokoh hanya menghamba kepada Allah, tanpa menduakan-Nya dengan apa pun—baik itu harta, jabatan, maupun pujian makhluk—maka Allah akan mengangkatnya menjadi kekasih-Nya. Hadiahnya apa? Hadiahnya adalah Ketenangan.

Coba perhatikan, Sahabatku… Orang yang istiqamah itu, mau situasinya sesulit apa pun, mau ekonominya sedang diuji, mau fisiknya sedang sakit, hatinya tetap teduh. Mengapa? Karena ketenangan itu bukan dari luar.

Ketenangan itu milik Allah. Tidak bisa kita beli di toko, tidak bisa kita rampok dari orang lain. Ketenangan adalah karunia yang Allah “titipkan” langsung ke dalam hati hamba yang terpilih.

Allah berfirman dalam Surah al-Fath ayat 4: “Dialah yang telah menurunkan ketenangan ke dalam hati orang-orang mukmin supaya keimanan mereka bertambah…”

Kalau kita berani istiqamah, kita tidak akan lagi diperbudak oleh urusan duniawi. Kenapa harus takut kekurangan? Kenapa harus takut penilaian orang? Bagi hamba yang istiqamah, dunia ini cuma tempat singgah sebentar saja. Tidak ada yang lebih berharga baginya kecuali ridha Allah. Lillaahi Ta’ala.

Hamba yang punya pendirian mantap seperti ini, insyaAllah, tidak akan mudah “goyang” oleh bisikan setan. Ujian yang datang bertubi-tubi tidak membuatnya tumbang, justru membuatnya semakin kokoh.

Seperti pohon yang akarnya menghujam dalam ke bumi, semakin ditiup angin, akarnya semakin kuat mencengkeram. Kalau sudah begini, Allah sendiri yang akan mengirimkan pertolongan, kecukupan, dan kemudahan dari jalan yang tidak disangka-sangka.

Mari kita latih hati kita untuk berani istiqamah. Kita hanya berani karena Allah, dan untuk Allah semata. Mudah-mudahan, kita semua digolongkan menjadi pengikut Rasulullah SAW yang setia dan memiliki keteguhan hati seperti para sahabat beliau. Wallahu a’lam bishowab. (KH. Abdullah Gymnastiar)

Redaktur: Wahid Ikhwan


WAKAFDT.OR.ID

Aa Gym: Berusahalah Istiqamah Dalam Kebaikan Read More »

Aa Gym: Perbedaan Menjadi Sarana Pererat Persaudaraan

WAKAFDT.OR.IDSahabat-sahabatku yang baik, mari sejenak kita tafakuri firman Allah SWT dalam Surah Al-Hujurat ayat 10: “Sesungguhnya orang-orang beriman itu bersaudara. Sebab itu damaikanlah antara kedua saudaramu itu dan bertawakallah kepada Allah, supaya kamu mendapat rahmat.”

Saudaraku, masyaAllah, takdir Allah menjadikan kita sebagai bagian dari umat Islam yang sangat besar ini. Terutama di negeri kita tercinta, Indonesia, yang menjadi rumah bagi kaum muslimin terbesar di dunia. Tentu, di dalamnya berkumpul jutaan kepala dengan beragam keinginan, beda profesi, beda karakter, beda kebiasaan, juga beda cita-cita.

Tapi ingat ya, di atas segala perbedaan itu, kita punya satu pengikat yang sangat kuat, yaitu Akidah. Kita sama-sama bersujud kepada Allah SWT dan sama-sama mencintai Rasulullah saw. Inilah modal utama kita untuk bersatu.

Kadang kita dipersatukan oleh wilayah, terkadang oleh bahasa dan budaya yang sama. Namun, pengikat yang paling hakiki bagi umat Islam di seluruh penjuru dunia adalah keimanan. Jika iman sudah bicara, maka rasa persaudaraan itu akan muncul dengan sendirinya.

Maka, tanyakan pada diri sendiri: “Apakah hati kita merasa perih saat melihat saudara kita dizalimi?” atau “Apakah ada keinginan kuat untuk membantu saat saudara kita terjepit kesulitan?” Nah, mungkin ada di antara kita yang merasa punya keterbatasan. Ingin bantu, tapi sibuk. Ingin menolong, tapi jaraknya sangat jauh. Memang tidak semua dari kita bisa datang langsung ke lokasi bencana atau tempat konflik. Tapi tenang saja, Allah itu Maha Adil.

Allah membagi peran kepada kita semua. Ada saudara-saudara kita yang episodenya sedang diatur oleh Allah untuk menjadi perantara atau penyambung kebaikan. Mereka yang terjun langsung ke lapangan, merekalah tangan-tangan yang menyambungkan titipan bantuan kita. Inilah indahnya sinergi dan berbagi peran.

Jangan sampai, kita menjadi pribadi yang acuh dan tidak peduli terhadap penderitaan sesama. Ingat, kadar keimanan kita itu tercermin dari sejauh mana rasa empati dan kuatnya tali persaudaraan kita.

Yuk, kita gelorakan semangat saling mengisi dan bekerja sama. Semoga Allah SWT senantiasa mengokohkan ukhuwah di antara kita, sehingga umat ini menjadi umat yang kuat karena saling mencintai karena Allah SWT. Wallahu a’lam bishowab. (KH. Abdullah Gymnastiar)

Redaktur: Wahid Ikhwan


WAKAFDT.OR.ID

Aa Gym: Perbedaan Menjadi Sarana Pererat Persaudaraan Read More »

Aa Gym: Jangan Sibuk dengan Penilaian Makhluk

WAKAFDT.OR.IDUntuk siapa sebenarnya kita berlelah-lelah selama ini? Untuk siapa kita beramal, dan penilaian siapa yang sebenarnya sedang kita kejar?

Ada sebuah kisah yang sangat berharga dalam Tafsir Ibnu Katsir. Suatu ketika, ada seseorang datang mengadu kepada Rasulullah SAW, “Wahai Rasulullah, saya ini kadang beramal niatnya karena Alloh, tapi kok ya di dalam hati masih ada keinginan ingin dilihat orang lain…”

Coba bayangkan, Rasulullah SAW sampai terdiam, tidak langsung menjawab. Mengapa? Karena urusan niat ini urusan yang sangat besar di hadapan Alloh.

Hingga akhirnya Alloh menurunkan jawaban langsung dalam Surah Al-Kahfi ayat 110: “Barangsiapa mengharapkan perjumpaan dengan Robb-nya, maka hendaklah ia melakukan amal salih, dan janganlah ia mempersekutukan seorangpun dalam beribadah kepada Robb-nya.”

Sahabatku, kalau kita ingin hati tenang, ingin hidup bahagia, dan selamat saat berjumpa dengan Alloh nanti, kuncinya cuma satu: Jauhi syirik. Terutama syirik yang halus sekali, yaitu riya’.

Ingin dilihat orang, ingin dipuji, ingin dianggap sholih… waah, ini bahaya sekali, Sahabat. Ini adalah kezaliman yang besar bagi diri kita sendiri.

Coba kita renungkan ya… Mungkin di mata manusia, amal kita kelihatan gunung besarnya. Mungkin saat berbicara, lisan kita begitu fasih, dalilnya lengkap, orang terpukau.

Tapi, kalau di pojok hati yang paling dalam niatnya cuma ingin “dilihat” dan “dipuji” makhluk, innalillahi… sia-sia semuanya. Ibarat debu yang ditiup angin, tidak berbekas, bahkan bisa menyeret pelakunya ke dalam api neraka. Na’udzubillahi min dzalik.

Apa sih hebatnya pujian manusia? Manusia itu cuma makhluk yang lemah. Pujian mereka tidak akan menambah kemuliaan kita sedikit pun di hadapan Alloh. Apa artinya penghargaan dunia kalau di mata Alloh kita sama sekali tidak berharga?

Tapi ingatlah Sahabat, siapa yang sibuk memperbaiki kedudukannya di hadapan Alloh, maka Alloh sendiri yang akan mengangkat derajatnya di hadapan seluruh makhluk-Nya tanpa dia minta. Maasyaa Alloh.

Jadi, yuk kita luruskan lagi niatnya. Mulai sekarang, kalau mau beramal, tidak usah sibuk memikirkan orang lihat atau tidak, orang puji atau tidak. Capek kalau hidup ngejar penilaian makhluk mah.

Cukup sibukkan hati kita dengan satu pertanyaan saja: “Alloh Ridho atau tidak?” Kalau Alloh sudah Ridho, itu sudah lebih dari cukup.

Semoga Alloh menggolongkan kita menjadi hamba-hamba-Nya yang ikhlas, yang amalnya diterima dan menjadi cahaya bagi kita di akhirat kelak. Aamiin yaa Robbal’aalamiin. Alhamdulillah, semoga tulisan ini menjadi pengingat bagi saya dan sahabat semua.

(KH. Abdullah Gymnastiar)

Redaktur: Wahid Ikhwan


WAKAFDT.OR.ID

Aa Gym: Jangan Sibuk dengan Penilaian Makhluk Read More »

Aa Gym: Apa yang Membuat Orang Lain Menjauhi Kita?

WAKAFDT.OR.IDSahabat-sahabatku yang baik, apa kabar hati hari ini? Mari kita sejenak bertafakur, mengapa ya ada orang yang kalau dekat dengan kita rasanya ingin cepat-cepat pergi? Atau mengapa kita rasanya sulit sekali menyatu dengan orang lain?

Coba cek hati kita. Jangan-jangan, hati kita ini sedang membatu. Mari kita selami mutiara hikmah dari Surah Ali-Imran ayat 159. Di sana Alloh Ta’ala berfirman bahwa Rasulullah SAW itu bisa bersikap lemah lembut itu semata-mata karena rahmat Alloh. Kalau beliau itu kasar, hatinya keras, waah… pasti orang-orang sudah lari menjauh.

Rasulullah itu kalau bertemu orang, bukan cuma fisiknya yang hadir, tapi hati dan pikirannya tulus memperhatikan. Nah, ini dia masalahnya. Kita ini seringkali berdekatan secara fisik, tapi jarak hati kita sejauh langit dan bumi. Mengapa? Karena hati kita kurang dilatih.

Lalu bagaimana kiatnya supaya hati kita lembut dan bening? Mari kita simak 4 Kiat Melembutkan Hati ala Manajemen Qolbu:

1. Sibukkan Diri Mengingat Jasa Orang Lain

Penyakit kita ini adalah sering ingat jasa sendiri, tapi lupa jasa orang lain. Coba deh, pikirkan pengorbanan orang-orang yang jadi jalan kita kenal Alloh. Pikirkan guru-guru kita yang tulus membimbing dari jalan yang gelap ke jalan yang terang.

Dulu mungkin kita ini hamba dunia, sombong, atau bahkan terjebak kemunafikan. Tapi lewat doa dan keringat guru-guru kita, kita jadi kenal akhirat. Ingat-ingatlah nikmat iman dan islam ini. Kalau kita sibuk mengingat jasa orang, hati akan merasa kecil dan malu untuk bersikap kasar.

2. Berlatih Empati, Rasakan Perasaan Orang Lain

Hati-hati, Sahabatku. Jangan sampai kita jadi ahli ibadah tapi hatinya keji. Sholat rajin, tapi lisan tajam menyakiti orang. Ingat Surah Qaaf ayat 16-18, Alloh itu lebih dekat dari urat leher kita! Setiap bisikan hati dan ucapan kita, ada Malaikat Roqib dan Atid yang mencatat.

Coba deh, jangan cuma mementingkan perasaan sendiri. Belajarlah merasakan kepedihan orang lain. Boleh jadi ada orang yang tidak dikenal penduduk bumi, tapi namanya harum di langit karena ketulusan hatinya.

3. Senang Mendoakan Orang Lain

Salah satu cara paling ampuh melembutkan hati adalah dengan menebar salam. Tapi salamnya jangan cuma di lisan, harus pakai hati.

Assalamu’alaikum… (Ya Alloh, selamatkanlah saudara saya ini).

Warohmatulloh… (Ya Alloh, sayangi dia).

Wabarokatuh… (Ya Alloh, berkahi hidupnya). Kalau kita tulus menginginkan kebaikan bagi orang lain, mustahil hati kita bisa keras kepada mereka.

4. Ringan Tangan dalam Silaturahim dan Berbagi

Jangan jadi orang yang hobi mengumpulkan harta tapi pelit berbagi. Silaturahimlah, bawa hadiah. Punya uang jangan cuma ditumpuk, tapi jadikan manfaat. Orang yang hatinya keras itu biasanya egois, yang dipikirkan cuma “saya, saya, dan saya”.

Sahabatku, orang yang paling rugi adalah orang yang merasa dirinya sudah baik, sudah berjasa, dan sudah benar. Hati yang seperti ini tidak akan membuat nyaman siapa pun.

Maka, mari kita sibuk memikirkan dosa sendiri, bukan sibuk menghakimi orang lain. Insya Alloh, kalau hati sudah lembut, hidup akan lebih berkah dan kehadiran kita akan menjadi penyejuk bagi sesama.

Alhamdulillah, semoga bahasan singkat ini menjadi jalan hidayah bagi kita semua. Apakah Sahabat ingin saya buatkan rangkuman “Checklist Evaluasi Diri” berdasarkan poin-poin di atas agar lebih mudah dipraktikkan sehari-hari?

(KH. Abdullah Gymnastiar)

Redaktur: Wahid Ikhwan


WAKAFDT.OR.ID

Aa Gym: Apa yang Membuat Orang Lain Menjauhi Kita? Read More »

Aa Gym: Menghadapi Aib, Antara Penilaian Makhluk dan Kasih Sayang Khaliq

WAKAFDT.OR.IDSahabat-sahabatku sekalian. Pernah tidak kita merasa gelisah, hati tidak tenang, hanya karena takut “borok” kita ketahui orang lain? Jujur saja, itu manusiawi.

Kita semua punya rasa malu, tidak mau kekurangan atau masa lalu kita yang kelam jadi tontonan orang. Rasanya kita ingin sekali menutup rapat-rapat pintu rahasia itu, supaya tetap terlihat “shaleh” atau “baik” di mata manusia.

Tapi coba kita tanya ke hati nurani yang paling dalam: Kalau aib itu akhirnya terbongkar, itu musibah atau karunia?

Fokus pada Penilaian Siapa?

Ternyata, masalahnya sering kali ada pada fokus kita. Kita ini terlalu sibuk memikirkan “Apa kata orang?” tapi lupa bertanya “Apa kata Allah?”. Kita takut dijauhi manusia, tapi tidak takut dijauhi rahmat Allah.

Ingatlah sahabatku, tidak ada manusia yang sempurna. Hanya para Nabi yang maksum, yang dijaga langsung oleh Allah dari dosa. Kita? Kita ini cuma hamba yang banyak salahnya.

Kalau sekarang kita masih terlihat terhormat, itu bukan karena kita hebat, tapi karena Allah masih sangat baik menutupi aib-aib kita. Kalau saja Allah buka satu saja kotoran hati kita, mungkin tidak akan ada yang mau duduk di dekat kita hari ini.

Allah Maha Menyaksikan

Hadirkan dalam hati, Allah itu Al-Alim, Maha Mengetahui. Mau kita sembunyikan di lubuk hati yang paling gelap sekalipun, Allah tahu. Setiap maksiat yang kita lakukan, tidak ada yang luput dari pengawasan-Nya.

Maka, daripada capek-capek bersandiwara di depan manusia, lebih baik kita sibuk memperbaiki diri di hadapan Allah Ta’ala.

Lalu, bagaimana kalau dosa kita sudah segunung? Bagaimana kalau aib kita sudah terlanjur banyak?

Sahabatku, jangan putus asa. Allah itu Maha Baik. Selama nafas masih ada, pintu taubat itu terbuka lebar, selebar-lebarnya.

Allah sudah berjanji dalam Al-Qur’an, siapa pun yang pernah berbuat zalim pada dirinya sendiri lalu mau sujud memohon ampun, Allah akan terima. Dia Maha Pengampun, Maha Penyayang.

  • Jangan tunda lagi: Kita tidak tahu kapan jatah usia kita habis.
  • Segera bertaubat: Sebelum menyesal di saat waktu sudah berhenti.

Mari kita manfaatkan sisa umur ini untuk benar-benar pulang kepada-Nya. Jangan sampai kita mati dalam keadaan membawa topeng di hadapan manusia, tapi membawa tumpukan dosa di hadapan Allah. Wallahu a’lam bishowab.

(KH. Abdullah Gymnastiar)

Redaktur: Wahid Ikhwan


WAKAFDT.OR.ID

Aa Gym: Menghadapi Aib, Antara Penilaian Makhluk dan Kasih Sayang Khaliq Read More »

Aa Gym: Allah Maha Berkehendak, Apapun Bisa Terjadi

WAKAFDT.OR.ID – Alhamdulillah, segala puji hanya milik Alloh Ta’ala, tidak ada yang wajib kita sembah selain Alloh dan tidak ada yang kuasa memenuhi segala kebutuhan kita kecuali Alloh Ta’ala.

Karena sesungguhnya Alloh yang maha berkehendak atas diri kita, kalau Alloh sudah berkehendak maka pasti jadi. Tidak ada yang mustahil bagi Alloh.

Kalau Alloh Ta’ala menghendaki suatu kebaikan kepada makhluk atau hambanya, maka tidak ada seorang pun dan tidak ada suatu hal apapun yang bisa menghalanginya.

Begitu juga sebaliknya, kalau Alloh menghendaki keburukan menimpa makhluk atau hambanya, maka tidak ada siapapun dan apapun yang bisa menghalanginya.

وَاِنْ يَّمْسَسْكَ اللّٰهُ بِضُرٍّ فَلَا كَاشِفَ لَهٗ ٓاِلَّا هُوَ ۚوَاِنْ يُّرِدْكَ بِخَيْرٍ فَلَا رَاۤدَّ لِفَضْلِهٖۗ يُصِيْبُ بِهٖ مَنْ يَّشَاۤءُ مِنْ عِبَادِهٖ ۗوَهُوَ الْغَفُوْرُ الرَّحِيْمُ

“Dan jika Allah menimpakan suatu bencana kepadamu, maka tidak ada yang dapat menghilangkannya kecuali Dia. Dan jika Allah menghendaki kebaikan bagi kamu, maka tidak ada yang dapat menolak karunia-Nya. Dia memberikan kebaikan kepada siapa saja yang Dia kehendaki di antara hamba-hamba-Nya. Dia Maha Pengampun, Maha Penyayang.” (QS. Yunus: 107)

Sama halnya seperti ibadah haji dan umroh, orang yang berangkat haji atau umroh tidak harus orang-orang yang berstatus kaya atau memiIiki banyak uang.

Akan tetapi pada kenyataannya banyak orang yang dalam keadaan yang pas-pasan, tidak memiliki harta yang banyak justru bisa berangkat dan menyelesaikan semua rangkaian ibadah tersebut.

Kenapa ini bisa terjadi? Karena memang jika Alloh telah berkehendak maka apa pun dapat terjadi.

Alloh buka dengan berbagai cara, ada dengan didanai oleh orangtua atau anaknya, atau temannya dan berbagai cara lainnya.

Ada juga yang diundang oleh pihak pemerintah atau instasnsi tempat ia bekerja karena sebuah prestasinya.

Kalau kita lihat, bukankah tidak sedikit juga orang yang memiliki keberlimpahan harta kekayaan tapi tampak sulit sekali untuk menunaikan umroh dan haji karena berbagai macam alasan.

Oleh karenanya, hadirkan keyakinan penuh kepada Alloh yang Maha Kuasa dan Maha Berkehendak atas segala sesuatu.

Kalau Alloh menghendaki sesuatu terjadi, maka tidak ada satu pun yang bisa menghalangi hal tersebut.

Semoga dengan mengenal Alloh yang Maha Berkehendak semakin juga menambah keimanan kita kepada-Nya. Wallahu a’lam bishowab. (KH. Abdullah Gymnastiar)

Redaktur: Wahid Ikhwan


WAKAFDT.OR.ID

Aa Gym: Allah Maha Berkehendak, Apapun Bisa Terjadi Read More »

Keteladanan dalam Berkuda: Kunjungan Inspiratif Aa Gym ke SMP DTBS Putri

WAKAFDT.OR.ID | BANDUNG — Suasana di SMP Daarut Tauhiid Boarding School (DTBS) Putri pada Kamis pagi (11/12/2025) terasa sangat istimewa.

Kehadiran KH. Abdullah Gymnastiar, atau yang akrab disapa Aa Gym, membawa energi positif dan kesejukan bagi seluruh penghuni sekolah melalui kegiatan silaturahim yang penuh makna.

Ada pemandangan unik dalam kunjungan kali ini. Beliau hadir dengan menunggangi kuda, menunjukkan perpaduan antara keberanian dan ketenangan di atas pelana.

Kehadiran ini tak pelak menjadi pusat perhatian para santri yang menyaksikan langsung sosok teladan mereka mempraktikkan sunnah dalam berkuda.

Dalam kesempatan tersebut, Aa Gym berbagi wawasan mengenai keutamaan (fadhilah) berkuda. Beliau menekankan bahwa aktivitas ini bukan sekadar aktivitas fisik atau olahraga semata, melainkan sebuah metode untuk:

  • Melatih mental: Membangun keberanian dan keteguhan hati.
  • Keseimbangan Jiwa: Menjaga ketenangan di bawah tekanan.
  • Kepemimpinan: Mengasah kemampuan mengendalikan diri serta bertawakal sepenuhnya kepada Allah SWT.

Antusiasme para santri terlihat jelas saat mereka menyimak penjelasan beliau. Mereka belajar bahwa karakter tangguh dan adab yang baik tidak hanya lahir dari teori di kelas, tetapi juga dari latihan yang disiplin.

Fitri Iswari, selaku Staf Humas Media dan Desain SMP DTBS Putri, memberikan apresiasinya terhadap momen ini. Ia menyebutkan bahwa kehadiran Aa Gym membuktikan bahwa metode pendidikan yang paling efektif adalah melalui keteladanan langsung (uswah hasanah).

Selain itu, hal itu menjadi pentingnya santri menyadari bahwa mereka belajar di atas aset wakaf, sehingga semangat belajar harus dibarengi dengan rasa syukur dan tanggung jawab besar kepada para wakif (pemberi wakaf).

Kunjungan ini diharapkan mampu memperkokoh nilai-nilai tauhid bagi para santri. Melalui pengalaman berharga di pagi itu, mereka diajarkan bahwa untuk menjadi pribadi istikamah di atas bumi wakaf ini, diperlukan keberanian untuk memulai dan ketenangan jiwa untuk terus bertahan di jalan kebaikan. (WIN)

Redaktur: Wahid Ikhwan


WAKAFDT.OR.ID

Keteladanan dalam Berkuda: Kunjungan Inspiratif Aa Gym ke SMP DTBS Putri Read More »

Aa Gym: Melatih Diri Menjadi Orang Baik

WAKAFDT.OR.IDSegala puji hanya milik Alloh yang melimpahkan hidayah dan kebaikan kepada kita sebagai hamba-hambanya. Alloh Maha Baik, mencintai kebaikan, dan memerintahkan kita untuk senantiasa berbuat kebaikan.

وَاَنْفِقُوْا فِيْ سَبِيْلِ اللّٰهِ وَلَا تُلْقُوْا بِاَيْدِيْكُمْ اِلَى التَّهْلُكَةِ ۛ وَاَحْسِنُوْا ۛ اِنَّ اللّٰهَ يُحِبُّ الْمُحْسِنِيْنَ

“Dan infakkanlah (hartamu) di jalan Allah, dan janganlah kamu jatuhkan (diri sendiri) ke dalam kebinasaan dengan tangan sendiri, dan berbuatbaiklah. Sungguh, Allah menyukai orang-orang yang berbuat baik.” (QS. Al Baqarah: 195)

Sesungguhnya Alloh yang Maha Baik menciptakan alam semesta ini beserta isinya, dalam bentuk yang sebaik-baiknya.

Alloh mencintai kebaikan dan mencintai hamba-hambanya yang berbuat baik. Begitu juga Alloh menciptakan diri kita, secara jasmani maupun rohani dalam bentuk yang sebaik-baiknya.

Oleh karenanya, sebagai orang yang beriman kepada Alloh Ta’ala, alangkah beruntungnya kita jika kehidupan ini kita isi dengan hal-hal yang penuh dengan kebaikan.

Alloh menjadikan atau meciptakan kita sebagai makhluk yang paling sempurna di antara makhluk-makhluk yang lain.

Kesempurnaan tersebut merupakan salah satu kemampuan kita untuk berpikir dan memilih sesuatu hal yang baik.

Maka dalam hidup ini sudah sepatutnya kita memilih yang baik, membuat Alloh juga juga ridho pada kebaikan yang kita lakukan.

Mau tidak mau, disadari atau tidak, sebenarnya dalam hidup ini kita akan berjumpa dengan berbagai hal-hal yang bisa kita pilih.

Kita bisa memilih lisan kita untuk mengucapkan hal-hal baik yang disukai oleh Alloh, bukan sebaliknya mengucapkan hal-hal yang buruk sesuatu yang dibenci oleh Alloh Ta’ala.

Begitu juga dengan tangan kita, tangan ini bisa dipergunakan dengan pilihan yang baik, tidak melakukan hal-hal mungkar, tetapi digunakan untuk hal-hal yang ma’ruf.

Saudara sekalian, setan tidak akan pernah berhenti dan akan terus berupaya untuk menggoda kita agar terjerumus pada keburukan dan neraka.

Boleh jadi sangat berat rasanya kita membiasakan diri untuk memilih yang Alloh sukai.

Akan tetapi, jangan mudah menyerah, teruslah bermujahadah, karena kesungguhan jika kita memilih hal yang baik-baik maka akan menjadi catatan amal sholeh bagi kita di hadapan Alloh Ta’ala.

Semoga kita dimudahkan dan diistiqomahkan dalam berbuat kebaikan, dengan cara melatih diri secara perlahan atau bertahap. Wallahu a’lam bishowab. (KH. Abdullah Gymnastiar)

Redaktur: Wahid Ikhwan


WAKAFDT.OR.ID

Aa Gym: Melatih Diri Menjadi Orang Baik Read More »

Aa Gym: Memaknai Sifat Alloh Maha Besar

WAKAFDT.OR.IDSegala puji hanya milik Alloh Ta’ala. Semoga Alloh menggolongkan kita sebagai hamba yang selalu istiqomah menjaga kebeningan hati. Sholawat dan salam juga semoga tercurah kepada baginda Nabi Muhammad Shallallahu ‘alaihi wasalam.

Alloh Ta’ala berfirman: “Dan katakanlah: “Segala puji bagi Alloh yang tidak mempunyai anak dan tidak mempunyai sekutu dalam kerajaan-Nya dan Dia bukan pula hina yang memerlukan penolong dan agungkanlah Dia dengan pengagungan yang sebesar-besarnya.” (QS. Al Isro: 111)

Kalau kita menunaikan shalat lima waktu lima kali sehari, maka berapa banyak kita mengucapkan takbir? Tentu dalam sehari saja begitu sering kita mengucapkan takbir, Allohu Akbar, Alloh Maha Besar.

Apalagi di bulan Ramadhan kemarin tentu lebih sering lagi kita menggemakan takbir. Ditambah juga dengan hari raya Idul Fitri dan hari raya idul adha.

Ketika kita bertakbir, misalnya takbir dalam shalat, maka sesungguhnya kita sedang mengakui betapa kecil dan tidak berdayanya diri kita ini, dan Maha Besar Alloh lagi Maha Kuasa Alloh.

Kita ini tiada daya, tiada upaya, tiada kekuatan kecuali Alloh yang memberikan. Setiap helaan nafas kita tidak terjadi kecuali atas izin Alloh.

Jika kita bertakbir sedangkan dalam hati kita masih ada perasaan sombong atau diri ini besar, merasa besar karena pangkat, merasa besar karena jabatan, merasa besar karena gelar atau merasa besar karena harta kekayaan, menganggap besar karena pengalaman, menganggap besar karena popularitas, maka pada saat itu juga lisan dengan hati kita tidak sejalan.

Jika lisan dan hati tidak sejalan atau bersebrangan maka inilah tanda yang bahaya.  Maka, perlu melatih hati kita untuk mengikuti apa yang lisan kita katakan.

Latihlah juga lisan kita untuk mengucapkan apa yang hati niatkan. Jadikanlah keduanya satu kesatuan yang saling menguatkan ketika berdzikir dengan takbir.

Bertakbirlah sambil mengakui di dalam hati bahwa semua yang kita punya hakikatnya hanya titipan dan semua milik Alloh Ta’ala dan akan kembali ke Alloh. Wallahu a’lam bishowab. (KH. Abdullah Gymnastiar)

Redaktur: Wahid Ikhwan


WAKAFDT.OR.ID

Aa Gym: Memaknai Sifat Alloh Maha Besar Read More »