Wakaf Daarut Tauhiid

Juli 2025

Bahagia dengan Takdir di Masjid Wakaf

Udara pagi yang sejuk menyambut langkah-langkah para muslimah yang datang berduyun-duyun menuju Masjid Daarut Tauhiid, Sabtu (26/7/2025). Sejak pukul 09.00 WIB, lantai utama masjid wakaf ini kembali menjadi saksi hadirnya majelis ilmu bertajuk Kajian Muslimah Spesial Pemuda Tauhiid.

Mengusung tema “Bahagia dengan Takdir: Belajar Ridho dan Ikhlas”, kajian ini menghadirkan dua narasumber: Ustadzah Hana Eliana, CH., CHt. dan Ustadzah Lia Hamidah. Keduanya membimbing para peserta untuk menyelami makna kedamaian dalam menerima garis kehidupan dari Allah. Kajian ini menjadi ruang reflektif yang menguatkan hati untuk lebih tenang menjalani takdir dengan penuh keikhlasan.

“Alhamdulillah, hari ini terlaksana dengan baik. Insya Allah, setiap Sabtu pekan pertama hingga keempat, kami akan terus mengadakan kajian rutin seperti ini,” ujar Pepep Hambali, panitia kegiatan, dengan penuh syukur.

Masjid Daarut Tauhiid yang berdiri di atas tanah wakaf memang tak pernah sepi dari denyut majelis ilmu. Dari subuh hingga malam hari, lantunan ayat, zikir, dan nasihat terus mengalir, menandai keberkahan dari wakaf yang dikelola dengan amanah. Bukan hanya tempat ibadah, masjid ini telah menjadi pusat penguatan ruhiyah dan intelektual bagi masyarakat, khususnya kalangan muslimah dan generasi muda.

Melalui kajian-kajian seperti ini, wakaf tidak hanya bermakna harta yang ditinggalkan, tetapi menjadi amal jariyah yang terus mengalir dalam bentuk ilmu, ketenangan, dan perubahan hati. Di sinilah bukti nyata bahwa masjid wakaf dapat menjadi mercusuar peradaban—menghidupkan ilmu, memperkuat iman, dan memakmurkan hati. (wakafdt)

Bahagia dengan Takdir di Masjid Wakaf Read More »

Berkah Donor Darah di Daarul Hajj

Suasana hangat terasa di Aula Daarul Hajj, Pondok Pesantren Daarut Tauhiid, pada Jumat siang (25/7/2025). Sejak pukul 12.30 hingga 15.30 WIB, aula yang berdiri kokoh di atas tanah wakaf ini kembali menjadi saksi atas wujud nyata kepedulian sosial masyarakat melalui kegiatan donor darah. Diselenggarakan secara rutin setiap beberapa bulan sekali, kegiatan ini merupakan hasil kolaborasi antara LPM (Lembaga Pemberdayaan Masyarakat) Daarut Tauhiid dan PMI Kota Bandung.

Sebagai salah satu bentuk amal jariyah, aula Daarul Hajj tidak hanya difungsikan untuk acara seremonial, tetapi juga menjadi tempat berbagai aktivitas sosial dan kemanusiaan. Dalam kegiatan kali ini, ruang wakaf itu menjelma menjadi pusat keberkahan, mempertemukan para pendonor dari berbagai kalangan—baik santri, warga sekitar pesantren, hingga masyarakat umum—yang datang dengan satu tujuan: berbagi kehidupan lewat tetesan darah.

Komitmen untuk terus menumbuhkan semangat kepedulian ini juga disampaikan oleh Andri Adi, salah satu panitia penyelenggara. “Kegiatan ini terus dilakukan secara rutin guna meningkatkan kesadaran masyarakat tentang pentingnya donor darah,” ujarnya.

Dukungan masyarakat sekitar pun menjadi bagian penting dari kesuksesan kegiatan ini. Antusiasme terlihat dari antrean tertib para pendonor yang sebelumnya telah dipastikan dalam kondisi tubuh sehat. Persyaratan dasar seperti tekanan darah normal, berat badan mencukupi, dan tidak dalam keadaan sakit menjadi hal yang tak boleh diabaikan demi keamanan bersama.

Kegiatan ini bukan hanya tentang donor darah, tetapi juga tentang bagaimana wakaf bisa memfasilitasi amal sosial dalam bentuk yang sangat nyata. Gedung Daarul Hajj, yang dibangun dari dana wakaf umat, terus menjadi ladang pahala yang tak terputus, sebagaimana hakikat dari wakaf itu sendiri: mengalirkan keberkahan tanpa henti.

Dari darah yang mengalir, harapan pun tumbuh. Dan dari ruang wakaf yang dimakmurkan, keberkahan bagi umat pun terus ditebar. (wakafdt)

Berkah Donor Darah di Daarul Hajj Read More »

Keberkahan Tanah Wakaf Mengiringi Penutupan Mataba 2025

Sabtu pagi (19/7/2025), semilir angin menyapa lembut kawasan Sport Center Eco Pesantren 1 Daarut Tauhiid (DT). Di bawah naungan langit Parongpong, ratusan wajah muda duduk bersila dengan penuh harap dan haru. Mereka adalah santri baru SMA Daarut Tauhiid yang baru saja menuntaskan rangkaian Masa Ta’aruf Santri Baru (Mataba) 2025—pekan pengenalan yang tak hanya memperkenalkan lingkungan sekolah, tetapi juga membentuk fondasi ruhani dan karakter mereka.

Tak sekadar seremoni penutupan, momen ini adalah saksi lahirnya tekad baru. Di tengah suasana reflektif, kenangan tentang hari-hari penuh canda, air mata, kerja sama, dan penguatan visi masa depan bergulir di benak para santri. Dalam satu pekan, mereka telah saling menatap, menggenggam, dan berjalan bersama untuk meniti awal perjalanan panjang menuntut ilmu dan mendekat kepada Allah SWT.

Acara puncak Mataba kali ini dihiasi tausiyah dari pendiri Daarut Tauhiid, KH. Abdullah Gymnastiar (Aa Gym) yang disampaikan melalui tayangan video. Dengan suara lembut dan penuh kasih, Aa Gym menyampaikan pesan yang menggetarkan kalbu.

“Selamat datang anak-anakku sekalian, para santri baru Daarut Tauhiid. Ini adalah takdir Allah insya Allah, Allah melihat semuanya. Dan Allahlah yang menyukseskan adik-adik sekalian,” tutur Aa Gym.

“Sukses itu masuk surga. Dan kita sekarang belajar dan berlatih di Daarut Tauhiid ini untuk mencapai kesuksesan dunia dan akhirat.”

Kata-kata itu bukan sekadar motivasi. Ia adalah embun yang menyejukkan semangat, menguatkan langkah, dan menegaskan arah. Di sinilah, di atas tanah wakaf yang diberkahi, para santri menapakkan kaki untuk memulai lembaran baru.

Sport Center yang menjadi tempat berlangsungnya penutupan Mataba ini bukan bangunan biasa. Ia berdiri di atas tanah wakaf yang telah diikhlaskan untuk pendidikan, pembinaan akhlak, dan pengembangan potensi generasi muda. Seperti juga seluruh bangunan sekolah, asrama, masjid, hingga taman-taman di kawasan Eco Pesantren 1 dan lingkungan Gegerkalong, semuanya berdiri sebagai bukti nyata betapa wakaf bisa menjadi sumber keberkahan bagi umat.

Tanah-tanah yang dahulu mungkin tak dikenal kini menjadi pusat pendidikan yang memancarkan nilai-nilai tauhid. Gedung-gedungnya bukan sekadar fasilitas, tetapi ruang-ruang untuk menumbuhkan adab, ilmu, dan kepedulian sosial. Setiap jengkal tanahnya menyimpan doa, setiap temboknya menjadi saksi perjuangan para pendidik dan santri dalam menapaki jalan menuju Allah.

Mataba 2025 telah usai. Namun, bagi para santri, inilah langkah pertama menuju kesuksesan sejati. Di bawah naungan keberkahan tanah wakaf, mereka tak hanya diajarkan tentang angka dan huruf, tapi juga tentang makna hidup, tanggung jawab sebagai hamba, dan pentingnya menjadi manusia yang bermanfaat.

Dari kawasan wakaf yang hidup ini, Daarut Tauhiid terus menumbuhkan generasi yang siap membawa cahaya kebaikan ke penjuru negeri. Sebab di setiap awal yang baik, selalu ada doa, ada harap, dan ada keberkahan yang tak terlihat, tapi terasa—seperti pagi itu di Sport Center Eco Pesantren 1. (wakafdt)

Keberkahan Tanah Wakaf Mengiringi Penutupan Mataba 2025 Read More »

Di Atas Tanah Wakaf, Langkah Awal Menuju Cahaya Ilmu

Sabtu (12/7) menjadi hari penuh makna di kawasan Daarut Tauhiid, khususnya di lingkungan SMA Daarut Tauhiid Boarding School (DTBS) Putri. Tak hanya menjadi ajang pertemuan antara pihak sekolah dan orang tua santri baru, momen serah terima ini juga menjadi saksi bisu dari cita-cita besar yang tumbuh di atas tanah penuh berkah. Tanah wakaf yang kini memakmurkan ribuan langkah dalam menuntut ilmu.

Sejak pagi, kehangatan terasa menyelimuti lingkungan sekolah. Proses check-in, labeling barang, hingga konsultasi langsung antara orang tua dan wali asuh berlangsung tertib dan bersahabat. Di balik aktivitas-aktivitas tersebut, tersimpan harapan besar dari setiap keluarga: agar putri-putri mereka tumbuh dalam lingkungan pendidikan yang tak hanya mengajarkan ilmu duniawi, tapi juga menanamkan nilai tauhid dan akhlak mulia.

Gedung-gedung kokoh tempat para santri akan belajar dan tinggal, berdiri tegak di atas lahan wakaf yang diberikan oleh para dermawan dengan niat tulus lillahi ta’ala. Tanah ini bukan sekadar aset, melainkan amanah umat yang terus melahirkan generasi pembelajar. Wakaf yang diam-diam bekerja dalam senyap, namun manfaatnya mengalir tak putus. Menghidupkan ruang-ruang ilmu, menumbuhkan semangat belajar, dan mempertemukan harapan-harapan keluarga dengan kenyataan yang mendidik.

Dalam kegiatan inti, pihak sekolah memperkenalkan program pendidikan, struktur manajemen, serta sistem pembinaan karakter yang menjadi kekhasan SMA DTBS Putri. Puncak acara serah terima santri menjadi momen yang menyentuh hati. Suara tangis dan pelukan hangat menggambarkan betapa besar keikhlasan orang tua dalam menyerahkan amanah kepada lembaga yang mereka percaya. Di sinilah cinta dan keyakinan bertemu, berpadu dalam doa yang tak putus.

“Semoga ananda senantiasa dalam lindungan Allah SWT serta diberikan kemudahan dan kelancaran dalam menuntut ilmu di SMA DTBS Putri,” ujar Muhammad Lutfi Iskandar, Humas SMA DTBS Putri.

Momen ini menegaskan bahwa pendidikan bukanlah perjalanan satu arah. Ia adalah sinergi antara keluarga, sekolah, dan tentu saja, keberkahan dari Allah melalui amal jariyah seperti wakaf. Di atas tanah ini, setiap langkah santri menuju kelas adalah bagian dari amal yang terus mengalir. Setiap bacaan, hafalan, dan perbuatan baik mereka menjadi lantunan pahala bagi para pewakaf.

Dengan pijakan kuat pada tanah yang diwakafkan, dan arah yang dituntun oleh nilai-nilai Islam, para santri kini siap melangkah. Mereka tidak hanya membawa buku dan harapan, tetapi juga membawa amanah besar: menjadi generasi pembawa kebaikan, lahir dari keberkahan wakaf yang hidup dalam diam namun bekerja dalam gemilang. (wakafdt)

Di Atas Tanah Wakaf, Langkah Awal Menuju Cahaya Ilmu Read More »

Wakaf Abu Thalhah: Teladan Memberi yang Terbaik

Ketika ayat “Kamu tidak akan memperoleh kebajikan (yang sempurna) sebelum kamu menginfakkan sebagian harta yang kamu cintai…” (QS Ali Imran [3]: 92) diturunkan, seorang sahabat mulia, Abu Thalhah Al-Anshari, segera mengambil keputusan besar. Ia datang kepada Rasulullah saw dan berkata bahwa ia ingin mewakafkan harta yang paling ia cintai: kebun Bairuha’.

Kebun itu terletak tepat di depan Masjid Nabawi. Bukan sembarang kebun—tempat itu memiliki mata air yang jernih, ditumbuhi pepohonan yang rindang, dan sering menjadi tempat Rasulullah beristirahat. Bisa dikatakan, itu adalah aset terbaik yang dimiliki Abu Thalhah.

Rasulullah memuji niatnya dan menganjurkan agar kebun itu dibagikan untuk kerabat-kerabatnya, agar manfaatnya lebih luas dan tepat sasaran. Dari sinilah kita belajar bahwa wakaf dalam Islam bukan sekadar memberi sisa, melainkan memberi yang terbaik, yang paling kita cintai, untuk kemaslahatan umat.

Wakaf bukan hanya amal jariyah; ia adalah bagian dari strategi sosial Islam—membangun keberlangsungan, pendidikan, dan pelayanan umat secara berkelanjutan. Dan yang tak kalah penting: wakaf memerlukan niat ikhlas dan pengelolaan yang amanah.

Daarut Tauhiid: Menghidupkan Semangat Wakaf dengan Profesionalisme

Spirit wakaf Abu Thalhah itulah yang menjadi inspirasi dalam gerakan wakaf di Daarut Tauhiid. Bagi Daarut Tauhiid, wakaf bukan sekadar bentuk ibadah individual, melainkan fondasi bagi lahirnya peradaban. Melalui semangat “berkah, manfaat, dan profesional”, pengelolaan wakaf dilakukan dengan penuh tanggung jawab dan transparansi.

Salah satu contohnya adalah pembangunan gedung dan fasilitas pendidikan untuk Santri Siap Guna (SSG)—program kaderisasi pelopor kebaikan di Daarut Tauhiid. Gedung yang selama dua dekade menjadi tempat mereka belajar kini diperbarui, dibangun kembali melalui gerakan wakaf kolektif umat. Ini bukan hanya soal bangunan fisik, melainkan upaya mencetak generasi berakhlak dan bertauhid kuat—mereka yang akan menjadi pemimpin yang amanah dan berkontribusi untuk negeri.

Pengelolaan wakaf di Daarut Tauhiid dilakukan secara profesional, dengan manajemen modern, laporan keuangan yang akuntabel, serta optimalisasi aset produktif. Dana yang terhimpun dari wakaf tidak dibiarkan mengendap, melainkan diolah agar memberikan manfaat jangka panjang, sesuai dengan prinsip wakaf produktif.

Dengan pengelolaan seperti ini, wakaf menjadi lebih dari sekadar amal. Ia menjadi alat transformasi sosial, membangun lembaga pendidikan, memberdayakan ekonomi umat, hingga mencetak pemimpin masa depan.

Dari Abu Thalhah di Madinah hingga Daarut Tauhiid di Bandung, satu benang merah yang menghubungkan adalah: wakaf sebagai jalan membangun peradaban. Mari kita hidupkan semangat Muharram ini dengan wakaf yang bukan hanya ikhlas, tapi juga berdampak luas. Sebab harta yang diwakafkan, sejatinya tak pernah pergi—ia hanya berpindah tempat, dari dunia menuju keabadian. (wakafdt)

Wakaf Abu Thalhah: Teladan Memberi yang Terbaik Read More »

Bimaristan: Rumah Sakit dari Wakaf, untuk Semua

Pada abad ke-12 yang penuh gejolak, ketika banyak wilayah dunia masih bergantung pada layanan kesehatan yang mahal dan terbatas, Islam telah lebih dahulu memperkenalkan satu sistem luar biasa: rumah sakit umum berbasis wakaf. Di Damaskus, Suriah, seorang pemimpin visioner bernama Nuruddin Zanki membangun sebuah Bimaristan—rumah sakit yang bukan hanya tempat pengobatan, tetapi juga simbol kasih sayang dan keadilan sosial.

Bimaristan ini berdiri bukan dari kekayaan pribadi, tetapi dari dana wakaf. Artinya, tempat ini bukan milik individu atau kerajaan, melainkan amanah untuk kepentingan umat. Siapa pun yang datang—apakah ia miskin, musafir, yatim, atau orang asing—akan dirawat tanpa ditanya status atau diminta bayaran. Tak ada meja administrasi yang bertanya “siapa yang akan membayar.” Yang ada hanya tempat tidur untuk beristirahat, obat untuk menyembuhkan, dan harapan untuk hidup yang lebih baik.

Sistem ini tidak sekadar memberikan layanan medis. Ia juga menyembuhkan luka sosial. Di zaman ketika ketimpangan begitu nyata, Bimaristan dari wakaf hadir sebagai tempat penghapus batas-batas. Dan lebih dari itu, bangunan ini bertahan hingga ratusan tahun kemudian. Pahalanya? Terus mengalir kepada sang pewakaf dan semua yang ikut serta dalam amal ini—laksana sungai jernih yang tak pernah kering.

Tak Hanya Membantu, Tapi Menyelamatkan

Wakaf sering kita kenal sebagai dana untuk membangun masjid atau sekolah. Tapi sejarah mencatat bahwa wakaf juga bisa menjadi sumber penyembuh luka dan penyelamat nyawa. Apa yang dilakukan Nuruddin Zanki di Damaskus menjadi bukti nyata bahwa wakaf bukan hanya untuk memperindah ibadah, tapi juga memperkuat martabat manusia.

Bayangkan sebuah sistem kesehatan yang tidak bergantung pada kemampuan membayar. Tidak ada diskriminasi. Tidak ada tekanan administrasi. Hanya ada keikhlasan untuk merawat dan menyembuhkan. Dan semua itu terjadi karena satu prinsip: bahwa harta bisa abadi jika diwakafkan untuk kemaslahatan.

Konsep ini begitu relevan hingga hari ini. Di zaman modern ketika akses kesehatan masih menjadi persoalan bagi banyak orang, semangat wakaf seperti ini perlu dihidupkan kembali. Wakaf bisa menjadi solusi sosial yang konkret. Bukan hanya untuk membangun bangunan, tapi juga membangun harapan dan menyelamatkan hidup.

Nuruddin Zanki mungkin telah wafat berabad lalu. Tapi kebaikan yang ia wariskan masih hidup—dan menjadi inspirasi bahwa kita pun bisa melakukan hal serupa. Tidak harus membangun rumah sakit besar. Tapi kita bisa mulai dengan niat yang sama: menjadikan harta sebagai jalan keberkahan dan keselamatan bagi orang lain.

Karena wakaf sejati adalah ketika kita memberi bukan untuk dilihat dunia, tapi untuk menghidupkan manusia. Dan di situlah pahala mengalir tanpa henti. (wakafdt)

Bimaristan: Rumah Sakit dari Wakaf, untuk Semua Read More »

Struktur Selesai, RKB PDF Siap Masuk Tahap Arsitektur

Terletak di kawasan Eco Pesantren 2 Daarut Tauhiid, sebuah bangunan tengah tumbuh dengan penuh harap. Bukan hanya tumpukan bata dan beton, namun simbol ikhtiar besar melahirkan generasi Qurani. Ruang Kelas dan Asrama (RKB) PDF Daarut Tauhiid kini sedang dalam proses pembangunan, dan ditargetkan dapat difungsikan pada bulan September 2025 mendatang.

Menurut Sopian Darya, selaku Project Manager pembangunan RKB, progres pembangunan hingga akhir Juli 2025 ini menunjukkan kemajuan signifikan.

“Alhamdulillah, pekerjaan struktur bangunan saat ini sedang berjalan. Pekerjaan fondasi, kolom beton, dan dinding penahan tanah sudah 100% selesai. Untuk balok saat ini sudah mencapai 40% dan plat lantai sedang kami kerjakan. Jika sesuai rencana, akhir Agustus kita mulai masuk tahap arsitektur,” ujar Sopian.

RKB ini dirancang sebagai bangunan satu lantai yang terdiri dari enam ruang kelas, satu ruang tangga, dan fasilitas toilet. Namun untuk tahap awal, akan dibangun tiga ruang kelas terlebih dahulu, lengkap dengan fasilitas dasar.

Satu hal yang menjadi pembeda dan nilai tambah dari proyek ini adalah rencana pemanfaatan rooftop sebagai ruang terbuka pembinaan—ruang tanpa sekat yang akan menjadi tempat belajar, berdiskusi, dan memperkuat nilai-nilai keislaman di bawah langit Bandung yang sejuk.

Namun, lebih dari sekadar struktur fisik, RKB ini memiliki makna yang jauh lebih dalam. Ia menjadi bagian penting dari visi Daarut Tauhiid dalam membentuk generasi yang tidak hanya unggul secara akademik, tapi juga kokoh secara spiritual.

Para santri yang belajar di ruang-ruang ini kelak diharapkan menjadi penghafal Al-Quran, calon ulama, dan pejuang dakwah yang membawa nilai-nilai Islam ke tengah masyarakat.

Daarut Tauhiid pun membuka peluang bagi siapa saja yang ingin ikut serta dalam amal jariyah ini melalui program wakaf pembangunan. Dukungan dari para muwakif menjadi energi yang menghidupkan setiap sudut pembangunan—karena sejatinya, bangunan ini adalah investasi untuk dunia dan akhirat. (wakafdt)

Struktur Selesai, RKB PDF Siap Masuk Tahap Arsitektur Read More »

MATABA 2025: Jejak Berkah di Tanah Wakaf Daarut Tauhiid Batam

Berada di atas tanah yang penuh keberkahan, SMP dan SMA Daarut Tauhiid Batam kembali mengukir sejarah dengan menyambut santri baru melalui kegiatan MATABA (Masa Taaruf Santri Baru), yang resmi dibuka pada Senin (14/7). Kegiatan ini menjadi titik awal perjalanan para santri dalam menempuh pendidikan berlandaskan nilai-nilai tauhid, di lingkungan sekolah yang berdiri kokoh di atas lahan wakaf.

Bertabur semangat dan antusiasme yang terasa sejak pagi hari, para santri baru mengikuti pembukaan MATABA dengan khidmat. Suasana hangat dan bersahaja menjadi ciri khas dari kegiatan taaruf ini—lebih dari sekadar pengenalan lingkungan, MATABA menjadi wadah awal untuk menanamkan karakter, semangat belajar, serta cinta kepada ilmu dan Allah SWT.

“Alhamdulillah, kami menyambut santri baru dengan penuh rasa syukur. Semoga kegiatan ini menjadi awal yang penuh berkah dan membawa manfaat bagi kita semua,” ungkap Siti Robiah Yuniati, Humas SMP Daarut Tauhiid Batam. Ia juga berharap, setiap langkah dalam MATABA menjadi bekal berharga bagi para santri, baik untuk kehidupan dunia maupun akhirat.

Program MATABA berlangsung hingga Sabtu (19/7) dengan berbagai materi penguatan akhlak, pengenalan nilai-nilai pesantren, tata tertib, serta kegiatan pembangun kedekatan antarsantri. Di balik rangkaian kegiatan tersebut, ada fondasi yang tidak kalah penting. Yakni keberadaan sekolah ini di atas tanah wakaf, yang menjadi bukti nyata betapa pendidikan dapat tumbuh dan berkembang di atas niat suci untuk memberi manfaat jangka panjang.

Tanah wakaf bukan sekadar lahan fisik, melainkan investasi akhirat yang terus mengalirkan pahala. Di atas tanah itulah kini tumbuh generasi penerus bangsa yang diasah dengan tauhid, disiplin, dan semangat kemandirian. Sekolah bukan hanya tempat belajar, tapi juga ladang amal bagi semua pihak yang terlibat dalam pendiriannya.

Dengan dimulainya MATABA 2025 ini, Daarut Tauhiid Batam kembali menegaskan jati dirinya sebagai lembaga pendidikan yang membangun manusia seutuhnya—melalui ilmu yang ditanam di hati, akhlak yang diasah sejak dini, dan keteladanan yang tumbuh dari berkah tanah wakaf yang menjadi pijakannya. (wakafdt)

MATABA 2025: Jejak Berkah di Tanah Wakaf Daarut Tauhiid Batam Read More »

Cahaya dari Bandung: Wakaf Al-Quran Daarut Tauhiid Tembus Pelosok

Suasana penuh keberkahan menyelimuti salah satu ruang pertemuan di Hotel Grandia Cihampelas, Bandung, pada Senin (21/7/2025). Kegiatan yang semula dirancang sebagai rangkaian kajian bersama Astri Ivo, bertransformasi menjadi momentum wakaf yang bermakna: penyerahan 240 mushaf Al-Quran lengkap dengan sabiq (panduan baca) dan pengajarnya untuk disalurkan ke berbagai pelosok negeri.

Inisiatif ini merupakan kolaborasi antara Daarut Tauhiid (DT) Peduli dan Wakaf Daarut Tauhiid, yang sebelumnya telah menjalin nota kesepahaman (MoU) dengan Astri Ivo untuk menyinergikan kegiatan pengajian dengan semangat wakaf produktif.

“Alhamdulillah, dalam dua pekan sebelum hari H, terkumpul 200 mushaf dari para muwakif. Ini adalah bagian dari program berbagi mushaf sabiq plus pengajar, yang kita tujukan untuk madrasah, masjid, sekolah, dan lembaga lainnya di pelosok yang membutuhkan,” ujar Indra Firdaus, Manajer Fundraising Wakaf Daarut Tauhiid.

Program ini tak hanya menyebarkan mushaf, tetapi juga menyiapkan pengajar yang akan mendampingi masyarakat dalam memahami dan mengamalkan isi Al-Quran. Dengan harga per paket sebesar Rp150.000, para muwakif telah membantu membuka jalan bagi generasi yang haus akan bimbingan spiritual.

Dalam acara serah terima tersebut, hadir pula jajaran pimpinan Wakaf Daarut Tauhiid: Direktur Utama Wakaf Doddy, Indra Firdaus, dan Manajer Wakaf Produktif Riyadi Suryana. Penyerahan simbolis dilakukan kepada Ketua IKANO, Ranti, sebagai mitra distribusi.

“Sebagai tambahan berkah, kami juga menerima dukungan 40 mushaf dari Mai, Mandiri Amal Insani Bandung. Jadi total 240 mushaf siap disebar ke titik-titik yang membutuhkan,” tambah Indra.

Semangat ini menjadi bukti bahwa wakaf tidak harus menunggu besar dan megah. Dari selembar mushaf, lahir harapan yang menyinari jalan panjang umat dalam menapaki petunjuk Ilahi. (wakafdt)

Cahaya dari Bandung: Wakaf Al-Quran Daarut Tauhiid Tembus Pelosok Read More »

Suami Istri Lulusan SSG, Genteng Bocor pun Jadi Ladang Kebaikan

Suasana Masjid Daarut Tauhiid berubah hangat sekaligus meriah saat kajian sore bersama KH. Abdullah Gymnastiar (Aa Gym) menyentuh topik yang begitu akrab di telinga jemaah: Santri Siap Guna (SSG).

“SSG itu apa, coba?” tanya Aa Gym sambil tersenyum ke arah jemaah.

Sontak, suara lantang dari sisi akhwat menjawab, “Santri Siap Guna!”

Disambung celetukan khas Aa Gym, “Ada juga yang bilang santri serbaguna… itu mah gedungnya!”

Gelak tawa pun pecah. Namun dari momen ringan itu, muncul satu suara yang membuat suasana jadi penuh makna: Yanti, salah seorang jemaah yang menyimpan kisah inspiratif.

“Saya angkatan 45, Aa,” ujarnya. “Alhamdulillah, saya dan suami ikut SSG barengan. Kami sama-sama ingin memperbaiki diri, sama-sama ingin mengenal Allah, dan sama-sama ingin disiplin.”

Aa Gym tampak kagum. “Masya Allah, seangkatan dengan suami? Luar biasa. Terus, latihan bareng itu gimana kesannya?”

“Saling mengingatkan, Aa. Misalnya waktu makan, kami ingatkan: ‘Mama jangan dibunyiin,’ hehe. Nilai-nilai SSG kami terapkan juga ke anak-anak. Alhamdulillah, anak kami juga ikut SSG Junior.”

Jawaban Yanti membuat seluruh jemaah tersenyum. Lalu Aa Gym kembali bertanya, “Jadi suami istri sama-sama SSG itu lebih kompak ya?”

“Insya Allah, lebih siap. Genteng bocor? Bu, siap. Genteng, siap Pak!” katanya sambil tersenyum lebar. “Enak ya, kalau istrinya SSG, lebih terlatih. Ada preman? Bu, lawan! Siap!”

Cerita Yanti bukan sekadar humor keluarga. Ia menggambarkan bagaimana latihan kedisiplinan, spiritualitas, dan tanggung jawab di SSG benar-benar terbawa ke kehidupan nyata. Bukan hanya pada urusan fisik, tapi juga dalam komunikasi rumah tangga, mendidik anak, dan bahkan menyikapi hal kecil seperti suara saat makan.

Semangat itulah yang kini menjadi fondasi dibangunnya gedung baru SSG, yang tengah dalam tahap pembangunan di lingkungan Daarut Tauhiid. Gedung yang berdiri dengan dana wakaf umat ini diharapkan rampung pada Desember 2025, dan menjadi pusat pembinaan kader-kader SSG generasi berikutnya—baik pemuda, orang tua, bahkan keluarga.

“Kalau gedungnya kuat, sistemnya baik, dan niatnya lurus karena Allah, insya Allah yang lahir bukan hanya santri siap kerja, tapi santri siap taat,” tutur Aa Gym dalam kajian tersebut.

Pembangunan Gedung SSG ini bukan sekadar proyek fisik. Ia adalah ikhtiar membangun manusia—mereka yang siap menjalani hidup dengan bekal iman, ilmu, dan kedisiplinan. Seperti Yanti dan keluarganya, SSG bukan hanya program pelatihan, tapi jalan untuk memperbaiki diri dan membangun rumah tangga yang kokoh dalam nilai-nilai Islam.

“Alhamdulillah, banyak yang ikut berkontribusi lewat wakaf. Ini amal jariyah. Siapapun yang membantu pembangunan Gedung SSG, insya Allah turut dalam pahala setiap kebaikan yang lahir dari para lulusannya,” ujar panitia pembangunan.

Dan seperti kata Yanti: “Kalau istri SSG lebih siap, rumah pun jadi ladang jihad. Bahkan genteng bocor pun jadi latihan!” (wakafdt)

Suami Istri Lulusan SSG, Genteng Bocor pun Jadi Ladang Kebaikan Read More »