Wakaf Daarut Tauhiid

Artikel

Bisakah Wakaf Atas Nama Orangtua yang Sudah Wafat?

WAKAFDT.OR.IDAda banyak orang yang selama hidupnya tidak punya kesempatan untuk berbakti kepada kedua orangtuanya karena telah meninggal dunia. Namun, bukan berarti kesempatan untuk berbakti kepada orangtua sudah tidak ada lagi. Bakti kepada orangtua dalam bentuk amal bisa dilakukan dengan cara wakaf atas nama orangtua.

Wakaf atas nama orangtua adalah kesempatan emas bagi anak untuk berbakti kepada orangtuanya. Bahkan bakti seorang anak sangat ditunggu oleh orangtua usai meninggal, baik bakti dalam bentuk doa maupun amal.

Karena berbakti dengan cara berwakaf akan mendapatkan pahala yang terus mengalir, sebagaimana disebutkan dalam hadits Nabi yang berbunyi:

“Jika anak cucu Adam wafat, maka terputuslah semua amal perbuatannya, kecuali tiga hal. Sedekah jariyah (wakaf), ilmu yang bermanfaat, dan anak saleh yang mendoakan orangtuanya.” (HR. Muslim)

Sedekah jariyah seperti wakaf, pada dasarnya memberikan kepemilikan harta agar digunakan bagi kepentingan umat. Sehingga pahala dari wakaf akan terus mengalir, selama aset wakafnya dimanfaatkan dengan baik.

Wakaf adalah amalan yang sangat dianjurkan oleh Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam. Seperti wakafnya Utsman bin Affan Radiyallah ‘anhu di Madinah. Kemudian wakaf dari para Sahabat Nabi lainnya, dalam jumlah yang sangat besar.

Begitu juga dengan Umar bin Khattab Radiyallahu ‘anhu yang mewakafkan setengah hartanya karena Allah, bahkan Abu Bakar Shiddiq Radiyallah ‘anhu mewakafkan seluruh hartanya di jalan Allah.

Jadi, wakaf merupakan sebuah konsep dalam Islam yang diharapkan dapat memberi solusi bagi permasalahan umat, lembaga Wakaf Daarut Tauhiid misalnya, menfasilitasi program wakaf bagi para jamaah, mulai dari wakaf masjid, Al-Qur’an, wakaf uang, wakaf produktif, dan lainya.

وَوَصَّيْنَا الْاِنْسَانَ بِوَالِدَيْهِۚ حَمَلَتْهُ اُمُّهٗ وَهْنًا عَلٰى وَهْنٍ وَّفِصَالُهٗ فِيْ عَامَيْنِ اَنِ اشْكُرْ لِيْ وَلِوَالِدَيْكَۗ اِلَيَّ الْمَصِيْرُ

“Dan Kami perintahkan kepada manusia (agar berbuat baik) kepada kedua orang tuanya. Ibunya telah mengandungnya dalam keadaan lemah yang bertambah-tambah, dan menyapihnya dalam usia dua tahun. Bersyukurlah kepada-Ku dan kepada kedua orang tuamu. Hanya kepada Aku kembalimu.” (QS. Luqman: 14)

Artinya adalah, amal yang mampu menembus ruang dan waktu. Wakaf atas nama orangtua adalah hadiah yang sangat istimewa, karena kita melakukannya untuk orang yang sangat kita cintai.

Jadi kita bisa berwakaf untuk pesantren yang akan dibangun, sekolah, rumah sakit, bangunan yang akan dimanfaatkan oleh orang banyak dan lainnya.

Wakaf atas nama orangtua bisa menjadi jalan pintas bagi seorang anak yang ingin membahagiakan orangtuanya kelak diakhirat, karena tabungan amalnya akan semakin banyak setiap ada yang merasakan wakafnya. Wallahu a’lam bishowab. (Arga/Wahid)

Redaktur: Wahid Ikhwan


WAKAFDT.OR.ID

Bisakah Wakaf Atas Nama Orangtua yang Sudah Wafat? Read More »

Aa Gym: Pentingnya Akhlak Mulia Bagi Manusia

WAKAFDT.OR.IDPentingnya akhlak mulia bagi manusia, Alloh Ta’ala mengutus Nabi Muhammad Shallallohu ‘alaihi wasallam untuk mendakwahkan akhlak mulia kepada seluruh umat manusia.

Tiada pernah bisa akhlak mulia hadir pada diri seseorang kecuali lahir dari tauhiid yang bersih, iman yang kokoh kepada Alloh Ta’ala.

Rasulullah Shallohu ‘alaihi wasallam bersabda dalam sebuah hadits: “Sesungguhnya aku diutus untuk menyempurnakan akhlak mulia.” (HR. Bukhari)

Ada orang yang sangat keras bekerja, tidak ada hari baginya melainkan diisi dengan bekerja, ibaratnya kaki jadi kepala dan kepala jadi kaki, banting tulang bekerja dengan keras.

Ada juga orang yang sangat tekun belajar hingga menjadi orang yang cerdas, lulus mendapatkan gelar S1, kemudian melanjutkan S2, dan melanjutkan gelar S3. Tentu semua ini adalah sesuatu yang baik.

Akan tetapi, ada juga orang yang bekerja keras, belajarnya rajin sekali, ikhtiarnya maksimal, namun tidak dilandasi dengan akhlak yang mulia.

Maka tidak heran kalau kita melihat ada orang yang sukses, menikmati penghasilan tinggi karena pekerjaannya, namun akhlaknya tidak jujur, tega menipu orang lain demi keuntungan yang besar.

Disisi lain ada pula orang-orang yang sukses meraih banyak gelar, namun kepintarannya ia manfaatkan untuk memperdaya orang lain, membodohi orang-orang yang miskin dan bodoh.

Kemudian apa sebenarnya arti karir tinggi bagi diri? Penghasilan yang besar, gelar yang banyak, kalau tidak punya akhlak yang baik.

Semua itu sama sekali tidak akan memberi manfaat dan keberkahan untuk diri, sesungguhnya inilah yang kita butuhkan sebagai manusia.

Bukan sekedar tingginya pangkat atau jabatan, bukan sekedar besarnya penghasilan, bukan sekedar berbicara tentang raihan gelar, melainkan keberkahan dan manfaatnya. Tentunya akhlak mulia merupakan jalan meraih keberkahan.

Rasullullah Shallallohu ‘alaihi wasallam bersabda: “Kaum mukminin yang paling sempurna imannya adalah yang paling baik akhlaknya di antara mereka..” (HR. Tirmidzi)

Oleh karenanya, marilah kita bersama-sama senantiasa memupuk keimanan di hati masing-masing, selalu memeriksa ke dalam hati agar senantiasa lurus, sehingga kita termasuk orang-orang yang berakhlak mulia dan mendapatkan limpahan berkah dari Alloh Ta’ala. (KH. Abdullah Gymnastiar)

Redaktur: Wahid Ikhwan


WAKAFDT.OR.ID

Aa Gym: Pentingnya Akhlak Mulia Bagi Manusia Read More »

Cara Nabi Menegur Sahabatnya yang Berbuat Salah

WAKAFDT.OR.IDDalam Islam, kita diajarkan bagaimana adab menegur teman atau orang lain jika melakukan kekeliruan. Hal tersebut agar dalam penyampaiannya tidak sampai membuat orang yang kita tegur merasa tersinggung.

Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam menegur sahabat dengan tidak menyakiti hati sahabatnya. Beliau berulangkali menegur sahabatnya dengan menyindir hingga ia mengakui kesalahannya.

Diriwayatkan dari Khawat bin Jubair, bahwa ia dan sahabat lainnya bersama Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam pernah berhenti di Marr adz-Dzahran.

Kemudian Khawat keluar dari tendanya dan tiba-tiba melihat para wanita yang sedang berbincang-bincang.

Wanita-wanita itu membuatnya terpesona, lalu ia pun segera kembali ke tenda dan mengambil tasnya.

Kemudian ia menggunakan pakaian yang bagus untuk dipakai, lalu ia menghampiri mereka dan duduk bersamanya.

Tiba-tiba Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam keluar dari tendanya, lalu bertanya, “Hai Abu ‘Abdullah, apa yang membuatmu duduk-duduk bersama mereka?”

Ketika Khawat melihat Rasulullah, ia merasakan kewibawaan beliau. Dengan rasa panik ia menjawab, “Wahai Rasulullah, untaku lepas. Aku sedang mencari tali kekangnya, tetapi untaku pergi maka aku pun mengikutinya.”

Lalu beliau melemparkan selendangnya pada Khawat dan masuk ke antara pepohonan arok (pohon arok merupakan pohon yang batangnya digunakan untuk siwak).

Khawat seperti bisa melihat putih perut beliau di antara hijaunya pepohonan Arok. Lalu, beliau pun membuang hajat kemudian berwudhu.

Tiba-tiba, Rasullullah kemudian bertanya kepada Khawat, “Hai Abu Abdullah, bagaimana kabar untamu yang lepas?”

Kemudian Rasulullah dan para sahabat termasuk Khawat pergi melanjutkan perjalanan. Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam tidaklah mengikuti Khawat di sepanjang perjalanan melainkan dengan berkata, “Assalamu‘alaikum, hai Abu Abdullah, bagaimana kabar untamu yang lepas?”

Saat Khawat merasakan ketidaknyamanan itu, ia segera memasuki kota Madinah dan menjauhi masjid untuk menghindari duduk bersama Rasulullah shallallahu ‘alaihi wassalam.

Setelah beberapa saat berlalu ia melihat masjid sedang kosong, maka ia pun masuk ke masjid dan menunaikan shalat.

Tiba-tiba Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wassalam keluar dari salah satu kamarnya, kemudian shalat dengan singkat.

Khawat berusaha menghindar dengan cara memperpanjang shalatnya dengan harap Nabi akan pergi dan meninggalkannya.

Lalu Nabi berkata, “Panjangkanlah (shalatmu) sesukamu, hai Abu Abdullah. Aku akan terus di sini hingga kamu pergi.”

Dalam hati Khawat berkata, “Demi Allah, sungguh aku meminta maaf kepada Rasulullah dan menyenangkan hati beliau (seusai shalat).”

Ketika beliau bertanya, “Assalamu ‘alaikum, hai Abu Abdullah, bagaimana kabar untamu yang lepas?”

Khawat pun menjawab, “Demi Dzat yang mengutusmu dengan kebenaran, unta tidak pernah lepas sejak aku masuk Islam.”

Lantas Nabi berkata, “Semoga Allah merahmatimu, semoga Allah merahmatimu, semoga Allah merahmatimu.” Setelah itu beliau tidak pernah lagi membahas tentang unta tersebut. (HR. Ath-Thabrani).

Begitulah cara Rasullulah menegur sahabatnya jika berbuat salah. Pada dasarnya Rasul telah mengetahui kesalahan sahabatnya, namun Nabi tidak langsung menegurnya melainkan dengan cara bertanya, hingga sahabat mengakui kesalahan dan memperbaikinya. (Wahid/Arga)

Redaktur: Wahid Ikhwan


WAKAFDT.OR.ID

Cara Nabi Menegur Sahabatnya yang Berbuat Salah Read More »

Pembangunan Rumah Sakit Menggunakan Dana Wakaf

WAKAFDT.OR.ID Kebutuhan masyarakat akan kesehatan samakin hari semakin tinggi. Hal tersebut menyebabkan pembangunan rumah sakit di berbagai daerah semakin banyak.

Dana yang digunakan untuk pembangunan rumah sakit memiliki sumber yang berbeda-beda. Ada yang dibangun menggunakan dana pemerintah, swasta, ada pula dengan dana hibah dan sebagainya.

Rumah sakit merupakan fasilitas umum yang sangat penting bagi masyarakat. Namun apakah boleh melakukan pembangunan rumah sakit menggunakan dana wakaf?

Dalam sejarah Islam telah mencatat beberapa wakaf rumah sakit yang telah memberikan banyak manfaat bagi masyarakat pada masanya. Tiga di antaranya ialah RS Al-Adaudi (Baghdad), RS An-Nuri (Damaskus), dan RS Al-Mansuri (Kairo).

Dalam proses pembangunannya tentu dibutuhkan biaya untuk mewujudkannya. Oleh karenanya semua pihak harus terlibat dalam membangun sebuah rumah sakit yang memadai dan bisa dijangkau oleh masyaraakat umum.

Bagi masyarakat muslim, ternyata dapat membantu berkontribusi dalam membangun rumah sakit  melalui program atau konsep wakaf.

Wakaf adalah amalan jariyah yaitu memberikan harta untuk kepentingan umum, dengan harapan mendapatkan pahala dari Allah Ta’ala.

Salah satu dampak yang harus ada dari konsep wakaf yaitu dapat memberi manfaat besar kepada masyarakat secara luas.

Manfaat wakaf untuk rumah sakit adalah bentuk wakaf yang dilakukan dengan mewakafkan bangunan rumah sakit atau sebagian asetnya.

Konsep wakaf tersebut adalah untuk meningkatkan aksesibilitas pelayanan kesehatan masyarakat yang sangat membutuhkan, terutama bagi masyarakat yang kurang mampu.

Rumah sakit yang diwakafkan berfungsi menyiapkan atau menyediakan beragam layanan medis dan pengobatan untuk masyarakat, tanpa memandang agama, status sosial atau kekayaan, dan ras.

Melalui program wakaf, umat Islam berarti telah berkontribusi dalam membangun dan menjaga sarana kesehatan secara berkelanjutan, hingga manfaat dapat dirasakan oleh generasi-generasi yang akan datang.

Konsep wakaf ini merupakan semangat gotong royong dan rasa peduli sosial dalam agama Islam, di mana setiap dari kita dihimbau untuk berpartisipasi dalam meningkatkan kualitas hidup sesama dengan menjaga kesehatan. (Wahid/Arga)

Redaktur: Wahid Ikhwan


WAKAFDT.OR.ID

Pembangunan Rumah Sakit Menggunakan Dana Wakaf Read More »

Seistimewa Apa Keluarga Imran, Sehingga Allah Cantumkan dalam Al Quran?

DAARUTTAUHIID.ORG — Salah satu keluarga yang disebut dalam Al-Qur’an ialah keluarga Imran, yang dinamai dengan surat Ali Imran. Keluarga Imran atau Ali Imran memiliki kedudukan yang agung di sisi Allah Ta’ala.

Keluarga yang biasa yang dipuji sejajar dengan keluarga Nabi Shallallahu ‘alaihi wasallam. Allah Ta’ala berfirman dalam Al-Qur’an:

اِنَّ اللّٰهَ اصْطَفٰىٓ اٰدَمَ وَنُوْحًا وَّاٰلَ اِبْرٰهِيْمَ وَاٰلَ عِمْرَانَ عَلَى الْعٰلَمِيْنَۙ

“Sesungguhnya Allah telah memilih Adam, Nuh, keluarga Ibrahim dan keluarga Imran melebihi segala umat (di masa mereka masing-masing).” (QS. Ali Imran: 33)

Pada ayat tersebut dijelaskan bahwa Allah memilih diatas segala umat dua Nabi, yaitu Adam dan Nuh, serta dua keluarga yaitu keluarga Ibrahim dan keluarga Imran yang dianggap sebagai keluarga ideal.

Nabi Nuh dianggap gagal dalam mendidik anaknya, sehingga Allah menegur Nabi Nuh saat dia tidak sanggup membimbing anaknya. Kemudian Allah Ta’ala berfirman:

”Hai Nuh, sesungguhnya dia bukanlah termasuk keluargamu (yang dijanjikan akan diselamatkan), sesungguhnya ia adalah perbuatan yang tidak baik. Sebab itu janganlah kamu memohon kepada-Ku sesuatu yang kamu tidak mengetahui (hakekat)nya. Sesungguhnya Aku memperingatkan kepadamu supaya kamu jangan termasuk orang-orang yang tidak berpengetahuan.” (QS. Hud: 46)

Teguran tersebut Allah sampaikan kepada Nabi Nuh ‘alaihissalam setelah Nabi Nuh bertanya kepada Allah, mengapa anaknya ikut ditenggelamkan dengan orang-orang kafir.

Keluarga Imran merupakan keluarga seperti manusia biasa lainnya yang bisa menjadi sejajar dengan keluarga Nabi, sebuah keluarga kecil, pasangan suami istri dengan dua anak perempuan.

Istri Imran bernama Hannah binti Faquda, ada pula yang menyebut Qa’uda bin Qubaila. Hannah ialah seorang wanita yang dikenal tekun beribadah.

Sebagaimana kisahnya disebut dalam Al-Qur’an. Ingatlah ketika istri Imran berkata:

“Ya Tuhanku, sesungguhnya aku menazarkan kepada Engkau anak yang dalam kandunganku menjadi hamba yang saleh dan berkhidmat (di Baitul Maqdis). Karena itu terimalah (nazar) itu dari padaku. Sesungguhnya Engkaulah Yang Maha Mendengar lagi Maha Mengetahui.” (QS. Ali Imran: 35).

Sedangkan istri Imran terus memohon dan bernazar pada Allah agar anaknya itu menjadi hamba terpilih, taat, mengabdi, dan mendapatkan bimbingan serta penjagaan dari Allah.

Orangtua harus berperan memberikan fasilitas yang baik dan tepat, agar dapat mendekatkan anak dengan cita-cita yang diharapkan.

Orangtua juga harus memilih pembimbing terbaik bagi anak-anaknya, agar bisa mengarahkan anak sesuai cita-cita yang diharapkan.

Allah telah memberikan contoh nyata keluarga yang ideal dalam Al-Quran. Jadi sebenarnya kita tidak perlu mencari contoh yang jauh, karena semuanya telah tercantum dalam Al-Quran.

Hikmahnya, bahwa kita tidak cukup menjadi baik hanya sendiri. Tetapi kebaikan itu harus diajarkan secara umum kepada keluarga terdekat kita, bahkan sampai kepada masyarakat. (Arga/Wahid)

Redaktur: Wahid Ikhwan


DAARUTTAUHIID.ORG

Seistimewa Apa Keluarga Imran, Sehingga Allah Cantumkan dalam Al Quran? Read More »

Hubungan Wakaf dengan Peningkatan Pendidikan di Indonesia

WAKAFDT.OR.IDPendidikan merupakan salah satu bidang paling penting yang menjadi pondasi dalam membangun sebuah peradaban bangsa untuk masa kini dan masa depan.

Tanpa pendidikan, sebuah bangsa tidak dapat melahirkan manusia-manusia yang beradab. Hal senada yang pernah diungkapkan oleh Nelson Mandela.

Begitu juga dalam Islam yang menekankan pentingnya sebuah pendidikan, sehingga menjadi salah satu bagian dari lima maqasid syariah, yang artinya mengharuskan manusia memelihara akal dan pikirannya.

Untuk memelihara akal dan pikiran membutuhkan pendidikan sebagai instrumen utamanya.

Tentunya pendidikan yang baik harus difasilitasi oleh infrastruktur pendidikan yang memadai juga, dan tentu membutuhkan biaya yang cukup besar, sehingga pendidikan juga semakin mahal jika tidak disubsidi oleh pemerintah.

Oleh karena itu, perlunya peran umat muslim dalam membangun infrastruktur melalui konsep wakaf dalam Islam, yang punya dampak sosial bagi masyarakat umum.

Wakaf ialah memanfaatkan harta benda dalam waktu tertentu yang dititipkan melalui pengelola atau nazhir.

Aset wakaf dapat dimanfaatkan untuk berbagai macam hal, salah satunya beasiswa untuk meningkatkan kualitas pendidikan.

Wakaf menjadi salah satu philanthropy berbasis Islam yang mempunyai keunggulan dan ciri khasnya sendiri.

Wakaf adalah harta yang kepemilikannya dilepaskan dan menjadi milik Allah, yang artinya wakaf tidak boleh diambil kembali baik dari segi apapun.

Dalam sebuah hadits Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam yang diriwayatkan Imam al-Bukhari dan Imam Muslim radhiyallahu ‘anhuma. Secara prinsip, harta wakaf tidak boleh dijualbelikan, tidak boleh dihibahkan, dan juga tidak boleh diwariskan.

Saat ini wakaf hadir dalam bentuk wakaf produktif, sebagai bentuk untuk menghadirkan wakaf agar lebih kontributif terhadap kebutuhan zaman hari ini.

Karena masih banyak dari masyarakat yang beranggapan wakaf hanya terbatas pada pemanfaatan tanah sebagai pemakaman, masjid, dan mushola.

Padahal lebih dari pada itu, pemanfaatan wakaf sangatlah luas dan bisa dipergunakan untuk berbagai bidang yang lebih produktif, terutama dalam bidang pendidikan.

Misalkan Al-Azhar University di Mesir menjadi universitas yang fasilitasnya bersumber dari wakaf.

Hal tersebut juga diterapkan di beberapa universitas barat, seperti Harvard University, Stanford Univeristy, Yale University, dan universitas ternama dunia lainnya.

Memiliki berbagai fasilitas pendidikan yang berasal dari skema pendanaan sosial mirip seperti wakaf dinamai dengan endowment fundfoundation, dan lain sebagainya.

Badan Wakaf Indonesia merupakan ikhtiar yang tepat dalam menggandeng berbagai perguruan tinggi untuk ambil peran dalam meningkatkan kesadaran berwakaf dan meningkatkan literasi mengenai wakaf yang dirasa masih rendah.

Harapannya agar semua kegiatan yang dilakukan dengan konsep wakaf mendapat dukungan secara penuh dari masyarakat untuk meningkatkan kualitas pendidikan. (Arga)

Redaktur: Wahid Ikhwan


WAKAFDT.OR.ID

Hubungan Wakaf dengan Peningkatan Pendidikan di Indonesia Read More »

Aa Gym: Agar Do’a Mustajab Dikabulkan Oleh Alloh

WAKAFDT.OR.IDAlloh Ta’ala menyuruh kita berdoa bukan karena Alloh tidak tahu apa keperluan kita. Apapun yang kita doakan, pasti Alloh tahu.

Doa itu bukan untuk memberi tahu Alloh tentang apa yang kita butuhkan atau apa yang kita inginkan, karena pada dasarnya Alloh Maha Tahu segala apa yang kita butuhkan.

Doa yang baik ialah doa yang menjadi ibadah. Doa yang baik adalah doa yang membuat kita benar-benar bergantung dan sangat membutuhkan Alloh Ta’ala. Kita menyadari bahwa kita tidak berdaya tanpa pertolongan Alloh

Jadi doa bukan hanya sekedar mengucapkan kata dalam sebuah doa, namun yang terpenting ialah hati kita betul-betul terhubung, merunduk, mengharap dan merasa yakin kepada Alloh Ta’ala dengan keyakinan penuh.

Jika hati kita sudah berada dalam level tersebut maka doa insyaAlloh akan dikabulkan.

Ketahuilah pada dasarnya tanpa kita berdoa pun sebenarnnya Alloh telah mengetahui kebutuhan kita, bahkan Alloh juga telah memenuhi kebutuhan kita, baik kita sadari ataupun tidak kita sadari.

Lebih banyak yang tidak kita minta, dari pada yang kita minta, namun karena Alloh maha baik maka Alloh memberikannya.

Karena kita juga tidak tahu apa saja sebenarnya yang kita butuhkan dalam diri kita. Coba dipikirkan sejak kita terlahir di dunia sampai hari ini, banyak kebutuhan kita yang Alloh cukupi.

Lantas untuk apa Alloh menyuruh kita berdoa? Tiada lain adalah untuk kebaikan kita sendiri.

Bukan karena Alloh membutuhkan sesuatu dari kita sebagai makhluk-Nya, tapi karena kita yang membutuhkan Alloh Ta’ala.

Kita memuji atau tidak akan kebesaran dan keagungan Alloh, Alloh tetap Maha Besar dengan segala ciptaan dan kekuasaannya.

Alloh tidak berkurang keagungannya meski kita menjadi hamba pembangkang, dan tidak bertambah kemuliaan Alloh jika kita taat juga.

Doa itu adalah ibadah bagi orang-orang yang beriman. Rasululloh Shallallohu ‘alaihi wasallam bersabda, “Doa adalah ibadah.” (HR. Abu Daud).

Dalam hadits lain juga disebutkan bahwa doa adalah intisari dari ibadah, sebagaimana sabda Rasullulloh Shallallohu ‘alaihi wasallam “Doa adalah intisari ibadah.” (HR. Tirmidzi)

Jadi bagi seorang hamba yang ingin doanya dikabulkan oleh Alloh Ta’ala, janganlah ragu untuk yakin kepada janji Alloh, karena Alloh telah berfirman,

“..Berdoalah kepada-Ku, niscaya akan Kuperkenankan bagimu. Sesungguhnya orang-orang yang menyombongkan diri dari menyembah-Ku (berdoa kepada-Ku) akan masuk neraka Jahannam dalam keadaan hina dina.” (QS. Al Mu’min: 60)

Kita harus benar-benar yakin akan janji Alloh Ta’ala. Hati yang yakin akan mendorong doa terpanjatkan dengan penuh kesungguhan dan keyakinan kepada kekuasaannya. Tidak ada yang mustahil bagi Alloh dan Alloh pasti akan menepati janjinya. (KH. Abdullah Gymnastiar)

Redaktur: Wahid Ikhwan


DAARUTTAUHIID.ORG

Aa Gym: Agar Do’a Mustajab Dikabulkan Oleh Alloh Read More »

Aa Gym: Hati-Hati dengan Penyakit Dengki

WAKAFDT.OR.IDPasti kita sering mendengar kisah tentang kedurhakaan iblis kepada Alloh Ta’ala, iblis membangkang terhadap perintah Alloh yang memerintahkannya untuk sujud kepada Nabi Adam.

Perintah sujud itu sebagai bentuk kemuliaan kepadanya dan ketaatan kepada Alloh Ta’ala, akan tetapi iblis menolaknya karena kedengkian kepada Nabi Adam.

Iblis merasa dirinya lebih baik dibandingkan Nabi Adam, karena ia tercipta dari api sedangkan Nabi Adam tercipta dari saripati tanah.

Akibat dari pembangkangannya, Alloh murka kepada iblis. Padahal iblis lebih dahulu mengenal Alloh jika dibandingkan Nabi Adam. Iblis lebih dahulu taat kepada Alloh dibandingkan Nabi Adam.

Kebaikan-kebaikan iblis hangus diakibatkan rasa dengki terhadap Nabi Adam ‘alaihissalam. Inilah kedengkian yang terjadi pertama kali. Kita bisa melihat akibatnya, iblis pun menjadi makhluk terkutuk.

Jadi, jangan merasa aman atau sombong dengan ilmu yang sudah kita miliki, atau dengan amal kebaikan yang pernah kita lakukan.

Jagalah diri kita dari perbuatan-perbuatan yang tidak disukai oleh Alloh Ta’ala, karena boleh jadi perbuatan-perbuatan tersebut yang justru akan menghanguskan amal kebaikan kita.

Dalam Kisah lain juga diceritakan yang mengingatkan kita akan bahaya dengki, yaitu peristiwa Habil dan Qobil.

Buah dari kedengkian Qobil membuatnya membunuh Habil saudaranya kandungnya, karena Qobil tidak terima Habil mendapatkan pasangan hidup yang lebih cantik parasnya.

Kedengkian tersebut merusak hati dan membutakannya sehingga terjadilah peristiwa pembunuhan pertama yang dilakukan umat manusia.

Al Qurtubhi menjelaskan, “Dengki ialah dosa yang pertama kali dilakukan di langit dan di bumi. Di langit adalah dengkinya iblis kepada Nabi Adam ‘alaihissalam, dan di bumi adalah dengkinya Qobil kepada Habil.”

Dengki adalah sifat yang tidak disukai Alloh dan bertentangan dengan petunjuk Rasululloh Shallallahu ‘alaihi wasallam yang berpesan:

“Tidak sempurna iman salah seorang di antara kalian, sampai ia mencintai saudaranya seperti ia mencintai dirinya sendiri.” (HR. Bukhari dan Muslim)

Semoga kita termasuk orang-orang yang selamat, yaitu yang selalu membersihkan hati dari bibit-bibit penyakit dengki yang mencelakakan kita. Wallahu a’lam bishowab. (KH. Abdullah Gymnastiar)

Redaktur: Wahid Ikhwan


WAKAFDT.OR.ID

Aa Gym: Hati-Hati dengan Penyakit Dengki Read More »

Larangan Aset Wakaf Dijadikan Sebagai Jaminan

WAKAFDT.OR.IDWakaf merupakan amal hukum yang dilakukan seseorang untuk memisahkan atau menyerahkan sebagian harta benda yang dimilikinya menjadi milik Allah.

Harta yang diwakafkan bisa bersifat sementara ataupun selamanya, yang digunakan untuk keperluan ibadah atau kesejahteraan umum menurut hukun syariah yang berlaku.

Harta benda wakaf dari waktu kewaktu baiknya terus berkembang. Jika dulu hanya sebatas pada wakaf tanah saja, namun kini sudah berkembang ke wakaf tunai seperti uang, logam mulia, saham, dan lain-lainnya.

Perkembangan itulah yang harus dipahami wakif dan keluarganya, pihak pengelola wakaf, dan masyarakat umum yang ingin berwakaf, supaya nantinya bisa meminimalisir permasalahan wakaf.

Peluang terjadinya permasalahan wakaf bisa muncul jika syarat-syarat wakaf dilanggar, seperti tidak ada ikrar wakaf ataupun syarat lainnya.

Ikrar wakaf bukan hanya harus dilihat oleh saksi yang memenuhi syarat, tetapi juga harus ditulis dalam dokumen hukum yang disebut Akta Ikrar Wakaf yang diatur dalam Undang-Undang.

Surat tanah wakaf tidak dapat digunakan sebagai alat jaminan untuk melakukan transaksi dalam bentuk apapun, karena jika digunakan sebagai alat jaminan, maka akan merubah status wakaf tersebut.

Hal ini juga telah diatur dalam sebuah keputusan dan aturan hukum, dalam pasal 40 Undang-Undang Wakaf mengatur secara spesifik perubahan status harta benda wakaf.

Ada 7 (tujuh) perbuatan hukum yang dilarang untuk dilakukan di antaranya: Disita, dijadikan jaminan, diperjual-belikan, dihibahkan, diwariskan, ditukar, atau dialihkan.

Akan tetapi, tanah wakaf yang telah dialihkan statusnya, wajib ditukar dengan harta benda yang manfaat dan nilai tukar sekurang-kurangnya sama dengan harta benda wakaf yang semula.

Ketika seseorang atau lembaga mewakafkan hartanya, berarti ia telah menyerahkan kepemilikan barang atau aset tersebut secara absolut kepada Allah Ta’ala, maka tidak dapat diperjual-belikan.

Dari Ibnu Umar ra berkata bahwa Umar bin al- Khattab mendapat sebidang tanah di khaibar. Beliau mendatangi Rasulullah SAW meminta pendapat beliau,

“Ya Rasulullah, aku mendapatkan sebidang tanah di Khaibar yang belum pernah aku dapat harta lebih berharga dari itu sebelumnya. Lalu apa yang anda perintahkan untukku dalam masalah harta ini?”

Maka Rasulullah SAW berkata, “Bila kamu mau, bisa kamu tahan pokoknya dan kamu bersedekah dengan hasil panennya. Namun dengan syarat jangan dijual pokoknya (tanahnya), jangan dihibahkan, jangan diwariskan”.

Maka Umar ra bersedekah dengan hasilnya kepada fuqara, dzawil qurba, para budak, ibnu sabil juga para tetamu. Tidak mengapa bila orang yang mengurusnya untuk memakan hasilnya atau memberi kepada temannya secara makruf, namun tidak boleh dibisniskan. (HR. Bukhari)

Begitu pula harta benda wakaf yang telah diwakafkan dan memiliki sertifikat wakaf di Badan Pertanahan Nasional tidak boleh disita. Harta wakaf juga tidak bisa diwariskan kepada siapapun.

Hal ini mengutip pendapat Imam Syafi’I, beliau melarang harta yang sudah diwakafkan tidak bisa dijual secara mutlak maupun diwariskan, meskipun aset wakaf itu sudah tidak layak. (Wahid/Arga)

Redaktur: Wahid Ikhwan


WAKAFDT.OR.ID

Larangan Aset Wakaf Dijadikan Sebagai Jaminan Read More »

Apa Makna Dentuman Petir dalam Islam?

WAKAFDT.OR.IDPetir merupakan fenomena alam yang terjadi atas kebesaran Allah Ta’ala. Petir atau guruh juga diabadikan menjadi salah satu nama surat dalam Al-Quran, yaitu surat ar-Ra’du bertempatan pada surat ke-12.

Setidaknya ada tiga istilah dalam Al-Quran yang mengarah pada makna petir, di antaranya ar-ra’du, ash-shawaiq, dan al-barq.

Salah satu ahli tafsir Dr. Muhammad Luqman As Salafi menjelaskan dan mendefinisikan ar-ra’du lebih dekat maknanya pada suara petir atau geledek.

Sementara itu, ash-shawa’iq dan al-barq maknanya lebih cenderun kilatan petir, yaitu cahaya yang muncul sesaat sebelum adanya suara petir.

Lalu, ketika kita mendengar petir atau guntur, Nabi Shallallahu ‘alaihi wasallam mengajarkan doa sebagai berikut:  “Subhanalladzi sabbahat lahu,” (Mahasuci Allah yang petir bertasbih kepada-Nya).

“Subhanalladzi yusabbihur ro’du bi hamdihi wal mala-ikatu min khiifatih,” (Mahasuci Allah yang petir dan para malaikat bertasbih dengan memuji-Nya karena rasa takut kepada-Nya).

Mengapa kita dianjurkan untuk berdoa? Dahsyatnya petir dimaknai umat Islam sebagai bentuk tasbih dari para malaikat yang menjaga langit.

Sebagaimana disebut dalam Al-Quran: “Dan guruh bertasbih memuji-Nya demikian pula para malaikat karena takut kepada-Nya.” (QS. ar-Ra’d: 13).

Dalam haditsnya juga disebutkan, Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam menyebut petir sebagai suara para malaikat.

“Ar-Ra’du (petir) ialah malaikat yang diberi tugas mengurus awan dan bersamanya pengoyak dari api yang memindahkan awan sesuai dengan kehendak Allah.” (HR. Tirmizi).

Ibnu Taimiyah menyampaikan bahwa yang namanya gerakan pasti menimbulkan suara. Malaikat yang menggerakkan melalui menggetarkan awan, dan dipindahkan dari satu tempat ke tempat lainnya.

Ketika menafsirkan surat al-Baqarah ayat 19, Imam As-Suyuthi menjelaskan bahwa ar-Ra’du ialah malaikat yang ditugasi mengatur awan. Dalam tafsir Jalalain disebutkan bahwa ar-ra’du adalah suara malaikat.

Umat Islam meyakini ar-Ra’du maknanya bahwa malaikat yang ditugasi mengatur suara, atau awan dari malaikat tersebut yang tengah bertasbih dan mengatur awan.

Sementara itu, al-barq atau ash-showa’iq ialah kilatan cahaya dari cambuk malaikat yang digunakan dalam menggiring mendung.

Ibnu Abbas juga menambahkan, “Sesungguhnya petir merupakan malaikat yang meneriaki untuk mengatur hujan sebagaimana pengembala ternak membentak hewannya.” (Adab al-Mufrod).

Semoga kita bisa mentafakkuri fenomena dari peristiwa petir atau kilat, dalam rangka untuk meningkatkan keimanan kita kepada Allah Ta’ala. (Arga)

Redaktur: Wahid Ikhwan


WAKAFDT.OR.ID

Apa Makna Dentuman Petir dalam Islam? Read More »