Wakaf Daarut Tauhiid

Artikel Islam

Legislator Dorong Audit Lingkungan Menyeluruh di Lokasi Rawan Bencana

WAKAFDT.OR.ID | BANDUNG BARAT – Musibah longsor yang menerjang Desa Pasirlangu, Kecamatan Cisarua, Kabupaten Bandung Barat (KBB) pada Sabtu (24/1/2026) lalu, memicu desakan kuat untuk dilakukannya evaluasi total terhadap kondisi ekosistem di lereng Gunung Burangrang. Bencana ini dinilai bukan sekadar dampak cuaca ekstrem, melainkan sinyal merah bagi tata kelola lahan di wilayah tersebut.

Rajiv, anggota DPR RI sekaligus anggota Panja Alih Fungsi Lahan Komisi IV, menegaskan bahwa audit lingkungan bersifat wajib. Menurutnya, pemerintah perlu menelusuri secara mendalam apakah bencana ini murni faktor alam atau diperparah oleh campur tangan manusia.

“Kita tidak bisa lagi hanya menyalahkan hujan. Harus ada keberanian untuk mengusut apakah ada kerusakan lingkungan atau alih fungsi lahan yang terjadi di kawasan rawan ini,” ujar Rajiv dalam keterangannya, Minggu (25/1/2026).

Ia menuntut investigasi yang transparan dari pemerintah daerah dan aparat penegak hukum agar penyebab utama longsor dapat diketahui publik secara jelas.

Gunung Burangrang sebagai Kawasan Penyangga

Kawasan lereng Gunung Burangrang memiliki peran krusial sebagai penyangga kehidupan ekologis di sekitarnya. Rajiv memperingatkan bahwa pembukaan lahan yang tidak terkendali dan perizinan yang bermasalah di kawasan lindung hanya akan menjadi “bom waktu” bagi bencana di masa depan.

Sebagai langkah konkret, Panja Alih Fungsi Lahan Komisi IV DPR RI berencana menyisir kembali seluruh perizinan usaha di kawasan rawan bencana. Evaluasi ini bertujuan untuk mendeteksi adanya potensi penyalahgunaan fungsi lahan yang berkontribusi terhadap banjir dan longsor di berbagai daerah.

Sambil mendorong penegakan aturan, Rajiv juga menyampaikan duka mendalam bagi para korban. Sebagai legislator dari Dapil Jawa Barat II, ia memastikan bantuan logistik segera mengalir bagi warga di posko pengungsian.

Data Terkini Dampak Longsor: Berdasarkan informasi sementara dari BNPB Jawa Barat hingga Ahad (25/1/2026):

  • Korban Meninggal: 10 orang.
  • Warga Hilang: 82 orang (masih dalam proses pencarian oleh tim gabungan).
  • Kondisi Lapangan: Operasi evakuasi dan pencarian terus dilakukan di titik-titik reruntuhan.

Tragedi ini menjadi pengingat keras bahwa kelestarian lingkungan dan ketegasan hukum dalam menjaga kawasan hijau adalah harga mati demi keselamatan nyawa manusia. (WIN)

Redaktur: Wahid Ikhwan


WAKAFDT.OR.ID

Legislator Dorong Audit Lingkungan Menyeluruh di Lokasi Rawan Bencana Read More »

Sya’ban: Gerbang Menuju Ramadhan dan Bulan Diangkatnya Amal

WAKAFDT.OR.ID — Di antara bulan Rajab yang terhormat dan bulan Ramadhan yang agung, terdapat satu bulan yang seringkali dilupakan oleh manusia, yaitu Bulan Sya’ban.

Padahal, Sya’ban adalah masa persiapan spiritual yang sangat krusial bagi setiap Muslim yang ingin meraih kesuksesan di bulan suci nanti.

Berikut adalah beberapa keutamaan utama bulan Sya’ban yang perlu kita ketahui:

Bulan Diangkatnya Amal Perbuatan

Inilah rahasia terbesar bulan Sya’ban. Rasulullah SAW mengabarkan bahwa pada bulan ini, laporan amal setahun penuh diangkat kepada Allah SWT. Beliau bersabda:

“Bulan Sya’ban adalah bulan yang biasa dilalaikan manusia… Bulan tersebut adalah bulan diangkatnya amal perbuatan kepada Rabb semesta alam, maka aku menginginkan amalanku diangkat saat aku sedang berpuasa.” (HR. An-Nasa’i)

“Latihan” Terbaik Sebelum Ramadhan

Sya’ban adalah bulan untuk memperbanyak ibadah sunnah, terutama puasa. Aisyah RA meriwayatkan bahwa Rasulullah SAW paling banyak melakukan puasa sunnah di bulan Sya’ban dibandingkan bulan-bulan lainnya.

  • Tujuannya: Agar tubuh dan jiwa tidak kaget saat memasuki bulan Ramadhan.
  • Ibaratnya: Sya’ban adalah waktu menyemai benih, agar kita bisa memanen hasilnya di bulan Ramadhan.

Adanya Malam Nisfu Sya’ban

Malam ke-15 bulan Sya’ban (Nisfu Sya’ban) adalah malam yang istimewa. Allah SWT memberikan ampunan yang luas kepada hamba-hamba-Nya pada malam tersebut, kecuali bagi dua golongan:

  • Orang yang menyekutukan Allah (Musyrik).
  • Orang yang sedang dalam pertikaian/permusuhan dengan saudaranya.

Bulan Sholawat

Banyak ulama menyebut Sya’ban sebagai Syahrus Sholawat (Bulan Sholawat). Hal ini dikarenakan ayat perintah bersholawat (QS. Al-Ahzab: 56) diturunkan pada bulan ini. Ini adalah momen tepat untuk mempererat ikatan cinta kepada Rasulullah SAW.

Jangan biarkan Sya’ban berlalu begitu saja seperti bulan-bulan biasanya. Jadikan bulan ini sebagai momentum untuk “pemanasan iman”.

Dengan memperkuat ibadah dan kedermawanan—termasuk melalui program wakaf—kita sedang mempersiapkan diri untuk menyambut Ramadhan dalam kondisi terbaik. (WIN)

Redaktur: Wahid Ikhwan


Sya’ban: Gerbang Menuju Ramadhan dan Bulan Diangkatnya Amal Read More »

Rahasia Abadi Al-Azhar: Menelisik Kejayaan Mesir Lewat Keajaiban Wakaf

WAKAFDT.OR.ID Selama lebih dari seribu tahun, Mesir telah menjadi mercusuar ilmu pengetahuan dunia Islam. Jika kita bertanya apa rahasia di balik ketangguhan institusi pendidikannya yang mampu bertahan melintasi berbagai zaman, dinasti, hingga kolonialisme, jawabannya bukanlah cadangan minyak atau emas, melainkan pengelolaan wakaf yang luar biasa.

Wakaf: Bahan Bakar Peradaban

Di masa keemasannya, wakaf di Mesir tidak hanya terbatas pada pembangunan masjid. Para sultan, bangsawan, hingga rakyat biasa mewakafkan tanah perkebunan, gedung apartemen, hingga pasar grosir yang keuntungannya dialokasikan khusus untuk membiayai kehidupan sosial.

Sektor yang paling merasakan dampak dahsyat ini adalah pendidikan. Wakaf menciptakan kemandirian finansial bagi lembaga pendidikan, sehingga mereka tidak bergantung pada fluktuasi politik atau anggaran negara.

Universitas Al-Azhar: Monumen Wakaf Hidup

Universitas Al-Azhar bukan sekadar kampus; ia adalah bukti nyata bagaimana wakaf dikelola dengan visi jangka panjang. Berdiri sejak tahun 970 M, Al-Azhar telah melahirkan tokoh-tokoh besar dunia seperti Syekh Mutawalli ash-Sha’rawi, hingga cendekiawan modern yang berpengaruh di seluruh dunia.

Apa yang membuat Al-Azhar begitu istimewa dalam sistem wakafnya?

Beasiswa Kuliah Gratis Total: Ribuan mahasiswa dari seluruh penjuru dunia, termasuk Indonesia, dapat belajar tanpa dipungut biaya sepeser pun.

Tunjangan Hidup (Asy-Syabab): Mahasiswa tidak hanya dibebaskan dari biaya pendidikan, tetapi banyak di antaranya yang mendapatkan tempat tinggal (asrama/ruwaq) dan uang saku yang bersumber dari hasil pengelolaan aset wakaf.

Gaji Ulama dan Guru Besar: Para pengajar di Al-Azhar dapat fokus berdakwah dan meneliti tanpa harus pusing memikirkan ekonomi, karena kesejahteraan mereka dijamin oleh dana wakaf.

Manajemen Wakaf yang Melampaui Zaman

Kejayaan ini bisa bertahan karena sistem administrasi wakaf yang rapi. Mesir memiliki Wizarat al-Awqaf (Kementerian Wakaf) yang mengelola ribuan hektar tanah produktif dan properti.

  • Aset Produktif: Tanah wakaf dikelola menjadi lahan pertanian yang subur atau pusat bisnis.
  • Surplus yang Diputar Kembali: Keuntungan dari aset tersebut digunakan untuk renovasi bangunan, penyediaan kitab-kitab gratis, hingga fasilitas kesehatan bagi mahasiswa.
  • Kepercayaan Publik: Transparansi dalam menjaga amanah wakif (pemberi wakaf) membuat masyarakat terus termotivasi untuk menambah aset wakaf baru setiap tahunnya.

Pelajaran untuk Kita: Menghidupkan Spirit Al-Azhar di Indonesia

Apa yang terjadi di Mesir adalah bukti bahwa wakaf adalah solusi kemiskinan dan kebodohan. Melalui wakaf pendidikan, kita bisa memutus rantai kemiskinan secara permanen. Tokoh-tokoh besar lahir dari sistem yang stabil, dan stabilitas itu lahir dari kemandirian ekonomi berbasis wakaf.

Saat kita berwakaf untuk pendidikan hari ini—baik itu untuk renovasi pesantren, beasiswa santri, atau pembangunan asrama—kita sebenarnya sedang menanam benih peradaban yang buahnya akan dinikmati hingga ratusan tahun ke depan, sebagaimana para wakif Al-Azhar menikmati pahala jariyah mereka hingga detik ini.

“Jika pendidikan adalah cahaya, maka wakaf adalah minyak yang menjaganya tetap menyala.”

Redakatur: Wahid Ikhwan


WAKAFDT.OR.ID

Rahasia Abadi Al-Azhar: Menelisik Kejayaan Mesir Lewat Keajaiban Wakaf Read More »

Malik bin Dinar: Memberi di Tengah Kekurangan

WAKAFDT.OR.IDBagi kebanyakan orang, rasa lapar dan keinginan yang kuat adalah sinyal untuk segera dipuaskan. Namun, bagi Malik bin Dinar, seorang sufi besar sekaligus murid dari Hasan al-Bashri, rasa lapar justru menjadi panggung tempat ia memenangkan pertempuran melawan egonya sendiri.

Puasa Panjang Sang Ahli Kaligrafi

Dalam catatan kitab Tadzkiratul Auliya karya penyair besar Fariduddin Attar, dikisahkan bahwa selama bertahun-tahun lidah Malik bin Dinar tidak pernah mengecap rasa manis maupun asam.

Kesehariannya sangat sederhana: ia hanya berbuka puasa dengan dua potong roti kering yang dibelinya setiap malam. Baginya, kehangatan roti yang baru matang sudah merupakan kemewahan luar biasa yang menghibur hati.

Namun, suatu ketika ujian fisik menerpanya. Di tengah kondisi tubuh yang melemah karena sakit, Malik merasakan keinginan yang amat sangat untuk menyantap daging. Selama sepuluh hari ia mencoba menekan keinginan itu, hingga akhirnya ia tak kuasa lagi menahan gejolak nafsu makannya.

Sepotong Kaki Domba dan Air Mata

Malik kemudian pergi ke pasar dan membeli beberapa potong kaki domba. Karena sifatnya yang sangat menjaga privasi ibadahnya, ia menyembunyikan makanan tersebut di balik lengan bajunya. Pemilik toko yang merasa penasaran lantas mengutus seorang pelayan untuk membuntuti sang ulama.

Pelayan itu kembali dengan wajah sembab dan mata penuh air mata. Ia menceritakan sebuah pemandangan yang menggetarkan jiwa:

Di sebuah tempat tersembunyi, Malik mengeluarkan potongan daging itu. Bukan untuk dimakan, ia hanya mencium aromanya sambil berbisik pada dirinya sendiri, “Wahai diri, lebih dari ini bukanlah hakmu.”

Tanpa ragu, ia menyerahkan daging dan rotinya kepada seorang pengemis yang ia temui. Kepada tubuhnya yang renta, Malik berkata dengan penuh kasih namun tegas, bahwa penahanan diri ini bukan karena ia benci pada fisiknya, melainkan demi menyelamatkan sang jasad dari api neraka kelak, demi sebuah kebahagiaan yang abadi di akhirat.

Kecerdasan di Balik Kesahajaan

Banyak orang beranggapan bahwa tidak mengonsumsi daging dalam waktu lama dapat menurunkan ketajaman berpikir. Namun, Malik bin Dinar mematahkan anggapan tersebut. Beliau pernah berujar bahwa meski ia tidak menyentuh daging selama dua puluh tahun, kecerdasan akalnya justru terus terasah dan meningkat.

Hal ini terbukti dari rekam jejaknya. Putera dari seorang budak asal Persia ini tidak hanya dikenal sebagai ahli ibadah, tetapi juga sebagai:

  • Perawi Hadis Terpercaya: Beliau merawikan hadis-hadis sahih dari para sahabat besar seperti Anas bin Malik dan tokoh tabiin Ibnu Sirin.
  • Ahli Kaligrafi Al-Qur’an: Tangannya yang terampil menyalin kalam Ilahi dengan estetika yang luar biasa.

Malik bin Dinar wafat sekitar tahun 748 M (130 H), meninggalkan warisan berupa keteladanan tentang bagaimana seharusnya seorang hamba memosisikan nafsu di bawah kendali iman.

Redaktur: Wahid Ikhwan

Sumber: Republika


WAKAFDT.OR.ID

Malik bin Dinar: Memberi di Tengah Kekurangan Read More »

Libur Sekolah Usai, Tips Membangun Kembali Semangat Anak

WAKAFDT.OR.IDBerakhirnya masa liburan sekolah sering kali menjadi momen “horor” bagi sebagian orang tua. Transisi dari jadwal bangun siang yang santai menuju rutinitas akademik yang kaku tak jarang memicu post-holiday blues—kondisi di mana anak merasa cemas, malas, bahkan mogok sekolah.

Namun, Ayah dan Bunda jangan panik dulu. Psikolog klinis dari Rumah Sakit Jiwa Aceh, Devi Yanti, M. Psi., membagikan strategi cerdas agar si kecil kembali ke sekolah dengan penuh percaya diri.

1. Jadi Pendengar Setia, Bukan Sekadar Pengatur

Langkah pertama yang paling krusial adalah validasi emosi. Devi menekankan pentingnya bagi orang tua untuk peka terhadap perubahan suasana hati anak.

“Coba ajak komunikasi dua arah. Dengarkan apa yang mereka khawatirkan atau apa yang membuat mereka enggan kembali ke sekolah,” ujarnya.

Alih-alih menekan, berikan narasi positif. Ingatkan mereka tentang serunya bertemu teman-teman lama atau kembali mendalami mata pelajaran favoritnya.

2. ‘Ritual’ Penyesuaian Pola Hidup

Jangan menunggu hari Senin tiba untuk berubah! Devi menyarankan transisi bertahap beberapa hari sebelum masuk sekolah:

  • Reset Pola Tidur: Kembalikan jam tidur dan jam makan secara perlahan ke jadwal normal sekolah.
  • Libatkan Anak: Ajak mereka menyiapkan seragam, menata buku, dan memilih perlengkapan sekolah baru agar muncul rasa antusias.
  • Susun Jadwal Harian: Buat kesepakatan mengenai rutinitas harian agar anak memiliki gambaran jelas tentang apa yang akan mereka hadapi.

3. Kendalikan Gadget, Bangun Kedekatan

Salah satu tantangan terbesar pasca-libur adalah kecanduan gawai. Menurut Devi, orang tua harus tegas dan konsisten mengenai durasi penggunaan perangkat digital sesuai kesepakatan dengan anak.

Namun, pembatasan saja tidak cukup. Orang tua perlu menghadirkan alternatif aktivitas menyenangkan di rumah sebagai pengalih perhatian dari layar, seperti:

  • Memasak menu bekal sekolah bersama.
  • Olahraga ringan atau membaca buku di sore hari.
  • Berdiskusi santai tentang target-target seru di semester baru.

4. Dukungan Emosional adalah Kunci

Konsistensi adalah kunci, namun dukungan emosional adalah “pelumasnya”. Ciptakan suasana rumah yang kondusif dan hangat. Dengan merasa didukung, anak akan merasa lebih aman secara psikologis untuk keluar dari zona nyaman liburannya.

“Aktivitas bersama bukan hanya mengalihkan perhatian dari gadget, tapi juga mempererat ikatan keluarga sekaligus memicu semangat belajar si kecil,” tutup Bendahara HIMPSI Wilayah Aceh tersebut.

Tips Tambahan: Mulailah melakukan transisi ini setidaknya 3 hari sebelum hari pertama sekolah agar mental anak benar-benar siap tempur. (WIN)

Redaktur: Wahid Ikhwan

Sumber: Republika


WAKAFDT.OR.ID

Libur Sekolah Usai, Tips Membangun Kembali Semangat Anak Read More »

Aa Gym: Allah Maha Berkehendak, Apapun Bisa Terjadi

WAKAFDT.OR.ID – Alhamdulillah, segala puji hanya milik Alloh Ta’ala, tidak ada yang wajib kita sembah selain Alloh dan tidak ada yang kuasa memenuhi segala kebutuhan kita kecuali Alloh Ta’ala.

Karena sesungguhnya Alloh yang maha berkehendak atas diri kita, kalau Alloh sudah berkehendak maka pasti jadi. Tidak ada yang mustahil bagi Alloh.

Kalau Alloh Ta’ala menghendaki suatu kebaikan kepada makhluk atau hambanya, maka tidak ada seorang pun dan tidak ada suatu hal apapun yang bisa menghalanginya.

Begitu juga sebaliknya, kalau Alloh menghendaki keburukan menimpa makhluk atau hambanya, maka tidak ada siapapun dan apapun yang bisa menghalanginya.

وَاِنْ يَّمْسَسْكَ اللّٰهُ بِضُرٍّ فَلَا كَاشِفَ لَهٗ ٓاِلَّا هُوَ ۚوَاِنْ يُّرِدْكَ بِخَيْرٍ فَلَا رَاۤدَّ لِفَضْلِهٖۗ يُصِيْبُ بِهٖ مَنْ يَّشَاۤءُ مِنْ عِبَادِهٖ ۗوَهُوَ الْغَفُوْرُ الرَّحِيْمُ

“Dan jika Allah menimpakan suatu bencana kepadamu, maka tidak ada yang dapat menghilangkannya kecuali Dia. Dan jika Allah menghendaki kebaikan bagi kamu, maka tidak ada yang dapat menolak karunia-Nya. Dia memberikan kebaikan kepada siapa saja yang Dia kehendaki di antara hamba-hamba-Nya. Dia Maha Pengampun, Maha Penyayang.” (QS. Yunus: 107)

Sama halnya seperti ibadah haji dan umroh, orang yang berangkat haji atau umroh tidak harus orang-orang yang berstatus kaya atau memiIiki banyak uang.

Akan tetapi pada kenyataannya banyak orang yang dalam keadaan yang pas-pasan, tidak memiliki harta yang banyak justru bisa berangkat dan menyelesaikan semua rangkaian ibadah tersebut.

Kenapa ini bisa terjadi? Karena memang jika Alloh telah berkehendak maka apa pun dapat terjadi.

Alloh buka dengan berbagai cara, ada dengan didanai oleh orangtua atau anaknya, atau temannya dan berbagai cara lainnya.

Ada juga yang diundang oleh pihak pemerintah atau instasnsi tempat ia bekerja karena sebuah prestasinya.

Kalau kita lihat, bukankah tidak sedikit juga orang yang memiliki keberlimpahan harta kekayaan tapi tampak sulit sekali untuk menunaikan umroh dan haji karena berbagai macam alasan.

Oleh karenanya, hadirkan keyakinan penuh kepada Alloh yang Maha Kuasa dan Maha Berkehendak atas segala sesuatu.

Kalau Alloh menghendaki sesuatu terjadi, maka tidak ada satu pun yang bisa menghalangi hal tersebut.

Semoga dengan mengenal Alloh yang Maha Berkehendak semakin juga menambah keimanan kita kepada-Nya. Wallahu a’lam bishowab. (KH. Abdullah Gymnastiar)

Redaktur: Wahid Ikhwan


WAKAFDT.OR.ID

Aa Gym: Allah Maha Berkehendak, Apapun Bisa Terjadi Read More »

Lupa Niat di Malam Hari, Bolehkah Puasa Rajab Dimulai Siang Hari?

WAKAFDT.OR.IDBulan Rajab merupakan salah satu dari empat bulan mulia (asyhurul hurum) yang menjadi momentum emas bagi umat Islam untuk meningkatkan amalan.

Salah satu ibadah yang sangat populer dilakukan adalah puasa sunnah. Namun, muncul sebuah pertanyaan umum bagi mereka yang ingin berpuasa: Bagaimana jika kita lupa membaca niat pada malam harinya?

Kedudukan Niat dalam Ibadah

Secara prinsip, setiap amal ibadah dalam Islam sangat bergantung pada niatnya. Rasulullah SAW menegaskan bahwa keabsahan suatu perbuatan ditentukan oleh motivasi di baliknya.

Khusus untuk puasa wajib seperti Ramadhan, niat harus sudah terlintas di dalam hati sebelum fajar tiba. Namun, dalam ranah puasa sunnah seperti puasa Rajab, syariat memberikan kelonggaran yang lebih luas.

Batas Waktu Niat Puasa Sunnah

Berdasarkan tinjauan ilmu fiqih, seseorang tetap diperbolehkan melaksanakan puasa sunnah meski baru berniat pada siang hari. Syarat utamanya adalah ia belum melakukan hal-hal yang membatalkan puasa (seperti makan atau minum) sejak fajar.

Berikut adalah dua pandangan dalam mazhab Syafi’i mengenai batas waktu niat tersebut:

Sebelum Matahari Tergelincir (Zawal): Pandangan utama menyebutkan bahwa niat masih sah dilakukan selama belum masuk waktu Zhuhur (sebelum matahari bergeser ke barat).

Hal ini merujuk pada hadis riwayat Imam Muslim, di mana Rasulullah SAW pernah bertanya kepada Aisyah RA apakah ada makanan di rumah. Saat dijawab tidak ada, beliau secara spontan bersabda, “Kalau begitu, aku berpuasa.”

Hingga Sebelum Matahari Terbenam: Terdapat pendapat lain (qaul jadid) dari Imam Asy-Syafi’i yang dikutip oleh Syekh Abu Bakar bin Muhammad Syatha dalam I’anah At-Thalibin.

Pendapat ini menyatakan bahwa niat puasa sunnah masih dianggap sah meskipun dilakukan pada sore hari sebelum Maghrib. Bagi yang melewatkan niat sebelum Zhuhur, diperbolehkan mengikuti (taklid) pendapat ini agar tetap mendapatkan pahala puasa.

Pahala yang Tetap Utuh

Meskipun niat dilakukan pada siang atau sore hari, orang tersebut tetap mendapatkan pahala puasa sehari penuh.

Syaratnya, ia harus benar-benar menjaga diri dari hal-hal yang membatalkan puasa sejak fajar menyingsing hingga matahari terbenam. Hal ini dikarenakan ibadah puasa adalah satu kesatuan waktu yang tidak dapat dipenggal-penggal pahalanya.

Fleksibilitas dalam niat puasa sunnah Rajab ini adalah bukti keluasan kasih sayang Allah dalam syariat Islam. Jadi, bagi Anda yang terbangun di pagi hari atau baru teringat ingin berpuasa Rajab saat matahari sudah tinggi, Anda tetap bisa melaksanakannya dengan tenang selama belum makan atau minum apa pun sejak subuh. Wallahu a’lam bishowab. (WIN)

Redaktur: Wahid Ikhwan


WAKAFDT.OR.ID

Lupa Niat di Malam Hari, Bolehkah Puasa Rajab Dimulai Siang Hari? Read More »

Aa Gym: Melatih Diri Menjadi Orang Baik

WAKAFDT.OR.IDSegala puji hanya milik Alloh yang melimpahkan hidayah dan kebaikan kepada kita sebagai hamba-hambanya. Alloh Maha Baik, mencintai kebaikan, dan memerintahkan kita untuk senantiasa berbuat kebaikan.

وَاَنْفِقُوْا فِيْ سَبِيْلِ اللّٰهِ وَلَا تُلْقُوْا بِاَيْدِيْكُمْ اِلَى التَّهْلُكَةِ ۛ وَاَحْسِنُوْا ۛ اِنَّ اللّٰهَ يُحِبُّ الْمُحْسِنِيْنَ

“Dan infakkanlah (hartamu) di jalan Allah, dan janganlah kamu jatuhkan (diri sendiri) ke dalam kebinasaan dengan tangan sendiri, dan berbuatbaiklah. Sungguh, Allah menyukai orang-orang yang berbuat baik.” (QS. Al Baqarah: 195)

Sesungguhnya Alloh yang Maha Baik menciptakan alam semesta ini beserta isinya, dalam bentuk yang sebaik-baiknya.

Alloh mencintai kebaikan dan mencintai hamba-hambanya yang berbuat baik. Begitu juga Alloh menciptakan diri kita, secara jasmani maupun rohani dalam bentuk yang sebaik-baiknya.

Oleh karenanya, sebagai orang yang beriman kepada Alloh Ta’ala, alangkah beruntungnya kita jika kehidupan ini kita isi dengan hal-hal yang penuh dengan kebaikan.

Alloh menjadikan atau meciptakan kita sebagai makhluk yang paling sempurna di antara makhluk-makhluk yang lain.

Kesempurnaan tersebut merupakan salah satu kemampuan kita untuk berpikir dan memilih sesuatu hal yang baik.

Maka dalam hidup ini sudah sepatutnya kita memilih yang baik, membuat Alloh juga juga ridho pada kebaikan yang kita lakukan.

Mau tidak mau, disadari atau tidak, sebenarnya dalam hidup ini kita akan berjumpa dengan berbagai hal-hal yang bisa kita pilih.

Kita bisa memilih lisan kita untuk mengucapkan hal-hal baik yang disukai oleh Alloh, bukan sebaliknya mengucapkan hal-hal yang buruk sesuatu yang dibenci oleh Alloh Ta’ala.

Begitu juga dengan tangan kita, tangan ini bisa dipergunakan dengan pilihan yang baik, tidak melakukan hal-hal mungkar, tetapi digunakan untuk hal-hal yang ma’ruf.

Saudara sekalian, setan tidak akan pernah berhenti dan akan terus berupaya untuk menggoda kita agar terjerumus pada keburukan dan neraka.

Boleh jadi sangat berat rasanya kita membiasakan diri untuk memilih yang Alloh sukai.

Akan tetapi, jangan mudah menyerah, teruslah bermujahadah, karena kesungguhan jika kita memilih hal yang baik-baik maka akan menjadi catatan amal sholeh bagi kita di hadapan Alloh Ta’ala.

Semoga kita dimudahkan dan diistiqomahkan dalam berbuat kebaikan, dengan cara melatih diri secara perlahan atau bertahap. Wallahu a’lam bishowab. (KH. Abdullah Gymnastiar)

Redaktur: Wahid Ikhwan


WAKAFDT.OR.ID

Aa Gym: Melatih Diri Menjadi Orang Baik Read More »

Aa Gym: Memaknai Sifat Alloh Maha Besar

WAKAFDT.OR.IDSegala puji hanya milik Alloh Ta’ala. Semoga Alloh menggolongkan kita sebagai hamba yang selalu istiqomah menjaga kebeningan hati. Sholawat dan salam juga semoga tercurah kepada baginda Nabi Muhammad Shallallahu ‘alaihi wasalam.

Alloh Ta’ala berfirman: “Dan katakanlah: “Segala puji bagi Alloh yang tidak mempunyai anak dan tidak mempunyai sekutu dalam kerajaan-Nya dan Dia bukan pula hina yang memerlukan penolong dan agungkanlah Dia dengan pengagungan yang sebesar-besarnya.” (QS. Al Isro: 111)

Kalau kita menunaikan shalat lima waktu lima kali sehari, maka berapa banyak kita mengucapkan takbir? Tentu dalam sehari saja begitu sering kita mengucapkan takbir, Allohu Akbar, Alloh Maha Besar.

Apalagi di bulan Ramadhan kemarin tentu lebih sering lagi kita menggemakan takbir. Ditambah juga dengan hari raya Idul Fitri dan hari raya idul adha.

Ketika kita bertakbir, misalnya takbir dalam shalat, maka sesungguhnya kita sedang mengakui betapa kecil dan tidak berdayanya diri kita ini, dan Maha Besar Alloh lagi Maha Kuasa Alloh.

Kita ini tiada daya, tiada upaya, tiada kekuatan kecuali Alloh yang memberikan. Setiap helaan nafas kita tidak terjadi kecuali atas izin Alloh.

Jika kita bertakbir sedangkan dalam hati kita masih ada perasaan sombong atau diri ini besar, merasa besar karena pangkat, merasa besar karena jabatan, merasa besar karena gelar atau merasa besar karena harta kekayaan, menganggap besar karena pengalaman, menganggap besar karena popularitas, maka pada saat itu juga lisan dengan hati kita tidak sejalan.

Jika lisan dan hati tidak sejalan atau bersebrangan maka inilah tanda yang bahaya.  Maka, perlu melatih hati kita untuk mengikuti apa yang lisan kita katakan.

Latihlah juga lisan kita untuk mengucapkan apa yang hati niatkan. Jadikanlah keduanya satu kesatuan yang saling menguatkan ketika berdzikir dengan takbir.

Bertakbirlah sambil mengakui di dalam hati bahwa semua yang kita punya hakikatnya hanya titipan dan semua milik Alloh Ta’ala dan akan kembali ke Alloh. Wallahu a’lam bishowab. (KH. Abdullah Gymnastiar)

Redaktur: Wahid Ikhwan


WAKAFDT.OR.ID

Aa Gym: Memaknai Sifat Alloh Maha Besar Read More »

Menjaga Kelembutan Hati: Menghindari Perbuatan yang Menghitamkan Jiwa

WAKAFDT.OR.IDHati adalah pusat kendali diri manusia. Jika dibiarkan kotor karena kemaksiatan, hati perlahan akan mengeras, membatu, bahkan mati. Hati yang keras akan sulit menerima hidayah dan kebenaran.

Agar kita terhindar dari kondisi tersebut, berikut adalah lima perbuatan utama yang harus kita waspadai karena dapat mengeraskan hati:

1. Menumpuk Dosa Tanpa Tobat

Setiap kali seorang mukmin berbuat dosa, muncul noda hitam di hatinya. Jika ia segera bertobat dan memohon ampun, noda tersebut akan terhapus dan hati kembali bersih. Namun, jika dosa terus bertambah tanpa ada penyesalan, titik hitam tersebut akan menutupi seluruh hati. Semakin banyak dosa, semakin keras pula hati seseorang dan semakin sulit baginya untuk berhenti dari keburukan.

2. Tertawa secara Berlebihan

Islam tidak melarang umatnya bercanda atau tertawa, namun menganjurkan agar tetap dalam batas kewajaran. Rasulullah SAW mengingatkan bahwa banyak tertawa dapat mematikan hati. Candaan yang berlebihan sering kali membuat kita lalai dari realitas kematian dan kehidupan akhirat. Sebagaimana pesan Nabi, “Seandainya kamu mengetahui apa yang aku ketahui, niscaya kamu akan sedikit tertawa dan banyak menangis.”

3. Banyak Bicara Tanpa Mengingat Allah

Lisan yang terlalu sibuk membicarakan hal duniawi atau keburukan orang lain (ghibah) tanpa diselingi zikir akan membuat hati menjauh dari Sang Pencipta. Berdasarkan hadis riwayat At-Tirmidzi, “Orang yang paling jauh dari Allah adalah mereka yang hatinya keras akibat terlalu banyak bicara tanpa mengingat Allah.”

4. Makan Melebihi Kebutuhan

Keserakahan dalam urusan perut bukan hanya buruk bagi kesehatan fisik, tetapi juga bagi ruhani. Saat perut terlalu kenyang, tubuh cenderung malas dan sulit berkonsentrasi untuk ibadah. Rasulullah membedakan pola makan orang beriman yang sederhana dengan orang munafik yang cenderung berlebihan. Makan berlebih adalah cermin kecintaan yang tinggi pada dunia dan pangkal dari berbagai penyakit.

5. Terlalu Mencintai Dunia

Harta dan keluarga adalah anugerah, namun bisa menjadi bumerang jika membuat kita lalai. Dalam Surat Al-Munafiqun ayat 9, Allah mengingatkan agar harta dan anak-anak tidak memalingkan kita dari mengingat Allah. Orang yang terlalu sibuk mengejar dunia hingga melupakan akhirat adalah orang-orang yang paling merugi karena hatinya telah tertutup oleh ambisi duniawi.

Menjaga kelembutan hati adalah perjuangan seumur hidup. Dengan menyadari kelima hal di atas, semoga kita lebih waspada dalam bertindak agar hati tetap jernih dan mudah menerima cahaya petunjuk-Nya. (WIN)

Redaktur: Wahid Ikhwan


WAKAFDT.OR.ID

Menjaga Kelembutan Hati: Menghindari Perbuatan yang Menghitamkan Jiwa Read More »