Wakaf Daarut Tauhiid

Artikel

Malik bin Dinar: Memberi di Tengah Kekurangan

WAKAFDT.OR.IDBagi kebanyakan orang, rasa lapar dan keinginan yang kuat adalah sinyal untuk segera dipuaskan. Namun, bagi Malik bin Dinar, seorang sufi besar sekaligus murid dari Hasan al-Bashri, rasa lapar justru menjadi panggung tempat ia memenangkan pertempuran melawan egonya sendiri.

Puasa Panjang Sang Ahli Kaligrafi

Dalam catatan kitab Tadzkiratul Auliya karya penyair besar Fariduddin Attar, dikisahkan bahwa selama bertahun-tahun lidah Malik bin Dinar tidak pernah mengecap rasa manis maupun asam.

Kesehariannya sangat sederhana: ia hanya berbuka puasa dengan dua potong roti kering yang dibelinya setiap malam. Baginya, kehangatan roti yang baru matang sudah merupakan kemewahan luar biasa yang menghibur hati.

Namun, suatu ketika ujian fisik menerpanya. Di tengah kondisi tubuh yang melemah karena sakit, Malik merasakan keinginan yang amat sangat untuk menyantap daging. Selama sepuluh hari ia mencoba menekan keinginan itu, hingga akhirnya ia tak kuasa lagi menahan gejolak nafsu makannya.

Sepotong Kaki Domba dan Air Mata

Malik kemudian pergi ke pasar dan membeli beberapa potong kaki domba. Karena sifatnya yang sangat menjaga privasi ibadahnya, ia menyembunyikan makanan tersebut di balik lengan bajunya. Pemilik toko yang merasa penasaran lantas mengutus seorang pelayan untuk membuntuti sang ulama.

Pelayan itu kembali dengan wajah sembab dan mata penuh air mata. Ia menceritakan sebuah pemandangan yang menggetarkan jiwa:

Di sebuah tempat tersembunyi, Malik mengeluarkan potongan daging itu. Bukan untuk dimakan, ia hanya mencium aromanya sambil berbisik pada dirinya sendiri, “Wahai diri, lebih dari ini bukanlah hakmu.”

Tanpa ragu, ia menyerahkan daging dan rotinya kepada seorang pengemis yang ia temui. Kepada tubuhnya yang renta, Malik berkata dengan penuh kasih namun tegas, bahwa penahanan diri ini bukan karena ia benci pada fisiknya, melainkan demi menyelamatkan sang jasad dari api neraka kelak, demi sebuah kebahagiaan yang abadi di akhirat.

Kecerdasan di Balik Kesahajaan

Banyak orang beranggapan bahwa tidak mengonsumsi daging dalam waktu lama dapat menurunkan ketajaman berpikir. Namun, Malik bin Dinar mematahkan anggapan tersebut. Beliau pernah berujar bahwa meski ia tidak menyentuh daging selama dua puluh tahun, kecerdasan akalnya justru terus terasah dan meningkat.

Hal ini terbukti dari rekam jejaknya. Putera dari seorang budak asal Persia ini tidak hanya dikenal sebagai ahli ibadah, tetapi juga sebagai:

  • Perawi Hadis Terpercaya: Beliau merawikan hadis-hadis sahih dari para sahabat besar seperti Anas bin Malik dan tokoh tabiin Ibnu Sirin.
  • Ahli Kaligrafi Al-Qur’an: Tangannya yang terampil menyalin kalam Ilahi dengan estetika yang luar biasa.

Malik bin Dinar wafat sekitar tahun 748 M (130 H), meninggalkan warisan berupa keteladanan tentang bagaimana seharusnya seorang hamba memosisikan nafsu di bawah kendali iman.

Redaktur: Wahid Ikhwan

Sumber: Republika


WAKAFDT.OR.ID

Malik bin Dinar: Memberi di Tengah Kekurangan Read More »

Aa Gym: Menghadapi Aib, Antara Penilaian Makhluk dan Kasih Sayang Khaliq

WAKAFDT.OR.IDSahabat-sahabatku sekalian. Pernah tidak kita merasa gelisah, hati tidak tenang, hanya karena takut “borok” kita ketahui orang lain? Jujur saja, itu manusiawi.

Kita semua punya rasa malu, tidak mau kekurangan atau masa lalu kita yang kelam jadi tontonan orang. Rasanya kita ingin sekali menutup rapat-rapat pintu rahasia itu, supaya tetap terlihat “shaleh” atau “baik” di mata manusia.

Tapi coba kita tanya ke hati nurani yang paling dalam: Kalau aib itu akhirnya terbongkar, itu musibah atau karunia?

Fokus pada Penilaian Siapa?

Ternyata, masalahnya sering kali ada pada fokus kita. Kita ini terlalu sibuk memikirkan “Apa kata orang?” tapi lupa bertanya “Apa kata Allah?”. Kita takut dijauhi manusia, tapi tidak takut dijauhi rahmat Allah.

Ingatlah sahabatku, tidak ada manusia yang sempurna. Hanya para Nabi yang maksum, yang dijaga langsung oleh Allah dari dosa. Kita? Kita ini cuma hamba yang banyak salahnya.

Kalau sekarang kita masih terlihat terhormat, itu bukan karena kita hebat, tapi karena Allah masih sangat baik menutupi aib-aib kita. Kalau saja Allah buka satu saja kotoran hati kita, mungkin tidak akan ada yang mau duduk di dekat kita hari ini.

Allah Maha Menyaksikan

Hadirkan dalam hati, Allah itu Al-Alim, Maha Mengetahui. Mau kita sembunyikan di lubuk hati yang paling gelap sekalipun, Allah tahu. Setiap maksiat yang kita lakukan, tidak ada yang luput dari pengawasan-Nya.

Maka, daripada capek-capek bersandiwara di depan manusia, lebih baik kita sibuk memperbaiki diri di hadapan Allah Ta’ala.

Lalu, bagaimana kalau dosa kita sudah segunung? Bagaimana kalau aib kita sudah terlanjur banyak?

Sahabatku, jangan putus asa. Allah itu Maha Baik. Selama nafas masih ada, pintu taubat itu terbuka lebar, selebar-lebarnya.

Allah sudah berjanji dalam Al-Qur’an, siapa pun yang pernah berbuat zalim pada dirinya sendiri lalu mau sujud memohon ampun, Allah akan terima. Dia Maha Pengampun, Maha Penyayang.

  • Jangan tunda lagi: Kita tidak tahu kapan jatah usia kita habis.
  • Segera bertaubat: Sebelum menyesal di saat waktu sudah berhenti.

Mari kita manfaatkan sisa umur ini untuk benar-benar pulang kepada-Nya. Jangan sampai kita mati dalam keadaan membawa topeng di hadapan manusia, tapi membawa tumpukan dosa di hadapan Allah. Wallahu a’lam bishowab.

(KH. Abdullah Gymnastiar)

Redaktur: Wahid Ikhwan


WAKAFDT.OR.ID

Aa Gym: Menghadapi Aib, Antara Penilaian Makhluk dan Kasih Sayang Khaliq Read More »

Libur Sekolah Usai, Tips Membangun Kembali Semangat Anak

WAKAFDT.OR.IDBerakhirnya masa liburan sekolah sering kali menjadi momen “horor” bagi sebagian orang tua. Transisi dari jadwal bangun siang yang santai menuju rutinitas akademik yang kaku tak jarang memicu post-holiday blues—kondisi di mana anak merasa cemas, malas, bahkan mogok sekolah.

Namun, Ayah dan Bunda jangan panik dulu. Psikolog klinis dari Rumah Sakit Jiwa Aceh, Devi Yanti, M. Psi., membagikan strategi cerdas agar si kecil kembali ke sekolah dengan penuh percaya diri.

1. Jadi Pendengar Setia, Bukan Sekadar Pengatur

Langkah pertama yang paling krusial adalah validasi emosi. Devi menekankan pentingnya bagi orang tua untuk peka terhadap perubahan suasana hati anak.

“Coba ajak komunikasi dua arah. Dengarkan apa yang mereka khawatirkan atau apa yang membuat mereka enggan kembali ke sekolah,” ujarnya.

Alih-alih menekan, berikan narasi positif. Ingatkan mereka tentang serunya bertemu teman-teman lama atau kembali mendalami mata pelajaran favoritnya.

2. ‘Ritual’ Penyesuaian Pola Hidup

Jangan menunggu hari Senin tiba untuk berubah! Devi menyarankan transisi bertahap beberapa hari sebelum masuk sekolah:

  • Reset Pola Tidur: Kembalikan jam tidur dan jam makan secara perlahan ke jadwal normal sekolah.
  • Libatkan Anak: Ajak mereka menyiapkan seragam, menata buku, dan memilih perlengkapan sekolah baru agar muncul rasa antusias.
  • Susun Jadwal Harian: Buat kesepakatan mengenai rutinitas harian agar anak memiliki gambaran jelas tentang apa yang akan mereka hadapi.

3. Kendalikan Gadget, Bangun Kedekatan

Salah satu tantangan terbesar pasca-libur adalah kecanduan gawai. Menurut Devi, orang tua harus tegas dan konsisten mengenai durasi penggunaan perangkat digital sesuai kesepakatan dengan anak.

Namun, pembatasan saja tidak cukup. Orang tua perlu menghadirkan alternatif aktivitas menyenangkan di rumah sebagai pengalih perhatian dari layar, seperti:

  • Memasak menu bekal sekolah bersama.
  • Olahraga ringan atau membaca buku di sore hari.
  • Berdiskusi santai tentang target-target seru di semester baru.

4. Dukungan Emosional adalah Kunci

Konsistensi adalah kunci, namun dukungan emosional adalah “pelumasnya”. Ciptakan suasana rumah yang kondusif dan hangat. Dengan merasa didukung, anak akan merasa lebih aman secara psikologis untuk keluar dari zona nyaman liburannya.

“Aktivitas bersama bukan hanya mengalihkan perhatian dari gadget, tapi juga mempererat ikatan keluarga sekaligus memicu semangat belajar si kecil,” tutup Bendahara HIMPSI Wilayah Aceh tersebut.

Tips Tambahan: Mulailah melakukan transisi ini setidaknya 3 hari sebelum hari pertama sekolah agar mental anak benar-benar siap tempur. (WIN)

Redaktur: Wahid Ikhwan

Sumber: Republika


WAKAFDT.OR.ID

Libur Sekolah Usai, Tips Membangun Kembali Semangat Anak Read More »

Aa Gym: Allah Maha Berkehendak, Apapun Bisa Terjadi

WAKAFDT.OR.ID – Alhamdulillah, segala puji hanya milik Alloh Ta’ala, tidak ada yang wajib kita sembah selain Alloh dan tidak ada yang kuasa memenuhi segala kebutuhan kita kecuali Alloh Ta’ala.

Karena sesungguhnya Alloh yang maha berkehendak atas diri kita, kalau Alloh sudah berkehendak maka pasti jadi. Tidak ada yang mustahil bagi Alloh.

Kalau Alloh Ta’ala menghendaki suatu kebaikan kepada makhluk atau hambanya, maka tidak ada seorang pun dan tidak ada suatu hal apapun yang bisa menghalanginya.

Begitu juga sebaliknya, kalau Alloh menghendaki keburukan menimpa makhluk atau hambanya, maka tidak ada siapapun dan apapun yang bisa menghalanginya.

وَاِنْ يَّمْسَسْكَ اللّٰهُ بِضُرٍّ فَلَا كَاشِفَ لَهٗ ٓاِلَّا هُوَ ۚوَاِنْ يُّرِدْكَ بِخَيْرٍ فَلَا رَاۤدَّ لِفَضْلِهٖۗ يُصِيْبُ بِهٖ مَنْ يَّشَاۤءُ مِنْ عِبَادِهٖ ۗوَهُوَ الْغَفُوْرُ الرَّحِيْمُ

“Dan jika Allah menimpakan suatu bencana kepadamu, maka tidak ada yang dapat menghilangkannya kecuali Dia. Dan jika Allah menghendaki kebaikan bagi kamu, maka tidak ada yang dapat menolak karunia-Nya. Dia memberikan kebaikan kepada siapa saja yang Dia kehendaki di antara hamba-hamba-Nya. Dia Maha Pengampun, Maha Penyayang.” (QS. Yunus: 107)

Sama halnya seperti ibadah haji dan umroh, orang yang berangkat haji atau umroh tidak harus orang-orang yang berstatus kaya atau memiIiki banyak uang.

Akan tetapi pada kenyataannya banyak orang yang dalam keadaan yang pas-pasan, tidak memiliki harta yang banyak justru bisa berangkat dan menyelesaikan semua rangkaian ibadah tersebut.

Kenapa ini bisa terjadi? Karena memang jika Alloh telah berkehendak maka apa pun dapat terjadi.

Alloh buka dengan berbagai cara, ada dengan didanai oleh orangtua atau anaknya, atau temannya dan berbagai cara lainnya.

Ada juga yang diundang oleh pihak pemerintah atau instasnsi tempat ia bekerja karena sebuah prestasinya.

Kalau kita lihat, bukankah tidak sedikit juga orang yang memiliki keberlimpahan harta kekayaan tapi tampak sulit sekali untuk menunaikan umroh dan haji karena berbagai macam alasan.

Oleh karenanya, hadirkan keyakinan penuh kepada Alloh yang Maha Kuasa dan Maha Berkehendak atas segala sesuatu.

Kalau Alloh menghendaki sesuatu terjadi, maka tidak ada satu pun yang bisa menghalangi hal tersebut.

Semoga dengan mengenal Alloh yang Maha Berkehendak semakin juga menambah keimanan kita kepada-Nya. Wallahu a’lam bishowab. (KH. Abdullah Gymnastiar)

Redaktur: Wahid Ikhwan


WAKAFDT.OR.ID

Aa Gym: Allah Maha Berkehendak, Apapun Bisa Terjadi Read More »

Lupa Niat di Malam Hari, Bolehkah Puasa Rajab Dimulai Siang Hari?

WAKAFDT.OR.IDBulan Rajab merupakan salah satu dari empat bulan mulia (asyhurul hurum) yang menjadi momentum emas bagi umat Islam untuk meningkatkan amalan.

Salah satu ibadah yang sangat populer dilakukan adalah puasa sunnah. Namun, muncul sebuah pertanyaan umum bagi mereka yang ingin berpuasa: Bagaimana jika kita lupa membaca niat pada malam harinya?

Kedudukan Niat dalam Ibadah

Secara prinsip, setiap amal ibadah dalam Islam sangat bergantung pada niatnya. Rasulullah SAW menegaskan bahwa keabsahan suatu perbuatan ditentukan oleh motivasi di baliknya.

Khusus untuk puasa wajib seperti Ramadhan, niat harus sudah terlintas di dalam hati sebelum fajar tiba. Namun, dalam ranah puasa sunnah seperti puasa Rajab, syariat memberikan kelonggaran yang lebih luas.

Batas Waktu Niat Puasa Sunnah

Berdasarkan tinjauan ilmu fiqih, seseorang tetap diperbolehkan melaksanakan puasa sunnah meski baru berniat pada siang hari. Syarat utamanya adalah ia belum melakukan hal-hal yang membatalkan puasa (seperti makan atau minum) sejak fajar.

Berikut adalah dua pandangan dalam mazhab Syafi’i mengenai batas waktu niat tersebut:

Sebelum Matahari Tergelincir (Zawal): Pandangan utama menyebutkan bahwa niat masih sah dilakukan selama belum masuk waktu Zhuhur (sebelum matahari bergeser ke barat).

Hal ini merujuk pada hadis riwayat Imam Muslim, di mana Rasulullah SAW pernah bertanya kepada Aisyah RA apakah ada makanan di rumah. Saat dijawab tidak ada, beliau secara spontan bersabda, “Kalau begitu, aku berpuasa.”

Hingga Sebelum Matahari Terbenam: Terdapat pendapat lain (qaul jadid) dari Imam Asy-Syafi’i yang dikutip oleh Syekh Abu Bakar bin Muhammad Syatha dalam I’anah At-Thalibin.

Pendapat ini menyatakan bahwa niat puasa sunnah masih dianggap sah meskipun dilakukan pada sore hari sebelum Maghrib. Bagi yang melewatkan niat sebelum Zhuhur, diperbolehkan mengikuti (taklid) pendapat ini agar tetap mendapatkan pahala puasa.

Pahala yang Tetap Utuh

Meskipun niat dilakukan pada siang atau sore hari, orang tersebut tetap mendapatkan pahala puasa sehari penuh.

Syaratnya, ia harus benar-benar menjaga diri dari hal-hal yang membatalkan puasa sejak fajar menyingsing hingga matahari terbenam. Hal ini dikarenakan ibadah puasa adalah satu kesatuan waktu yang tidak dapat dipenggal-penggal pahalanya.

Fleksibilitas dalam niat puasa sunnah Rajab ini adalah bukti keluasan kasih sayang Allah dalam syariat Islam. Jadi, bagi Anda yang terbangun di pagi hari atau baru teringat ingin berpuasa Rajab saat matahari sudah tinggi, Anda tetap bisa melaksanakannya dengan tenang selama belum makan atau minum apa pun sejak subuh. Wallahu a’lam bishowab. (WIN)

Redaktur: Wahid Ikhwan


WAKAFDT.OR.ID

Lupa Niat di Malam Hari, Bolehkah Puasa Rajab Dimulai Siang Hari? Read More »

Aa Gym: Melatih Diri Menjadi Orang Baik

WAKAFDT.OR.IDSegala puji hanya milik Alloh yang melimpahkan hidayah dan kebaikan kepada kita sebagai hamba-hambanya. Alloh Maha Baik, mencintai kebaikan, dan memerintahkan kita untuk senantiasa berbuat kebaikan.

وَاَنْفِقُوْا فِيْ سَبِيْلِ اللّٰهِ وَلَا تُلْقُوْا بِاَيْدِيْكُمْ اِلَى التَّهْلُكَةِ ۛ وَاَحْسِنُوْا ۛ اِنَّ اللّٰهَ يُحِبُّ الْمُحْسِنِيْنَ

“Dan infakkanlah (hartamu) di jalan Allah, dan janganlah kamu jatuhkan (diri sendiri) ke dalam kebinasaan dengan tangan sendiri, dan berbuatbaiklah. Sungguh, Allah menyukai orang-orang yang berbuat baik.” (QS. Al Baqarah: 195)

Sesungguhnya Alloh yang Maha Baik menciptakan alam semesta ini beserta isinya, dalam bentuk yang sebaik-baiknya.

Alloh mencintai kebaikan dan mencintai hamba-hambanya yang berbuat baik. Begitu juga Alloh menciptakan diri kita, secara jasmani maupun rohani dalam bentuk yang sebaik-baiknya.

Oleh karenanya, sebagai orang yang beriman kepada Alloh Ta’ala, alangkah beruntungnya kita jika kehidupan ini kita isi dengan hal-hal yang penuh dengan kebaikan.

Alloh menjadikan atau meciptakan kita sebagai makhluk yang paling sempurna di antara makhluk-makhluk yang lain.

Kesempurnaan tersebut merupakan salah satu kemampuan kita untuk berpikir dan memilih sesuatu hal yang baik.

Maka dalam hidup ini sudah sepatutnya kita memilih yang baik, membuat Alloh juga juga ridho pada kebaikan yang kita lakukan.

Mau tidak mau, disadari atau tidak, sebenarnya dalam hidup ini kita akan berjumpa dengan berbagai hal-hal yang bisa kita pilih.

Kita bisa memilih lisan kita untuk mengucapkan hal-hal baik yang disukai oleh Alloh, bukan sebaliknya mengucapkan hal-hal yang buruk sesuatu yang dibenci oleh Alloh Ta’ala.

Begitu juga dengan tangan kita, tangan ini bisa dipergunakan dengan pilihan yang baik, tidak melakukan hal-hal mungkar, tetapi digunakan untuk hal-hal yang ma’ruf.

Saudara sekalian, setan tidak akan pernah berhenti dan akan terus berupaya untuk menggoda kita agar terjerumus pada keburukan dan neraka.

Boleh jadi sangat berat rasanya kita membiasakan diri untuk memilih yang Alloh sukai.

Akan tetapi, jangan mudah menyerah, teruslah bermujahadah, karena kesungguhan jika kita memilih hal yang baik-baik maka akan menjadi catatan amal sholeh bagi kita di hadapan Alloh Ta’ala.

Semoga kita dimudahkan dan diistiqomahkan dalam berbuat kebaikan, dengan cara melatih diri secara perlahan atau bertahap. Wallahu a’lam bishowab. (KH. Abdullah Gymnastiar)

Redaktur: Wahid Ikhwan


WAKAFDT.OR.ID

Aa Gym: Melatih Diri Menjadi Orang Baik Read More »

Aa Gym: Memaknai Sifat Alloh Maha Besar

WAKAFDT.OR.IDSegala puji hanya milik Alloh Ta’ala. Semoga Alloh menggolongkan kita sebagai hamba yang selalu istiqomah menjaga kebeningan hati. Sholawat dan salam juga semoga tercurah kepada baginda Nabi Muhammad Shallallahu ‘alaihi wasalam.

Alloh Ta’ala berfirman: “Dan katakanlah: “Segala puji bagi Alloh yang tidak mempunyai anak dan tidak mempunyai sekutu dalam kerajaan-Nya dan Dia bukan pula hina yang memerlukan penolong dan agungkanlah Dia dengan pengagungan yang sebesar-besarnya.” (QS. Al Isro: 111)

Kalau kita menunaikan shalat lima waktu lima kali sehari, maka berapa banyak kita mengucapkan takbir? Tentu dalam sehari saja begitu sering kita mengucapkan takbir, Allohu Akbar, Alloh Maha Besar.

Apalagi di bulan Ramadhan kemarin tentu lebih sering lagi kita menggemakan takbir. Ditambah juga dengan hari raya Idul Fitri dan hari raya idul adha.

Ketika kita bertakbir, misalnya takbir dalam shalat, maka sesungguhnya kita sedang mengakui betapa kecil dan tidak berdayanya diri kita ini, dan Maha Besar Alloh lagi Maha Kuasa Alloh.

Kita ini tiada daya, tiada upaya, tiada kekuatan kecuali Alloh yang memberikan. Setiap helaan nafas kita tidak terjadi kecuali atas izin Alloh.

Jika kita bertakbir sedangkan dalam hati kita masih ada perasaan sombong atau diri ini besar, merasa besar karena pangkat, merasa besar karena jabatan, merasa besar karena gelar atau merasa besar karena harta kekayaan, menganggap besar karena pengalaman, menganggap besar karena popularitas, maka pada saat itu juga lisan dengan hati kita tidak sejalan.

Jika lisan dan hati tidak sejalan atau bersebrangan maka inilah tanda yang bahaya.  Maka, perlu melatih hati kita untuk mengikuti apa yang lisan kita katakan.

Latihlah juga lisan kita untuk mengucapkan apa yang hati niatkan. Jadikanlah keduanya satu kesatuan yang saling menguatkan ketika berdzikir dengan takbir.

Bertakbirlah sambil mengakui di dalam hati bahwa semua yang kita punya hakikatnya hanya titipan dan semua milik Alloh Ta’ala dan akan kembali ke Alloh. Wallahu a’lam bishowab. (KH. Abdullah Gymnastiar)

Redaktur: Wahid Ikhwan


WAKAFDT.OR.ID

Aa Gym: Memaknai Sifat Alloh Maha Besar Read More »

Menjaga Kelembutan Hati: Menghindari Perbuatan yang Menghitamkan Jiwa

WAKAFDT.OR.IDHati adalah pusat kendali diri manusia. Jika dibiarkan kotor karena kemaksiatan, hati perlahan akan mengeras, membatu, bahkan mati. Hati yang keras akan sulit menerima hidayah dan kebenaran.

Agar kita terhindar dari kondisi tersebut, berikut adalah lima perbuatan utama yang harus kita waspadai karena dapat mengeraskan hati:

1. Menumpuk Dosa Tanpa Tobat

Setiap kali seorang mukmin berbuat dosa, muncul noda hitam di hatinya. Jika ia segera bertobat dan memohon ampun, noda tersebut akan terhapus dan hati kembali bersih. Namun, jika dosa terus bertambah tanpa ada penyesalan, titik hitam tersebut akan menutupi seluruh hati. Semakin banyak dosa, semakin keras pula hati seseorang dan semakin sulit baginya untuk berhenti dari keburukan.

2. Tertawa secara Berlebihan

Islam tidak melarang umatnya bercanda atau tertawa, namun menganjurkan agar tetap dalam batas kewajaran. Rasulullah SAW mengingatkan bahwa banyak tertawa dapat mematikan hati. Candaan yang berlebihan sering kali membuat kita lalai dari realitas kematian dan kehidupan akhirat. Sebagaimana pesan Nabi, “Seandainya kamu mengetahui apa yang aku ketahui, niscaya kamu akan sedikit tertawa dan banyak menangis.”

3. Banyak Bicara Tanpa Mengingat Allah

Lisan yang terlalu sibuk membicarakan hal duniawi atau keburukan orang lain (ghibah) tanpa diselingi zikir akan membuat hati menjauh dari Sang Pencipta. Berdasarkan hadis riwayat At-Tirmidzi, “Orang yang paling jauh dari Allah adalah mereka yang hatinya keras akibat terlalu banyak bicara tanpa mengingat Allah.”

4. Makan Melebihi Kebutuhan

Keserakahan dalam urusan perut bukan hanya buruk bagi kesehatan fisik, tetapi juga bagi ruhani. Saat perut terlalu kenyang, tubuh cenderung malas dan sulit berkonsentrasi untuk ibadah. Rasulullah membedakan pola makan orang beriman yang sederhana dengan orang munafik yang cenderung berlebihan. Makan berlebih adalah cermin kecintaan yang tinggi pada dunia dan pangkal dari berbagai penyakit.

5. Terlalu Mencintai Dunia

Harta dan keluarga adalah anugerah, namun bisa menjadi bumerang jika membuat kita lalai. Dalam Surat Al-Munafiqun ayat 9, Allah mengingatkan agar harta dan anak-anak tidak memalingkan kita dari mengingat Allah. Orang yang terlalu sibuk mengejar dunia hingga melupakan akhirat adalah orang-orang yang paling merugi karena hatinya telah tertutup oleh ambisi duniawi.

Menjaga kelembutan hati adalah perjuangan seumur hidup. Dengan menyadari kelima hal di atas, semoga kita lebih waspada dalam bertindak agar hati tetap jernih dan mudah menerima cahaya petunjuk-Nya. (WIN)

Redaktur: Wahid Ikhwan


WAKAFDT.OR.ID

Menjaga Kelembutan Hati: Menghindari Perbuatan yang Menghitamkan Jiwa Read More »

Kemandirian Pesantren melalui Optimalisasi Wakaf

WAKAFDT.OR.IDDewasa ini, pesantren bukan hanya sekadar lembaga pendidikan, melainkan local genius Indonesia yang memiliki akar sejarah perlawanan dan pemberdayaan masyarakat.

Kunci keberlangsungan pesantren terletak pada kemandirian, yang dibangun di atas fondasi nilai keikhlasan, modal sosial, dan kepemimpinan kiai. Strategi utama untuk memperkuat kemandirian ini meliputi:

  • Menjaga Ruh Al-Ma’had: Mempertahankan nilai keikhlasan sebagai sumber keberkahan.
  • Merawat Modal Sosial: Menjaga kedekatan dengan masyarakat sekitar.
  • Optimalisasi Modal Kapital & Operasional: Mengelola aset tetap (tanah wakaf) secara produktif dan menginisiasi gerakan wakaf uang sebagai endowment fund (dana abadi).
  • Transformasi Ekosistem: Mengubah ekosistem sosial menjadi ekosistem bisnis yang tetap berbasis etis untuk meningkatkan posisi tawar dan kesejahteraan umat.

Implementasi dan Korelasi pada Aset Wakaf Daarut Tauhiid (DT)

Pondok Pesantren Daarut Tauhiid, yang didirikan oleh KH. Abdullah Gymnastiar (Aa Gym), merupakan contoh nyata (benchmark) dari apa yang dibahas dalam poin diatas. Berikut adalah keterkaitannya:

1. Wakaf sebagai Pilar Kemandirian (Modal Kapital)

Pesantren yang tidak memiliki modal kapital tetap akan rentan goyah. DT mengimplementasikan hal ini dengan sangat kuat melalui slogan “Wakaf Menjadi Jalan Kemandirian Umat.”

Aset Produktif: DT tidak hanya memiliki wakaf dalam bentuk masjid atau asrama, tetapi juga wakaf produktif seperti swalayan (SMM), Cottage, hingga gedung perkantoran.

Hasil dari aset produktif inilah yang membiayai operasional pesantren sehingga tidak bergantung pada bantuan eksternal yang tidak menentu.

2. Transformasi Ekosistem Sosial ke Ekosistem Bisnis

Sangat disarankan pesantren melengkapi diri dengan business ecosystem. DT telah lama menjalankan konsep ini melalui Lembaga Strategis DT yang saat ini disatukan dalam konsep Wakaf Produktif.

Konektivitas: Kebutuhan santri (pangan, pakaian, jasa keuangan) dipenuhi oleh unit bisnis milik wakaf. Hal ini menciptakan perputaran ekonomi di dalam ekosistem pesantren yang keuntungannya kembali lagi untuk membiayai dakwah dan pendidikan.

3. Inovasi Wakaf Uang dan Wakaf Melalui Uang

Sesuai dengan gagasan mengenai “Dana Abadi”, DT melalui Wakaf DT telah memelopori berbagai program wakaf yang memudahkan jamaah:

Wakaf Berjangka & Wakaf Tunai: DT memfasilitasi jamaah untuk berwakaf mulai dari nominal kecil. Dana ini kemudian dikelola untuk pembangunan infrastruktur maupun investasi produktif yang hasilnya dirasakan oleh ribuan santri (seperti beasiswa santri tahfidz).

4. Menjaga Marwah dan Kepercayaan (Modal Sosial)

Akuntabilitas: Dengan pengelolaan yang profesional dan dilaporkan secara berkala, DT berhasil membangun kepercayaan publik (trust) yang luar biasa. Inilah “modal sosial” yang dimaksud, di mana masyarakat merasa memiliki dan terus mendukung pertumbuhan pesantren.

5. Local Genius dan Pemberdayaan “Wong Cilik”

Program-program seperti Desa Ternak Mandiri (DT Peduli) atau pemberdayaan ekonomi masyarakat sekitar pesantren di Gegerkalong adalah bukti bahwa aset wakaf DT benar-benar menjadi lokomotif kesejahteraan sebagaimana visi yang diharapkan.

Pesantren Daarut Tauhiid membuktikan bahwa dengan manajemen wakaf yang produktif, transparan, dan visioner, sebuah pesantren dapat bertransformasi dari sekadar institusi pendidikan menjadi kekuatan ekonomi umat yang mandiri dan bermartabat. (WIN)

Redaktur: Wahid Ikhwan

Referensi: Dr. KH. Tatang Astarudin, M.Si (BWI)


WAKAFDT.OR.ID

Kemandirian Pesantren melalui Optimalisasi Wakaf Read More »

Hukum Mengucapkan Selamat Natal Menurut Buya Hamka: Toleransi Tanpa Menggadai Akidah

WAKAFDT.OR.IDPerdebatan mengenai hukum mengucapkan Selamat Natal bagi umat Islam sering kali muncul menjelang akhir tahun.

Salah satu tokoh yang sering dikaitkan dengan isu ini adalah Buya Hamka, Ketua Umum pertama Majelis Ulama Indonesia (MUI). Benarkah beliau melarang ucapan tersebut?

Putra kandung Buya Hamka, Irfan Hamka, memberikan klarifikasi mendalam mengenai pandangan sang ayah terkait toleransi beragama dan batas-batas akidah dalam Islam.

Klarifikasi Fatwa MUI 1981: Bukan Larangan Ucapan

Banyak orang salah kaprah menganggap Fatwa MUI tahun 1981 yang diterbitkan di masa kepemimpinan Buya Hamka mengharamkan ucapan Selamat Natal.

Irfan Hamka menegaskan bahwa poin utama fatwa tersebut bukan pada ucapannya, melainkan pada partisipasi dalam ritual ibadah.

“Yang diharamkan oleh Buya Hamka adalah jika umat Muslim mengikuti prosesi ibadah Natal, seperti menyanyi di gereja atau menyalakan lilin ritual,” jelas Irfan.

Praktik Toleransi Buya Hamka kepada Tetangga

Jauh dari kesan kaku, Buya Hamka dikenal sebagai sosok yang sangat menjunjung tinggi nilai kerukunan.

Saat menetap di Kebayoran Baru, Jakarta Selatan, beliau memiliki hubungan yang sangat harmonis dengan tetangganya yang beragama Kristen, yakni keluarga Ong Liong Sikh dan Reneker.

Bentuk toleransi yang ditunjukkan Buya Hamka meliputi:

  • Saling Memberi Ucapan: Saat Idulfitri, tetangga non-Muslim memberikan ucapan kepada Buya. Sebaliknya, pada 25 Desember, Buya Hamka membalas dengan ucapan selamat kepada mereka.
  • Berbagi Makanan: Buya sering meminta istrinya mengantarkan rendang kepada tetangga sebagai bentuk silaturahmi, biasanya dilakukan pada momen malam tahun baru.

Rahasia Dibalik Kalimat “Selamat Natal Kalian”

Irfan Hamka mengenang cara unik ayahnya dalam berucap. Buya Hamka sering menggunakan kalimat: “Selamat, telah merayakan Natal kalian.”

Penggunaan kata “kalian” atau “bagi kaum Kristiani” memiliki makna teologis yang dalam. Menurut Buya, tambahan kata tersebut berfungsi sebagai pembatas akidah sesuai prinsip Al-Qur’an surah Al-Kafirun: “Bagimu agamamu, bagiku agamaku.”

Dengan kata lain, ucapan tersebut adalah bentuk penghormatan atas kegembiraan orang lain tanpa harus membenarkan keyakinan agama tersebut.

Etika Mengucapkan Selamat dalam Islam

Selain masalah diksi, Irfan menyebutkan ada etika waktu yang diperhatikan oleh ayahnya. Beliau menyarankan agar ucapan selamat disampaikan setelah umat Kristen menyelesaikan ibadah mereka. Hal ini dikarenakan esensi kata “selamat” adalah apresiasi atas suatu peristiwa yang telah atau sedang berlangsung.

Pandangan Buya Hamka mengajarkan bahwa Islam adalah agama yang damai dan toleran. Menjaga hubungan baik dengan sesama manusia (hablum minannas) bisa dilakukan tanpa harus mencampuradukkan ritual ibadah (akidah). (WIN)

Redaktur: Wahid Ikhwan


WAKAFDT.OR.ID

Hukum Mengucapkan Selamat Natal Menurut Buya Hamka: Toleransi Tanpa Menggadai Akidah Read More »