Lantunan Ayat di Balik Tenda: Kala Anak-Anak Desa Garoga Menemukan Kembali Mushaf yang Hilang
WAKAFDT.OR.ID | TAPANULI SELATAN – Di tengah barisan tenda darurat yang berdiri di atas tanah Huta Godang, suara tawa anak-anak pecah, mengalahkan suara rintik hujan yang sesekali masih turun. Pada Jumat dan Sabtu (23-24/1/2026), sebuah pemandangan mengharukan terjadi saat tim Wakaf Daarut Tauhiid (DT) tiba membawa tumpukan kardus berisi Mushaf Al-Qur’an baru.
Bagi anak-anak asal Desa Garoga yang kini mengungsi di sana, tumpukan mushaf itu bukan sekadar tumpukan kertas. Ia adalah simbol kembalinya sebuah rutinitas yang sempat dirampas oleh banjir bandang.
Rindu Suara Mengaji di Masjid
Sebelum tragedi banjir bandang meluluhlantakkan desa mereka, waktu antara Maghrib dan Isya adalah momen paling riuh. Anak-anak Desa Garoga biasanya berkumpul di masjid dekat rumah, saling bersahutan membaca ayat suci. Namun, terjangan air dan lumpur mengubah segalanya.
Masjid mereka kini dipenuhi material banjir, dan Al-Qur’an kesayangan yang biasa mereka dekap telah hilang tersapu arus yang ganas. Sejak saat itu, tenda pengungsian terasa lebih sunyi tanpa lantunan ayat suci dari mulut mereka.
“Kami rindu mengaji bersama teman-teman, tapi Al-Qur’an kami sudah hanyut semua. Kami bingung mau belajar pakai apa,” ungkap salah satu anak dengan nada polos.
Cahaya di Tengah Keterbatasan
Kedatangan tim Wakaf DT menjadi jawaban atas kerinduan tersebut. Distribusi mushaf ini tidak hanya menyasar Desa Garoga, tetapi juga mencakup warga terdampak di Desa Huta Godang dan Desa Aek Ngadol.
Saat tim mulai membagikan mushaf satu per satu, suasana berubah seketika. Anak-anak langsung berkumpul, membuka lembaran demi lembaran yang masih bersih dan harum kertas baru. Beberapa dari mereka langsung mencoba membaca surat-surat pendek, seolah tak ingin membuang waktu sedetik pun.

Kegembiraan ini menjadi pelipur lara yang sangat efektif. Di tengah kondisi pengungsian yang terbatas, memiliki Mushaf Al-Qur’an sendiri memberikan kekuatan spiritual bagi mereka untuk bertahan dan tetap optimis.
Wakaf: Menyambung Harapan yang Putus
Perwakilan Tim Wakaf DT menyatakan bahwa penyaluran ini merupakan amanah dari para muwakif yang ingin memastikan pendidikan agama anak-anak di daerah bencana tetap terjaga.
“Kami ingin meski mereka kehilangan rumah, mereka tidak kehilangan pegangan hidup. Mushaf ini adalah jembatan agar pendidikan karakter dan spiritual mereka tetap berjalan di mana pun mereka berada,” ujarnya di sela-sela distribusi di Desa Aek Ngadol.
Matahari mulai terbenam di ufuk Tapanuli, namun sore itu, tenda pengungsian Huta Godang tak lagi sesunyi biasanya. Dari sela-sela kain tenda, mulai terdengar suara samar anak-anak mengeja huruf demi huruf hijaiyah.
Sebuah bukti nyata bahwa meski bencana bisa menyapu harta benda, ia tak akan pernah bisa menghanyutkan semangat mengaji anak-anak Desa Garoga. (WIN)
Redaktur: Wahid Ikhwan













