Wakaf Daarut Tauhiid

Berita Terbaru

Menjemput Harapan di Balik Lumpur: Syukur Warga Batang Ara Atas Mushaf Wakaf DT

WAKAFDT.OR.ID | ACEH TAMIANG – Sisa-sisa lumpur masih membekas di dinding bangunan yang bertahan, namun duka yang lebih dalam tertinggal di tanah lapang tempat rumah-rumah warga dulunya berdiri.

Di Kampung Batang Ara, Desa Damai, Kecamatan Bandar Pusaka, banjir bandang bukan sekadar air yang lewat; ia adalah kekuatan besar yang menyapu bersih harta benda, tempat tinggal, hingga fasilitas ibadah ke dalam aliran arus yang dingin.

Di tengah puing-puing itu, pada tanggal 21-22 Januari 2026, secercah harapan datang. Tim Wakaf DT (Daarut Tauhiid) bersama para relawan menembus akses yang sulit untuk menyalurkan bantuan berupa mushaf Al-Qur’an dan alat shalat bagi warga yang kini tak lagi memiliki apa-apa.

Kehilangan yang Tak Terlukiskan

Bagi warga setempat, banjir bandang yang terjadi beberapa waktu lalu adalah mimpi buruk yang nyata. Rumah-rumah hanyut tersapu air, menyisakan fondasi yang kosong.

Mushalla dan masjid yang menjadi pusat kehidupan sosial dan spiritual mereka tak luput dari terjangan air, merusak fasilitas ibadah serta menghanyutkan alat-alat shalat milik warga.

Muhammad Rafli, salah seorang warga asli Kampung Batang Ara, berdiri di antara sisa-sisa desanya dengan mata yang berkaca-kaca. Mewakili warga lainnya, ia menceritakan betapa berartinya kehadiran bantuan di saat mereka merasa kehilangan segalanya.

“Kami kehilangan tempat bernaung, pakaian, dan harta benda. Bahkan untuk shalat dan mengaji pun kami kesulitan karena alat shalat dan Al-Qur’an kami semua hanyut terbawa banjir,” ujar Rafli dengan suara bergetar.

Cahaya di Tengah Ujian

Kehadiran Tim Wakaf DT di lokasi bencana menjadi pelipur lara. Penyaluran mushaf Al-Qur’an baru ini bukan sekadar pemberian barang fisik, melainkan simbol bahwa mereka tidak sendirian dalam menghadapi ujian ini. Bagi warga Batang Ara, membaca Al-Qur’an adalah cara mereka untuk tetap teguh dan tenang di tengah bencana.

“Kami sangat berterima kasih kepada Wakaf DT dan para donatur. Bantuan mushaf ini sangat berarti bagi kami untuk kembali menghidupkan kegiatan ibadah di sini. Ini memberi kami kekuatan untuk bangkit kembali,” lanjut Rafli dengan nada penuh syukur.

Selama dua hari penyaluran, para relawan tidak hanya membagikan bantuan, tetapi juga mendengarkan keluh kesah warga yang kini harus memulai hidup dari nol. Meski kondisi infrastruktur masih memprihatinkan, senyum tipis mulai terlihat di wajah para warga saat memeluk mushaf baru mereka.

Komitmen untuk Terus Mendampingi

Aksi kemanusiaan ini menjadi pengingat bahwa di balik musibah, selalu ada tangan-tangan yang siap merangkul. Wakaf DT berkomitmen untuk terus memantau perkembangan di Desa Damai, memastikan bahwa kebutuhan spiritual dan mental warga tetap terjaga di masa pemulihan pascabencana.

Kini, di bawah tenda-tenda darurat dan bangunan yang tersisa, lantunan ayat suci kembali terdengar di Kampung Batang Ara. Sebuah bukti bahwa meski rumah bisa hanyut, iman dan harapan akan tetap kokoh di hati mereka. (WIN)

Redaktur: Wahid Ikhwan


WAKAFDT.OR.ID

Menjemput Harapan di Balik Lumpur: Syukur Warga Batang Ara Atas Mushaf Wakaf DT Read More »

Update Longsor Pasirlangu: 53 Jenazah Ditemukan, Puluhan Warga Masih Hilang

WAKAFDT.OR.ID | BANDUNG BARAT – Upaya evakuasi di lokasi bencana longsor Desa Pasirlangu, Kecamatan Cisarua, Kabupaten Bandung Barat (KBB), terus menunjukkan perkembangan terbaru.

Hingga Rabu malam (28/1/2026), tim gabungan melaporkan telah menemukan 53 korban dalam kondisi meninggal dunia.

Berdasarkan keterangan dari Kepala Pelaksana BPBD Jawa Barat, Teten Ali Mulku Engkun, operasi pencarian masih jauh dari kata usai.

Saat ini, petugas di lapangan masih berupaya melacak keberadaan 27 orang lainnya yang dinyatakan hilang tertimbun material tanah.

Proses identifikasi terhadap para korban dilakukan secara intensif oleh tim Disaster Victim Identification (DVI) Polri. Berikut adalah rincian data per Rabu pukul 20.00 WIB:

  • Total Korban Dievakuasi: 53 orang.
  • Sudah Teridentifikasi: 37 orang.
  • Dalam Proses Identifikasi: 16 orang.
  • Masih dalam Pencarian: 27 orang.

Teten mengonfirmasi bahwa identitas sebagian besar korban telah berhasil dipastikan, sementara belasan lainnya masih menunggu hasil pemeriksaan lebih lanjut.

Kondisi tanah yang jenuh air akibat curah hujan tinggi sebelumnya telah diperingatkan oleh BMKG sebagai pemicu utama ketidakstabilan lereng di wilayah tersebut. (WIN)

Redaktur: Wahid Ikhwan


WAKAFDT.OR.ID

Sumber: detik

Update Longsor Pasirlangu: 53 Jenazah Ditemukan, Puluhan Warga Masih Hilang Read More »

Asa Nasya di Garoga, Mimpi Baju Loreng dari Desa yang “Hilang”

WAKAFDT.OR.ID | TAPANULI – Peta Desa Garoga mungkin kini telah berubah total. Desa yang dulunya asri, kini nyaris rata dengan tanah setelah banjir bandang bermuatan kayu-kayu raksasa menyapu segalanya tanpa sisa.

Namun, di antara tumpukan lumpur dan batang pohon yang melintang, ada semangat yang tak ikut hanyut. Semangat itu ada dalam diri Nasya, bocah kelas 3 SDN Garoga.

Saat Tim Wakaf Darut Tauhiid (DT) menyisir lokasi pengungsian pada 23-25 Januari 2026, Nasya tampak menonjol di antara anak-anak lainnya. Di balik tubuh mungilnya, tersimpan cita-cita yang gagah.

Terinspirasi dari Penolong di Balik Lumpur

Bagi Nasya, melihat desanya hancur adalah trauma yang nyata. Namun, pemandangan sehari-hari di pengungsian justru menumbuhkan bibit baru di hatinya. Setiap hari, ia melihat para prajurit TNI berjibaku memindahkan kayu-kayu besar dan mengeruk lumpur tebal yang menimbun rumah-rumah warga.

“Nasya mau jadi Tentara Wanita (KOWAD), Kak,” ucapnya tegas. Saat ditanya mengapa, jawabannya sederhana namun menyentuh, “Karena ingin bantu banyak orang di desa-desa, seperti bapak-bapak TNI itu.”

Baginya, sosok berseragam loreng adalah pahlawan yang menghadirkan harapan di tengah duka. Ia ingin suatu saat nanti, dialah yang berdiri di sana untuk menolong orang lain yang kesusahan.

Membawa Kalam Ilahi ke Tenda Pengungsian

Kehilangan sekolah dan masjid tercinta tempatnya belajar mengaji tak membuat Nasya patah arang. Biasanya, ia dan kawan-kawannya rutin mengaji di masjid dekat rumahnya di Garoga. Kini, masjid itu tinggal kenangan.

Selama di pengungsian, Nasya terpaksa mengaji di masjid desa tetangga atau di dalam tenda-tenda darurat yang gerah. Al-Qur’an yang ia gunakan pun sudah lusuh, sebagian halamannya mungkin sempat terkena percikan air atau debu sisa bencana. Namun, keterbatasan itu tak menghalanginya menghafal surat-surat pendek.

Maka, ketika Tim Wakaf DT menyodorkan sebuah mushaf Al-Qur’an baru yang masih bersih dan harum, wajah Nasya langsung cerah. Ia memeluk erat kitab suci tersebut dengan mata yang berbinar-binar.

“Senang sekali punya Al-Qur’an baru. Nanti mau dipakai buat setoran hafalan lagi sama teman-teman,” katanya sambil tersenyum lebar.

Menjaga Hafalan, Merajut Masa Depan

Meski SDN Garoga tempatnya menuntut ilmu kini tak lagi bisa digunakan, semangat belajar Nasya tetap menyala. Di dalam tenda pengungsian, ia tetap merapal ayat-ayat pendek yang telah ia hafal, menjaga cahaya iman tetap hidup di tengah kegelapan musibah.

Distribusi Al-Qur’an yang dilakukan Tim Wakaf DT bukan sekadar memberi buku, tapi memberi “amunisi” bagi jiwa-jiwa kecil seperti Nasya untuk terus bermimpi. Di antara sisa-sisa kayu besar yang menghancurkan desanya, Nasya sedang membangun pondasi mimpinya: menjadi prajurit penjaga bangsa yang hatinya terpaut pada Al-Qur’an. (WIN)

Redaktur: Wahid Ikhwan


WAKAFDT.OR.ID

Asa Nasya di Garoga, Mimpi Baju Loreng dari Desa yang “Hilang” Read More »

Kerinduan Ibu Mela Terbayar Saat Tim Wakaf DT Datang Membawa Mushaf

WAKAFDT.OR.ID | TAPANULI – Di balik wajah lelah para penyintas banjir bandang di Huta Godang, Tapanuli, ada satu sosok yang sorot matanya seketika berbinar saat melihat rombongan Tim Wakaf Daarut Tauhiid (DT) dan relawan tiba. Bukan bantuan logistik biasa yang pertama kali ia cari, melainkan sebuah kitab suci.

Ia adalah Mela Erlina Napitupulu. Di tengah hiruk-pikuk distribusi bantuan yang berlangsung pada 23-25 Januari 2026, Mela menjadi salah satu warga yang paling antusias menyambut kedatangan tim. Namun, ada satu pertanyaan yang terus ia lontarkan dengan nada penuh harap kepada setiap relawan yang lewat.

“Ada Al-Qur’an, Dek?”

Pertanyaan sederhana itu menyimpan kerinduan yang mendalam. Bagi Mela, kehilangan harta benda akibat terjangan banjir bandang adalah ujian berat, namun kehilangan Al-Qur’an miliknya adalah kesedihan yang sulit dilukiskan.

Sahabat yang Hanyut Terbawa Arus

Sambil duduk di sudut posko pengungsian, Mela bercerita dengan suara bergetar. Al-Qur’an yang biasa ia peluk setiap hari kini telah sirna, hanyut bersama derasnya arus banjir yang menyapu rumah dan seisinya.

Bagi Mela, membaca Al-Qur’an bukanlah sekadar rutinitas, melainkan kebutuhan jiwa. Sebelum musibah itu datang, tak sehari pun ia lewatkan tanpa melantunkan ayat-ayat suci.

“Sudah lama sekali rasanya rindu ingin baca Al-Qur’an lagi. Biasanya saya baca setiap hari, itu yang bikin tenang. Tapi kemarin semuanya hanyut, tidak ada yang tersisa,” ungkapnya pilu.

Dahaga Spiritual di Masa Sulit

Kehadiran Tim Wakaf DT di Huta Godang selama tiga hari tersebut memang bertujuan untuk memulihkan kondisi psikis dan spiritual warga. Selain memberikan bantuan fisik, distribusi Al-Qur’an wakaf menjadi prioritas untuk membasuh dahaga spiritual para penyintas seperti Ibu Mela.

Saat sebuah mushaf baru diletakkan di tangannya, jemari Mela gemetar. Ia mengusap sampulnya dengan takzim, seolah baru saja menemukan kembali sahabat lama yang hilang. Kerinduan yang berhari-hari ia pendam di pengungsian akhirnya terbayar tuntas.

Bagi relawan yang bertugas, antusiasme Ibu Mela adalah pengingat kuat bahwa di tengah bencana sehebat apa pun, harapan dan iman adalah dua hal yang tidak boleh ikut hanyut.

Kini, di sela riuh rendah suasana pengungsian Huta Godang, suara Mela Erlina Napitupulu akan kembali terdengar, melantunkan kalam-kalam langit yang memberinya kekuatan untuk bangkit kembali. (WIN)

Redaktur: Wahid Ikhwan


WAKAFDT.OR.ID

Kerinduan Ibu Mela Terbayar Saat Tim Wakaf DT Datang Membawa Mushaf Read More »

Perjuangan Panjang Tim Relawan Mengantar Amanah Sampai di Tapanuli

WAKAFDT.OR.ID | TAPANULI — Perjalanan mendaki dan berkelok menuju Tapanuli bukan sekadar tentang menempuh jarak, melainkan tentang ketangguhan niat. Bagi tim Wakaf, DT Peduli dan para relawan, setiap tikungan tajam adalah ujian, dan setiap tebing yang rawan longsor adalah pengingat akan pentingnya amanah yang mereka bawa.

Berikut adalah catatan perjalanan inspiratif mereka menembus jalur lintas Sumatera demi mengantarkan cahaya Al-Quran yang dilakukan oleh tim pada (23-25/1/2026).

16 Jam yang Menguji Nyali

Meninggalkan hiruk-pikuk Kota Medan, iring-iringan kendaraan pembawa bantuan logistik dan mushaf Al-Quran mulai membelah malam. Tujuan mereka adalah pelosok Tapanuli, sebuah perjalanan yang normalnya melelahkan, namun kali ini terasa lebih berat karena beban tanggung jawab dan kondisi medan yang ekstrem.

Waktu tempuh 16 jam bukanlah durasi yang singkat. Di balik kemudi, para relawan harus bertarung dengan:

  • Jalur Berkelok: Tikungan “patah” yang menuntut konsentrasi penuh agar kendaraan tetap stabil.
  • Ancaman Longsor: Melintasi zona merah di mana tebing-tebing curam sering kali luruh saat hujan turun, mengancam menutup akses jalan satu-satunya.
  • Kabut dan Kegelapan: Jarak pandang yang terbatas di area pegunungan menambah risiko perjalanan di tengah malam.

Bukan Sekadar Logistik Biasa

Di dalam truk yang berguncang hebat mengikuti kontur jalan, tersusun rapi ratusan Mushaf Al-Quran dan paket logistik. Bagi masyarakat di pedalaman Tapanuli, bantuan ini adalah napas baru. Setelah berbagai cobaan yang menimpa, kehadiran kitab suci yang baru merupakan harapan untuk kembali tegak secara spiritual.

“Lelah itu pasti, tapi membayangkan wajah anak-anak di Tapanuli saat memeluk Al-Quran baru, rasa kantuk dan pegal di punggung seperti hilang seketika,” ujar salah satu relawan di sela-sela istirahat singkatnya.

Menembus Batas Demi Amanah

Perjuangan ini adalah bukti nyata kolaborasi kemanusiaan. Tim Wakaf DT tidak bergerak sendiri; dukungan relawan lokal yang memahami seluk-beluk jalur Tapanuli menjadi kunci keberhasilan misi ini. Mereka berhenti hanya untuk salat dan memastikan mesin kendaraan tetap prima sebelum kembali menerjang tanjakan curam.

Kegigihan mereka mencerminkan satu hal: Kebaikan tidak boleh terhenti oleh rintangan geografis. Meski raga mereka dihantam letih, semangat untuk menyampaikan amanah dari para muwakif dan donatur menjadi bahan bakar utama yang tak kunjung padam.

Saat fajar mulai menyingsing dan siluet pegunungan Tapanuli terlihat, lelah 16 jam itu terbayar lunas. Kedatangan tim disambut hangat, sebuah akhir manis dari perjalanan panjang yang penuh risiko. Kini, Al-Quran tersebut siap dibaca, dipelajari, dan menjadi pelita bagi warga desa. (WIN)

Redaktur: Wahid Ikhwan


WAKAFDT.OR.ID

Perjuangan Panjang Tim Relawan Mengantar Amanah Sampai di Tapanuli Read More »

Mimpi Sulaiman & Hafidz Tak Surut Oleh Banjir

WAKAFDT.OR.ID | ACEH TAMIANG — (23/1/2026) – Di balik sisa-sisa lumpur yang mulai mengering di Desa Sekumur, Kabupaten Aceh Tamiang, tersimpan mimpi-mimpi besar yang menolak tenggelam.

Meski banjir bandang sempat menyapu ketenangan desa, semangat dua bocah setempat, Sulaiman dan Muhammad Hafidz, justru semakin berkobar.

Bagi Sulaiman, langit Aceh Tamiang bukan sekadar cakrawala biru. Itu adalah masa depannya. Bocah laki-laki ini bercita-cita menjadi seorang pilot. Ia ingin menerbangkan pesawat besar, melintasi awan, dan melihat desanya dari ketinggian yang tak terjangkau oleh air bah.

Di sisi lain, Muhammad Hafidz punya cara berbeda untuk menaklukkan dunia. Dengan kaki mungilnya, ia bermimpi menjadi pemain sepak bola profesional.

Baginya, setiap jengkal tanah di Desa Sekumur adalah lapangan latihan, tempat ia mengasah ketangkasan demi mencetak gol di stadion impian suatu hari nanti.

Ketika “Rumah Kedua” Luluh Lantak

Keseharian Sulaiman dan Hafidz biasanya diisi dengan lantunan ayat suci. Sore hari adalah waktu favorit mereka untuk mengaji di madrasah dekat rumah. Namun, banjir bandang yang menerjang beberapa waktu lalu mengubah segalanya dalam sekejap.

“Masjid kami rusak, Kak. Al-Quran yang biasa kami pakai juga sudah hancur kena air dan lumpur,” kenang mereka dengan nada lirih.

Bencana itu tidak hanya merusak bangunan fisik, tetapi juga merampas sarana mereka untuk mendekatkan diri pada Sang Pencipta.

Madrasah yang biasanya riuh dengan suara anak-anak mengaji, sempat berubah sunyi, menyisakan tumpukan mushaf yang tak lagi bisa terbaca karena terkoyak arus.

Secercah Harapan dari Wakaf DT

Namun, mendung tak selamanya menetap. Senyum kembali merekah di wajah Sulaiman dan Hafidz saat bantuan Mushaf Al-Quran baru dari Wakaf DT tiba di tangan mereka.

Bagi mereka, ini bukan sekadar buku, melainkan simbol bahwa harapan mereka untuk terus belajar dan mengaji tidak boleh berhenti.

“Senang sekali punya Quran baru. Sekarang bisa mengaji lagi dengan tenang,” ujar mereka sambil memeluk erat mushaf tersebut.

Di tengah keterbatasan pascabencana, Sulaiman dan Hafidz membuktikan bahwa impian menjadi pilot maupun pemain bola tetap tegak berdiri, selama iman tetap tertanam di hati. (WIN)

Redaktur: Wahid Ikhwan


WAKAFDT.OR.ID

Mimpi Sulaiman & Hafidz Tak Surut Oleh Banjir Read More »

Saksi Bisu Luka Sekumur: Saat Hutan Turun Menghantam Desa

WAKAFDT.OR.ID | ACEH TAMIANG – Bagi Pak Heri, suara rintik hujan biasanya adalah nina bobo. Namun, selama lima hari terakhir di penghujung Januari ini, rintik itu berubah menjadi simfoni kecemasan yang tak kunjung usai.

Langit di atas Desa Sekumur pada Kamis (22/1/2026), Kecamatan Sekerak, Aceh Tamiang, seolah tumpah tanpa jeda, menyisakan tanah yang jenuh dan sungai yang terus merangkak naik.

“Sudah lima hari hujan tidak berhenti. Kami sudah biasa kalau banjir, tapi kali ini rasanya ada yang beda,” ujar Pak Heri sambil menatap nanar ke arah hamparan lumpur yang dulunya adalah permukiman padat.

Tamu Tahunan yang Berubah Menjadi Monster

Bagi warga Desa Sekumur, banjir sebetulnya adalah ‘tamu tahunan’. Saban tahun, jika hujan mengguyur berhari-hari, air sungai akan meluap dan merendam lantai rumah mereka.

Namun, biasanya air hanya setinggi betis orang dewasa. Warga pun sudah terlatih; memindahkan barang ke tempat tinggi dan menunggu air surut dalam satu atau dua hari.

Kewaspadaan itulah yang menyelamatkan nyawa mereka kali ini. Saat air mulai merangkak naik melebihi batas wajar, Pak Heri dan warga lainnya memutuskan untuk mengungsi ke titik yang lebih tinggi.

Mereka meninggalkan rumah dengan harapan akan kembali saat air surut seperti tahun-tahun sebelumnya. Namun, alam punya rencana lain yang jauh lebih mengerikan.

Gemuruh dari Hulu: Saat Kayu-Kayu Raksasa Bertamu

Sore itu, suasana mencekam mencapai puncaknya. Bukan lagi suara air yang terdengar, melainkan suara dentuman keras yang beradu dengan gemuruh air sungai yang pekat.

“Tiba-tiba terdengar suara brak! Keras sekali. Kami lihat dari kejauhan, aliran sungai membawa gelondongan kayu pohon yang sangat besar. Bukan satu atau dua, tapi banyak sekali,” kenang Pak Heri dengan suara bergetar.

Gelombang air bah itu tidak datang sendirian. Ia membawa ‘senjata’ berupa material kayu hutan berukuran raksasa yang meluncur deras dari arah hulu.

Pohon-pohon itu menghantam apa saja yang menghalangi jalannya. Jembatan, pepohonan warga, hingga rumah-rumah kayu yang sudah berdiri puluhan tahun di Desa Sekumur.

Dalam sekejap, desa yang mereka cintai itu luluh lantak. Hantaman kayu-kayu besar itu membuat bangunan di sana rata dengan tanah, menyisakan tumpukan material kayu dan lumpur yang tebal.

Menyisakan Puing dan Trauma

Kini, Pak Heri dan warga lainnya hanya bisa menatap puing-puing kehidupan mereka yang tersisa. Desa mereka yang dulunya asri, kini tampak seperti medan perang.

Syukur tak henti mereka panjatkan karena keputusan untuk mengungsi lebih awal telah menyelamatkan nyawa, meski harta benda tak ada yang sempat tersisa.

“Rumah bisa dibangun lagi, tapi trauma ini yang sulit hilang. Tiap dengar suara kayu beradu atau hujan deras, kami langsung waswas,” tutupnya.

Banjir bandang kali ini menjadi pengingat pahit bagi warga di kaki hutan Aceh Tamiang, bahwa alam tidak hanya bisa memberi, tapi juga bisa mengambil kembali dengan cara yang paling tak terduga. (WIN)

Redaktur: Wahid Ikhwan


WAKAFDT.OR.ID

Saksi Bisu Luka Sekumur: Saat Hutan Turun Menghantam Desa Read More »

KBIHU Daarut Tauhiid Laksanakan Bimbingan Manasik Haji

WAKAFDT.OR.ID | BANDUNG — Alhamdulillah, KBIHU Daarut Tauhiid kembali melaksanakan Bimbingan Manasik Haji Pekan Kedua pada Ahad, 11 Januari 2026. Kegiatan ini berlangsung dengan khidmat di Daarul Hajj, Komplek Pesantren Daarut Tauhiid, dan diikuti oleh para jamaah calon haji yang telah terdaftar secara resmi di KBIHU Daarut Tauhiid.

Bimbingan manasik haji ini merupakan bagian dari rangkaian pembinaan intensif yang dirancang untuk membekali jamaah agar memahami ibadah haji secara menyeluruh, baik dari sisi fiqih, teknis pelaksanaan, maupun kesiapan mental dan spiritual.

Materi Manasik Haji Pekan Kedua

Pada pertemuan kedua ini, para peserta mendapatkan sejumlah materi penting yang menjadi fondasi dalam pelaksanaan ibadah haji, di antaranya:

  • Pengantar Manasik Haji, sebagai gambaran umum tahapan dan tujuan ibadah haji
  • Istilah-istilah dalam pelaksanaan ibadah haji, agar jamaah memahami terminologi yang sering digunakan selama di Tanah Suci
  • Tata cara pelaksanaan ibadah haji sesuai tuntunan syariat
  • Doa-doa dalam ibadah haji, mulai dari keberangkatan hingga kepulangan
  • Manajemen Qobul, yakni pengelolaan niat, adab, dan sikap agar ibadah haji dapat diterima oleh Allah Subhanahu wa Ta’ala dan dilaksanakan dengan lancar serta khusyuk

Materi disampaikan secara sistematis dan komunikatif, sehingga jamaah tidak hanya memahami secara teori, tetapi juga siap untuk mempraktikkannya saat berada di Tanah Suci.

Komitmen KBIHU Daarut Tauhiid

Melalui kegiatan bimbingan manasik haji ini, KBIHU Daarut Tauhiid menegaskan komitmennya untuk memberikan pendampingan terbaik bagi para calon jamaah haji, mulai dari tahap persiapan, pelaksanaan, hingga pasca-haji. Pendekatan yang digunakan tidak hanya menekankan aspek teknis, tetapi juga pembinaan ruhiyah agar jamaah mampu meraih haji yang mabrur.

InsyaAllah, kegiatan bimbingan manasik haji akan terus dilaksanakan secara berkelanjutan sesuai jadwal yang telah ditetapkan, sebagai ikhtiar dalam mempersiapkan jamaah agar mampu melaksanakan ibadah haji dengan tertib, mandiri, dan penuh kekhusyukan.

Semoga seluruh rangkaian bimbingan ini menjadi wasilah kebaikan dan kemudahan bagi para jamaah KBIHU Daarut Tauhiid dalam menunaikan rukun Islam yang kelima.

Redaktur: Wahid Ikhwan


KBIHU Daarut Tauhiid Laksanakan Bimbingan Manasik Haji Read More »

Belajar Sains dari Dunia Kesehatan

WAKAFDT.OR.ID | BANDUNG — Rabu (21/1/2026) menjadi pengalaman belajar yang berbeda bagi santri SMP Daarut Tauhiid Boarding School (DTBS) Putri. Hari itu, ruang kelas berpindah ke Klinik Kesehatan Daarut Tauhiid. Bukan kunjungan biasa, melainkan proses pembelajaran Ilmu Pengetahuan Alam (IPA) yang mengajak santri menyelami ilmu langsung dari denyut kehidupan nyata.

Di klinik tersebut, santri mempelajari materi tentang penyakit dan kelainan pada sistem peredaran darah. Materi yang biasanya tertulis di buku pelajaran dan tergambar di papan tulis, kini hadir melalui penjelasan langsung dari dokter dan tenaga medis. Denyut nadi, alur peredaran darah, hingga berbagai gangguan kesehatan dijelaskan secara kontekstual dan mudah dipahami.

Pembelajaran ini membuka ruang dialog antara santri dan tenaga medis. Santri tidak hanya menyimak, tetapi juga bertanya, mengamati, serta mengaitkan teori dengan kondisi nyata. Suasana belajar terasa hidup dan penuh semangat, seolah ilmu pengetahuan menemukan wujud nyatanya.

Melalui pendekatan tersebut, santri memperoleh pengalaman belajar yang lebih bermakna. Mereka tidak hanya memahami konsep, tetapi juga mendapatkan wawasan tentang pentingnya menjaga kesehatan serta mengenal lebih dekat profesi di bidang medis. Ilmu yang dipelajari pun terasa lebih aplikatif dan relevan dengan kehidupan sehari-hari.

Fitri Iswari, Staf Humas Media dan Desain SMP DTBS Putri, menyampaikan bahwa kegiatan ini memberi dampak positif bagi proses pembelajaran santri.

“Melalui pembelajaran nyata ini, santri tidak hanya memahami teori, tetapi juga mendapatkan wawasan langsung dari tenaga medis, sehingga ilmu yang dipelajari menjadi lebih bermakna dan aplikatif,” ujarnya.

Kegiatan ini menjadi bukti bahwa belajar tidak selalu harus berlangsung di dalam kelas. Ketika ilmu dipertemukan dengan realita, pemahaman tumbuh lebih dalam dan kesadaran pun terbangun. Dari klinik kesehatan, santri belajar tentang sains, kehidupan, serta tanggung jawab menjaga amanah tubuh yang telah Allah titipkan. (DS)


Belajar Sains dari Dunia Kesehatan Read More »

Makmurkan Aset Wakaf, DT Jakarta Gelar Mabit Persiapan Ramadhan

WAKAFDT.OR.ID | JAKARTA — Pada senja hari Sabtu itu, suasana di Masjid Daarut Tauhiid Jakarta terlihat agak berbeda. Banyak orang yang datang ke masjid, dan mereka tidak hanya datang untuk melakukan ibadah saja. Mereka juga membawa niat yang kuat di hati. Pada malam itu, para peserta berkumpul bukan hanya untuk beribadah, tetapi juga untuk mengambil waktu sejenak dari kesibukan dunia dan mempersiapkan diri menyambut bulan Ramadhan melalui kegiatan MABIT Daarut Tauhiid Jakarta.

Mengusung tema “Rumahku, Surgaku di Bulan Ramadhan”, MABIT ini diselenggarakan sebagai ikhtiar pembinaan ruhiyah jamaah dalam rangka menyiapkan hati, iman, dan suasana rumah tangga agar lebih bernilai ibadah. Tema tersebut lahir dari kesadaran akan tantangan kehidupan modern yang kerap menjauhkan rumah dari fungsinya sebagai pusat ibadah, ketenangan, dan pendidikan tauhid.

Kegiatan MABIT yang berlangsung pada Sabtu–Ahad, 24–25 Januari 2026 / 5–6 Sya’ban 1447 H, ini terbuka untuk umum, baik ikhwan maupun akhwat. Sejak pukul 17.00 WIB hingga pagi hari, jamaah mengikuti rangkaian kegiatan yang dirancang untuk membangunkan kesadaran spiritual dan memperkuat kesiapan menyambut bulan suci.

Rangkaian kegiatan diawali dengan kajian tematik yang mengajak peserta menata kembali orientasi hidup dan keluarga. Malam berlanjut dengan muhasabah diri, qiyamul lail, serta shalat berjamaah yang menghadirkan suasana hening, khusyuk, dan penuh refleksi. Dalam keheningan malam, banyak hati yang belajar jujur—tentang ibadah yang sering tertunda, rumah yang kurang hidup dengan dzikir, serta Ramadhan yang kerap berlalu tanpa bekas mendalam.

Kegiatan ini dibimbing oleh KH. Ahmad Rosyidin Mawardi dan Ust. Dadang Sukandar, serta qiyamul lail bersama Ust. Ikhsan Ahmad Fauzan, Lc. Dalam kegiatan ini, jamaah akan mempelajari tentang Manajemen Qalbu. Ini adalah pendekatan yang membantu jamaah memahami bahwa perubahan besar sering kali dimulai dari hati yang teratur dan rumah yang diisi dengan nilai tauhid. Dengan demikian, jamaah dapat memahami bahwa perubahan besar bisa berawal dari hati yang ditata dan rumah yang dihidupkan dengan nilai tauhid.

MABIT Daarut Tauhiid Jakarta diharapkan menjadi momentum hijrah hati—agar Ramadhan tidak hanya disambut dengan kalender, tetapi dengan kesiapan iman, ketenangan jiwa, dan tekad menjadikan rumah sebagai “surga” yang menumbuhkan ibadah, kedamaian, dan keberkahan bagi seluruh anggota keluarga.

Redaktur: Wahid Ikhwan


Makmurkan Aset Wakaf, DT Jakarta Gelar Mabit Persiapan Ramadhan Read More »