Wakaf Daarut Tauhiid

Berita Terbaru

Lantunan Ayat di Balik Tenda: Kala Anak-Anak Desa Garoga Menemukan Kembali Mushaf yang Hilang

WAKAFDT.OR.ID | TAPANULI SELATAN – Di tengah barisan tenda darurat yang berdiri di atas tanah Huta Godang, suara tawa anak-anak pecah, mengalahkan suara rintik hujan yang sesekali masih turun. Pada Jumat dan Sabtu (23-24/1/2026), sebuah pemandangan mengharukan terjadi saat tim Wakaf Daarut Tauhiid (DT) tiba membawa tumpukan kardus berisi Mushaf Al-Qur’an baru.

Bagi anak-anak asal Desa Garoga yang kini mengungsi di sana, tumpukan mushaf itu bukan sekadar tumpukan kertas. Ia adalah simbol kembalinya sebuah rutinitas yang sempat dirampas oleh banjir bandang.

Rindu Suara Mengaji di Masjid

Sebelum tragedi banjir bandang meluluhlantakkan desa mereka, waktu antara Maghrib dan Isya adalah momen paling riuh. Anak-anak Desa Garoga biasanya berkumpul di masjid dekat rumah, saling bersahutan membaca ayat suci. Namun, terjangan air dan lumpur mengubah segalanya.

Masjid mereka kini dipenuhi material banjir, dan Al-Qur’an kesayangan yang biasa mereka dekap telah hilang tersapu arus yang ganas. Sejak saat itu, tenda pengungsian terasa lebih sunyi tanpa lantunan ayat suci dari mulut mereka.

“Kami rindu mengaji bersama teman-teman, tapi Al-Qur’an kami sudah hanyut semua. Kami bingung mau belajar pakai apa,” ungkap salah satu anak dengan nada polos.

Cahaya di Tengah Keterbatasan

Kedatangan tim Wakaf DT menjadi jawaban atas kerinduan tersebut. Distribusi mushaf ini tidak hanya menyasar Desa Garoga, tetapi juga mencakup warga terdampak di Desa Huta Godang dan Desa Aek Ngadol.

Saat tim mulai membagikan mushaf satu per satu, suasana berubah seketika. Anak-anak langsung berkumpul, membuka lembaran demi lembaran yang masih bersih dan harum kertas baru. Beberapa dari mereka langsung mencoba membaca surat-surat pendek, seolah tak ingin membuang waktu sedetik pun.

Kegembiraan ini menjadi pelipur lara yang sangat efektif. Di tengah kondisi pengungsian yang terbatas, memiliki Mushaf Al-Qur’an sendiri memberikan kekuatan spiritual bagi mereka untuk bertahan dan tetap optimis.

Wakaf: Menyambung Harapan yang Putus

Perwakilan Tim Wakaf DT menyatakan bahwa penyaluran ini merupakan amanah dari para muwakif yang ingin memastikan pendidikan agama anak-anak di daerah bencana tetap terjaga.

“Kami ingin meski mereka kehilangan rumah, mereka tidak kehilangan pegangan hidup. Mushaf ini adalah jembatan agar pendidikan karakter dan spiritual mereka tetap berjalan di mana pun mereka berada,” ujarnya di sela-sela distribusi di Desa Aek Ngadol.

Matahari mulai terbenam di ufuk Tapanuli, namun sore itu, tenda pengungsian Huta Godang tak lagi sesunyi biasanya. Dari sela-sela kain tenda, mulai terdengar suara samar anak-anak mengeja huruf demi huruf hijaiyah.

Sebuah bukti nyata bahwa meski bencana bisa menyapu harta benda, ia tak akan pernah bisa menghanyutkan semangat mengaji anak-anak Desa Garoga. (WIN)

Redaktur: Wahid Ikhwan


Lantunan Ayat di Balik Tenda: Kala Anak-Anak Desa Garoga Menemukan Kembali Mushaf yang Hilang Read More »

Eco Pesantren DT: Menjawab Tantangan Ekologis Melalui Wakaf

WAKAFDT.OR.ID | BANDUNG BARAT – Di tengah desakan audit lingkungan akibat bencana longsor yang berulang di Bandung Barat, Wakaf DT hadir dengan model pengelolaan lahan yang berpihak pada alam melalui kawasan Eco Pesantren DT. Kawasan ini menjadi prototipe bagaimana institusi pendidikan dan dakwah dapat berperan aktif dalam mitigasi bencana dan pelestarian lingkungan.

Langkah Nyata Penjagaan Ekosistem: Pengembangan Eco Pesantren DT bukan sekadar membangun gedung, melainkan menata kawasan yang mengutamakan fungsi ekologis, antara lain:

  • Kawasan Hijau Produktif: Wakaf dari para muwakif (pewakaf) dialokasikan untuk membebaskan lahan yang kemudian ditanami ribuan pohon pelindung dan produktif. Hal ini berfungsi sebagai sabuk hijau untuk mencegah erosi dan menjaga stabilitas tanah di area perbukitan.
  • Sumur Resapan dan Konservasi Air: Sebagai langkah antisipasi kekeringan dan banjir, kawasan ini dilengkapi dengan sistem drainase alami dan sumur resapan, guna memastikan air hujan kembali ke dalam tanah (akifer) dan tidak menjadi aliran permukaan (run-off) yang merusak.
  • Edukasi Khidmah Ekologis: Di Eco Pesantren, para santri tidak hanya belajar ilmu agama secara tekstual, tetapi juga diajarkan “Khidmah Ekologis”—sebuah konsep di mana menjaga kebersihan, mengelola sampah secara mandiri, dan menanam pohon dipandang sebagai bagian dari ibadah.

Wakaf sebagai Bentuk Mitigasi Bencana Ketua Tim Wakaf DT menyatakan bahwa dana wakaf yang dikelola diarahkan untuk menciptakan kawasan yang mandiri secara energi dan lingkungan.

“Melalui Eco Pesantren, kita ingin membuktikan bahwa pembangunan sarana pendidikan tidak harus merusak hutan penyangga. Sebaliknya, wakaf hadir untuk mengembalikan fungsi hutan tersebut sekaligus memberikan manfaat luas bagi santri dan masyarakat sekitar,” ujarnya.

Langkah yang dilakukan Wakaf DT di Eco Pesantren ini sejalan dengan menjaga kawasan hulu Bandung Barat. Jika alih fungsi lahan ilegal menjadi pemicu longsor, maka Wakaf Eco Pesantren menjadi solusi berkelanjutan untuk memastikan lahan tetap hijau, produktif, dan aman bagi generasi mendatang. (WIN)

Redaktur: Wahid Ikhwan


Eco Pesantren DT: Menjawab Tantangan Ekologis Melalui Wakaf Read More »

Legislator Dorong Audit Lingkungan Menyeluruh di Lokasi Rawan Bencana

WAKAFDT.OR.ID | BANDUNG BARAT – Musibah longsor yang menerjang Desa Pasirlangu, Kecamatan Cisarua, Kabupaten Bandung Barat (KBB) pada Sabtu (24/1/2026) lalu, memicu desakan kuat untuk dilakukannya evaluasi total terhadap kondisi ekosistem di lereng Gunung Burangrang. Bencana ini dinilai bukan sekadar dampak cuaca ekstrem, melainkan sinyal merah bagi tata kelola lahan di wilayah tersebut.

Rajiv, anggota DPR RI sekaligus anggota Panja Alih Fungsi Lahan Komisi IV, menegaskan bahwa audit lingkungan bersifat wajib. Menurutnya, pemerintah perlu menelusuri secara mendalam apakah bencana ini murni faktor alam atau diperparah oleh campur tangan manusia.

“Kita tidak bisa lagi hanya menyalahkan hujan. Harus ada keberanian untuk mengusut apakah ada kerusakan lingkungan atau alih fungsi lahan yang terjadi di kawasan rawan ini,” ujar Rajiv dalam keterangannya, Minggu (25/1/2026).

Ia menuntut investigasi yang transparan dari pemerintah daerah dan aparat penegak hukum agar penyebab utama longsor dapat diketahui publik secara jelas.

Gunung Burangrang sebagai Kawasan Penyangga

Kawasan lereng Gunung Burangrang memiliki peran krusial sebagai penyangga kehidupan ekologis di sekitarnya. Rajiv memperingatkan bahwa pembukaan lahan yang tidak terkendali dan perizinan yang bermasalah di kawasan lindung hanya akan menjadi “bom waktu” bagi bencana di masa depan.

Sebagai langkah konkret, Panja Alih Fungsi Lahan Komisi IV DPR RI berencana menyisir kembali seluruh perizinan usaha di kawasan rawan bencana. Evaluasi ini bertujuan untuk mendeteksi adanya potensi penyalahgunaan fungsi lahan yang berkontribusi terhadap banjir dan longsor di berbagai daerah.

Sambil mendorong penegakan aturan, Rajiv juga menyampaikan duka mendalam bagi para korban. Sebagai legislator dari Dapil Jawa Barat II, ia memastikan bantuan logistik segera mengalir bagi warga di posko pengungsian.

Data Terkini Dampak Longsor: Berdasarkan informasi sementara dari BNPB Jawa Barat hingga Ahad (25/1/2026):

  • Korban Meninggal: 10 orang.
  • Warga Hilang: 82 orang (masih dalam proses pencarian oleh tim gabungan).
  • Kondisi Lapangan: Operasi evakuasi dan pencarian terus dilakukan di titik-titik reruntuhan.

Tragedi ini menjadi pengingat keras bahwa kelestarian lingkungan dan ketegasan hukum dalam menjaga kawasan hijau adalah harga mati demi keselamatan nyawa manusia. (WIN)

Redaktur: Wahid Ikhwan


WAKAFDT.OR.ID

Legislator Dorong Audit Lingkungan Menyeluruh di Lokasi Rawan Bencana Read More »

Longsor Terjang Cisarua KBB: 30 Rumah Tertimbun, Tim SAR Fokus Pencarian Korban Hilang

WAKAFDT.OR.ID | BANDUNG BARAT – Hujan deras dengan intensitas tinggi yang mengguyur wilayah Kabupaten Bandung Barat sejak Sabtu siang mengakibatkan bencana tanah longsor besar pada Sabtu malam (24/1/2026). Musibah ini melanda kawasan perbukitan yang padat pemukiman, menyebabkan puluhan rumah warga rata dengan tanah.

Bencana ini terjadi tepatnya di Desa Pasirlangu, Kecamatan Cisarua, Kabupaten Bandung Barat, Jawa Barat. Berdasarkan laporan dari Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) KBB, material tanah dari bukit setinggi puluhan meter mulai bergerak dan menerjang pemukiman warga sekitar pukul 23.00 WIB, saat sebagian besar warga sedang beristirahat.

Hingga laporan ini disusun pada Minggu siang (25/1/2026), berikut adalah rincian dampak bencana yang berhasil dihimpun:

  • Korban Jiwa: 10 orang ditemukan dalam kondisi meninggal dunia.
  • Korban Hilang: Setidaknya 82 orang dilaporkan masih hilang dan diduga tertimbun material tanah serta puing bangunan.
  • Kerusakan Material: Sekitar puluhan unit rumah warga rusak berat (tertimbun total), serta satu fasilitas ibadah mengalami kerusakan signifikan.
  • Pengungsi: Sekitar 400 jiwa kini diungsikan ke aula desa dan bangunan sekolah yang lebih aman.

Tim SAR Gabungan yang terdiri dari BPBD, Basarnas, TNI/Polri, serta relawan kemanusiaan masih terus melakukan upaya pencarian di titik lokasi. Penggunaan alat berat mulai dikerahkan, namun terkendala oleh:

  1. Medan Terjal: Lokasi yang berada di lereng bukit menyulitkan mobilisasi alat berat.
  2. Cuaca Ekstrem: Gerimis yang masih turun memicu kekhawatiran akan adanya longsor susulan karena kondisi tanah yang masih labil.
  3. Putusnya Akses Jalan: Beberapa akses jalan menuju kampung tersebut tertutup material lumpur, sehingga bantuan logistik harus dikirimkan secara manual atau menggunakan kendaraan roda dua.

“Kami fokus pada penyelamatan nyawa dan pencarian korban yang masih tertimbun. Logistik untuk pengungsi sudah mulai kami distribusikan ke posko utama,” ujar juru bicara BPBD KBB di lokasi kejadian. (WIN)

Redaktur: Wahid Ikhwan


WAKAFDT.OR.ID

Longsor Terjang Cisarua KBB: 30 Rumah Tertimbun, Tim SAR Fokus Pencarian Korban Hilang Read More »

Keajaiban di Hari Guru: Kisah Esti Siregar Menembus Banjir Bandang Tapanuli

WAKAFDT.OR.ID | TAPANULI SELATAN – Bagi Esti Siregar, seorang guru SD muda di Tapanuli Selatan, 25 November seharusnya menjadi hari penuh bunga dan ucapan terima kasih. Namun, Hari Guru tahun ini akan selamanya tertanam dalam ingatannya sebagai hari di mana batas antara tugas dan nyawa menjadi begitu tipis.

Pagi itu, rintik hujan turun seperti biasa. Esti sudah mendengar kabar bahwa beberapa desa mulai tergenang. Baginya dan warga sekitar, air setinggi mata kaki adalah “tamu rutin” setiap hujan lebat. Tak ada firasat bahwa alam sedang menyiapkan skenario yang jauh lebih kelam.

Saat “Rutin” Berubah Menjadi Horor

Keadaan berubah drastis dalam hitungan menit. Esti yang sedang berada di sekolah terperangah melihat air naik dengan kecepatan yang tidak wajar. Dari hanya setinggi mata kaki, tiba-tiba air sudah menyentuh perut.

Ketakutannya memuncak saat ia menoleh ke arah belakang sekolah. Di sana, pemandangan mengerikan tersaji: gelondongan kayu raksasa meluncur deras terbawa arus, menghantam apa saja yang menghalangi jalannya. Sekolah yang biasanya menjadi tempat aman bagi anak-anak didiknya kini berada di jalur maut.

“Saya tidak berpikir panjang lagi. Dalam pikiran saya hanya bagaimana caranya bisa keluar dari sini,” kenang Esti.

Mukjizat Motor Tanpa Bensin

Esti segera berlari menuju motornya. Kondisinya memprihatinkan; motor itu sudah terendam setengah badan dan yang lebih parah, tangki bensinnya hampir kosong melompong. Secara logika, sangat mustahil menghidupkan mesin yang sudah kemasukan air, apalagi tanpa bahan bakar.

Namun, di tengah kepungan banjir, sebuah keajaiban terjadi. Sekali tekan, mesin motor itu menderu hidup. Seolah mengerti nyawa pemiliknya dalam bahaya, motor itu menembus terjangan air, membawa Esti menjauh dari sekolah menuju dataran yang lebih tinggi di desa sebelah.

“Saya tahu bensinnya habis, saya tahu motornya terendam. Tapi saat itu mesinnya menyala. Kalau bukan karena pertolongan Tuhan, mungkin saya sudah ikut terseret kayu-kayu itu,” ujarnya lirih.

Tiga Hari dalam Ketidaktahuan

Selamat dari kejaran arus bukan berarti penderitaan berakhir. Sesampainya di tempat yang aman, kecemasan baru muncul: Ayah dan ibunya. Orang tua Esti sedang berada di rumah saat banjir bandang menghantam desa mereka.

Tanpa sinyal telepon dan akses jalan yang terputus, Esti terjebak dalam kesunyian yang menyiksa. Selama tiga hari, ia hanya bisa memandang ke arah desanya yang porak-poranda dari kejauhan, tidak tahu apakah orang tuanya masih selamat atau telah menjadi korban seperti keluarga di mobil hijau yang diceritakan warga lainnya.

Baru pada hari ketiga, penantian itu berujung syukur. Esti akhirnya bertemu kembali dengan ayah, ibu, dan adiknya di pengungsian. Mereka selamat, meski rumah dan harta benda mereka kini tinggal kenangan.

Menumpang di Rumah Tetangga

Kini, Esti bersama keluarganya menumpang di rumah seorang tetangga di desa sebelah yang tidak terdampak banjir. Tidak ada lagi papan tulis atau buku-buku pelajaran yang bisa ia pegang untuk sementara waktu. Namun, sebagai seorang guru muda, semangatnya belum padam.

Di balik duka dan trauma melihat sekolahnya hancur diterpa kayu, Esti bersyukur atas “kado” kehidupan yang ia terima di Hari Guru tersebut. Bagi Esti, bisa berkumpul kembali dengan keluarga adalah kurikulum kehidupan paling berharga yang pernah ia pelajari. (WIN)

Redaktur: Wahid Ikhwan


WAKAFDT.OR.ID

Keajaiban di Hari Guru: Kisah Esti Siregar Menembus Banjir Bandang Tapanuli Read More »

Bayang-Bayang Mobil Hijau di Huta Godang: Kesaksian Memilukan dari Balik Banjir Bandang

WAKAFDT.OR.ID | TAPANULI SELATAN – (24/1/2026) Bagi seorang pria paruh baya di Desa Huta Godang, Tapanuli Selatan, hujan bukan lagi sekadar fenomena alam. Setiap tetesnya kini membawa kembali memori kelam tentang suara gemuruh, hantaman kayu, dan satu teriakan yang terus terngiang di telinganya.

Sebut saja namanya Pak Usman. Sambil menatap reruntuhan desanya yang kini rata dengan tanah, ia menceritakan kengerian banjir bandang yang melanda wilayah dekat Sibolga, Sumatera Utara tersebut. Namun, ada satu fragmen kejadian yang menurutnya tidak akan pernah bisa ia hapus dari ingatan seumur hidupnya.

Tragedi Mobil Hijau yang Terhapus

Sore itu, air sungai meluap dengan kecepatan yang tak masuk akal. Di tengah kekacauan, Pak Usman melihat sebuah mobil berwarna hijau melaju ke arahnya. Mobil itu tampak berusaha keras menerjang arus yang mulai meninggi, mencari jalan keluar dari kepungan maut.

“Mobil itu sudah dekat, tinggal beberapa meter lagi dari posisi saya,” kenang Pak Usman dengan suara bergetar. “Tapi tiba-tiba, dari arah hulu, gelondongan kayu raksasa menghantam sisi mobil itu. Seketika, mobil itu terseret, hanyut, dan hilang ditelan arus.”

Detik-detik sebelum mobil itu hilang dari pandangan, Pak Usman mendengar suara yang menyayat hati. Suara teriakan minta tolong dari dalam mobil—suara satu keluarga yang tak berdaya melawan kekuatan alam.

“Sampai sekarang, suara itu masih sering muncul kalau suasana sepi. Saya tidak bisa berbuat apa-apa. Kayu-kayu itu seperti peluru yang menghancurkan apa saja,” lirihnya.

Tiga Hari Mencari Nyawa

Bencana tersebut tidak hanya menyisakan trauma visual. Huta Godang luluh lantak; rumah-rumah warga rata dengan tanah. Di tengah duka melihat desanya hancur, Pak Usman harus menghadapi kenyataan pahit lainnya: ia kehilangan kontak dengan anak dan istrinya.

Selama tiga hari, ia hidup dalam ketidakpastian yang menyiksa. Putrinya, seorang guru honorer yang bertugas di desa sebelah, ikut terjebak karena akses jalan yang terputus total akibat longsor dan banjir. Tanpa sinyal telepon dan tanpa akses jalan, Pak Usman hanya bisa berdoa di tengah puing-puing rumahnya.

“Tiga hari itu rasanya seperti bertahun-tahun. Saya hanya memikirkan, apakah mereka juga terseret kayu seperti keluarga di mobil hijau itu?” ungkapnya.

Keajaiban di Pengungsian

Takdir berkata lain bagi keluarga Pak Usman. Pada hari ketiga, saat tim evakuasi mulai berhasil menembus desa sebelah, ia akhirnya dipertemukan kembali dengan anak dan istrinya di sebuah posko pengungsian darurat.

Tangis haru pecah saat ia melihat wajah anak perempuannya yang selamat meski sempat terjebak di tengah kepungan banjir saat pulang mengajar. Meski harta benda mereka habis tak bersisa, kehadiran keluarga dalam kondisi selamat menjadi satu-satunya pelipur lara di tengah duka kolektif warga Huta Godang.

Kini, Pak Usman dan ratusan warga lainnya harus memulai hidup dari nol di tenda-tenda pengungsian dan rumah saudaranya di desa sebelah yang tidak terdampak. Namun, trauma tentang mobil hijau dan hantaman kayu raksasa tetap menjadi pengingat betapa tipisnya batas antara hidup dan mati dalam sebuah tragedi. (WIN)

Redaktur: Wahid Ikhwan


WAKAFDT.OR.ID

Bayang-Bayang Mobil Hijau di Huta Godang: Kesaksian Memilukan dari Balik Banjir Bandang Read More »

Kegilaan Daim Terhadap Pelestarian Alam Berbuah Manis

WAKAFDT.OR.ID | LUMAJANG – Di lereng Gunung Lemongan, Lumajang, Jawa Timur, nama Daim (64) pernah menjadi buah bibir—bukan karena prestasinya, melainkan karena ia dianggap telah kehilangan akal sehat. Selama hampir tiga dekade, pria lanjut usia ini mendaki terjalnya lereng hanya untuk menanam pohon pinang, sebuah pilihan yang dianggap konyol oleh warga saat itu.

Namun kini, sejarah membuktikan bahwa “kegilaan” Daim adalah sebuah visi visioner yang menyelamatkan desanya dari kepungan bencana.

Penyintas yang Melawan Trauma

Perjuangan Daim dimulai pada tahun 1996. Bukan tanpa alasan ia begitu terobsesi pada penghijauan. Masa kecilnya dihantui kenangan pahit saat rumahnya hanyut diterjang banjir bandang—sebuah dampak nyata dari hutan Lemongan yang gundul akibat pembalakan liar dan kebakaran yang terus berulang.

Berbekal cangkul, ember, dan bibit pohon, ia memulai misinya. Daim sempat bereksperimen dengan nangka, alpukat, hingga kopi. Sayangnya, tanaman tersebut habis dimakan hewan liar seperti kijang dan babi hutan. Akhirnya, ia menemukan “senjata” yang tepat: Pinang. Tanaman ini tidak disukai hewan liar, namun memiliki akar yang sangat kuat untuk mencengkeram tanah dan menyerap air hujan.

Menanam di Tengah Cemoohan

Tahun-tahun awal adalah masa terberat. Saat tetangganya berlomba menanam jati atau sengon demi nilai ekonomi cepat, Daim tetap setia pada pinang yang saat itu harganya jauh di bawah harga beras satu kilogram.

“Saya dianggap gila karena membawa bibit pinang ke hutan saat tanaman itu tidak laku. Tapi saya tidak peduli, karena yang saya cari bukan harga, tapi kembalinya warna hijau di gunung ini,” kenang Daim.

Ia bahkan membawa batu satu per satu untuk membangun jalan setapak demi memudahkan akses ke hutan produksi dan hutan lindung. Kini, dedikasinya telah membuahkan hasil berupa 14 hektare hutan pinang yang rimbun, yang berfungsi sebagai “sabuk hijau” penahan erosi.

Efek Domino: Dari Ekologi ke Ekonomi

Keajaiban terjadi pada tahun 2014. Harga pinang di pasar melonjak drastis. Para tetangga yang dulunya mengejek kini justru mengikuti jejak Daim. Namun, Daim tidak merasa tersaingi; ia justru bangga karena semakin banyak tangan yang menjaga hutan.

Keberadaan “Hutan Pinang Daim” kini menghidupi banyak orang:

  • Penyerap Bencana: Desa kini aman dari ancaman banjir dan longsor.
  • Lapangan Kerja: Daim mempekerjakan setidaknya 10 orang warga untuk proses panen.
  • Manfaat Sampingan: Warga sekitar bisa mengambil pelepah pinang (untuk bungkus dodol) dan tanaman pakis di bawahnya secara gratis untuk dijual kembali.

Perjalanan Daim tidak selalu mulus. Ia sempat bersitegang dengan birokrasi perhutanan yang mempertanyakan legalitas aktivitas menanamnya di lahan negara. Namun, dengan keberanian seorang pejuang lingkungan, Daim tetap teguh pada prinsipnya: ia menanam untuk menyelamatkan nyawa, bukan untuk merusak.

Ketulusan tersebut akhirnya diakui negara. Pada tahun 2022, Daim dianugerahi Penghargaan Kalpataru sebagai Perintis Lingkungan. Sebuah pengakuan tertinggi yang membayar tuntas setiap peluh dan ejekan yang diterimanya selama 29 tahun.

Di usia senjanya, Daim hanya punya satu keinginan: adanya penerus. Bagi Daim, menanam pohon adalah bentuk “sedia payung sebelum hujan” di wilayah rawan bencana.

“Tidak perlu cari bibit yang sulit, yang penting tanam saja. Semakin banyak anak muda yang ikut, hutan kita akan tetap lestari,” pesannya penuh harap. (WIN)

Redaktur: Wahid Ikhwan


Kegilaan Daim Terhadap Pelestarian Alam Berbuah Manis Read More »

Alhamdulillah, Dosen STAI DT Lulus Uji Kompetensi Dosen

WAKAFDT.OR.ID | JAKARTA — Rasa syukur dan kebanggaan menyelimuti keluarga besar Sekolah Tinggi Agama Islam (STAI) Daarut Tauhiid. Sepanjang tahun 2025, sejumlah dosen STAI Daarut Tauhiid dinyatakan lulus Program Peningkatan Kompetensi Dosen Pemula (PKDP) serta Sertifikasi Dosen yang diselenggarakan oleh Kementerian Agama Republik Indonesia.

Capaian ini menjadi penanda penting dalam perjalanan akademik para dosen. Program PKDP dan Sertifikasi Dosen tidak hanya mengukur kelayakan profesional, tetapi juga meneguhkan tanggung jawab dosen dalam menjalankan Tridarma Perguruan Tinggi secara utuh yakni pendidikan, penelitian, dan pengabdian kepada masyarakat.

Keberhasilan tersebut merupakan kabar baik bagi seluruh civitas akademika STAI Daarut Tauhiid. Di balik proses panjang yang dijalani, tersimpan ikhtiar untuk terus memperbaiki kualitas pembelajaran dan memperkuat budaya akademik kampus.

Adapun dosen yang berhasil menyelesaikan program PKDP dan Sertifikasi Dosen Kementerian Agama RI Tahun 2025 antara lain: Dr. Agus Kurniawan, S.Pd., M.Pd., Ketua STAI Daarut Tauhiid sekaligus Dosen Komunikasi dan Penyiaran Islam; Dr. Muhammad Iskandar, S.IP., M.M., Dosen Hukum Ekonomi Syariah; Dr. Yunus, S.Pd., M.Pd., Dosen Komunikasi dan Penyiaran Islam; Suherman, S.Ud., M.Ag., Dosen Hukum Ekonomi Syariah; Agung Wildan Azizi, S.H., M.H., Dosen Hukum Syariah; serta Sri Rastita Praniti, S.Kom.I., M.Sos., Dosen Komunikasi dan Penyiaran Islam.

Mamat Rohimat, Kasubag Biro Humas dan Rumah Tangga STAI Daarut Tauhiid, menyampaikan harapannya agar capaian ini menjadi wasilah kebaikan bagi institusi.

“Semoga Allah Subhanahu wa Ta’ala senantiasa melimpahkan rida-Nya, menjadikan ilmu yang diperoleh bermanfaat, serta membawa keberkahan bagi pengembangan pendidikan dan dakwah keilmuan di STAI Daarut Tauhiid. Aamiin yaa Rabbal ‘alamiin,” tuturnya pada (8/1/2026) melalui media daring.

Pencapaian ini diharapkan semakin menguatkan komitmen STAI Daarut Tauhiid dalam meningkatkan mutu pendidikan, membangun tradisi akademik yang unggul, serta melahirkan kontribusi keilmuan yang berdampak luas bagi masyarakat. (Nov)

Redaktur: Wahid Ikhwan


Alhamdulillah, Dosen STAI DT Lulus Uji Kompetensi Dosen Read More »

Alur Jambu: Desa yang Hanyut dan Perjuangan Menjemput Harapan di Tengah Debu

WAKAFDT.OR.ID | ACEH TAMIANG – Desa Alur Jambu kini hanyalah sebuah nama di atas peta. Saat tim Wakaf DT dan relawan kemanusiaan tiba untuk melakukan asesmen pada Kamis (22/1/2026), kesunyian yang mencekam langsung menyambut.

Tak ada lagi suara anak-anak berlarian atau kepul asap dari dapur warga. Desa ini telah dikosongkan, menjadi “desa mati” atas saran pemerintah setempat demi keselamatan jiwa.

Jejak 10 Meter yang Menghancurkan

Sulit membayangkan bahwa beberapa waktu lalu, lokasi tempat berdiri ini tenggelam dalam amukan air sedalam 10 meter. Ketinggian itu setara dengan gedung tiga lantai. Banjir bandang tidak hanya membawa air, tapi juga membawa kehancuran total. Seluruh rumah tinggal, fasilitas umum, hingga masjid, rata dengan tanah atau rusak hingga tak mungkin lagi ditinggali.

Pemerintah setempat telah menetapkan wilayah ini sebagai zona merah yang tidak layak huni. Kenangan warga Alur Jambu kini terkubur di bawah sisa-sisa reruntuhan dan lapisan lumpur yang mulai mengeras.

Dari Banjir Menuju Kekeringan yang Berdebu

Kini, warga Alur Jambu bertahan hidup di desa tetangga. Mereka menempati tenda-tenda darurat dan hunian sementara (Huntara) yang dibangun seadanya. Ironisnya, setelah dihantam air yang melimpah, kini mereka harus berhadapan dengan ekstremnya musim kemarau.

Panas terik yang menyengat membuat tanah-tanah bekas banjir pecah dan berdebu. Setiap embusan angin membawa partikel debu yang menyesakkan napas. Kondisi semakin sulit dengan terbatasnya akses air bersih dan hilangnya sinyal komunikasi sama sekali. Di sini, dunia terasa begitu jauh.

“Dulu kami hanyut karena air, sekarang kami kehausan dan sesak karena debu. Tapi kami harus bertahan,” ujar salah satu warga di sana sambil mencari puing-puing barang dari bekas rumahnya.

“Melihat Alur Jambu yang kini kosong adalah pemandangan yang menyedihkan. Namun, melihat warga yang masih memiliki semangat untuk bangkit di tenda-tenda ini adalah alasan mengapa kami di sini,” ungkap salah satu relawan Wakaf DT di lokasi.

Di tengah keterbatasan sinyal dan kepungan debu, tim terus mendata setiap kebutuhan. Kehadiran tim bukan sekadar membawa bantuan logistik, tetapi membawa pesan bahwa warga Alur Jambu tidak berjuang sendirian.

Perjalanan menuju pemulihan memang masih panjang dan terjal seperti jalanan menuju Aceh Tamiang, namun melalui sinergi wakaf, sebuah “Alur Jambu yang baru” diharapkan dapat segera tegak kembali, membawa kehidupan yang lebih aman dan berkah bagi para penyintasnya. (WIN)

Redaktur: Wahid Ikhwan


WAKAFDT.OR.ID

Alur Jambu: Desa yang Hanyut dan Perjuangan Menjemput Harapan di Tengah Debu Read More »

Senyum di Balik Lumpur: Asa Rara dan Mushaf Baru di Desa Sekumur Aceh Tamiang

WAKAFDT.OR.ID | ACEH TAMIANG – Di antara sisa-sisa lumpur kering yang masih melapisi dinding rumah-rumah di Desa Sekumur, Aceh Tamiang, terdengar gelak tawa yang memecah keheningan. Kamis siang (22/1/2026), sekelompok anak kecil berlarian mendekati sebuah truk logistik dengan logo Wakaf DT.

Di barisan paling depan, seorang gadis kecil bernama Rara tampak tak sabar. Matanya berbinar saat tim relawan mulai membuka kardus-kardus berisi Mushaf Al-Qur’an yang masih terbungkus plastik rapi. Bagi Rara dan teman-temannya, itu bukan sekadar buku; itu adalah harta karun yang sempat hilang ditelan banjir bandang beberapa waktu lalu.

“Al-Qur’an Kami Sudah Jadi Lumpur”

Sambil mendekap erat mushaf barunya, Rara bercerita dengan nada polos namun menyayat hati. Ia mengenang sore mencekam saat air bah datang menerjang desa mereka.

“Masjid tempat kami mengaji terendam tinggi sekali. Mushaf yang biasa Rara pakai sudah hancur, lengket semua kena lumpur pekat. Sudah tidak bisa dibaca lagi,” kenangnya lirih.

TPA (Taman Pendidikan Al-Qur’an) yang menjadi ruang ceria bagi mereka setiap sore kini masih dalam tahap pembersihan. Selama berminggu-minggu, aktivitas mengaji terhenti. Bukan karena mereka tak mau, tapi karena tak ada lagi lembaran wahyu yang bisa mereka pegang.

Merajut Mimpi di Tengah Duka

Namun, duka akibat bencana tak sanggup memadamkan api cita-cita di hati anak-anak Desa Sekumur. Saat ditanya tentang masa depannya, Rara menjawab dengan tegas.

“Rara ingin jadi Guru,” ucapnya sambil tersenyum lebar. “Supaya Rara bisa mengajar anak-anak di sini lagi. Biar mereka pintar dan bisa mengaji walau habis ada banjir.”

Tak mau kalah, teman-teman Rara yang berada di sampingnya pun ikut menyahut dengan semangat. “Kalau aku ingin jadi Dokter!” seru salah satu temannya. “Biar kalau ada yang sakit karena banjir, bisa aku obati. Aku mau bantu banyak orang kelak.”

Wakaf: Jembatan Harapan

Penyaluran yang berlangsung selama dua hari (21-22 Januari 2026) ini menjadi momen krusial bagi pemulihan psikologis anak-anak. Kehadiran Mushaf Al-Qur’an baru dari para pewakaf melalui Wakaf DT memberikan kepastian bahwa pendidikan agama mereka tidak akan mati meski diterjang badai.

Relawan yang bertugas pun merasa haru melihat respon anak-anak tersebut. “Melihat mereka langsung duduk berkelompok dan mencoba membuka halaman demi halaman mushaf baru itu adalah bayaran terbaik bagi perjalanan jauh kami menuju desa ini,” ujar salah satu tim distribusi.

Kini, di Desa Sekumur, harapan mulai kembali bersemi. Melalui selembar Mushaf Al-Qur’an, mimpi Rara untuk menjadi guru dan cita-cita teman-temannya menjadi dokter terasa selangkah lebih dekat. Banjir boleh saja menghanyutkan bangunan, namun ia tak pernah bisa menghanyutkan semangat dan iman yang tertanam di dada anak-anak Aceh Tamiang. (WIN)

Redaktur: Wahid Ikhwan


WAKAFDT.OR.ID

Senyum di Balik Lumpur: Asa Rara dan Mushaf Baru di Desa Sekumur Aceh Tamiang Read More »