Wakaf Daarut Tauhiid

Artikel Islam

Kemandirian Pesantren melalui Optimalisasi Wakaf

WAKAFDT.OR.IDDewasa ini, pesantren bukan hanya sekadar lembaga pendidikan, melainkan local genius Indonesia yang memiliki akar sejarah perlawanan dan pemberdayaan masyarakat.

Kunci keberlangsungan pesantren terletak pada kemandirian, yang dibangun di atas fondasi nilai keikhlasan, modal sosial, dan kepemimpinan kiai. Strategi utama untuk memperkuat kemandirian ini meliputi:

  • Menjaga Ruh Al-Ma’had: Mempertahankan nilai keikhlasan sebagai sumber keberkahan.
  • Merawat Modal Sosial: Menjaga kedekatan dengan masyarakat sekitar.
  • Optimalisasi Modal Kapital & Operasional: Mengelola aset tetap (tanah wakaf) secara produktif dan menginisiasi gerakan wakaf uang sebagai endowment fund (dana abadi).
  • Transformasi Ekosistem: Mengubah ekosistem sosial menjadi ekosistem bisnis yang tetap berbasis etis untuk meningkatkan posisi tawar dan kesejahteraan umat.

Implementasi dan Korelasi pada Aset Wakaf Daarut Tauhiid (DT)

Pondok Pesantren Daarut Tauhiid, yang didirikan oleh KH. Abdullah Gymnastiar (Aa Gym), merupakan contoh nyata (benchmark) dari apa yang dibahas dalam poin diatas. Berikut adalah keterkaitannya:

1. Wakaf sebagai Pilar Kemandirian (Modal Kapital)

Pesantren yang tidak memiliki modal kapital tetap akan rentan goyah. DT mengimplementasikan hal ini dengan sangat kuat melalui slogan “Wakaf Menjadi Jalan Kemandirian Umat.”

Aset Produktif: DT tidak hanya memiliki wakaf dalam bentuk masjid atau asrama, tetapi juga wakaf produktif seperti swalayan (SMM), Cottage, hingga gedung perkantoran.

Hasil dari aset produktif inilah yang membiayai operasional pesantren sehingga tidak bergantung pada bantuan eksternal yang tidak menentu.

2. Transformasi Ekosistem Sosial ke Ekosistem Bisnis

Sangat disarankan pesantren melengkapi diri dengan business ecosystem. DT telah lama menjalankan konsep ini melalui Lembaga Strategis DT yang saat ini disatukan dalam konsep Wakaf Produktif.

Konektivitas: Kebutuhan santri (pangan, pakaian, jasa keuangan) dipenuhi oleh unit bisnis milik wakaf. Hal ini menciptakan perputaran ekonomi di dalam ekosistem pesantren yang keuntungannya kembali lagi untuk membiayai dakwah dan pendidikan.

3. Inovasi Wakaf Uang dan Wakaf Melalui Uang

Sesuai dengan gagasan mengenai “Dana Abadi”, DT melalui Wakaf DT telah memelopori berbagai program wakaf yang memudahkan jamaah:

Wakaf Berjangka & Wakaf Tunai: DT memfasilitasi jamaah untuk berwakaf mulai dari nominal kecil. Dana ini kemudian dikelola untuk pembangunan infrastruktur maupun investasi produktif yang hasilnya dirasakan oleh ribuan santri (seperti beasiswa santri tahfidz).

4. Menjaga Marwah dan Kepercayaan (Modal Sosial)

Akuntabilitas: Dengan pengelolaan yang profesional dan dilaporkan secara berkala, DT berhasil membangun kepercayaan publik (trust) yang luar biasa. Inilah “modal sosial” yang dimaksud, di mana masyarakat merasa memiliki dan terus mendukung pertumbuhan pesantren.

5. Local Genius dan Pemberdayaan “Wong Cilik”

Program-program seperti Desa Ternak Mandiri (DT Peduli) atau pemberdayaan ekonomi masyarakat sekitar pesantren di Gegerkalong adalah bukti bahwa aset wakaf DT benar-benar menjadi lokomotif kesejahteraan sebagaimana visi yang diharapkan.

Pesantren Daarut Tauhiid membuktikan bahwa dengan manajemen wakaf yang produktif, transparan, dan visioner, sebuah pesantren dapat bertransformasi dari sekadar institusi pendidikan menjadi kekuatan ekonomi umat yang mandiri dan bermartabat. (WIN)

Redaktur: Wahid Ikhwan

Referensi: Dr. KH. Tatang Astarudin, M.Si (BWI)


WAKAFDT.OR.ID

Kemandirian Pesantren melalui Optimalisasi Wakaf Read More »

Hukum Mengucapkan Selamat Natal Menurut Buya Hamka: Toleransi Tanpa Menggadai Akidah

WAKAFDT.OR.IDPerdebatan mengenai hukum mengucapkan Selamat Natal bagi umat Islam sering kali muncul menjelang akhir tahun.

Salah satu tokoh yang sering dikaitkan dengan isu ini adalah Buya Hamka, Ketua Umum pertama Majelis Ulama Indonesia (MUI). Benarkah beliau melarang ucapan tersebut?

Putra kandung Buya Hamka, Irfan Hamka, memberikan klarifikasi mendalam mengenai pandangan sang ayah terkait toleransi beragama dan batas-batas akidah dalam Islam.

Klarifikasi Fatwa MUI 1981: Bukan Larangan Ucapan

Banyak orang salah kaprah menganggap Fatwa MUI tahun 1981 yang diterbitkan di masa kepemimpinan Buya Hamka mengharamkan ucapan Selamat Natal.

Irfan Hamka menegaskan bahwa poin utama fatwa tersebut bukan pada ucapannya, melainkan pada partisipasi dalam ritual ibadah.

“Yang diharamkan oleh Buya Hamka adalah jika umat Muslim mengikuti prosesi ibadah Natal, seperti menyanyi di gereja atau menyalakan lilin ritual,” jelas Irfan.

Praktik Toleransi Buya Hamka kepada Tetangga

Jauh dari kesan kaku, Buya Hamka dikenal sebagai sosok yang sangat menjunjung tinggi nilai kerukunan.

Saat menetap di Kebayoran Baru, Jakarta Selatan, beliau memiliki hubungan yang sangat harmonis dengan tetangganya yang beragama Kristen, yakni keluarga Ong Liong Sikh dan Reneker.

Bentuk toleransi yang ditunjukkan Buya Hamka meliputi:

  • Saling Memberi Ucapan: Saat Idulfitri, tetangga non-Muslim memberikan ucapan kepada Buya. Sebaliknya, pada 25 Desember, Buya Hamka membalas dengan ucapan selamat kepada mereka.
  • Berbagi Makanan: Buya sering meminta istrinya mengantarkan rendang kepada tetangga sebagai bentuk silaturahmi, biasanya dilakukan pada momen malam tahun baru.

Rahasia Dibalik Kalimat “Selamat Natal Kalian”

Irfan Hamka mengenang cara unik ayahnya dalam berucap. Buya Hamka sering menggunakan kalimat: “Selamat, telah merayakan Natal kalian.”

Penggunaan kata “kalian” atau “bagi kaum Kristiani” memiliki makna teologis yang dalam. Menurut Buya, tambahan kata tersebut berfungsi sebagai pembatas akidah sesuai prinsip Al-Qur’an surah Al-Kafirun: “Bagimu agamamu, bagiku agamaku.”

Dengan kata lain, ucapan tersebut adalah bentuk penghormatan atas kegembiraan orang lain tanpa harus membenarkan keyakinan agama tersebut.

Etika Mengucapkan Selamat dalam Islam

Selain masalah diksi, Irfan menyebutkan ada etika waktu yang diperhatikan oleh ayahnya. Beliau menyarankan agar ucapan selamat disampaikan setelah umat Kristen menyelesaikan ibadah mereka. Hal ini dikarenakan esensi kata “selamat” adalah apresiasi atas suatu peristiwa yang telah atau sedang berlangsung.

Pandangan Buya Hamka mengajarkan bahwa Islam adalah agama yang damai dan toleran. Menjaga hubungan baik dengan sesama manusia (hablum minannas) bisa dilakukan tanpa harus mencampuradukkan ritual ibadah (akidah). (WIN)

Redaktur: Wahid Ikhwan


WAKAFDT.OR.ID

Hukum Mengucapkan Selamat Natal Menurut Buya Hamka: Toleransi Tanpa Menggadai Akidah Read More »

Membawa Anak ke Masjid, Bolehkah?

WAKAFDT.OR.IDMasjid merupakan rumah Allah Ta’ala sekaligus pusat ibadah umat Islam yang harus dijaga dan dimakmurkan. Memakmurkan masjid memiliki keutamaan yang besar, sebagaimana ditegaskan dalam Al-Qur’an:

“Sesungguhnya yang memakmurkan masjid Allah hanyalah orang-orang yang beriman kepada Allah dan hari kemudian, serta (tetap) melaksanakan salat, menunaikan zakat dan tidak takut (kepada apa pun) kecuali kepada Allah…” (QS. At-Taubah: 18)

Selain itu, Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam menyebutkan bahwa mereka yang berkumpul di masjid untuk membaca dan mempelajari Al-Qur’an akan diliputi ketenangan, rahmat, dan dikelilingi oleh para malaikat (HR. Abu Daud).

Bolehkah Anak-Anak Ikut ke Masjid?

Muncul pertanyaan di tengah masyarakat mengenai hukum membawa anak kecil ke dalam masjid. Berdasarkan penjelasan Hafidz Muftisany dalam buku Fikih Keseharian, pada dasarnya tidak ada larangan untuk membawa anak-anak ke masjid.

Berikut adalah beberapa poin penting terkait hal ini:

  • Usia Mumayyiz: Sangat dianjurkan membawa anak yang telah mencapai usia mumayyiz (usia di mana anak sudah bisa membedakan hal baik dan buruk).
  • Pendidikan Sejak Dini: Sayyid Sabiq dalam Fiqih Sunnah menjelaskan bahwa meski belum wajib, orang tua perlu memperkenalkan dan mengajarkan shalat kepada anak sejak dini.
  • Anjuran di Usia 7 Tahun: Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda: “Perintahkanlah anak-anak kalian untuk melakukan sholat saat usia mereka tujuh tahun…” (HR. Ahmad).

Ibnu Hajar dalam Fathul Bari menjelaskan bahwa hadits ini menjadi dalil diperbolehkannya anak-anak ikut shalat berjamaah di masjid sebagai sarana pembiasaan.

Meski diperbolehkan, ada tanggung jawab besar yang harus dipikul oleh orang tua agar kemuliaan masjid tetap terjaga:

  • Pengawasan Melekat: Orang tua wajib mendampingi dan mengawasi anak secara ketat selama berada di lingkungan masjid.
  •  Menjaga Kekhusyukan: Pastikan kehadiran anak tidak mengganggu ketenangan jamaah lain yang sedang beribadah.
  • Memberi Pengertian: Ajarkan anak mengenai adab-adab di dalam masjid sebelum membawanya.

Membawa anak ke masjid adalah langkah positif untuk membentuk karakter religius sejak dini. Dengan pendampingan yang tepat, diharapkan anak-anak akan lebih termotivasi untuk mencintai masjid dan konsisten menunaikan shalat berjamaah hingga mereka dewasa. (WIN)

Redaktur: Wahid Ikhwan


WAKAFDT.OR.ID

Membawa Anak ke Masjid, Bolehkah? Read More »

Dua Hal Penyebab Orang Malas Berdo’a

WAKAFDT.OR.IDKenapa ada orang yang malas untuk berdoa? Bahkan ada banyak orang enggan berdoa seusai sholat. Padahal orang yang malas berdoa disebut-sebut sebagai manusia yang paling sombong dan lemah.

Dari Abu Hurairoh Radhiyallahu ‘anhu ia berkata bahwa Rasulullah bersabda:

“Manusia paling lemah adalah mereka yang paling malas berdoa (kepada Allah). Dan manusia paling pelit adalah manusia yang pelit memberi salam.” (HR. Thabrani).

Syaikh Abdul Qadir Jailani berpendapat dalam kitab Futuhul Ghaib mengapa orang malas berdoa. Di antaranya ialah:

Pertama, menganggap bahwa semua sudah dalam ketentuan Allah Ta’ala. Pemahaman bahwa segala sesuatu itu telah ditetapkan oleh Allah membuat seseorang tidak perlu lagi meminta atau berdoa kepada Alloh.

وَقَالَ رَبُّكُمُ ادْعُوْنِيْٓ اَسْتَجِبْ لَكُمْ ۗاِنَّ الَّذِيْنَ يَسْتَكْبِرُوْنَ عَنْ عِبَادَتِيْ سَيَدْخُلُوْنَ جَهَنَّمَ دَاخِرِيْنَ

“Dan Tuhanmu berfirman, “Berdoalah kepada-Ku, niscaya akan Aku perkenankan bagimu. Sesungguhnya orang-orang yang sombong tidak mau menyembah-Ku akan masuk neraka Jahanam dalam keadaan hina dina.” (QS. Al Ghafir: 60)

Dari ayat diatas jelas kita diminta untuk memohon kepada Allah dengan penuh keyakinan, bahwa permohonan seorang hamba itu akan diterima oleh Allah.

Berdoalah kepada Allah dengan menengadahkan tangan dan penuh keyakinan. Tetaplah berdoa jangan berputus asa, karena doa itu pada hakekatnya merupakan refleksi dari penghambaan dan kehinaan seorang hamba.

Oleh karenanya, seseorang yang tidak mau berdoa adalah bentuk kesombongan dan melupakan jati dirinya sebagai hamba Allah.

Doa yang belum terkabul biasanya seseorang berkata: “Sesungguhnya aku telah meminta dan berdoa kepada Allah, tapi Dia tidak memperkenankan doaku, maka sekarang aku tidak mau lagi bedoa kepadaNya.”

Jika ada suatu hal yang kita minta, namun Allah belum memenuhinya berarti, belum saat yang tepat kita menerimanya atau boleh jadi Allah mengabulkannya dalam bentuk lain.

Tetaplah berprasangka baik atas takdir Alloh, karena ini akan melatih seorang untuk terus berdo’a hanya kepada Allah Ta’ala.

Kedua, melihat ada orang yang jarang berdo’a atau biasa-biasa saja, akan tetapi terlihat seperti mendapat karunia Allah semua keinginannya terpenuhi.

Maka dalam hal ini keliru cara berpikirnya, tidak semua keinginan kita harus dipenuhi dan tidak semua yang dimiliki orang harus kita miliki.

Yakinlah bahwa pasti Allah akan menggantikannya dalam bentuk lain kepada hambanya. Allah akan mengaruniakan rasa cukup, rasa gembira, dan rasa sehat.

Yakinlah bahwa Allah tidak menyia-nyiakan doa seseorang. Maka jangan sampai dua hal diatas terjadi, hingga membuat kita termasuk orang malas berdoa kepada Allah.

Redaktur: Wahid Ikhwan


WAKAFDT.OR.ID

Dua Hal Penyebab Orang Malas Berdo’a Read More »

Aa Gym: Mengenal Alloh yang Maha ‘Malik’

WAKAFDT.OR.IDSegala puji hanya milik Alloh Ta’ala. Dzat yang Maha Kuasa dan kekuasaanya tidak pernah bisa dibayangkan oleh pikiran manusia yang sangat terbatas. Hal ini karena salah satu asma wa sifat Alloh Al Malik, yang memiliki arti Alloh Yang Maha Raja atas segala sesuatu.

Di dalam Al Quran kata Al Malik disebutkan dibeberapa bagian, yaitu sebanyak lima tempat. Alloh merupakan Malikul Mulki, Yang menguasai segala kerajaan.

Alloh juga dipanggil dengan Malikul Muluk, yang artinya raja diatas segala raja. Alloh-lah yang mempunyai kerajaan langit dan bumi.

Alloh Ta’ala disebut dengan Maha Raja karena Alloh memiliki kekuasaan mutlak atas apa yang ada di seluruh semesta ini, tanpa membutuhkan apapun dan siapapun untuk mengurusnya.

Segala yang ada di dalam alam semesta ini mutlak ciptaan Alloh dan Alloh juga yang mengaturnya.

Alloh juga yang menciptakan semuanya tanpa membutuhkan pertolongan siapapun, justru manusialah yang selalu membutuhkan pertolongan Alloh Ta’ala.

Ketaatan seorang hamba kepada Alloh, bukan berarti Alloh membutuhkan sebuah ketaatan dari makhluknya, karena ketaatan makhluk tidak akan menambah kemuliaan Alloh, atau sebaliknya kemaksiatan seorang hamba juga tidak akan mengurangi kekuasaan-Nya.

Kita membutuhkan Alloh karena kita sangat bergantung kepada-Nya. Karena segala keperluan kita berada dalam genggaman Alloh.

Kita hanya manusia lemah, di mana untuk menumbuhkan sehelai rambut pun kita tidak akan mampu. Kita juga tidak bisa menahan tumbuhnya uban meski hanya sehelai rambut.

Sungguh betapa lemahnya diri kita dan betapa besarnya kekuasaan Alloh Ta’ala. Alloh Ta’ala berfirman dalam Al Quran:

قُلِ اللهم مٰلِكَ الْمُلْكِ تُؤْتِى الْمُلْكَ مَنْ تَشَاۤءُ وَتَنْزِعُ الْمُلْكَ مِمَّنْ تَشَاۤءُۖ وَتُعِزُّ مَنْ تَشَاۤءُ وَتُذِلُّ مَنْ تَشَاۤءُ ۗ بِيَدِكَ الْخَيْرُ ۗ اِنَّكَ عَلٰى كُلِّ شَيْءٍ قَدِيْرٌ

“Katakanlah (Muhammad), “Wahai Tuhan pemilik kekuasaan, Engkau berikan kekuasaan kepada siapa pun yang Engkau kehendaki, dan Engkau cabut kekuasaan dari siapa pun yang Engkau kehendaki. Engkau muliakan siapa pun yang Engkau kehendaki dan Engkau hinakan siapa pun yang Engkau kehendaki. Di tangan Engkaulah segala kebajikan. Sungguh, Engkau Mahakuasa atas segala sesuatu.” (QS. Ali ‘Imran: 26)

Harapannya adalah, kita semakin yakin akan kekuasaan Alloh Ta’ala. Kita merasa semakin kecil di hadapan Alloh, sekalipun ada beberapa kewenangan diberikan oleh Alloh. Alloh adalah tempat kita kembali dan Alloh yang memberikan berbagai karunia kepada kita. (KH. Abdullah Gymnastiar)

Redaktur: Wahid Ikhwan


WAKAFDT.OR.ID

Aa Gym: Mengenal Alloh yang Maha ‘Malik’ Read More »

Bagaimana Seharusnya Seorang Muslim Berpakaian?

WAKAFDT.OR.IDSeorang muslim diharuskan memakai pakaian yang sopan dan menutup aurat, karena hal tersebut merupakan cerminan akhlak muslim yang sebenarnya.

Islam tidak pernah mengatur secara mutlak bentuk, style, dan warna pakaian, baik ketika beribadah atau dalam berkegiatan sehari-hari.

Namun, Islam hanya mengatur adab berpakaian yang harus bersih, menutup aurat, sopan yang sesuai dengan cerminan akhlak seorang Muslim.

Di dalam Islam ada batasan atau standar bagaimana adab berpakaian, di antaranya ialah:

Menutup aurat

Untuk aurat lelaki batasnya dari pusar hingga ke lutut. Sedangkan aurat wanita ialah seluruh anggota badannya, kecuali wajah, telapak tangan dan telapak kakinya.

Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wassalam bersabda: “Paha itu adalah aurat.” (HR. Bukhari)

Tidak Menampakkan Lekuk Tubuh

Pakaian mesti jarang atau longgar, tidak boleh ketat sehingga menampakan lekuk tubuh yang bisa mengundang hawa nafsu orang lain. Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wassalam bersabda:

“Dua kelompok ahli neraka yang belum pernah aku lihat adalah, satu golongan memegang cemeti seperti ekor lembu yang digunakan bagi memukul manusia dan satu golongan lagi ialah wanita yang memakai pakaian tetapi telanjang dan meliuk-liukkan badan juga kepalanya seperti bonggol unta yang tunduk. Mereka tidak masuk surga dan tidak bisa mencium baunya walaupun bau syurga itu dapat dicium daripada jarak yang jauh.” (HR. Muslim)

Tidak Memunculkan Perasaan Riya

Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasalam bersabda: “Siapa yang melabuhkan pakaiannya kerana perasaan sombong, Allah Ta’ala tidak akan memandangnya pada hari kiamat.” (HR. Ahmad)

Membedakan Pakaian Lelaki dan Wanita

Pakaian yang digunakan oleh laki-laki tidak boleh menyerupai pakaian perempuan. Begitu juga sebaliknya, pakaian yang dipakai oleh perempuan tidak menyerupai pakaian laki-laki.

Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasalam mengingatkan hal ini dengan tegas melalui sabdanya:

“Allah mengutuk wanita yang meniru pakaian dan sikap lelaki, dan lelaki yang meniru pakaian dan sikap perempuan.” (HR. Bukhari)

Larangan Memakai Sutera

Islam mengharamkan kaum pria menggunakan pakaian yang terbuat dari bahan sutera. Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasalam bersabda yang artinya:

“Janganlah kamu memakai sutera, sesungguhnya orang yang memakainya di dunia tidak dapat memakainya di akhirat.” (HR. Bukhari-Muslim)

Diawali dengan Sebelah Kanan

Apabila memakai baju, celana dan pakaian yang lainnya, maka mulailah dengan sebelah kanan terlebih dahulu. Imam Muslim meriwayatkan dari Aisyah Radiyallahu ‘anhu yang artinya:

“Rasulullah suka sebelah kanan dalam segala keadaan, seperti memakai sandal, sepatu, berjalan kaki dan bersuci.”

Apabila memakai sepatu atau seumpamanya, mulai dengan sebelah kanan dan apabila menanggalkannya, mulai dengan sebelah kiri.

Awali dengan Berdoa

Seorang muslim sangat dianjurkan untuk mengawali segala aktifitasnya dengan berdo’a. Salah satunya ialah ketika berpakaian, sekurang-kurangnya dengan membaca lafazh bismillahirrahmanirrohim.

Semoga dengan penjelasan diatas bisa memperbaiki diri kita, bagaimana adab berpakaian yang baik menurut tuntunan Islam. Wallahu a’lam bishowab.

Redaktur: Wahid Ikhwan


WAKAFDT.OR.ID

Bagaimana Seharusnya Seorang Muslim Berpakaian? Read More »

Aa Gym: Ada 4 Jenis Orang Pemarah

WAKAFDT.OR.ID — Segala puji milik Alloh, Tuhan semesta alam beserta isinya. Kita berdoa kepada Alloh semoga memasukan kita dalam golongan orang-orang yang istiqomah beribadah kepada Alloh.

Sholawat serta salam semoga tercurah kepada baginda nabi Muhammad Shallallahu ‘alaihi wasalam.

Ketahuilah, bahwa amarah adalah sesuatu yang harus bisa kita kendalikan dan kita redam. Jangan sampai marah yang mengendalikan kita, karena itu Rosululloh Shallallahu ‘alaihi wasalam memberikan contoh kepada kita bagaimana cara untuk mengendalikan amarah.

Ada beberapa jenis atau tipe orang marah yang perlu kita pahami, supaya bisa memeriksa diri kita termasuk tipe yang mana? Agar kita lebih terampil untuk mampu mengendalikan amarah.

Pertama, mudah marah dan apabila sudah marah maka membutuhkan waktu yang lama untuk meredanya. Ini merupakan tipe yang paling buruk jika marah.

Kedua, susah marah, namun kalau sudah marah maka akan susah juga redanya. Ini juga termasuk tipe marah yang buruk.

Ketiga, mudah marah tetapi mudah juga redanya. Ini tipe lebih baik dalam urusan marah.

Keempat, susah marah tetapi jika telah marah maka akan mudah redanya dengan cepat. Ini merupakan tipe yang paling baik dalam level marah. Sesungguhnya amarah merupakan bagian dari fitrah manusia yang dilengkapi hawa nafsu.

Namun, setiap manusia dituntut agar bisa atau terampil meredam, mengendalikan, dan menjauhkan rasa marah dari diri sendiri. Karena ada juga yang tidak terampil mengendalikannya.

Alloh Ta’ala berfirman yang artinya, “..dan orang-orang yang menahan amarahnya dan memaafkan (kesalahan) orang. Allah menyukai orang-orang yang berbuat kebajikan.” (QS. Ali Imron: 134)

Ketahuilah bahwa amarah itu adalah sesuatu yang akan membuat kita menyesal. Setelah marah biasanya kita merenung dan berpikir kenapa kita harus? Padahal marah itu menguras energi.

Belum lagi marah itu juga dapat menyakiti perasaan orang lain. Oleh karenanya mari berjuang sekuat tenaga untuk mengontrol marah, jangan biarkan iblis menjadi pemenang dalam menghasut amarah kita.

Semoga kita termasuk orang-orang yang berjuang keras untuk menjadi pribadi yang kuat dalam mengendalikan amarah.

Orang yang mampu mengendalikan amarah berarti telah mampu mengendalikan hawa nafsunya. Wallahu a’lam bishowab. (KH Abdullah Gymnastiar)

Redaktur: Wahid Ikhwan


WAKAFDT.OR.ID

Aa Gym: Ada 4 Jenis Orang Pemarah Read More »

Mengapa Kita Harus Berwakaf? Memahami Manfaat Abadi Wakaf di Dunia dan Akhirat

WAKAFDT.OR.IDSetiap Muslim dianjurkan untuk memahami hakikat dan manfaat dari ibadah wakaf. Pemahaman yang mendalam tentang manfaat ini akan menumbuhkan motivasi kuat untuk menunaikan atau mengalokasikan sebagian harta di jalan Allah melalui wakaf.

Wakaf, secara hakikat, adalah mekanisme cerdas dari Allah Ta’ala dalam pengelolaan harta yang bersifat produktif dan berkelanjutan.

Berbeda dengan sedekah biasa, harta yang diwakafkan status kepemilikannya menjadi abadi dan tidak boleh dijual, diwariskan, atau dihabiskan zatnya.

Konsep inilah yang menjadikan wakaf sebagai investasi jangka panjang (amal jariyah), di mana pahalanya akan terus mengalir selama harta wakaf tersebut masih dirasakan dan digunakan manfaatnya oleh penerima (mauquf ‘alaih), bahkan hingga pewakaf (wakif) telah meninggal dunia.

Manfaat wakaf tidak hanya dirasakan oleh penerima manfaat, tetapi juga secara langsung oleh kita sebagai pewakaf, baik di dunia maupun di akhirat kelak.

Pahala yang Terus Mengalir (Amal Jariyah)

Ini adalah manfaat utama wakaf di akhirat. Sebagaimana dijanjikan oleh Allah Ta’ala, harta yang diwakafkan akan terus melimpah pahalanya. Konsep pahala yang berlipat ganda ini dijelaskan dalam firman Allah SWT:

Sebagaimana perumpamaannya disebutkan dalam surah Al-Baqarah ayat 261, yang artinya:

“Perumpamaan orang yang menginfakkan hartanya di jalan Allah seperti sebutir biji yang menumbuhkan tujuh tangkai, pada setiap tangkai ada seratus biji. Allah melipatgandakan bagi siapa yang Dia kehendaki, dan Allah Mahaluas, Maha Mengetahui.” (QS. Al-Baqarah: 261)

Selama aset wakaf itu berdiri kokoh dan terus memberi manfaat—misalnya sekolah, rumah sakit, atau sumur—maka pahalanya akan terus mengalir kepada pewakaf tanpa terhenti.

Melatih Jiwa Sosial dan Kepedulian

Mengeluarkan harta dalam bentuk wakaf merupakan cara efektif untuk melatih jiwa sosial, menumbuhkan empati untuk membantu sesama yang tengah kesulitan, dan mempererat tali persaudaraan dalam masyarakat. Tindakan ini secara tidak langsung membantu mencegah kesenjangan sosial yang terlalu jauh.

Harta wakaf adalah solusi produktif untuk menunjang berbagai kebutuhan sosial dan kemaslahatan umum.

Dengan adanya wakaf, kegiatan sosial dan fasilitas publik dapat berjalan tanpa harus bergantung sepenuhnya pada anggaran negara atau donasi insidental.

Tips Menunaikan Wakaf

Anda tidak perlu menunggu memiliki harta yang melimpah untuk berwakaf. Prinsip dalam berwakaf adalah semampu kita (istiṭā’ah) dan yang terpenting adalah keikhlasan.

  • Niatkan dengan Ikhlas: Amalan wakaf hanya akan bernilai di sisi Allah Ta’ala jika niatnya murni hanya mengharap ridha-Nya.
    • Tidak Harus Bernilai Besar: Wakaf dapat ditunaikan dengan nilai yang kecil sekalipun, selama dilakukan secara rutin atau bahkan melalui skema wakaf kolektif atau gotong royong untuk melengkapi kebutuhan aset.
    • Pilih Aset yang Produktif: Pastikan aset yang diwakafkan dapat memberikan manfaat yang berkelanjutan.

    Semoga dengan memahami manfaat wakaf yang abadi ini, kita memiliki keinginan yang kuat untuk mewakafkan sebagian harta kita di jalan Allah, dengan niat yang tidak lain dan tidak bukan hanya mengharap ridha Allah Ta’ala. (WIN)

    Redaktur: Wahid Ikhwan


    WAKAFDT.OR.ID

    Mengapa Kita Harus Berwakaf? Memahami Manfaat Abadi Wakaf di Dunia dan Akhirat Read More »

    Belajar Dari Dakwah Nabi Saleh

    WAKAFDT.OR.ID — Nabi Saleh ‘Alaihissalam diangkat menjadi Nabi untuk melanjutkan masa kenabian Nabi Hud ‘Alaihissalam. Nabi Saleh diutus Allah Ta’ala untuk berdakwah kepada kaum Tsamud, salah satu keturunan dari Nabi Nuh ‘Alaihissalam.

    Dalam sebuah riwayat disebutkan bahwa kaum Tsamud diberi kelebihan oleh Allah dalam bentuk fisik yang kuat. Kaum Tsamud dapat mengukir dan memahat gunung-gunung berbatu sehingga menjadi bentuk yang sangat indah.

    Selain itu juga diberikan kepandaian untuk mendirikan bangunan kokoh dan tinggi yang dijadikan sebagai tempat tinggal mereka.

    Kaum Tsamud hidup dengan makmur di atas tanah yang subur, dengan tanah yang subur tersebut kaum Tsamud memilih untuk bercocok tanam, memelihara hewan ternak sehingga tidak ada yang merasa kelaparan.

    Namun celakanya! Hidup kaum Tsamud jauh dari petunjuk dan hidayah Allah Ta’ala. Kepandaian yang ada dalam diri kaum Tsamud telah membuat kaum Tsamud sombong, sampai-sampai Kaum Tsamud menganggap diri meraka adalah kaum yang paling hebat dan kuat dibandingkan kaum-kaum lainnya.

    Kaum Tsamud menyembah patung dan berhala yang dibuat oleh mereka sendiri. Senang mabuk-mabukan, membunuh, berzina, merampok, dan segala bentuk perbuatan maksiat dilakukan setiap harinya. Sehingga membuat Allah Ta’ala murka karena lupa pada nikmat dan karunia Allah Ta’ala.

    Allah Ta’ala kemudian mengutus Nabi Saleh ‘Alaihissalam untuk mendakwahkan kaum Tsamud untuk kembali kepada jalan yang benar. Lalu Allah Ta’ala berfirman dalam surat Hud ayat 61 yang artinya:

    Kepada (kaum) Tsamud (Kami utus) saudara mereka, Saleh. Dia berkata, “Wahai kaumku, sembahlah Allah! Sekali-kali tidak ada Tuhan bagimu selain Dia. Dia telah menciptakanmu dari bumi (tanah) dan menjadikanmu pemakmurnya. Oleh karena itu, mohonlah ampunan kepada-Nya, kemudian bertobatlah kepada-Nya. Sesungguhnya Tuhanku sangat dekat lagi Maha Memperkenankan (doa hamba-Nya).”

    Namun, kaum Tsamud mengabaikan ajakan Nabi Saleh. Kaum Tsamud pun menyampaikan sebagaimana yang termaktub dalam surat Hud ayat 62 yang artinya:

    “Mereka (kaum Samud) berkata, “Wahai Saleh, sebelum ini engkau benar-benar merupakan orang yang diharapkan di tengah-tengah kami. Apakah engkau melarang kami menyembah apa yang disembah oleh nenek moyang kami? Sesungguhnya kami benar-benar dalam keraguan yang menggelisahkan terhadap apa (agama) yang engkau serukan kepada kami.”

    Intinya kaum Tsamud menolak kehadirannya, namun Nabi Saleh ‘Alaihissalam tidak berputus asa dan mundur dari dakwahnya sebagaimana yang perintahkan Allah.

    Nabi Saleh ‘Alaihissalam tetap berusaha untuk menyebarkan agama Allah dan terus mencoba untuk memperbaiki akhlak kaum Tsamud.

    Berkat kesabaran dan keteguhan Nabi Saleh, beberapa kaum Tsamud pun bersedia beriman kepada Allah Ta’ala. Kesabaran dakwah tersebut harus kita contoh dalam menyebarkan agama Allah.

    Redaktur: Wahid Ikhwan


    WAKAFDT.OR.ID

    Belajar Dari Dakwah Nabi Saleh Read More »

    Aa Gym: Hati-Hati Dengan Sifat “Pendendam”

    WAKAFDT.OR.ID — Kita harus bisa menerima kenyataan bahwa sebagai manusia, orang lain pun bisa berbuat dosa atau salah, baik disengaja maupun tidak kepada kita.

    Dalam situasi seperti ini, kita tidak perlu khawatir karena Alloh Ta’ala memberikan arah kemuliaan. Allah Ta’ala berfirman yang artinya:

    “Dan tidaklah sama kebaikan dan kejahatan. Tolaklah (kejahatan) dengan cara yang lebih baik. Maka tiba-tiba orang yang di antaramu dan dia ada permusuhan, seolah-olah telah menjadi teman yang sangat setia.” (QS. Fushilat: 34)

    Dendam merupakan efek dari keadaan hati yang kecewa, terluka, dan merasa dizholimi.

    Semakin dominan rasa dendam di dalam diri seseorang, akan semakin besar juga kemungkinan untuk marah, akan muncul perasaan dengki dan melakukan perbuatan buruk, Na’udzubillaahi mindzalik. 

    Nabi Muhammad Shallahu ‘alaihi wassalam ialah panutan terbaik. Beliau bersih dari rasa dendam, walaupun beliau dihina, diboikot, dicaci, disakiti secara fisik, dan intimidasi lainnya.

    Nabi tidak pernah ada rasa dendam apalagi membalas perbuatan buruk orang lain dengan keburukan yang sama.

    Rasulullah memaafkan dan mendoakan orang yang menyakitinya dengan kebaikan. Ketika penduduk kota Thaif menolak keras dakwah Rasulullah Shallahu ‘alaihi wasalam.

    Kemudian malaikat Jibril alaihi wasalam menawarkan pembalasan terhadap mereka, maka Rosululloh Shallallahu ‘alaihi wasalam menolak tawara tersebut.

    Sahabat, dendam itu selain akan menghancurkan kita, akan menghancurkan akhlak dan pikiran kita juga. Oleh karenanya jauhilah rasa dendam.

    Balaslah perbuatan buruk orang lain dengan perbuatan yang baik, sebagaimana yang diajarkan Nabi Muhammad.

    Kita tidak bisa memaksa orang lain berbuat baik kepada kita. Tapi, kita bisa memaksa diri kita sendiri untuk tetap berbuat baik kepada orang lain.

    Mari kendalikan hati kita di saat timbulnya rasa dendam. Yakinilah bahwa kebaikan dan kemuliaan tidak akan datang dengan cara melampiaskan dendam.

    Kemuliaan justru datang jika kita mampu memupus dendam dengan kebaikan. Keburukan orang lain tidak bisa membahayakan kita, yang membahayakan kita ialah keburukan kita sendiri.

    Semoga Allah Ta’ala selalu membimbing kita untuk memiliki kebeningan dan ketulusan hati.

    Seseorang yang pemaaf dan bukan pendendam bukan berarti itu lemah, justru sebaliknya menunjukkan betapa kuatnya orang tersebut dia kuat. (KH. Abdullah Gymnastiar)

    Redaktur: Wahid Ikhwan


    WAKAFDT.OR.ID

    Aa Gym: Hati-Hati Dengan Sifat “Pendendam” Read More »