Wakaf Daarut Tauhiid

Admin WakafDT

Menata Kembali Kehidupan: Sinergi Multi-Sektor Kebut Pembangunan Huntara di Tiga Provinsi

WAKAFDT.OR.ID | MEDAN — Pemerintah Indonesia mengambil langkah masif untuk mengurangi beban pengungsi pascabencana dengan mempercepat ketersediaan tempat tinggal sementara.

Melalui kerja sama dengan lembaga non-pemerintah seperti Buddha Tzu Chi, Dompet Dhuafa, dan Rumah Zakat, ribuan unit Hunian Sementara (Huntara) kini mulai menghiasi titik-titik pemulihan di Aceh, Sumut, dan Sumbar.

Faktor pendorong utama cepatnya pembangunan ini adalah kemudahan akses lahan, baik menggunakan tanah desa maupun lahan perusahaan. Dari rencana besar pembangunan 17.231 unit, kini sudah lebih dari 4.000 unit siap dihuni oleh warga.

Selain penyediaan fisik bangunan, pemerintah juga menawarkan skema Dana Tunggu Hunian (DTH). Skema ini memberikan dana sebesar Rp600 ribu per bulan selama tiga bulan bagi keluarga yang memilih menyewa rumah secara mandiri.

Tercatat sudah 5.932 KK telah menerima dana bantuan ini, dengan penerima terbanyak berada di Aceh (2.559 KK).

“Huntara adalah solusi konkret untuk mengosongkan posko pengungsian,” ujar Tito Karnavian. Ia menambahkan bahwa ketepatan klasifikasi kerusakan rumah (berat, sedang, atau ringan) sangat menentukan efektivitas penyaluran bantuan hunian ini. (WIN)

Redaktur: Wahid Ikhwan


Menata Kembali Kehidupan: Sinergi Multi-Sektor Kebut Pembangunan Huntara di Tiga Provinsi Read More »

Berpacu dengan Waktu, Tim SAR Kerahkan Alat Berat Cari Korban Longsor di Pasirlangu

WAKAFDT.OR.ID | BANDUNG BARAT – Harapan untuk menemukan 25 warga Desa Pasirlangu yang masih hilang akibat longsor kini bergantung pada cuaca dan ketangguhan tim di lapangan.

Memasuki hari ketujuh, Jumat (30/1/2026), tim SAR gabungan kembali bergerak menyisir area bencana di Kecamatan Cisarua, Bandung Barat.

Evaluasi dari hari-hari sebelumnya menunjukkan bahwa faktor cuaca menjadi hambatan terbesar dalam proses evakuasi.

“Kami telah mengonsolidasikan semua personel untuk memastikan kesiapan di setiap titik pencarian,” jelas Direktur Operasi Basarnas, Laksamana Pertama TNI Y Bramantyo.

Selain mengandalkan kekuatan personel, dua unit alat berat ekskavator PC 200 kini telah didatangkan ke perbatasan sektor A2 dan A3.

Langkah ini diambil untuk menyingkirkan puing dan tanah yang menimbun pemukiman warga sejak Sabtu pekan lalu.

Dari data terakhir, 55 korban telah ditemukan, namun masih ada 25 jiwa lagi yang dinantikan kabar keberadaannya oleh pihak keluarga. (WIN)

Redaktur: Wahid Ikhwan


WAKAFDT.OR.ID

Berpacu dengan Waktu, Tim SAR Kerahkan Alat Berat Cari Korban Longsor di Pasirlangu Read More »

Aa Gym

Aa Gym: Parkir yang Dicintai Allah

WAKAFDT.OR.IDSaudaraku, di tempat-tempat modern seperti pusat perkantoran atau perbelanjaan, urusan parkir biasanya sudah tertata rapi. Ada garisnya, ada petugasnya, dan ada aturannya. Namun, ujian karakter kita yang sebenarnya justru muncul di tempat-tempat yang tidak ada petugasnya atau yang tatanannya kurang teratur.

Ketika Ego Lebih Besar dari Empati

Mari kita jujur pada diri sendiri. Pernahkah kita datang terlambat ke pengajian di masjid, lalu karena terburu-buru, kita memarkir motor sekenanya? Karena merasa bukan hanya kita yang terlambat, akhirnya barisan kendaraan pun jadi berantakan.

Atau bayangkan saat kita ingin membeli bakso di pinggir jalan menggunakan mobil. Karena sudah tidak sabar ingin memesan, kita parkir asal-asalan. Mungkin tukang baksonya senang karena dagangannya laku, tapi di sisi lain ia sedih melihat jalanan menjadi macet. Orang-orang berkerumun di sana bukan untuk membeli baksonya, tapi karena terjepit macet akibat kendaraan kita.

Mudah Bagi Kita, Menyesakkan Bagi Orang Lain

Saudaraku, mohon maaf, saya tidak sedang menuduh siapa pun. Tulisan ini adalah pengingat bagi siapa saja yang masih merasa parkir sembarangan itu hal biasa. Memang, parkir semena-mena itu terasa “enak” dan praktis. Kita bisa hemat waktu, hemat tenaga, dan mungkin hemat uang parkir. Bahkan kalau ada yang menyenggol, terkadang kita yang lebih galak memelototi mereka.

Namun, mari kita tanyakan pada hati nurani: Bagaimana dengan hak orang yang terhalang jalan hidupnya karena kendaraan kita?

Kita tidak pernah tahu kondisi orang lain di sekitar kita:

  • Mungkin pemilik motor di sebelah kita harus segera pulang karena sedang diare kronis, namun ia terjepit karena motor kita menghimpitnya.
  • Mungkin ada mobil di belakang kita yang sedang membawa ibu yang hendak melahirkan atau pasien yang butuh transfusi darah segera.
  • Mungkin ada pejalan kaki yang terpaksa turun ke badan jalan karena trotoarnya kita pakai untuk parkir, sehingga mereka nyaris tersambar bus atau truk.

Satu lagi yang sering terlupakan: menitipkan kendaraan di masjid tanpa izin. Bayangkan jika pengelola masjid tiba-tiba ada acara mendadak, sementara kendaraan kita terparkir diam di sana tanpa informasi. Berapa banyak tenaga panitia yang terkuras hanya untuk memindahkan kendaraan kita?

Hukum Balasan: Mudahkan, Maka Dimudahkan

Hati nurani kita pasti tahu bahwa mempersulit orang lain akan berdampak pada diri sendiri. Dalam hidup ini, berlaku hukum balasan yang sangat adil dari Allah SWT. Semakin kita mempermudah urusan orang, semakin Allah mudahkan urusan kita. Sebaliknya, semakin kita hobi menyusahkan orang, hidup kita pun akan terasa sempit.

Allah SWT telah mengingatkan dalam kalam-Nya:

“Maka barang siapa mengerjakan kebaikan seberat dzarrah, niscaya dia akan melihat (balasan)nya. Dan barang siapa berbuat kejahatan seberat dzarrah, niscaya dia akan melihat (balasan)nya.” (QS. Az-Zalzalah: 7-8).

Oleh karena itu, mulai sekarang, marilah kita parkirkan kendaraan di tempat yang disukai Allah. Bukan sekadar tempat yang enak bagi kita, tapi tempat yang membuat orang lain tetap merasa nyaman. Tempat yang tidak merugikan orang, tidak menghalangi jalan, dan tidak menciptakan kemacetan.

Mungkin tidak ada orang yang berani menegur kita. Mungkin juga tidak ada yang marah karena rumah yang kita tutupi sedang sepi. Namun, ingatlah bahwa urusan parkir ini adalah urusan kebenaran yang akan dicatat. Tidak ada satu pun perbuatan kita—sekecil apa pun—yang akan luput dari perhitungan Allah kelak. (KH. Abdullah Gymnastiar)

Redaktur: Wahid Ikhwan


WAKAFDT.OR.ID

Aa Gym: Parkir yang Dicintai Allah Read More »

Menjaga Hak Sesama dan Kekuatan Doa yang Teraniaya

WAKAFDT.OR.IDIslam adalah agama yang menjunjung tinggi keadilan dan dengan tegas mengharamkan segala bentuk kezaliman. Perbuatan zalim, terutama di antara sesama Muslim, merupakan dosa besar yang dapat merusak tatanan persaudaraan.

Larangan Menzalimi Saudara Seiman

Rasulullah SAW memberikan batasan yang sangat jelas mengenai hak-hak seorang Muslim. Dalam sebuah hadis yang diriwayatkan oleh Abu Dawud, beliau bersabda:

“Setiap Muslim atas Muslim lainnya adalah haram darahnya, hartanya, dan kehormatannya. Cukuplah seseorang dikatakan melakukan keburukan jika ia merendahkan saudaranya sesama Muslim.”

Hadis ini mengingatkan kita bahwa menyakiti fisik, merampas harta, hingga mencoreng nama baik saudara seiman adalah tindakan yang dilarang keras dalam agama.

Keadilan Tanpa Pandang Bulu

Islam juga mengajarkan bahwa keadilan berlaku untuk seluruh umat manusia, tanpa memandang latar belakang keyakinannya. Jangan pernah merasa bebas berbuat semena-mena kepada mereka yang berbeda iman. Perlu diingat bahwa doa orang yang terzalimi memiliki “jalur khusus” untuk dikabulkan oleh Allah SWT.

Rasulullah SAW memberikan peringatan keras:

“Waspadalah terhadap doa orang yang terzalimi, karena sesungguhnya tidak ada hijab (penghalang) antara doanya dengan Allah.” (HR. Bukhari)

Kalimat ini menegaskan bahwa Allah Maha Mendengar rintihan hamba-Nya yang disakiti, terlepas dari apa pun status agamanya.

Mengadu Hanya kepada Allah

Jika saat ini Anda merasa sedang berada dalam posisi yang dizalimi, janganlah membalas dengan keburukan yang serupa. Kembalikanlah segalanya kepada Allah SWT, Zat Yang Maha Melindungi dan Maha Mengetahui segala sesuatu yang tersembunyi. Yakinlah bahwa tidak ada satu pun kekuatan di dunia ini yang sanggup menandingi kekuasaan-Nya.

Untaian Doa Saat Menghadapi Kezaliman

Terdapat dua doa utama dari para nabi yang bisa kita amalkan saat menghadapi tekanan atau perlakuan buruk dari orang lain:

1. Doa Nabi Musa AS (QS. Al-Qashas: 21) Doa ini dibaca saat Nabi Musa memohon perlindungan dari kejaran pasukan Fir’aun:

رَبِّ نَجِّنِىۡ مِنَ الۡقَوۡمِ الظّٰلِمِيۡنَ

“Ya Tuhanku, selamatkanlah aku dari orang-orang yang zalim itu.”

2. Doa Nabi Yunus AS (QS. Al-Anbiya: 87) Doa ini dibaca saat beliau berada dalam kesulitan besar di dalam perut ikan paus. Doa ini mengandung pengakuan akan kebesaran Allah dan permohonan ampun atas kekhilafan diri:

لَّاۤ اِلٰهَ اِلَّاۤ اَنۡتَ سُبۡحٰنَكَ ‌ۖ اِنِّىۡ كُنۡتُ مِنَ الظّٰلِمِيۡنَ

“Tidak ada Tuhan selain Engkau, Mahasuci Engkau. Sesungguhnya aku termasuk orang-orang yang zalim.”

Semoga dengan memahami hakikat keadilan ini, kita terhindar dari perilaku menzalimi orang lain dan senantiasa berada dalam perlindungan-Nya saat menghadapi ujian kehidupan.

Redaktur: Wahid Ikhwan


Menjaga Hak Sesama dan Kekuatan Doa yang Teraniaya Read More »

Menembus “Lautan Kayu” Sekumur: Perjuangan Wakaf DT Antarkan Mushaf dengan Perahu Kecil

WAKAFDT.OR.ID | ACEH TAMIANG – Masih lekat dalam ingatan publik sebuah video viral yang memperlihatkan Desa Sekumur tertutup hamparan ribuan batang pohon kayu yang hanyut dari gunung.

Desa di pelosok Aceh Tamiang ini sempat menyerupai “lautan kayu” pasca-banjir bandang yang meluluhlantakkan infrastruktur. Namun, di balik tumpukan material alam tersebut, ada warga yang sedang berjuang menyambung hidup dan menjaga iman.

Pada 21-22 Januari 2026, tim Wakaf DT (Daarut Tauhiid) bersama para relawan kemanusiaan melakukan misi yang tak biasa. Mereka bergerak membawa amanah para muwakif: mendistribusikan mushaf Al-Qur’an ke jantung wilayah yang terisolasi tersebut.

Perjalanan di Atas Air dan Terjalnya Jalur Darat

Mencapai Desa Sekumur bukanlah perkara mudah. Sejak jembatan utama runtuh diterjang arus banjir yang dahsyat, akses logistik lumpuh total. Perjalanan tim dimulai dengan menempuh jalur darat yang terjal dan licin, sebelum akhirnya tiba di pinggir sungai yang memisahkan mereka dengan desa tujuan.

Tanpa jembatan, satu-satunya cara adalah dengan memindahkan tumpukan kardus mushaf ke atas perahu kayu kecil.

“Kami harus memastikan setiap mushaf tetap kering dan aman. Perahu kecil ini adalah satu-satunya penyambung asa kami untuk sampai ke seberang,” ungkap salah satu relawan di lokasi.

Ayunkan dayung dan deru mesin perahu kecil membelah arus sungai yang masih tampak keruh, membawa beban yang jauh lebih berharga dari sekadar kertas: yakni bimbingan spiritual bagi warga yang sedang berduka.

Menata Harapan di Tengah Puing-Puing

Setibanya di Desa Sekumur, pemandangan memilukan menyambut tim. Batang-batang pohon raksasa masih berserakan di sela-sela rumah warga yang rusak. Desa yang dulunya asri, kini tampak seperti medan tempur melawan alam.

Meski kondisi fisik desa porak-poranda, kedatangan tim Wakaf DT membawa atmosfer yang berbeda. Penyaluran mushaf Al-Qur’an ini disambut haru oleh warga. Bagi mereka, kehilangan harta benda memang berat, namun kehilangan sarana untuk beribadah dan mengaji terasa lebih menyesakkan.

Misi distribusi ini mencakup:

  • Penyaluran mushaf Al-Qur’an baru untuk mengganti yang rusak/hanyut.
  • Pendataan kebutuhan fasilitas ibadah darurat.
  • Pemberian dukungan moral bagi warga di wilayah terisolasi.

Iman yang Tetap Kokoh

Banjir boleh saja meruntuhkan jembatan dan menghanyutkan rumah, namun semangat warga Sekumur untuk tetap dekat dengan Al-Qur’an terbukti tak tergoyahkan.

Kehadiran relawan di tanggal 21-22 Januari tersebut menjadi bukti nyata bahwa kepedulian dari para donatur mampu menembus hambatan geografis seberat apa pun.

Kini, meski harus menyeberang sungai dengan perahu dan berjalan di antara batang pohon yang berserakan, warga Desa Sekumur memiliki kawan baru dalam kesunyian mereka: ayat-ayat suci yang baru saja mendarat di tangan mereka. (WIN)

Redaktur: Wahid Ikhwan


WAKAFDT.OR.ID

Menembus “Lautan Kayu” Sekumur: Perjuangan Wakaf DT Antarkan Mushaf dengan Perahu Kecil Read More »

Masjid Hanyut Tak Menyurutkan Iman: Cahaya Mushaf Baru di Desa Alur Jambu

WAKAFDT.OR ID | ACEH TAMIANG – Di Desa Alur Jambu, bentang alam yang biasanya hijau kini berganti rupa menjadi hamparan sisa kayu dan endapan lumpur yang mengering. Suara aliran sungai yang biasanya menenangkan, kini menyisakan trauma mendalam bagi warga.

Di desa ini, banjir bandang bukan sekadar datang dan pergi; ia membawa serta nadi kehidupan warga: Masjid desa mereka.

Pada 21-22 Januari 2026, tim Wakaf DT (Daarut Tauhiid) bersama gabungan relawan menembus medan yang sulit untuk mencapai desa ini. Mereka datang membawa lebih dari sekadar logistik, melainkan membawa harapan dalam bentuk makanan, pakaian, dan tumpukan mushaf Al-Qur’an yang baru.

Saat Rumah Allah Raib Diterjang Arus

Bapak Hasan, salah satu tokoh warga Desa Alur Jambu, berdiri di sebuah lahan kosong yang kini hanya menyisakan beberapa bongkah semen. Dengan tatapan nanar, ia menunjuk ke arah aliran sungai.

“Masjid kami habis, hancur, dan hanyut terbawa banjir. Tidak ada yang tersisa,” kenang Pak Hasan dengan suara berat.

Bagi warga, kehilangan masjid berarti kehilangan segalanya. Selama berhari-hari pascabencana, mereka tidak hanya berjuang melawan rasa lapar karena sulitnya akses pangan dan papan, tetapi juga kehilangan tempat bernaung untuk mengadu kepada Sang Pencipta. Aktivitas mengaji yang biasanya meramaikan sore hari seketika senyap.

Semangat yang Tak Bisa Dihanyutkan

Namun, di tengah puing-puing kehancuran, ada sesuatu yang tidak bisa disapu oleh banjir bandang: Semangat.

Pak Hasan menceritakan bahwa meski masjid sudah rata dengan tanah dan mereka hidup dalam keterbatasan di pengungsian, anak-anak dan ibu-ibu di Desa Alur Jambu tetap memendam kerinduan untuk mengaji. Mereka ingin kembali melantunkan ayat suci, meski harus beralaskan terpal dan beratapkan langit.

Kehadiran tim Wakaf DT yang membawa mushaf Al-Qur’an baru seolah menjadi jawaban atas doa-doa mereka. Wajah-wajah letih itu seketika cerah saat jemari mereka menyentuh lembaran mushaf yang bersih dan harum.

“Kami sangat bersyukur. Dengan mushaf baru ini, anak-anak dan ibu-ibu di sini pasti akan lebih semangat lagi belajar Qur’an. Ini adalah awal bagi kami untuk membangun kembali jiwa kami yang sempat terpuruk,” ungkap Pak Hasan.

Doa dari Ujung Aceh Tamiang

Pak Hasan menitipkan pesan mendalam untuk para muwakif (pewakaf) yang telah mengulurkan tangan. Baginya, bantuan ini datang di saat yang paling krusial, di mana kebutuhan batin sama mendesaknya dengan kebutuhan perut.

“Semoga rejeki para muwakif terus melimpah. Terima kasih telah membantu kami di saat kami benar-benar terjepit. Hanya Allah yang bisa membalas kebaikan ini,” tutupnya dengan tulus.

Matahari mulai terbenam di Alur Jambu. Masjid mereka mungkin memang sudah hanyut, namun di balik tenda-tenda darurat malam ini, suara lantunan Al-Qur’an akan kembali terdengar—lebih kencang dan lebih bersemangat dari sebelumnya. (WIN)

Redaktur: Wahid Ikhwan


WAKAFDT.OR ID

Masjid Hanyut Tak Menyurutkan Iman: Cahaya Mushaf Baru di Desa Alur Jambu Read More »

Menjemput Harapan di Balik Lumpur: Syukur Warga Batang Ara Atas Mushaf Wakaf DT

WAKAFDT.OR.ID | ACEH TAMIANG – Sisa-sisa lumpur masih membekas di dinding bangunan yang bertahan, namun duka yang lebih dalam tertinggal di tanah lapang tempat rumah-rumah warga dulunya berdiri.

Di Kampung Batang Ara, Desa Damai, Kecamatan Bandar Pusaka, banjir bandang bukan sekadar air yang lewat; ia adalah kekuatan besar yang menyapu bersih harta benda, tempat tinggal, hingga fasilitas ibadah ke dalam aliran arus yang dingin.

Di tengah puing-puing itu, pada tanggal 21-22 Januari 2026, secercah harapan datang. Tim Wakaf DT (Daarut Tauhiid) bersama para relawan menembus akses yang sulit untuk menyalurkan bantuan berupa mushaf Al-Qur’an dan alat shalat bagi warga yang kini tak lagi memiliki apa-apa.

Kehilangan yang Tak Terlukiskan

Bagi warga setempat, banjir bandang yang terjadi beberapa waktu lalu adalah mimpi buruk yang nyata. Rumah-rumah hanyut tersapu air, menyisakan fondasi yang kosong.

Mushalla dan masjid yang menjadi pusat kehidupan sosial dan spiritual mereka tak luput dari terjangan air, merusak fasilitas ibadah serta menghanyutkan alat-alat shalat milik warga.

Muhammad Rafli, salah seorang warga asli Kampung Batang Ara, berdiri di antara sisa-sisa desanya dengan mata yang berkaca-kaca. Mewakili warga lainnya, ia menceritakan betapa berartinya kehadiran bantuan di saat mereka merasa kehilangan segalanya.

“Kami kehilangan tempat bernaung, pakaian, dan harta benda. Bahkan untuk shalat dan mengaji pun kami kesulitan karena alat shalat dan Al-Qur’an kami semua hanyut terbawa banjir,” ujar Rafli dengan suara bergetar.

Cahaya di Tengah Ujian

Kehadiran Tim Wakaf DT di lokasi bencana menjadi pelipur lara. Penyaluran mushaf Al-Qur’an baru ini bukan sekadar pemberian barang fisik, melainkan simbol bahwa mereka tidak sendirian dalam menghadapi ujian ini. Bagi warga Batang Ara, membaca Al-Qur’an adalah cara mereka untuk tetap teguh dan tenang di tengah bencana.

“Kami sangat berterima kasih kepada Wakaf DT dan para donatur. Bantuan mushaf ini sangat berarti bagi kami untuk kembali menghidupkan kegiatan ibadah di sini. Ini memberi kami kekuatan untuk bangkit kembali,” lanjut Rafli dengan nada penuh syukur.

Selama dua hari penyaluran, para relawan tidak hanya membagikan bantuan, tetapi juga mendengarkan keluh kesah warga yang kini harus memulai hidup dari nol. Meski kondisi infrastruktur masih memprihatinkan, senyum tipis mulai terlihat di wajah para warga saat memeluk mushaf baru mereka.

Komitmen untuk Terus Mendampingi

Aksi kemanusiaan ini menjadi pengingat bahwa di balik musibah, selalu ada tangan-tangan yang siap merangkul. Wakaf DT berkomitmen untuk terus memantau perkembangan di Desa Damai, memastikan bahwa kebutuhan spiritual dan mental warga tetap terjaga di masa pemulihan pascabencana.

Kini, di bawah tenda-tenda darurat dan bangunan yang tersisa, lantunan ayat suci kembali terdengar di Kampung Batang Ara. Sebuah bukti bahwa meski rumah bisa hanyut, iman dan harapan akan tetap kokoh di hati mereka. (WIN)

Redaktur: Wahid Ikhwan


WAKAFDT.OR.ID

Menjemput Harapan di Balik Lumpur: Syukur Warga Batang Ara Atas Mushaf Wakaf DT Read More »

Update Longsor Pasirlangu: 53 Jenazah Ditemukan, Puluhan Warga Masih Hilang

WAKAFDT.OR.ID | BANDUNG BARAT – Upaya evakuasi di lokasi bencana longsor Desa Pasirlangu, Kecamatan Cisarua, Kabupaten Bandung Barat (KBB), terus menunjukkan perkembangan terbaru.

Hingga Rabu malam (28/1/2026), tim gabungan melaporkan telah menemukan 53 korban dalam kondisi meninggal dunia.

Berdasarkan keterangan dari Kepala Pelaksana BPBD Jawa Barat, Teten Ali Mulku Engkun, operasi pencarian masih jauh dari kata usai.

Saat ini, petugas di lapangan masih berupaya melacak keberadaan 27 orang lainnya yang dinyatakan hilang tertimbun material tanah.

Proses identifikasi terhadap para korban dilakukan secara intensif oleh tim Disaster Victim Identification (DVI) Polri. Berikut adalah rincian data per Rabu pukul 20.00 WIB:

  • Total Korban Dievakuasi: 53 orang.
  • Sudah Teridentifikasi: 37 orang.
  • Dalam Proses Identifikasi: 16 orang.
  • Masih dalam Pencarian: 27 orang.

Teten mengonfirmasi bahwa identitas sebagian besar korban telah berhasil dipastikan, sementara belasan lainnya masih menunggu hasil pemeriksaan lebih lanjut.

Kondisi tanah yang jenuh air akibat curah hujan tinggi sebelumnya telah diperingatkan oleh BMKG sebagai pemicu utama ketidakstabilan lereng di wilayah tersebut. (WIN)

Redaktur: Wahid Ikhwan


WAKAFDT.OR.ID

Sumber: detik

Update Longsor Pasirlangu: 53 Jenazah Ditemukan, Puluhan Warga Masih Hilang Read More »

Asa Nasya di Garoga, Mimpi Baju Loreng dari Desa yang “Hilang”

WAKAFDT.OR.ID | TAPANULI – Peta Desa Garoga mungkin kini telah berubah total. Desa yang dulunya asri, kini nyaris rata dengan tanah setelah banjir bandang bermuatan kayu-kayu raksasa menyapu segalanya tanpa sisa.

Namun, di antara tumpukan lumpur dan batang pohon yang melintang, ada semangat yang tak ikut hanyut. Semangat itu ada dalam diri Nasya, bocah kelas 3 SDN Garoga.

Saat Tim Wakaf Darut Tauhiid (DT) menyisir lokasi pengungsian pada 23-25 Januari 2026, Nasya tampak menonjol di antara anak-anak lainnya. Di balik tubuh mungilnya, tersimpan cita-cita yang gagah.

Terinspirasi dari Penolong di Balik Lumpur

Bagi Nasya, melihat desanya hancur adalah trauma yang nyata. Namun, pemandangan sehari-hari di pengungsian justru menumbuhkan bibit baru di hatinya. Setiap hari, ia melihat para prajurit TNI berjibaku memindahkan kayu-kayu besar dan mengeruk lumpur tebal yang menimbun rumah-rumah warga.

“Nasya mau jadi Tentara Wanita (KOWAD), Kak,” ucapnya tegas. Saat ditanya mengapa, jawabannya sederhana namun menyentuh, “Karena ingin bantu banyak orang di desa-desa, seperti bapak-bapak TNI itu.”

Baginya, sosok berseragam loreng adalah pahlawan yang menghadirkan harapan di tengah duka. Ia ingin suatu saat nanti, dialah yang berdiri di sana untuk menolong orang lain yang kesusahan.

Membawa Kalam Ilahi ke Tenda Pengungsian

Kehilangan sekolah dan masjid tercinta tempatnya belajar mengaji tak membuat Nasya patah arang. Biasanya, ia dan kawan-kawannya rutin mengaji di masjid dekat rumahnya di Garoga. Kini, masjid itu tinggal kenangan.

Selama di pengungsian, Nasya terpaksa mengaji di masjid desa tetangga atau di dalam tenda-tenda darurat yang gerah. Al-Qur’an yang ia gunakan pun sudah lusuh, sebagian halamannya mungkin sempat terkena percikan air atau debu sisa bencana. Namun, keterbatasan itu tak menghalanginya menghafal surat-surat pendek.

Maka, ketika Tim Wakaf DT menyodorkan sebuah mushaf Al-Qur’an baru yang masih bersih dan harum, wajah Nasya langsung cerah. Ia memeluk erat kitab suci tersebut dengan mata yang berbinar-binar.

“Senang sekali punya Al-Qur’an baru. Nanti mau dipakai buat setoran hafalan lagi sama teman-teman,” katanya sambil tersenyum lebar.

Menjaga Hafalan, Merajut Masa Depan

Meski SDN Garoga tempatnya menuntut ilmu kini tak lagi bisa digunakan, semangat belajar Nasya tetap menyala. Di dalam tenda pengungsian, ia tetap merapal ayat-ayat pendek yang telah ia hafal, menjaga cahaya iman tetap hidup di tengah kegelapan musibah.

Distribusi Al-Qur’an yang dilakukan Tim Wakaf DT bukan sekadar memberi buku, tapi memberi “amunisi” bagi jiwa-jiwa kecil seperti Nasya untuk terus bermimpi. Di antara sisa-sisa kayu besar yang menghancurkan desanya, Nasya sedang membangun pondasi mimpinya: menjadi prajurit penjaga bangsa yang hatinya terpaut pada Al-Qur’an. (WIN)

Redaktur: Wahid Ikhwan


WAKAFDT.OR.ID

Asa Nasya di Garoga, Mimpi Baju Loreng dari Desa yang “Hilang” Read More »

Kerinduan Ibu Mela Terbayar Saat Tim Wakaf DT Datang Membawa Mushaf

WAKAFDT.OR.ID | TAPANULI – Di balik wajah lelah para penyintas banjir bandang di Huta Godang, Tapanuli, ada satu sosok yang sorot matanya seketika berbinar saat melihat rombongan Tim Wakaf Daarut Tauhiid (DT) dan relawan tiba. Bukan bantuan logistik biasa yang pertama kali ia cari, melainkan sebuah kitab suci.

Ia adalah Mela Erlina Napitupulu. Di tengah hiruk-pikuk distribusi bantuan yang berlangsung pada 23-25 Januari 2026, Mela menjadi salah satu warga yang paling antusias menyambut kedatangan tim. Namun, ada satu pertanyaan yang terus ia lontarkan dengan nada penuh harap kepada setiap relawan yang lewat.

“Ada Al-Qur’an, Dek?”

Pertanyaan sederhana itu menyimpan kerinduan yang mendalam. Bagi Mela, kehilangan harta benda akibat terjangan banjir bandang adalah ujian berat, namun kehilangan Al-Qur’an miliknya adalah kesedihan yang sulit dilukiskan.

Sahabat yang Hanyut Terbawa Arus

Sambil duduk di sudut posko pengungsian, Mela bercerita dengan suara bergetar. Al-Qur’an yang biasa ia peluk setiap hari kini telah sirna, hanyut bersama derasnya arus banjir yang menyapu rumah dan seisinya.

Bagi Mela, membaca Al-Qur’an bukanlah sekadar rutinitas, melainkan kebutuhan jiwa. Sebelum musibah itu datang, tak sehari pun ia lewatkan tanpa melantunkan ayat-ayat suci.

“Sudah lama sekali rasanya rindu ingin baca Al-Qur’an lagi. Biasanya saya baca setiap hari, itu yang bikin tenang. Tapi kemarin semuanya hanyut, tidak ada yang tersisa,” ungkapnya pilu.

Dahaga Spiritual di Masa Sulit

Kehadiran Tim Wakaf DT di Huta Godang selama tiga hari tersebut memang bertujuan untuk memulihkan kondisi psikis dan spiritual warga. Selain memberikan bantuan fisik, distribusi Al-Qur’an wakaf menjadi prioritas untuk membasuh dahaga spiritual para penyintas seperti Ibu Mela.

Saat sebuah mushaf baru diletakkan di tangannya, jemari Mela gemetar. Ia mengusap sampulnya dengan takzim, seolah baru saja menemukan kembali sahabat lama yang hilang. Kerinduan yang berhari-hari ia pendam di pengungsian akhirnya terbayar tuntas.

Bagi relawan yang bertugas, antusiasme Ibu Mela adalah pengingat kuat bahwa di tengah bencana sehebat apa pun, harapan dan iman adalah dua hal yang tidak boleh ikut hanyut.

Kini, di sela riuh rendah suasana pengungsian Huta Godang, suara Mela Erlina Napitupulu akan kembali terdengar, melantunkan kalam-kalam langit yang memberinya kekuatan untuk bangkit kembali. (WIN)

Redaktur: Wahid Ikhwan


WAKAFDT.OR.ID

Kerinduan Ibu Mela Terbayar Saat Tim Wakaf DT Datang Membawa Mushaf Read More »