Wakaf Daarut Tauhiid

November 2023

Ancaman Bagi Pemakan Harta Anak Yatim

WAKAFDT.OR.IDMemakan harta anak yatim merupakan perbuatan dzalim dan tercela yang merugikan orang lain. Dosa besar dan akan mendapatkan azab yang pedih di akhirat kelak bagi pemakan harta anak yatim.

Perbuatan tercela tersebut sangat dikecam dan akan mendapat hukuman berat dari Allah Ta’ala. Sebagaimana disebutkan dalam Al-Qur’an:

اِنَّ الَّذِيْنَ يَأْكُلُوْنَ اَمْوَالَ الْيَتٰمٰى ظُلْمًا اِنَّمَا يَأْكُلُوْنَ فِيْ بُطُوْنِهِمْ نَارًا ۗ وَسَيَصْلَوْنَ سَعِيْرًا

“Sesungguhnya orang-orang yang memakan harta anak yatim secara zalim, sebenarnya mereka itu menelan api dalam perutnya dan mereka akan masuk ke dalam api yang menyala-nyala (neraka).” (QS. An-Nisa’: 10)

Penjelasan ayat diatas yang termaktum dalam surat An-Nisa ayat 10 mengenai ancaman dan dosa besar bagi para pemakan harta anak yatim.

Seharusnya anak-anak yatim itu mendapatkan perlakuan kasih sayang dan didikan yang baik dari kita semua sebagai seorang muslim.

Dari Abu Hurairah, dari Nabi Shallallahu ‘alahi wasallam beliau bersabda mengenai pemakan harta anak yatim:

“Jauhilah tujuh(dosa) yang membinasakan!” Mereka (para sahabat) bertanya: “Wahai Rasullulah, apakah itu?” Beliau Shallallahu ‘alahi wa sallam menjawab, “Syirik kepada Allah; sihir; membunuh jiwa yang Allah haramkan kecuali dengan haq; memakan riba; memakan harta anak yatim; berpaling dari perang yang berkecamuk; menuduh zina terhadap wanita-wanita merdeka yang menjaga kehormatan, yang beriman, dan yang bersih dari zina”. (HR. Al-Bukhari)

Namun, sebaliknya yang harus kita perbuat adalah bagaimana kita memelihara dan menyantuni anak yatim dengan penuh kasih sayang.

Allah begitu memuliakan anak yatim, sebagaimana juga yang dilakukan Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam. Kita sebagai umat Nabi Muhammad tentu harus meneladaninya dalam menyayangi dan menyantuni anak yatim.

Dalam sebuah hadits dari Sahl bin Sa’ad Radiyaallah ‘anhu berkata bahwa Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda yang artinya:

“Aku dan orang yang memelihara anak yatim dalam surga nanti seperti ini.” Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam mengisyaratkannya dengan mendekatkan jari telunjuk dan jari tengahnya serta merenggangkan keduanya.” (HR. Bukhari)

Janji Allah telah tergambar akan diberikan ganjaran yang besar bagi mereka yang mengurus dan menyanyangi anak yatim dengan baik.

Semoga kita semua dijauhkan dari sifat-sifat tercela, salah satunya tidak menjadi pemakan harta anak yatim dan menjadi orang yang membenci anak yatim, naudzubillahi min dzalik(Arga)

Redaktur: Wahid Ikhwan


WAKAFDT.OR.ID

Ancaman Bagi Pemakan Harta Anak Yatim Read More »

Aa Gym: Awas, Hal Ini Menyebabkan Kita Menderita

WAKAFDT.OR.IDSetiap orang tentu menginginkan hidup yang bahagia. Bahkan, kita menginginkan kebahagiaan itu tetap hadir dalam situasi apapun terhadap kehidupan kita.

Namun, selalu ada saja pintu untuk kita merasa menderita. Ada beberapa sebab yang memicu timbulnya penderitaan, di antaranya ialah:

Pertama, tidak menerima takdir yang telah terjadi. Tidak ada seorang pun yang mampu menolak takdir Alloh Ta’ala sekuat apapun manusia itu. Jika Alloh sudah berkehendak maka pasti terjadi.

Ketika kotoran seekor burung jatuh keatas rambut kita, mungkin kita akan mengeluh, menggerutu, dan tidak terima atas kejadian yang telah terjadi.

Padahal terima atau tidak terima, peristiwanya telah terjadi. Maka, sikap yang terbaik adalah menerima apa yang telah terjadi. Ikhlas dan ikhtiar untuk membersihkan kotoran burung.

Rasullullah Shallallohu ‘alaihi wasalam bersabda dalam sebuah hadits: “..Maka barangsiapa yang ridho (pada Alloh), maka baginya keridhoan (dari Alloh).” (HR. Tirmidzi)

Kedua, berprasangka buruk. Penderitaan muncul karena berprasangka buruk kepada Alloh Ta’ala. Ia mengira bahwa Alloh tidak menyayanginya, tidak memperdulikannya, tidak mendengar doa-doanya.

Kejadian yang tidak sesuai dengan keinginannya ia jadikan alasan untuk menduga bahwa Alloh tidak menolongnya. Ingatlah, setiap ujian hidup yang kita hadapi adalah bukti bahwa Alloh masih menyanyangi kita.

Dalam sebuah hadits qudsi Alloh Ta’ala berfirman: “Aku sesuai persangkaan hamba-Ku terhadap-Ku.” (HR. Muslim)

Imam Hasan Al Bashri pernah menyampaikan, “Ketahuilah bahwa perbuatan manusia tergantung pada prasangka mereka kepada Robb-nya. Adapun orang mukmin dia akan membaguskan amalnya. Adapun orang kafir dan munafik, dia berprasangka buruk kepada Robb-nya, maka mereka buruk dalam amalnya.”

Ketiga, kurang bersyukur. Masih ingat perumpamaan jerawat dan hidung? Ada orang yang muncul jerawat di hidungnya, kemudian dia mengeluhkan jerawatnya.

Padahal, jika ia mau melihat lebih luas, mestinya bersyukur bahwa jerawatnya tidak sebesar hidungnya, masih banyak bagian mukanya yang bersih dari jerawat. Ia hanya akan menderita jika hanya fokus pada satu jerawatnya saja.

Oleh karena itu, setiap kali ada kejadian yang tidak sesuai dengan harapan kita, cobalah untuk melihat dari sisi lain atau dari sisi yang lebih luas, agar terlihat oleh kita betapa lebih banyak karunia Alloh yang kita terima.

Dengan cara itu, insyaAlloh kita akan jauh dari penderitaan dan akan senantiasa merasa bahagia dalam setiap keadaan. Wallahu a’lam bishowab. (KH. Abdullah Gymnastiar)

Redaktur: Wahid Ikhwan


WAKAFDT.OR.ID

Aa Gym: Awas, Hal Ini Menyebabkan Kita Menderita Read More »

Bolehkan Berdonasi Menggunakan Harta Riba?

WAKAFDT.ORGSalah satu dosa yang dekat dengan kehidupan kita sehari-hari, bahkan sangat erat dilakukan oleh kebanyakan masyarakat adalah riba.

Beberapa hal yang bersifat riba ternyata tidak berbentuk secara jelas, atau bisa dibilang sangat halus ribanya. Maka sudah seharusnya kita berhati-hati dengan transaksi yang dilakukan.

Pembahasan mengenai riba akan dimulai dari status hukumnya. Hukum riba dalam Islam sudah jelas haram. Lantas dana riba bisa dipergunakan untuk apa saja?

Apakah boleh mendonasikan dana riba untuk pembangunan infrastruktur pendidikan, kesehatan, pendidikan, dan fasilitas umum lainnya?

Mendonasikan dana riba bisa digunakan untuk kemaslahatan umum. Hal ini dijelaskan dalam Fatawa Syabakah Islamiyyah (lembaga fatwa yang bermarkas di Qatar) no. 62361, menerangkan tentang definisi maslahat umum:

“Yaitu: segala hal yang manfaatnya tidak kembali kepada person tertentu. Akan tetapi manfaat yang dirasakan tersebar luas di tengah kaum muslimin. Seperti untuk membangun jalan, perbaikan jalan dan pembangunan jembatan, sarana kebersihan, penerangan jalan dan lain-lain”.

Meskipun diperbolehkan, ada beberapa catatan penting saat mendonasikan dana riba, yaitu:

Harus diketahui bahwa hal tersebut bukan sedekah, dan tidak bisa mengharap pahala sedekah dari dana yang didonasikan.

Karena tujuan untuk mendonasikan dana riba, bukan untuk mencari pahala infak atau sedekah, tetapi diniatkan untuk bertaubat dan membersihkan diri dari harta riba yang berstatus haram.

Meskipun seseorang akan tetap mendapatkan pahala dari upaya taubatnya. Ini yang harus menjadi niat bagi seseorang saat melepas harta riba.

Bahkan ancamannya pun sudah sangat jelas, seperti didalam Al-Qur’an bagi mereka para pelaku riba, sunguh sangat mengerikan, Allah menantang perang dan Rasul mengancam laknat.

فَاِنْ لَّمْ تَفْعَلُوْا فَأْذَنُوْا بِحَرْبٍ مِّنَ اللّٰهِ وَرَسُوْلِهٖۚ وَاِنْ تُبْتُمْ فَلَكُمْ رُءُوْسُ اَمْوَالِكُمْۚ لَا تَظْلِمُوْنَ وَلَا تُظْلَمُوْنَ

“Jika kamu tidak melaksanakannya, maka umumkanlah perang dari Allah dan Rasul-Nya. Tetapi jika kamu bertobat, maka kamu berhak atas pokok hartamu. Kamu tidak berbuat zalim (merugikan) dan tidak dizalimi (dirugikan)”. (QS. Al-Baqarah: 279)

Dari sahabat Jabir radhiyallahu ‘anhu ia berkata:

“Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi Wasallam melaknat pemakan riba, pemberi makan riba, dua saksinya dan penulisnya.” Beliau melanjutkan, “Mereka semua sama (kedudukannya dalam hal dosa)”. (HR Muslim).

Jika kita meyakini bahwa riba adalah perbuatan haram, meskipun dibungkus dengan istilah-istilah yang lain seperti istilah bunga, maka wajib bagi seorang muslim yang memiliki harta riba untuk bertaubat kepada Allah Ta’ala.

Nahkan ia juga harus melepaskan harta tersebut dari rekening yang dimiliknya. Dana riba tidak boleh dikembalikan kepada pihak bank.

Semoga kita terlepas dari perbuatan riba dan bagi seseorang yang sudah terjerat dalam sistem riba maka segera bertaubat kepada Allah dan keluarkan harta tersebut. (Wahid/Arga)

Redaktur: Wahid Ikhwan


WAKAFDT.ORG

Bolehkan Berdonasi Menggunakan Harta Riba? Read More »

Aa Gym: Sakit adalah Nikmat dari Allah

WAKAFDT.OR.IDSaat kita diuji sakit, maka kita perlu untuk mengikhtiarkan agar bisa mendapatkan kesembuhan. Ikhtiar yang bisa kita lakukan di antaranya dengan pergi ke dokter, meminum/herbal, atau cara yang lainnya.

Tetapi hal yang perlu kita sadari, bahwa yang menakdirkan kita untuk sembuh hanyalah Dzat yang menciptakan bahan-bahan untuk obat, Dzat yang mengangkat dan memberikan penyakit, Dzat yang mengkarunia seseorang ilmu medis.

Jadi yang menyembuhkan penyakit hanyalah Alloh, ikhtiar kita hanya perantara bagaimana Alloh menyembuhkannya. Salah satu dari sifat Alloh ialah Asy-Syaafii, yaitu Yang Maha Menyembuhkan.

وَاِذَا مَرِضْتُ فَهُوَ يَشْفِيْنِ ۙ

“Dan apabila aku sakit, Dialah (Alloh) yang menyembuhkan aku.” (QS. Asy Syu’aro: 80)

Dalam sebuah doa, Rasululloh shallallahu ‘alaihi wasalam bersabda:

“Ya Alloh, Robb manusia, hilangkanlah kesusahan dan berilah dia kesembuhan, Engkau Dzat Yang Maha Menyembuhkan. Tidak ada kesembuhan kecuali kesembuhan dari-Mu, kesembuhan yang tidak meninggalkan penyakit lain.”  (HR. Bukhari dan Muslim)

Oleh karenanya, ketika kita ditimpa rasa sakit, hal utama yang harus kita lakukan adalah berdoa kepada Alloh Ta’ala dan mendekatkan diri kepada-Nya, karena hanya Alloh Yang Maha Menyembuhkan, Dialah Dzat tempat kembali segala urusan.

Selain itu juga, ikhtiar berobat sambil menguatkan hati kita, meyakinkan hati bahwa hanya Alloh sumber kesembuhan kita, sedangkan dokter dan obat hanyalah perantara bagi kesembuhan itu.

Karena sesungguhnya ikhtiar yang kita lakukan untuk mendapat kesembuhan merupakan bagian dari amal sholeh yang dicatat oleh Alloh.

Pertanyaannya adalah, sampai sejauh mana kita meyakini kekuasaan Alloh? Bahwa Alloh yang menyembuhkan kita, yang menurunkan penyakit dan mengangkat penyakit.

Semakin kita libatkan Alloh dalam setiap ikhtiar yang kita lakukan, penuh kesabaran dan ketawakalan, maka semakin dekat kita dengan kesembuhan. Sakit kita akan menjadi penggugur dosa karena kesabaran yang kita hadirkan.

Semoga yang sedang diuji dengan sakit, segera diberi kesembuhan oleh Alloh Ta’ala dan bagi kita yang diberi nikmat sehat semoga bisa memanfaatkan nikmat sehatnya semaksimal mungkin untuk menjemput ridho Alloh Ta’ala. (KH. Abdullah Gymnastiar)

Redaktur: Wahid Ikhwan


WAKAFDT.OR.ID

Aa Gym: Sakit adalah Nikmat dari Allah Read More »

Aa Gym: Dari Mana Datangnya Sakinah?

WAKAFDT.OR.IDSemua orang mengharapkan dan menginginkan hidup yang sakinah atau tenang. Namun, banyak orang yang tidak mengerti bagaimana ketenangan yang sesungguhnya, siapa yang menurunkan sakinah dalam diri seseorang? Dari mana sumber ketenangan itu?

Alloh Ta’ala berfirman dalam Al Quran:

هُوَ الَّذِيْٓ اَنْزَلَ السَّكِيْنَةَ فِيْ قُلُوْبِ الْمُؤْمِنِيْنَ لِيَزْدَادُوْٓا اِيْمَانًا مَّعَ اِيْمَانِهِمْ ۗ وَلِلّٰهِ جُنُوْدُ السَّمٰوٰتِ وَالْاَرْضِۗ وَكَانَ اللّٰهُ عَلِيْمًا حَكِيْمًاۙ

“Dia-lah yang telah menurunkan sakinah (ketenangan) ke dalam hati orang-orang mukmin supaya keimanan mereka bertambah di samping keimanan mereka (yang telah ada). Dan kepunyaan Alloh-lah tentara langit dan bumi dan adalah Alloh Maha Mengetahui lagi Maha Bijaksana.” (QS. Al Fath: 4)

Tidak ada yang bisa menanamkan sakinah, ketenangan di hati kita melainkan karena Alloh Ta’ala. Tidak ada yang bisa menghilangkan rasa cemas, resah, galau, dan gelisah kecuali hanya Alloh satu-satunya.

Sakinah tidak hadir dari pasangan kita, sakinah tidak datang juga dari harta kekayaan kita, sakinah tidak berasal dari anak-anak kita, sakinah juga tidak datang dari pangkat, jabatan, dan kedudukan kita di hadapan orang lainnya.

Sakinah tidak ada hubungannya dengan berbagai kemewahan duniawi, sehebat apapun kemampuan kita memiliki dunia, maka sampai kapan pun kita tidak akan mampu membeli ketenangan. Hanya Alloh yang Maha Kuasa yang menurunkan ketenangan di hati kita.

Layaknya rumah tangga yang sakinah, tidak akan bisa dibangun dengan modal suaminya kaya raya atau sang istri yang cantik jelita.

Rumah tangga sakinah hanya datang ketika pasangan suami istri sama-sama mujahadah mendekatkan dirinya kepada Alloh Ta’ala.

Dikala seseorang berikhtiar dengan sungguh-sungguh untuk mendekatkan diri kepada Alloh dan Alloh pun ridho kepadanya, maka pada saat bersamaan Alloh akan selimuti hatinya dengan rasa tenang yang tidak ada siapapun bisa merenggutnya.

Oleh sebab itu, marilah kita senantiasa berusaha untuk memperbaiki diri, meningkatkan lagi kualitas ibadah kita kepada Alloh Ta’ala.

Sehingga Alloh meridhoi kita dan melimpahkan ketenangan itu kepada diri kita dan manfaatnya hati lebih tenang, maka kita juga akan merasa lebih ringan.

Hati juga menjadi lebih yakin atau mantap menjalani hidup ini, dan lebih gampang menghadapi berbagai persoalan dalam hidup kita di dunia. (KH. Abdullah Gymnastiar)

Redaktur: Wahid Ikhwan


WAKAFDT.OR.ID

Aa Gym: Dari Mana Datangnya Sakinah? Read More »

Apakah Boleh Non-Islam Berwakaf?

WAKAFDT.OR.IDBerwakaf merupakan amalan yang dianjurkan bagi setiap muslim. Namun apakah boleh wakaf dilakukan oleh seseorang yang bukan beragama Islam?

Apakah hanya muslim saja yang bisa berwakaf? Banyak stigma bahwa seorang non-muslim tidak diperkenankan untuk berwakaf karena dia bukan seorang muslim.

Perlu kita pahami bahwa stigma itu tidak sepenuhnya benar. Dalam hadist maupun Al-Qur’an tidak disebutkan bahwa wakaf hanya bisa dilakukan oleh seorang yang beragama Islam.

Ada juga yang beranggapan bahwa jika seorang non-muslim berwakaf maka hartanya ditunjukkan kepada kaum muslim dan wakaf yang diterima menjadi non-halal.

Bagaimana dengan pendapat tersebut? Apakah bisa dibenarkan? Ada pula yang beranggapan selama wakaf dipergunakan untuk kemaslahatan umat, maka faktor kepercayaan seseorang tidak diperhitungkan atau tidak menjadi sama sekali.

Sebagian ulama yang berpegang pada Mazhab Syafi’i memiliki dua pendapat terkait persoalan ini. Dalam kitabnya Fathul Wahab, kitab yang digunakan sebagai rujukan oleh ulama penganut Mazhab Syafi’i, menjelaskan konsep wakif dalam proses berwakaf.

Tentunya syarat mutlak pemberi wakaf ialah pihak yang nyata-nyata tidak dalam tekanan dari manapun. Syekh Zakariya Al-Ansari secara tegas menyampaikan pendapatnya mengenai keabsahan waqif dari golongan non-muslim:

“Rukun wakaf ada 4, di antaranya harta benda yang diwakafkan, pihak penerima wakaf, pernyataan wakaf, dan pihak yang mewakafkan. Disyaratkan pihak yang memberi wakaf adalah ia orang yang secara sukarela memberikannya (mukhtar), dan penjelasan tambahan dari saya dalam hal ini adalah ia merupakan ahlu tabarru’ (orang cakap dalam kebaikan). Karenanya sah wakaf dari orang non-Muslim dan walaupun wakaf tersebut untuk masjid,” (Lihat Syekh Zakariya Al-Anshari, Fathul Wahhab bi Syarhi Manhajith Thullab).

Jadi, secara hukum sudah jelas bahwa kalau seorang non-muslim ingin mewakafkan hartanya untuk kebaikan umat Islam maka hukumnya diperbolehkan.

Hal tersebut disebabkan keyakinan atau agama tidak menjadi syarat boleh atau tidak bolehnya berwakaf, selama harta yang diwakafkan statusnya halal dan bertujuan untuk kepentingan umum atau kaum muslimin maka diperbolehkan.

Jika memiliki kerabat atau tetangga non-muslim berwakaf, maka dapat diarahkan untuk berwakaf ke salah satu lembaga wakaf.

Misalkan melalui lembaga Wakaf Daarut Tauhiid yang sudah terdaftar resmi sebagai Nazhir BWI (badan wakaf Indonesia).

Wakaf tersebut dapat digunakan dan diperdayakan untuk program di bidang kesehatan, pendidikan, air, dan lain-lainnya. (Arga)

Redaktur: Wahid Ikhwan


WAKAFDT.OR.ID

Apakah Boleh Non-Islam Berwakaf? Read More »

Aa Gym

Aa Gym: Surga Adalah Kampung Halaman Kita

WAKAFDT.OR.IDSetiap perintah Alloh Ta’ala pasti muaranya untuk kebaikan dunia dan akhirat kita sebagai makhluk. Tidak ada satupun perintah Alloh melainkan pasti ada hikmah di dalamnya.

Alloh yang Maha Sempurna dalam segala sesuatu, termasuk dalam setiap rencana-Nya. Sehingga jika kita menyaksikan dari berbagai sudut, maka pasti kita akan menemukan hanya kebaikan dan kebaikan.

Pada hakikatnya rumah pertama kita adalah surga, kita adalah keturunan penghuni surga dan rumah kembali kita adalah surga. Di dunia ini kita hanyalah mampir.

Setiap kewajiban yang Alloh perintahkan kepada kita itu sebenarnya memerintahkan kita untuk kembali ke tempat asal muasal kita yaitu surga. Alloh Ta’ala berfirman:

“Dan sesungguhnya Muhammad telah melihat Jibril itu (dalam rupanya yang asli) pada waktu yang lain, (yaitu) di Sidratil Muntaha. di dekatnya ada surga tempat tinggal.” (QS. An-Najm: 13-15)

Jika kita merasa telah kehilangan segala sesuatu yang membuat diri kita kehilangan semangat dan tujuan hidup, merasa bahwa seluruh dunia mengabaikan kita, tidak ada tempat untuk berjalan.

Seluruh dunia rasanya tidak memihak pada kita dan tidak ada satu orang pun yang ingin menghargai dan menyambut kita di dunia.

Maka ingatlah bahwa Alloh Ta’ala adalah satu-satunya tujuan kita dan akan selalu siap menyambut kehadiran hamba-hambanya.

Oleh karenanya, perjalanan kita adalah perjalanan menuju surga. Maka amal-amal kita pun adalah amal-amal yang mengantarkan kepada surga.

Alloh Ta’ala menginginkan kita untuk selamat dalam perjalanan di dunia menuju akhirat. Sehingga Alloh berikan limpahan hidayah dan petunjuk yang sangat jelas mengenai bagaimana tata cara menempuh jalan keselamatan menuju kepulangan kita.

Betapa meruginya orang yang telah diberikan petunjuk, namun lalai untuk mengikutinya. Semoga kita tergolong menjadi orang-orang yang senantiasa antusias mengikuti petunjuk Alloh Ta’ala dan nasihat Rasulullah Shallallohu ‘alaihi wasalam.

Sehingga kelak kita bisa kembali ke rumah yang abadi dengan kebahagiaan dan keselamatan yaitu surga. Wallahu a’lam bishowab. (KH. Abdullah Gymnastiar)

Redaktur: Wahid Ikhwan


WAKAFDT.OR.ID

Aa Gym: Surga Adalah Kampung Halaman Kita Read More »

Kerja di Perusahaan Pro Israel? Ini Kata MUI

WAKAFDT.OR.ID | BANDUNG – Ketua Majelis Ulama Indonesia Bidang Fatwa, KH. Asrorun Niam Sholeh mengatakan jika perusahaan secara nyata mendukung Israel maka setiap tingkat di perusahaan memiliki kewajiban dan tanggung jawab masing-masing untuk merespon hal tersebut.

“Jika sudah diketahui oleh umum perusahaan tersebut secara nyata mendukung agresi Israel, masing-masing di perusahaan tersebut memiliki tanggung jawab dan kewajiban untuk melakukan langkah-langkah pencegahan agar dukungan terhadap agresi tidak terus berlanjut,” ujar Kiai Niam (21/11/2023) di Jakarta.

Ia menyebut bahwa porsi dalam berpartisipasi membela Palestina ini disesuaikan dengan posisi dan kompetensi dalam tempat kerja atau perusahaan.

“Jika dia sebagai pemegang saham pengendali (maka) memiliki tanggung jawab yang lebih dari pada pekerja. Jika direksi memiliki kewenangan untuk mengingatkan pemegang saham pengendali untuk tidak terus mendukung agresi Israel,” terangnya.

Dirinya juga mengulas hal yang dapat dilakukan bagi para pekerja, “Serikat pekerja mengkonsolidasi kekuatannya untuk mengingatkan pihak pemegang kebijakan untuk menghentikan dukungan terhadap Israel,” imbuhnya.

Menurutnya para pekerja memiliki dua pilihan jika perusahaan tetap pro Israel, yakni dengan tetap bekerja di perusahaan tersebut, namun hati mengingkari perbuatan keji zionis atau bekerja di tempat lain bila ada kesempatan.

“Jika tidak ada langkah perbaikan perusahaan atas keputusan pro Israel, ada dua pilihan. Pilihan pertama, tetap berada dalam pekerjaan tersebut namun hati tetap mengingkari, mungkin karena ada tanggung jawab yang harus diemban, sementara tidak ada alternatif pekerjaan lain,” ungkapnya.

Lebih lanjut ia mengatakan, “Tetapi jika ada kesempatan untuk bekerja di tempat lain, ambil pekerjaan di tempat lain tersebut,” tambahnya.

Guru Besar Ilmu Fiqh UIN Jakarta itu menegaskan, jika ada kesempatan pindah namun tetap menetap di perusahaan tersebut artinya meridhoi tindakan zionisme terhadap rakyat Gaza.

“Jika mendiamkan diri atas aktivitas perusahaan melakukan dukungan terhadap agresi Israel berarti termasuk kategori ‘العِقْنَةُ مَكْسِيَة’ membantu atau meridhoi tindakan kemaksiatan yang dilakukan,” tegasnya. (Noviana)

Redaktur: Wahid Ikhwan


WAKAFDT.OR.ID

(Sumber: muidigital)

Kerja di Perusahaan Pro Israel? Ini Kata MUI Read More »

Tonggak Peradaban Islam, Nazhir: Sentranya Adalah Wakaf

WAKAFDT.OR.ID | BANDUNG – Wakaf menjadi filantropi terbesar umat Islam karena keberadaannya menjadi penopang jayanya sebuah peradaban.

Bertajuk Wakaf Tonggak Peradaban, ustadz Fahruddin memaparkan materinya terkait wakaf pada kajian MQ Pagi (22/11/2023).

Keberadaan wakaf tak dapat terpisahkan dengan terbentuknya sebuah peradaban. Rasulullah menjadi orang pertama yang mempraktekkan amalan berwakaf.

“Rasullah yang pertama kali melakukannya, Rasulullah mencontohkan dua hal dalam berwakaf, yaitu sebagai sarana mendekatkan diri kepada Allah SWT dan membangun peradaban yang diawali dengan membangun masjid,” terang ustadz Fahrudin.

Masjid yang menjadi prioritas dalam membentuk peradaban Islam berkolaborasi kuat dengan peran wakaf sebagai sentranya.

Keberadaan wakaf menjadi pendukung operasional masjid berikut kegiatan-kegiatan yang berada di dalamnya, baik beribadah, menuntut ilmu hingga bermusyawarah.

Manfaat Wakaf yang meluas dan tak terbatas, menjadikan wakaf berperan besar dalam pembangunan sebuah peradaban, mulai dari infrastuktur hingga peningkatan kualitas sumber daya manusia.

“Selain masjidnya ada, kegiatan-kegiatan dalam masjid tersebut yang harus di suport dengan dukungan yang baik, sehingga rasulullah memilah sahabat yang fokus sesuai bidang keahliannya (untuk mengelola masjid dan memberdayakan sahabat dan jama’ah di dalamnya),”ujar Nazhir DT itu.

“Ketika semua berbagi peran dengan baik dan melakukan peran dengan baik, maka generasi di zaman Rasulullah, zaman sahabat dan tabiin terus berkembang, centranya adalah wakaf.” imbuhnya.

Lebih lanjut ustadz fahrudin menyampaikan, bahwa untuk membangun peradaban tidak hanya satu dua orang saja, tetapi semua orang dapat terlibat dengan perannya masing-masing.

“Semuanya bisa terlibat, yang Allah beri harta maka berkontribusi melalui harta yang Allah berikan salah satunya dengan wakaf.

Orang yang berwakaf kata ustadz, nilai pahalanya akan terus bertambah. Wakaf merupakan pilihan yang sangat efektif ketika membangun peradaban, karena nilainya tidak pernah berkurang.

Menjadikan Al-Quran dan sunnah sebagai pedoman utama, ponpes DT meneladani konsep Rasulullah dalam membangun sebuah peradaban. Yakni dengan membangun masjid.

Tercatat, Masjid DT telah tersebar di tujuh titik wilayah Indonesia, diantaranya: Batam. Tangerang Selatan, Jambi, Kuningan, Lubuk Linggau, Bogor dan Bandung.

Ketujuh Masjid tersebut menjadi titik awal dibangunnya peradaban Islam berlandaskan ajaran Tauhiid yang terpadu dalam sebuah Kawasan Pesantren Daarut Tauhiid Indonesia (PDTI).

“DT memulai membangun pesantren dengan membangun masjid, ini merupakan ittiba’ kepada Rasul yang mebangun masjid quba kemudian membangun masjid nabawi. Masjid bagi umat Islam adalah seperti air bagi ikan.” ungkap ustadz Fahrudin.

Terakhir, ustadz Fahrudin mengajak audiens untuk menggalakkan budaya berwakaf, salah satunya dengan wakaf masjid.

“Yuk kita bangun rumah Allah, dalam sebuah hadits Rasulullah bersabda, barangsiapa yang membangun rumah Allah maka Allah bangunkan baginya rumah di dalam surga,” jelasnya (Noviana)

Redaktur: Wahid Ikhwan


WAKAFDT.OR.ID

Tonggak Peradaban Islam, Nazhir: Sentranya Adalah Wakaf Read More »

Sejarah Baitul Mal dalam Islam

WAKAFDT.OR.IDBaitul mal secara bahasa berarti memiliki “rumah harta”. Baitul mal adalah lembaga atau unit yang berurusan dengan pendapatan dan segala hal keekonomian negara.

Pada masa Nabi Muhammad Shallallahu ‘alaihi wasalam, tidak ada baitul mal atau harta publik yang bersifat permanen, karena semua pendapatan yang diperoleh negara maka segera didistribusikan secara langsung.

Dalam bukunya Ahmad Ifham Sholihin yang berjudul Pintar Ekonomi Syariah, diterbitkan pada tahun 2010, menjelaskan istilah Baitul Mal adalah suatu lembaga atau pihak yang mempunyai tugas khusus menangani segala harta umat, baik berupa pendapatan maupun pengeluaran negara.

Baitul Mal dibentuk sebagai lembaga yang mengelola penerimaan dan pengeluaran negara yang bersumber dari zakat, kharaj (cukai atas tanah pertanian), jizyah (pajak yang dibebankan pada penduduk non-Muslim yang tinggal di negara Islam), kaffarat (denda), wakaf, ghanimah (rampasan perang) dan lain-lain yang ditasyarufkan untuk kepentingan umat.

Pada masa kekhalifahan Abu Bakar, pelembagaan baitul mal keberadaannya sangat dibutuhkan. Khalifah Abu Bakar menjadikan rumahnya sendiri untuk menyimpan uang atau harta kas negara, disimpan dalam karung atau kantong.

Kemudian pendistribusian harta dilakukan secara langsung seperti pada masa Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasalam.

Berangkat dari sanalah konsep awal baitul mal dibangun, yang mengedepankan prinsip kesetaraan dan keadilan, serta kemaslahatan banyak umat. Bangunan Baitul Mal baru ada pada masa kekhalifahan Umar bin Khattab.

Baitul Mal juga dikenal sebagai lembaga keuangan non pemerintah yang berfungsi menerima dan menyalurkan dana umat.

Dari situ muncul satu perbedaan mendasar mengenai konsep penerapan baitul mal, yakni keterlibatan negara dalam pengelolaannya.

Pada masa khilafah, baitul mal merupakan sebuah lembaga pemerintah yang mengelola keuangan negara.

Sedangkan pada zaman modern hari ini, baitul mal menjadi lembaga swasta yang tidak saja berfungsi sebagai penerima dan penyaluran harta kepada yang berhak, selain itu juga agar mengupayakan pengembangan dari harta itu sendiri yang dilandasi prinsip-prinsip ekonomi Islam.

Jika dikelola dengan baik, keberadaan Baitul Mal masih relavan dan dibutuhkan hingga saat ini, sebagai upaya untuk memaksimalkan potensi pemberdayaan ekonomi umat dan meningkat taraf kesejahteraan masyarakat. (Arga)

Redaktur: Wahid Ikhwan


WAKAFDT.OR.ID

Sejarah Baitul Mal dalam Islam Read More »