Kisah Fir’aun: Ketika Kuasa Tak Lagi Berguna

Bulan Muharram tak hanya menjadi awal tahun Hijriah, tetapi juga menjadi momen penuh makna spiritual bagi kaum muslimin. Di antara banyak peristiwa penting yang terjadi di bulan ini, tenggelamnya Fir’aun di Laut Merah adalah salah satu yang paling menggugah hati. Fir’aun bukan sekadar raja Mesir, ia adalah simbol kesombongan manusia yang melampaui batas. Ia mengaku sebagai tuhan, memaksa rakyat menyembahnya, dan menganiaya kaum yang beriman kepada Allah SWT.

Namun, sehebat apapun kuasanya, kekuasaan Fir’aun runtuh dalam sekejap ketika ia mengejar Nabi Musa as dan Bani Israil ke tengah laut. Saat laut terbelah karena mukjizat Allah untuk menyelamatkan kaum yang tertindas, Fir’aun justru menyusul dengan pasukan penuh kesombongan. Ia mengira masih punya kuasa untuk mengalahkan takdir. Tapi takdir berkata lain. Ketika laut kembali menyatu, ombak menelan tubuh dan ambisinya sekaligus. Dalam detik-detik terakhir hidupnya, Fir’aun akhirnya mengakui keesaan Allah. Tapi penyesalan yang datang terlambat tak menyelamatkan siapa pun.

“Sekarang kamu beriman, padahal sebelumnya kamu durhaka dan termasuk orang-orang yang berbuat kerusakan?” (QS Yunus [10]: 91)

Fir’aun akhirnya tenggelam. Tapi bukan hanya tubuhnya yang ditelan laut, melainkan juga jiwanya yang dihukum dalam siksa abadi. Kematian Fir’aun menjadi pengingat bahwa menunda iman bisa berarti mengabaikan keselamatan abadi.

Waktu untuk Tidak Menunda Iman

Setiap Muharram datang, umat Islam diingatkan pada pertolongan Allah kepada hamba-hamba-Nya yang sabar dan beriman, seperti Nabi Musa as. Peristiwa ini bukan sekadar kisah sejarah. Ia adalah cermin yang memantulkan pertanyaan ke dalam hati kita: Apakah kita akan menunggu seperti Fir’aun—menunda iman hingga terlambat?

Banyak dari kita mungkin tidak secara terang-terangan mengaku sebagai tuhan seperti Fir’aun. Tapi bukankah sering kita merasa cukup kuat tanpa Allah? Menunda tobat, menunda beramal, menunda berserah sepenuh hati—itu semua bisa jadi bentuk kesombongan yang halus. Dan kesombongan, sekecil apa pun, bisa menjadi jerat yang menenggelamkan kita dari dalam.

Muharram mengajarkan bahwa iman bukan untuk ditunda. Iman adalah keputusan yang harus hadir sebelum laut terbelah, bukan sesudah ombak menutup kepala. Iman yang sejati adalah keyakinan yang hadir dalam tenang maupun badai—yang tidak menunggu ajal datang untuk bersaksi.

Wujud Iman Sebelum Terlambat

Di tengah refleksi Muharram ini, kita diajak untuk tidak hanya mengingat nasib Fir’aun, tetapi juga mengambil langkah nyata agar tidak menjadi seperti dirinya. Salah satu bentuk nyata dari iman yang tidak ditunda adalah wakaf. Wakaf bukan sekadar amal, ia adalah pernyataan keimanan yang terus mengalir bahkan setelah kita tiada.

Wakaf adalah pilihan sadar untuk menanam kebaikan sebelum ajal menutup pintu. Saat kita berwakaf, kita sejatinya sedang menyiapkan bekal yang tak akan tenggelam bersama tubuh. Kita menanam pohon pahala yang akan terus berbuah, meski kita telah lama dikubur tanah.

Berwakaf hari ini adalah cara untuk berkata, “Aku beriman,” tanpa harus menunggu badai hidup menghantam. Ia adalah pilihan untuk percaya pada janji Allah sebelum laut terbelah atau bumi menyumpal mulut.

Muharram adalah waktu yang tepat untuk memulai—atau kembali—menjalani hidup dalam iman yang sungguh-sungguh. Iman yang hadir sebelum gelap, sebelum telat.

Jangan tunggu akhir untuk memulai. Jangan tunggu ombak menutup kepala untuk baru beriman. Wakaf hari ini adalah iman yang tak menunggu badai.

Fir’aun telah memberi pelajaran yang terlalu mahal untuk diulang. Maka jadilah Musa dalam hidup ini—yakni hamba yang berserah, bukan tiran yang terlambat sadar. Dan jadikan Muharram sebagai titik tolak untuk meneguhkan iman… sebelum semuanya terlambat. (wakafdt)

Kisah Fir’aun: Ketika Kuasa Tak Lagi Berguna Read More »