Wakaf Daarut Tauhiid

Artikel

Krisis Air, Hasil dari Etika Manusia Terhadap Alam

WAKAFDT.OR.IDKrisis air bersih yang melanda dunia saat ini sejatinya bukan sekadar masalah lingkungan atau ekologi semata. Fenomena tercemarnya air hujan yang semula bersih mencerminkan adanya keretakan dalam hubungan spiritual dan etika manusia terhadap alam.

Air yang turun dari langit adalah wujud kasih sayang Allah SWT, namun tindakan manusia sering kali menjadi bentuk pengkhianatan terhadap rahmat tersebut.

Hujan dalam Perspektif Al-Qur’an: Sumber Kehidupan dan Penyucian

Dalam Al-Qur’an, fenomena hujan dijelaskan sebagai bukti nyata kekuasaan Sang Pencipta. Allah SWT berfirman dalam Surah Al-Furqan ayat 48-49, yang menegaskan bahwa angin dikirim sebagai pembawa kabar gembira, lalu disusul dengan turunnya air yang bersifat thohurun (sangat suci).

Fungsi air hujan dalam ayat tersebut meliputi:

  • Sarana Penyucian: Membersihkan kotoran baik secara fisik (lahir) maupun spiritual (batin).
  • Pembangkit Kehidupan: Menghidupkan tanah-tanah yang tandus dan gersang.
  • Pemenuh Kebutuhan Makhluk: Menjadi sumber minum bagi manusia serta hewan ternak dalam jumlah yang besar.

Menurut Tafsir Ayat-Ayat Ekologi dari Kemenag RI, ayat-ayat ini mengandung pesan teologis agar manusia senantiasa bersyukur dan menjaga keseimbangan ekosistem.

Air bukan sekadar materi biologis, melainkan elemen sakral dalam sistem pemeliharaan alam semesta oleh Allah (Rububiyyah).

Tragedi Pencemaran: Saat Rahmat Berubah Menjadi Bencana

Meskipun air hujan pada asalnya adalah suci—sebagaimana sabda Rasulullah SAW bahwa air itu suci dan tidak dapat dinajisi oleh apa pun—ulah tangan manusialah yang mengubah sifatnya.

Aktivitas industri dan penggunaan bahan bakar fosil menghasilkan emisi sulfur dioksida dan nitrogen oksida yang memicu terjadinya hujan asam.

Selain itu, polusi air diperparah oleh:

  • Limbah Kimia: Pembuangan limbah industri dan rumah tangga yang beracun ke aliran sungai.
  • Kerusakan Pertanian: Penggunaan pestisida dan pupuk kimia berlebih yang hanyut ke perairan.
  • Ancaman Mikroplastik: Sampah plastik yang terurai dan meracuni organisme hidup di sungai dan laut.

Krisis Air sebagai Cermin Kerusakan Spiritual

Ketika sungai yang seharusnya menjadi sumber kehidupan berubah fungsi menjadi saluran pembuangan, hal ini menandakan terjadinya degradasi moral. Krisis air adalah tanda bahwa manusia mulai mengabaikan tugasnya sebagai khalifah (pemimpin/penjaga) di muka bumi.

Menjaga kelestarian air dan kesuciannya bukan lagi sekadar tanggung jawab sosial, melainkan bentuk ibadah kepada Allah SWT. Mengabaikan atau mengeksploitasi air secara berlebihan adalah bentuk pengingkaran terhadap sifat tahur yang Allah titipkan pada setiap tetesan hujan.

Menyelamatkan ekosistem air membutuhkan kerja sama kolektif antara masyarakat, pemerintah, dan pemegang kebijakan.

Sebelum rahmat yang turun dari langit ini benar-benar dicabut, manusia harus kembali menyadari bahwa air adalah simbol kasih sayang Tuhan yang menghidupkan setiap sendi kehidupan di bumi. (WIN)

Redaktur: Wahid Ikhwan


WAKAFDT.OR.ID

Krisis Air, Hasil dari Etika Manusia Terhadap Alam Read More »

Aa Gym: jangan sombong

Aa Gym: Berusahalah Istiqamah Dalam Kebaikan

WAKAFDT.OR.IDSaudaraku yang kucintai karena Allah Ta’la. Saat kita memutuskan untuk melangkah di jalan ketaatan, maka ada satu “paket” yang harus kita ambil, yaitu keberanian untuk Istiqamah. Jangan sampai kita hanya semangat di awal, menggebu-gebu saat baru bertaubat, tapi layu saat ujian datang menyapa.

Ingat, cirinya kekasih Allah itu hanya dua saja. Pertama, ia punya Keyakinan yang bulat kepada Allah. Kedua, ia menjaga Istiqamah. Orang yang istiqamah ini punya kedudukan yang sangat istimewa di sisi-Nya.

Allah SWT berfirman dalam Surah Fushilat ayat 30: “Sesungguhnya orang-orang yang mengatakan: ‘Tuhan kami ialah Allah’ kemudian mereka meneguhkan pendirian mereka (istiqamah), maka malaikat akan turun kepada mereka dengan mengatakan: ‘Janganlah kamu takut dan janganlah merasa sedih; dan gembirakanlah mereka dengan jannah yang telah dijanjikan Allah kepadamu.’”

Maka, siapa pun yang hatinya kokoh hanya menghamba kepada Allah, tanpa menduakan-Nya dengan apa pun—baik itu harta, jabatan, maupun pujian makhluk—maka Allah akan mengangkatnya menjadi kekasih-Nya. Hadiahnya apa? Hadiahnya adalah Ketenangan.

Coba perhatikan, Sahabatku… Orang yang istiqamah itu, mau situasinya sesulit apa pun, mau ekonominya sedang diuji, mau fisiknya sedang sakit, hatinya tetap teduh. Mengapa? Karena ketenangan itu bukan dari luar.

Ketenangan itu milik Allah. Tidak bisa kita beli di toko, tidak bisa kita rampok dari orang lain. Ketenangan adalah karunia yang Allah “titipkan” langsung ke dalam hati hamba yang terpilih.

Allah berfirman dalam Surah al-Fath ayat 4: “Dialah yang telah menurunkan ketenangan ke dalam hati orang-orang mukmin supaya keimanan mereka bertambah…”

Kalau kita berani istiqamah, kita tidak akan lagi diperbudak oleh urusan duniawi. Kenapa harus takut kekurangan? Kenapa harus takut penilaian orang? Bagi hamba yang istiqamah, dunia ini cuma tempat singgah sebentar saja. Tidak ada yang lebih berharga baginya kecuali ridha Allah. Lillaahi Ta’ala.

Hamba yang punya pendirian mantap seperti ini, insyaAllah, tidak akan mudah “goyang” oleh bisikan setan. Ujian yang datang bertubi-tubi tidak membuatnya tumbang, justru membuatnya semakin kokoh.

Seperti pohon yang akarnya menghujam dalam ke bumi, semakin ditiup angin, akarnya semakin kuat mencengkeram. Kalau sudah begini, Allah sendiri yang akan mengirimkan pertolongan, kecukupan, dan kemudahan dari jalan yang tidak disangka-sangka.

Mari kita latih hati kita untuk berani istiqamah. Kita hanya berani karena Allah, dan untuk Allah semata. Mudah-mudahan, kita semua digolongkan menjadi pengikut Rasulullah SAW yang setia dan memiliki keteguhan hati seperti para sahabat beliau. Wallahu a’lam bishowab. (KH. Abdullah Gymnastiar)

Redaktur: Wahid Ikhwan


WAKAFDT.OR.ID

Aa Gym: Berusahalah Istiqamah Dalam Kebaikan Read More »

Bahaya Sifat Bakhil: Ketika Harta Lebih Berharga daripada Kehormatan

WAKAFDT.OR.IDBakhil atau kikir adalah sikap menahan harta pada saat semestinya ia dikeluarkan untuk hal-hal yang diperintahkan oleh agama, seperti zakat, nafkah keluarga, sedekah, maupun wakaf.

Sifat ini sangat dicela dalam Islam. Dalam sebuah riwayat disebutkan bahwa tidak akan masuk surga orang yang bakhil, meskipun ia tampak sebagai ahli ibadah dengan bermacam-macam amalan lainnya.

Allah SWT sangat membenci hamba-Nya yang memiliki sifat kikir. Ibnu Al-Mu’taz pernah memberikan perumpamaan yang mendalam: “Manusia yang bakhil adalah mereka yang paling kikir dengan hartanya, namun paling pemurah terhadap harga dirinya.”

Maksudnya, orang kikir lebih memilih menjaga tumpukan harta dibandingkan menjaga kehormatan dan harga diri di mata Allah maupun manusia.

Padahal, Allah menitipkan harta kepada manusia salah satunya sebagai sarana untuk menjaga kemuliaan diri. Namun, si bakhil justru rela dicap buruk atau dipandang rendah asalkan hartanya tidak berkurang sedikit pun.

Sebagai contoh, dalam sebuah lingkungan masyarakat yang sedang bergotong royong membangun masjid melalui wakaf. Seseorang yang mampu secara finansial namun enggan menyisihkan hartanya karena merasa “sayang”, sesungguhnya ia telah diperbudak oleh rasa pelit. Baginya, uang jauh lebih mahal harganya dibandingkan kemuliaan membantu rumah Allah.

Kedermawanan: Ciri Orang yang Mulia

Ali bin Abi Thalib ra. pernah berkata: “Demi Allah, orang yang mulia (dermawan) adalah orang yang tidak akan meminta haknya secara penuh.”

Maknanya, orang yang mulia dan dermawan tidak egois. Ia enggan mengambil haknya secara serakah karena khawatir ada orang lain yang kekurangan atau tidak mendapatkan bagian.

Jika ia memiliki hak atas lima bagian, ia mungkin hanya mengambil empat bagian saja demi memberikan kelapangan bagi sesama. Begitu pun dalam urusan takaran dan timbangan; ia tidak akan menuntut lebih dari yang semestinya.

Peringatan dalam Al-Qur’an

Sifat mementingkan diri sendiri dan curang dalam urusan materi ini telah diperingatkan oleh Allah SWT dalam Al-Qur’an:

“Celakalah bagi orang-orang yang curang. (Yaitu) orang-orang yang apabila menerima takaran dari orang lain mereka minta dipenuhi, dan apabila mereka menakar atau menimbang untuk orang lain, mereka mengurangi. Tidakkah orang-orang itu yakin bahwa sesungguhnya mereka akan dibangkitkan pada suatu hari yang besar? (Yaitu) hari (ketika) manusia berdiri menghadap Tuhan semesta alam.” (QS. al-Muthaffifîn: 1-6)

Selama kita diberikan kecukupan harta dan kesempatan untuk berbagi, segeralah salurkan untuk kebaikan. Jangan biarkan hati kita terbelenggu oleh rasa pelit yang menghalangi datangnya ridha Allah. Semoga kita dijauhkan dari sifat bakhil yang dapat membinasakan pahala dan kehormatan kita.

Redaktur: Wahid Ikhwan


WAKAFDT.OR.ID

Bahaya Sifat Bakhil: Ketika Harta Lebih Berharga daripada Kehormatan Read More »

Berwakaf Untuk Meningkatkan Fasilitas Pendidikan Indonesia

WAKAFDT.OR.IDPendidikan merupakan salah satu bidang paling penting yang menjadi pondasi dalam membangun sebuah peradaban bangsa untuk masa kini dan masa depan.

Tanpa pendidikan, sebuah bangsa tidak dapat melahirkan manusia-manusia yang beradab. Hal senada yang pernah diungkapkan oleh Nelson Mandela.

Begitu juga dalam Islam yang menekankan pentingnya sebuah pendidikan, sehingga menjadi salah satu bagian dari lima maqasid syariah, yang artinya mengharuskan manusia memelihara akal dan pikirannya.

Untuk memelihara akal dan pikiran membutuhkan pendidikan sebagai instrumen utamanya.

Tentunya pendidikan yang baik harus difasilitasi oleh infrastruktur pendidikan yang memadai juga, dan tentu membutuhkan biaya yang cukup besar, sehingga pendidikan juga semakin mahal jika tidak disubsidi oleh pemerintah.

Oleh karena itu, perlunya peran umat muslim dalam membangun infrastruktur melalui konsep wakaf dalam Islam, yang punya dampak sosial bagi masyarakat umum.

Wakaf ialah memanfaatkan harta benda dalam waktu tertentu yang dititipkan melalui pengelola atau nazhir.

Aset wakaf dapat dimanfaatkan untuk berbagai macam hal, salah satunya beasiswa untuk meningkatkan kualitas pendidikan.

Wakaf menjadi salah satu philanthropy berbasis Islam yang mempunyai keunggulan dan ciri khasnya sendiri.

Wakaf adalah harta yang kepemilikannya dilepaskan dan menjadi milik Allah, yang artinya wakaf tidak boleh diambil kembali baik dari segi apapun.

Dalam sebuah hadits Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam yang diriwayatkan Imam al-Bukhari dan Imam Muslim radhiyallahu ‘anhuma. Secara prinsip, harta wakaf tidak boleh dijualbelikan, tidak boleh dihibahkan, dan juga tidak boleh diwariskan.

Saat ini wakaf hadir dalam bentuk wakaf produktif, sebagai bentuk untuk menghadirkan wakaf agar lebih kontributif terhadap kebutuhan zaman hari ini.

Karena masih banyak dari masyarakat yang beranggapan wakaf hanya terbatas pada pemanfaatan tanah sebagai pemakaman, masjid, dan mushola.

Padahal lebih dari pada itu, pemanfaatan wakaf sangatlah luas dan bisa dipergunakan untuk berbagai bidang yang lebih produktif, terutama dalam bidang pendidikan.

Misalkan Al-Azhar University di Mesir menjadi universitas yang fasilitasnya bersumber dari wakaf.

Hal tersebut juga diterapkan di beberapa universitas barat, seperti Harvard University, Stanford Univeristy, Yale University, dan universitas ternama dunia lainnya.

Memiliki berbagai fasilitas pendidikan yang berasal dari skema pendanaan sosial mirip seperti wakaf dinamai dengan endowment fund, foundation, dan lain sebagainya.

Badan Wakaf Indonesia merupakan ikhtiar yang tepat dalam menggandeng berbagai perguruan tinggi untuk ambil peran dalam meningkatkan kesadaran berwakaf dan meningkatkan literasi mengenai wakaf yang dirasa masih rendah.

Harapannya agar semua kegiatan yang dilakukan dengan konsep wakaf mendapat dukungan secara penuh dari masyarakat untuk meningkatkan kualitas pendidikan.

Redaktur: Wahid Ikhwan


WAKAFDT.OR.ID

Berwakaf Untuk Meningkatkan Fasilitas Pendidikan Indonesia Read More »

Aa Gym: Perbedaan Menjadi Sarana Pererat Persaudaraan

WAKAFDT.OR.IDSahabat-sahabatku yang baik, mari sejenak kita tafakuri firman Allah SWT dalam Surah Al-Hujurat ayat 10: “Sesungguhnya orang-orang beriman itu bersaudara. Sebab itu damaikanlah antara kedua saudaramu itu dan bertawakallah kepada Allah, supaya kamu mendapat rahmat.”

Saudaraku, masyaAllah, takdir Allah menjadikan kita sebagai bagian dari umat Islam yang sangat besar ini. Terutama di negeri kita tercinta, Indonesia, yang menjadi rumah bagi kaum muslimin terbesar di dunia. Tentu, di dalamnya berkumpul jutaan kepala dengan beragam keinginan, beda profesi, beda karakter, beda kebiasaan, juga beda cita-cita.

Tapi ingat ya, di atas segala perbedaan itu, kita punya satu pengikat yang sangat kuat, yaitu Akidah. Kita sama-sama bersujud kepada Allah SWT dan sama-sama mencintai Rasulullah saw. Inilah modal utama kita untuk bersatu.

Kadang kita dipersatukan oleh wilayah, terkadang oleh bahasa dan budaya yang sama. Namun, pengikat yang paling hakiki bagi umat Islam di seluruh penjuru dunia adalah keimanan. Jika iman sudah bicara, maka rasa persaudaraan itu akan muncul dengan sendirinya.

Maka, tanyakan pada diri sendiri: “Apakah hati kita merasa perih saat melihat saudara kita dizalimi?” atau “Apakah ada keinginan kuat untuk membantu saat saudara kita terjepit kesulitan?” Nah, mungkin ada di antara kita yang merasa punya keterbatasan. Ingin bantu, tapi sibuk. Ingin menolong, tapi jaraknya sangat jauh. Memang tidak semua dari kita bisa datang langsung ke lokasi bencana atau tempat konflik. Tapi tenang saja, Allah itu Maha Adil.

Allah membagi peran kepada kita semua. Ada saudara-saudara kita yang episodenya sedang diatur oleh Allah untuk menjadi perantara atau penyambung kebaikan. Mereka yang terjun langsung ke lapangan, merekalah tangan-tangan yang menyambungkan titipan bantuan kita. Inilah indahnya sinergi dan berbagi peran.

Jangan sampai, kita menjadi pribadi yang acuh dan tidak peduli terhadap penderitaan sesama. Ingat, kadar keimanan kita itu tercermin dari sejauh mana rasa empati dan kuatnya tali persaudaraan kita.

Yuk, kita gelorakan semangat saling mengisi dan bekerja sama. Semoga Allah SWT senantiasa mengokohkan ukhuwah di antara kita, sehingga umat ini menjadi umat yang kuat karena saling mencintai karena Allah SWT. Wallahu a’lam bishowab. (KH. Abdullah Gymnastiar)

Redaktur: Wahid Ikhwan


WAKAFDT.OR.ID

Aa Gym: Perbedaan Menjadi Sarana Pererat Persaudaraan Read More »

Aa Gym: Hati-Hati dengan Prasangka Buruk Kepada Allah

WAKAFDT.OR.ID — Saudaraku, kurang iman, kurang ridho, kurang sabar, kurang syukur kepada Allah adalah perkara-perkara yang wajib kita tobati.

Banyak-banyaklah beristighfar, memohon ampun kepada Allah atas setiap rongga dan celah kekurangyakinan kepada-Nya, yang ada pada hati kita. Sungguh tidak patut kita meragukan sedikit pun kekuasaan Allah.

Allah SWT berfirman, “..Sesungguhnya Allah menyukai orang-orang yang bertobat dan menyukai orang-orang yang menyucikan diri.” (QS. al-Baqarah: 222)

Sesungguhnya kita adalah makhluk lemah yang tiada pernah luput dari kesalahan. Setiap hari dosa-dosa kita lakukan. Baik dosa besar maupun dosa kecil.

Namun, bukan besar kecilnya dosa yang perlu kita waspadai. Yang perlu kita waspadai adalah kalau kita sampai meremehkan dosa. Jangan sampai kita meremehkan keraguan-keraguan terhadap kekuasaan Allah yang sempat hadir di hati kita.

Mari kita periksa hati kita, kita nilai diri kita sendiri dengan sejujur-jujurnya. Hari ini sudah berapa kali kita berkeluh kesah kepada orang lain tentang harta kita.

Sudah berapa kali hari ini kita mengeluhkan pakaian kita. Atau tentang rumah kita, atau tentang kendaraan kita, atau tentang gaji kita, atau posisi kita di tempat kerja.

Boleh jadi ada orang yang mengatakan kalau mengeluh itu sesuatu yang manusiawi. Boleh saja kita sebut demikian, tetapi jika hanya berakhir di situ saja maka bisa berbahaya.

Karena sebagai orang yang beriman kepada Allah, segala apapun yang kita rasakan dalam menjalani hidup ini harus senantiasa dikembalikan kepada Dzat Yang Memiliki kehidupan, Dialah Allah Ta’ala.

Jika hendak mengeluh dan mengadu, lakukanlah kepada Allah Ta’ala yang utama, karena hanya Allah Yang Maha Mengetahui secara sempurna tentang keadaan diri kita dan kebutuhan kita.

Betapa banyak kesalahan dan dosa yang kita lakukan. Hati kita yang awalnya putih bersih, kini sudah berlumur noda hitam legam karena bekas dari dosa-dosa yang kita lakukan.

Oleh karenanya sahabatku, tiada pernah ada alasan bagi kita untuk menunda-nunda tobat. Tiada pernah ada alasan bagi kita untuk lalai memohon ampun kepada Allah.

Kita ini hanyalah manusia biasa. Bayangkan sosok mulia nan agung, kekasih Allah, Nabi Muhammad saw.

Beliau yang sudah dijamin oleh Allah bersih dari dosa-dosa (ma’shum) saja masih memohon ampunan Allah setiap hari hingga seratus kali. Maka, kita seharusnya kita serius untuk bertobat terus-menerus.

Rasulullah bersabda, “Tidakkah aku berada di pagi hari (antara terbit fajar hingga terbit matahari) kecuali aku beristighfar kepada Allah sebanyak seratus kali.” (HR. An-Nasai)

Allah menyukai hamba-Nya yang bertobat. Jika Allah Ta’ala sudah menyukai hamba-Nya, maka niscaya Allah akan memberikan petunjuk kepadanya sehingga selamat dalam kehidupan.

Allah akan kuatkan hatinya menjalani hidup ini, dan Allah akan lapangkan jalan baginya. Beban hidup sebesar apapun akan ringan saja untuk dipikul jika Allah menolong kita.

Maka, jika ada orang yang kita lihat begitu banyak masalah dalam hidupnya namun ia tetap bisa menjalani dengan senyuman dan keringanan, maka itulah bentuk pertolongan Allah baginya.

Allah berikan ia kekuatan dan ketabahan sehingga setiap ujian bisa ia lalui tanpa banyak keluh kesah, hingga akhirnya ia terbentuk menjadi pribadi yang tangguh.

Bukan masalah hidupnya yang berkurang, tapi kemampuannya untuk menghadapi masalah hiduplah yang bertambah kuat. Wallahu a’lam bishowab. (KH. Abdullah Gymnastiar)

Redaktur: Wahid Ikhwan


WAKAFDT.OR.ID

Aa Gym: Hati-Hati dengan Prasangka Buruk Kepada Allah Read More »

Isra’ Mi’raj, Momen Mengingat Kembali Pentingnya Shalat

WAKAFDT.OR.IDPeristiwa Isra’ Mi’raj semestinya tidak hanya dipandang sebagai seremoni rutin yang diperingati setiap tahun. Lebih dalam dari itu, momentum ini adalah pengingat bagi setiap Muslim untuk meninjau kembali kualitas ibadah shalatnya—apakah sudah memiliki “ruh” atau sekadar menjadi rutinitas fisik belaka.

Dialog Langit dalam Sehari Semalam
Pakar Ilmu Al-Qur’an, KH Ahsin Sakho, memberikan catatan penting mengenai kedalaman makna shalat. Dalam sehari semalam, seorang Muslim setidaknya melafalkan takbir sebanyak 94 kali melalui 17 rakaat shalat fardhu. Namun, takbir bukan sekadar ucapan lisan tanpa makna.

Kiai Ahsin menekankan bahwa shalat adalah momen di mana penduduk bumi sedang “berdialog” dengan penghuni langit. Bayangkan saat kita bertakbir dengan kesadaran penuh akan keagungan Allah SWT, maka seluruh eksistensi diri kita yang kecil ini akan bergetar di hadapan Sang Pencipta yang Maha Besar. Shalat adalah kesaksian langit atas ketundukan hamba di bumi.

Menyeimbangkan Status “Hamba” dan “Khalifah”
Senada dengan hal tersebut, Ahmad Zayadi selaku Direktur Penerangan Agama Islam Kemenag RI, menyebutkan bahwa Isra’ Mi’raj adalah sarana meningkatkan kapasitas diri sebagai Abdullah (hamba Allah).

Menurutnya, esensi dari seorang hamba adalah kepatuhan dan kepasrahan total. Namun, status hamba ini harus berjalan beriringan dengan peran manusia sebagai Khalifah (pemimpin/pengelola bumi). Di sinilah letak keseimbangannya:

  • Substansi Hamba: Fokus pada ketundukan dan ibadah.
  • Substansi Khalifah: Fokus pada kreativitas dan inovasi.

Pesan utamanya adalah bahwa kreativitas yang kita kembangkan di dunia harus berlandaskan pada ketundukan kepada Allah. Semakin kreatif seseorang, seharusnya ia semakin merasa butuh dan dekat kepada Tuhannya, bukan justru menjauh karena merasa hebat.

Perjalanan Menembus Dimensi Langit
Secara historis, Isra’ Mi’raj yang terjadi pada bulan Rajab merupakan mukjizat fisik dan spiritual di mana Rasulullah SAW menempuh perjalanan dari Baitul Maqdis menuju Sidratul Muntaha. Muhammad Husain Haekal dalam karya literaturnya mendeskripsikan betapa megahnya perjalanan ini:

Pertemuan Lintas Zaman: Rasulullah SAW memimpin shalat bersama para nabi terdahulu, mulai dari Nabi Ibrahim, Musa, hingga Isa AS di kompleks Baitul Maqdis.

Lapisan Langit yang Menakjubkan: Dari langit pertama yang berkilau perak hingga langit ketujuh, Nabi disambut oleh para malaikat penjaga dan para nabi.

Realitas Gaib yang Dahsyat: Rasulullah diperlihatkan sosok Malaikat Izrail yang menjalankan tugasnya dengan penuh ketelitian, hingga malaikat-malaikat dengan wujud yang melampaui imajinasi manusia, yang semuanya tak henti-hentinya bertasbih memuji Allah.

Puncak dari perjalanan ini adalah Sidratul Muntaha, sebuah batas tertinggi di mana perintah shalat lima waktu diberikan langsung oleh Allah SWT. Ini menegaskan bahwa shalat adalah “kado” istimewa yang dibawa langsung dari langit untuk membantu manusia tetap terhubung dengan Sang Khaliq di tengah keterbatasan mereka di bumi. (WIN)

Redaktur: Wahid Ikhwan


WAKAFDT.OR.ID

Isra’ Mi’raj, Momen Mengingat Kembali Pentingnya Shalat Read More »

Menembus Batas Logika: Memaknai Esensi Isra’ Mi’raj bagi Jiwa yang Lelah

Peristiwa Isra’ Mi’raj bukan sekadar perjalanan kilat melintasi ruang geografis dari Masjidil Haram ke Masjidil Aqsa, lalu menembus dimensi langit menuju Sidratul Muntaha.

Lebih dari itu, mukjizat ini adalah pesan cinta dari Allah SWT kepada hamba-Nya yang sedang mengalami titik terendah dalam hidup.

Hadiah di Tengah Puncak Kesedihan
Secara historis, Isra’ Mi’raj terjadi pada ‘Amul Huzni atau “Tahun Kesedihan”. Rasulullah SAW baru saja kehilangan dua pilar pendukung utamanya: Siti Khadijah, istri tercinta yang menjadi penenang jiwanya, dan Abu Thalib, paman yang menjadi benteng perlindungannya.

Di tengah tekanan kaum Quraisy yang semakin beringas, Allah “menjemput” Rasul-Nya untuk diperlihatkan tanda-tanda kebesaran-Nya.

Hal ini mengajarkan kita sebuah pelajaran berharga: Ketika pintu-pintu di bumi seolah tertutup bagi kita, pintu langit selalu terbuka lebar.

Shalat: “Mi’raj” Bagi Setiap Muslim

Buah tangan paling berharga dari perjalanan ini adalah perintah shalat lima waktu.
Jika Rasulullah SAW harus menembus langit ketujuh untuk berkomunikasi langsung dengan Sang Pencipta, kita sebagai umatnya diberikan kemudahan untuk melakukan “Mi’raj spiritual” setiap hari melalui shalat.

Dalam sebuah hadits disebutkan bahwa ash-shalatu mi’rajul mu’minin (shalat adalah mi’rajnya orang-orang beriman).
Saat bersujud, kita sebenarnya sedang melepaskan segala beban duniawi dan mengadukan segala sesak di dada langsung kepada pemilik alam semesta.

Relevansi Isra’ Mi’raj di Era Modern
Di zaman yang serba logis dan materialistik ini, Isra’ Mi’raj menantang kita untuk mengasah kembali kecerdasan spiritual. Peristiwa ini mengajarkan kita bahwa:

Keterbatasan Akal: Ada hal-hal yang tidak bisa dijangkau hanya dengan rumus fisika atau logika manusia. Iman dimulai di titik di mana logika berhenti.

Kecepatan dan Ketepatan: Perjalanan semalam tersebut membuktikan bahwa bagi Allah, waktu dan jarak adalah hal yang relatif. Jika Allah berkehendak mengangkat derajat seseorang, hal itu bisa terjadi dalam sekejap mata.

Pentingnya Integritas: Sepulangnya dari Mi’raj, Rasulullah SAW tetap menyampaikan kebenaran meski tahu akan dicemooh. Ini adalah teladan tentang konsistensi dalam memegang prinsip.

Isra’ Mi’raj adalah momentum untuk melakukan “re-instalasi” iman. Ia mengingatkan kita bahwa sesulit apa pun ujian hidup, kita memiliki Tuhan yang Maha Besar.

Shalat yang kita dirikan bukan sekadar rutinitas, melainkan sarana untuk selalu terhubung dengan sumber kekuatan yang tak terbatas.

Mari jadikan peringatan Isra’ Mi’raj tahun ini bukan sekadar seremoni, melainkan titik balik untuk memperbaiki kualitas komunikasi kita dengan Allah melalui shalat lima waktu. (WIN)

Redaktur: Wahid Ikhwan


Menembus Batas Logika: Memaknai Esensi Isra’ Mi’raj bagi Jiwa yang Lelah Read More »

Aa Gym: Jangan Sibuk dengan Penilaian Makhluk

WAKAFDT.OR.IDUntuk siapa sebenarnya kita berlelah-lelah selama ini? Untuk siapa kita beramal, dan penilaian siapa yang sebenarnya sedang kita kejar?

Ada sebuah kisah yang sangat berharga dalam Tafsir Ibnu Katsir. Suatu ketika, ada seseorang datang mengadu kepada Rasulullah SAW, “Wahai Rasulullah, saya ini kadang beramal niatnya karena Alloh, tapi kok ya di dalam hati masih ada keinginan ingin dilihat orang lain…”

Coba bayangkan, Rasulullah SAW sampai terdiam, tidak langsung menjawab. Mengapa? Karena urusan niat ini urusan yang sangat besar di hadapan Alloh.

Hingga akhirnya Alloh menurunkan jawaban langsung dalam Surah Al-Kahfi ayat 110: “Barangsiapa mengharapkan perjumpaan dengan Robb-nya, maka hendaklah ia melakukan amal salih, dan janganlah ia mempersekutukan seorangpun dalam beribadah kepada Robb-nya.”

Sahabatku, kalau kita ingin hati tenang, ingin hidup bahagia, dan selamat saat berjumpa dengan Alloh nanti, kuncinya cuma satu: Jauhi syirik. Terutama syirik yang halus sekali, yaitu riya’.

Ingin dilihat orang, ingin dipuji, ingin dianggap sholih… waah, ini bahaya sekali, Sahabat. Ini adalah kezaliman yang besar bagi diri kita sendiri.

Coba kita renungkan ya… Mungkin di mata manusia, amal kita kelihatan gunung besarnya. Mungkin saat berbicara, lisan kita begitu fasih, dalilnya lengkap, orang terpukau.

Tapi, kalau di pojok hati yang paling dalam niatnya cuma ingin “dilihat” dan “dipuji” makhluk, innalillahi… sia-sia semuanya. Ibarat debu yang ditiup angin, tidak berbekas, bahkan bisa menyeret pelakunya ke dalam api neraka. Na’udzubillahi min dzalik.

Apa sih hebatnya pujian manusia? Manusia itu cuma makhluk yang lemah. Pujian mereka tidak akan menambah kemuliaan kita sedikit pun di hadapan Alloh. Apa artinya penghargaan dunia kalau di mata Alloh kita sama sekali tidak berharga?

Tapi ingatlah Sahabat, siapa yang sibuk memperbaiki kedudukannya di hadapan Alloh, maka Alloh sendiri yang akan mengangkat derajatnya di hadapan seluruh makhluk-Nya tanpa dia minta. Maasyaa Alloh.

Jadi, yuk kita luruskan lagi niatnya. Mulai sekarang, kalau mau beramal, tidak usah sibuk memikirkan orang lihat atau tidak, orang puji atau tidak. Capek kalau hidup ngejar penilaian makhluk mah.

Cukup sibukkan hati kita dengan satu pertanyaan saja: “Alloh Ridho atau tidak?” Kalau Alloh sudah Ridho, itu sudah lebih dari cukup.

Semoga Alloh menggolongkan kita menjadi hamba-hamba-Nya yang ikhlas, yang amalnya diterima dan menjadi cahaya bagi kita di akhirat kelak. Aamiin yaa Robbal’aalamiin. Alhamdulillah, semoga tulisan ini menjadi pengingat bagi saya dan sahabat semua.

(KH. Abdullah Gymnastiar)

Redaktur: Wahid Ikhwan


WAKAFDT.OR.ID

Aa Gym: Jangan Sibuk dengan Penilaian Makhluk Read More »

Aa Gym: Apa yang Membuat Orang Lain Menjauhi Kita?

WAKAFDT.OR.IDSahabat-sahabatku yang baik, apa kabar hati hari ini? Mari kita sejenak bertafakur, mengapa ya ada orang yang kalau dekat dengan kita rasanya ingin cepat-cepat pergi? Atau mengapa kita rasanya sulit sekali menyatu dengan orang lain?

Coba cek hati kita. Jangan-jangan, hati kita ini sedang membatu. Mari kita selami mutiara hikmah dari Surah Ali-Imran ayat 159. Di sana Alloh Ta’ala berfirman bahwa Rasulullah SAW itu bisa bersikap lemah lembut itu semata-mata karena rahmat Alloh. Kalau beliau itu kasar, hatinya keras, waah… pasti orang-orang sudah lari menjauh.

Rasulullah itu kalau bertemu orang, bukan cuma fisiknya yang hadir, tapi hati dan pikirannya tulus memperhatikan. Nah, ini dia masalahnya. Kita ini seringkali berdekatan secara fisik, tapi jarak hati kita sejauh langit dan bumi. Mengapa? Karena hati kita kurang dilatih.

Lalu bagaimana kiatnya supaya hati kita lembut dan bening? Mari kita simak 4 Kiat Melembutkan Hati ala Manajemen Qolbu:

1. Sibukkan Diri Mengingat Jasa Orang Lain

Penyakit kita ini adalah sering ingat jasa sendiri, tapi lupa jasa orang lain. Coba deh, pikirkan pengorbanan orang-orang yang jadi jalan kita kenal Alloh. Pikirkan guru-guru kita yang tulus membimbing dari jalan yang gelap ke jalan yang terang.

Dulu mungkin kita ini hamba dunia, sombong, atau bahkan terjebak kemunafikan. Tapi lewat doa dan keringat guru-guru kita, kita jadi kenal akhirat. Ingat-ingatlah nikmat iman dan islam ini. Kalau kita sibuk mengingat jasa orang, hati akan merasa kecil dan malu untuk bersikap kasar.

2. Berlatih Empati, Rasakan Perasaan Orang Lain

Hati-hati, Sahabatku. Jangan sampai kita jadi ahli ibadah tapi hatinya keji. Sholat rajin, tapi lisan tajam menyakiti orang. Ingat Surah Qaaf ayat 16-18, Alloh itu lebih dekat dari urat leher kita! Setiap bisikan hati dan ucapan kita, ada Malaikat Roqib dan Atid yang mencatat.

Coba deh, jangan cuma mementingkan perasaan sendiri. Belajarlah merasakan kepedihan orang lain. Boleh jadi ada orang yang tidak dikenal penduduk bumi, tapi namanya harum di langit karena ketulusan hatinya.

3. Senang Mendoakan Orang Lain

Salah satu cara paling ampuh melembutkan hati adalah dengan menebar salam. Tapi salamnya jangan cuma di lisan, harus pakai hati.

Assalamu’alaikum… (Ya Alloh, selamatkanlah saudara saya ini).

Warohmatulloh… (Ya Alloh, sayangi dia).

Wabarokatuh… (Ya Alloh, berkahi hidupnya). Kalau kita tulus menginginkan kebaikan bagi orang lain, mustahil hati kita bisa keras kepada mereka.

4. Ringan Tangan dalam Silaturahim dan Berbagi

Jangan jadi orang yang hobi mengumpulkan harta tapi pelit berbagi. Silaturahimlah, bawa hadiah. Punya uang jangan cuma ditumpuk, tapi jadikan manfaat. Orang yang hatinya keras itu biasanya egois, yang dipikirkan cuma “saya, saya, dan saya”.

Sahabatku, orang yang paling rugi adalah orang yang merasa dirinya sudah baik, sudah berjasa, dan sudah benar. Hati yang seperti ini tidak akan membuat nyaman siapa pun.

Maka, mari kita sibuk memikirkan dosa sendiri, bukan sibuk menghakimi orang lain. Insya Alloh, kalau hati sudah lembut, hidup akan lebih berkah dan kehadiran kita akan menjadi penyejuk bagi sesama.

Alhamdulillah, semoga bahasan singkat ini menjadi jalan hidayah bagi kita semua. Apakah Sahabat ingin saya buatkan rangkuman “Checklist Evaluasi Diri” berdasarkan poin-poin di atas agar lebih mudah dipraktikkan sehari-hari?

(KH. Abdullah Gymnastiar)

Redaktur: Wahid Ikhwan


WAKAFDT.OR.ID

Aa Gym: Apa yang Membuat Orang Lain Menjauhi Kita? Read More »